ABB Group

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
ABB Ltd.
Publik
Simbol sahamSIXABBN
NYSE: ABB
OMXABB
IndustriPeralatan listrik
Pendahulu
Didirikan1988
Kantor
pusat
Zürich, Swiss
Wilayah operasi
Seluruh dunia
Tokoh
kunci
ProdukDaya, Otomasi
PendapatanKenaikan US$27,978 milyar (2019)
[1]
Penurunan US$1,938 milyar (2019)[1]
Penurunan US$1,439 milyar (2019)[1]
Total asetPenurunan US$44,441 milyar (2018)[2]
Total ekuitasPenurunan US$14,534 milyar (2018)[2]
Pemilik[3] [4]
Karyawan
144.400 (2019)[1]
Situs webwww.abb.com

ABB Ltd (bahasa Jerman: ABB AG, Prancis, Italia, bahasa Romansh: ABB SA),[5] sebelumnya bernama ASEA Brown Boveri, adalah sebuah perusahaan multinasional yang berkantor pusat di Zürich, Swiss.[6] Perusahaan ini terutama berbisnis di bidang teknologi otomasi, robotik, daya, dan peralatan listrik berat. Perusahaan ini menempati peringkat ke-341 dalam daftar Fortune Global 500 tahun 2018 dan telah masuk dalam daftar Fortune 500 selama 24 tahun.[7] Hingga menjual divisi kelistrikannya pada tahun 2020, ABB adalah industri dengan pekerja terbanyak di Swiss.[8] ABB melantai di SIX Swiss Exchange, Nasdaq Stockholm, dan Bursa Saham New York.[9]

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Robot buatan ABB beroperasi di sebuah lini produksi.

Pendahulu[sunting | sunting sumber]

Allmänna Svenska Elektriska Aktiebolaget (ASEA) didirikan pada tahun 1883 oleh Ludvig Fredholm[10] di Västerås, Swedia sebagai sebuah produsen lampu dan generator listrik.[11] Sementara Brown, Boveri & Cie (BBC) didirikan pada tahun 1891 di Zurich, Swiss oleh Charles Eugene Lancelot Brown dan Walter Boveri[12] sebagai sebuah produsen generator, turbin uap, transformator, serta motor AC dan DC.

ABB di seluruh dunia.[meragukan]

Pembentukan dan awal mula[sunting | sunting sumber]

Pada tanggal 10 Agustus 1987, ASEA dan Brown Boveri mengumumkan bahwa mereka akan bergabung untuk membentuk Asea Brown Boveri (ABB).[13] Perusahaan hasil penggabungan akan berkantor pusat di Zurich, Swiss dan Västerås, Swedia, dengan ASEA dan BBC masing-masing memegang 50% saham ABB. Penggabungan tersebut pun membentuk sebuah grup industri dengan pendapatan sekitar $15 milyar dan 160.000 pegawai.[13]

Saat ABB mulai beroperasi pada tanggal 5 Januari 1988, bisnis utamanya meliputi pembangkitan listrik, transmisi dan distribusi; transportasi listrik; serta robotik dan otomasi industri.

Pada tahun pertamanya, ABB mengakuisisi 15 perusahaan, termasuk Fläkt AB asal Swedia, Sadelmi/Cogepi asal Italia, dan Scandia-Randers A/S asal Denmark.[14]

Pada tahun 1989, ABB membeli 40 perusahaan, termasuk aset transmisi dan distribusi milik Westinghouse Electric, dan mengumumkan kesepakatan untuk membeli Combustion Engineering (C-E) asal Stamford, Connecticut.[15]

Setahun kemudian, ABB membeli bisnis robotik milik Cincinnati Milacron di Amerika Serikat. Akuisisi tersebut pun meningkatkan eksistensi ABB di bidang pengelasan titik terotomasi, serta memberi posisi yang lebih baik untuk dapat melayani industri otomotif di Amerika. Pada tahun 1991, ABB memperkenalkan robot IRB 6000 yang menunjukkan kapasitasnya di bidang robotik. Sebagai sebuah robot modular, IRB 6000 dapat diatur untuk melakukan berbagai macam tugas spesifik. Pada saat diluncurkan, IRB 6000 adalah robot pengelasan titik tercepat dan paling akurat di pasaran.

Pada awal dekade 1990-an, ABB mulai berekspansi ke Eropa Tengah dan Timur. Pada akhir tahun 1991, perusahaan ini mempekerjakan 10.000 orang, dan setahun kemudian, jumlah tersebut meningkat dua kali lipat. Pola serupa juga terjadi di Asia, di mana reformasi ekonomi di Tiongkok dan penghapusan sejumlah sanksi dari negara-negara Barat membantu datangnya investasi asing dan tumbuhnya industri di wilayah tersebut. Pada tahun 1994, ABB mempekerjakan 30.000 orang dan mengoperasikan 100 pusat produksi, rekayasa, dan pemasaran di seantero Asia. Selama dekade 1990-an, ABB melanjutkan strategi ekspansinya di Eropa Timur, Asia Pasifik, dan Amerika.

Pada tahun 1995, ABB setuju untuk menggabungkan unit bisnis teknik perkeretaapiannya dengan unit bisnis serupa milik Daimler-Benz AG asal Jerman. Tujuan penggabungan tersebut adalah untuk membentuk produsen lokomotif dan gerbong terbesar di dunia. Perusahaan hasil penggabungan tersebut, yang diberi nama ABB Daimler-Benz Transportation (Adtranz), awalnya menguasai hampir 12% pangsa pasar.[16][17] Adtranz akhirnya mulai beroperasi pada tanggal 1 Januari 1996.[18]

Spark SRT05e di Autosport International 2020 dari ABB Formula E.

Beberapa bulan setelah krisis finansial Asia 1997, ABB mengumumkan rencana untuk mempercepat ekspansinya di Asia. Perusahaan ini juga berencana untuk meningkatkan produktivitas dan profitabilitasnya di negara-negara Barat, dengan mengadakan restrukturisasi senilai $850 juta yang bertujuan untuk memfokuskan sumber dayanya ke negara berkembang dan mengurangi skala bisnisnya di negara-negara maju.

Pada tahun 1998, ABB mengakuisisi unit otomasi milik Alfa Laval asal Swedia, yang pada saat itu merupakan salah satu pemasok sistem kendali proses dan peralatan otomasi terbesar di Eropa.[19]

Sebagai tahap terakhir dalam proses integrasi ASEA dan BBC, pada tahun 1999, dewan direksi menyetujui rencana pembentukan saham tunggal untuk ABB.

Pada tahun yang sama, ABB menyelesaikan pembelian Elsag Bailey Process Automation, sebuah produsen sistem kendali industrial asal Belanda, dengan harga $2,1 milyar.[20] Akuisisi tersebut pun meningkatkan eksistensi ABB di bidang robotik industrial berteknologi tinggi dan sistem kendali pabrik, serta mengurangi ketergantungan ABB pada bidang rekayasa berat tradisional, seperti pembangkitan dan transmisi listrik.

Perubahan fokus bisnis[sunting | sunting sumber]

Pada tahun 1999, ABB menjual saham Adtranz yang mereka pegang ke DaimlerChrysler. Tidak lagi memproduksi lokomotif utuh, ABB menggeser fokusnya ke produksi motor traksi dan komponen listrik.[21]

Pada tahun yang sama, ABB dan Alstom asal Prancis mengumumkan penggabungan bisnis pembangkitan listrik milik keduanya ke dalam sebuah perusahaan patungan yang diberi nama ABB Alstom Power. Secara terpisah, ABB juga setuju untuk menjual bisnis tenaga nuklirnya ke British Nuclear Fuels asal Britania Raya.[22]

Pada tahun 2000, ABB menjual saham ABB Alstom Power yang mereka pegang, serta bisnis bahan bakar fosil dan pendidihnya (termasuk turbin gas) ke Alstom.[23] Sehingga, bisnis daya ABB dapat fokus pada energi terbarukan, serta transmisi dan distribusi.

Pada tahun 2002, ABB mengumumkan kerugian pertama mereka, yakni sebesar $691 juta selama tahun 2001.[24] Kerugian tersebut disebabkan oleh keputusan ABB untuk meningkatkan biaya damai dalam litigasi terkait asbestos melawan Combustion Engineering asal Amerika Serikat dari $470 juta menjadi $940 juta. Klaim tersebut terkait dengan produk asbestos yang dijual oleh Combustion Engineering sebelum diakuisisi oleh ABB.

Pada saat yang sama, direksi ABB mengumumkan bahwa mereka akan berupaya menagih uang "yang dibayar berlebih ke Goran Lindahl dan ke Percy Barnevik," dua mantan CEO ABB. Barnevik menerima manfaat pensiun sekitar $89 juta saat keluar dari ABB pada tahun 2001, sementara Lindahl yang menggantikan Barnevik sebagai CEO, menerima manfaat pensiun sebesar $50 juta.[25]

Pada tahun 2005, ABB resmi keluar dari Bursa Saham London dan Bursa Saham Frankfurt.[26]

Pada tahun 2006, ABB mengakhiri ketidakpastian keuangan dengan memfinalisasi rencana senilai $1,43 milyar untuk menyelesaikan liabilitas asbestos melawan anak usahanya di Amerika Serikat, yakni Combustion Engineering dan ABB Lummus Global, Inc.[27] Pada bulan Agustus 2007, ABB menjual bisnis hilir minyak dan gasnya, ABB Lummus Global, ke CB&I.[27] Sebelumnya pada tahun 2004, ABB telah menjual bisnis hulu minyak dan gasnya, ABB Vetco Gray. ABB berencana tetap mendukung industri minyak dan gas dengan menyediakan teknologi daya dan otomasi inti.

Pada tahun 2008, ABB setuju untuk mengakuisisi Kuhlman Electric Corporation, sebuah produsen transformator untuk industri dan utilitas listrik asal Amerika Serikat. Pada bulan Desember 2008, ABB mengakuisisi Ber-Mac Electrical and Instrumentation untuk mengembangkan eksistensinya di industri minyak dan gas di Kanada bagian barat.

Pada tahun 2010, K-TEK, sebuah produsen instrumen pengukuran ketinggian, resmi menjadi bagian dari unit bisnis produk pengukuran di dalam divisi otomasi proses ABB.[28]

Pada tanggal 10 Januari 2011, ABB berinvestasi sebesar $10 juta pada ECOtality, sebuah pengembang teknologi penyimpanan listrik dan stasiun pengisian ulang asal San Francisco, untuk dapat masuk ke pasar pengisian ulang kendaraan listrik di Amerika Utara.[29] Pada tanggal 1 Juli 2011, ABB mengumumkan akuisisi terhadap Epyon B.V. asal Belanda, sebuah penyedia jasa perawatan dan infrastruktur pengisian kendaraan listrik.[30]

Pada tahun 2011, ABB mengakuisisi Baldor Electric dengan harga $4,2 milyar. Akuisisi tersebut sesuai dengan rencana ABB untuk meningkatkan pangsa pasarnya di bidang motor industri di Amerika Utara.[31]

Pada tanggal 30 Januari 2012, ABB mengakuisisi Thomas & Betts, sebuah penyedia produk bertegangan rendah untuk keperluan industri, konstruksi, dan utilitas asal Amerika Utara, dengan harga $3,9 milyar.[32] Pada tanggal 15 Juni 2012, ABB menyelesaikan proses akuisisi terhadap Tropos, sebuah penyedia teknologi nirkabel industrial dan komersial.

Pada bulan Juli 2013, ABB resmi mengakuisisi Power-One dengan harga $1 milyar, sehingga ABB dapat menjadi produsen inverter surya terkemuka di dunia.[33] Pada tahun yang sama, Fastned memilih ABB untuk memasok lebih dari 200 unit stasiun pengisian cepat Terra di sepanjang jalan raya di Belanda. Ulrich Spiesshofer kemudian ditunjuk menjadi CEO ABB, menggantikan Joe Hogan.[34]

Pada tanggal 6 Juli 2017, ABB mengumumkan bahwa mereka telah menyelesaikan akuisisi terhadap Bernecker + Rainer Industrie-Elektronik (B&R), penyedia produk dan arsitektur terbuka berbasis perangkat lunak untuk otomasi pabrik dan mesin.[35]

Pada tahun 2018, ABB resmi menjadi mitra FIA Formula E Championship, seri balap mobil FIA internasional pertama yang menggunakan mobil listrik penuh.[36]

Penghargaan[sunting | sunting sumber]

Best Companies to Work for in Asia 2021 dalam kategori industri enjiniring dari publikasi regional HR Asia.[37]

Galeri[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c d "Annual Report 2019" (PDF). Diakses tanggal 23 May 2020. 
  2. ^ a b "ABB Annual Report 2018". ABB.com. ABB. Diakses tanggal 28 March 2019. 
  3. ^ "Major shareholders". ABB Group. 
  4. ^ "ABB - Major shareholders". ABB Ltd. Diakses tanggal 23 October 2019. 
  5. ^ ABB Ltd (2020-03-26). Articles of Incorporation of ABB Ltd, Zurich (Laporan). Diakses tanggal 2021-03-04. 
  6. ^ "ABB Group Headquarters". ABB Group. Diakses tanggal 2020-10-21. 
  7. ^ "Fortune 500 - ABB". Fortune. Diakses tanggal 8 August 2018. 
  8. ^ "Das sind künftig die grössten Arbeitgeber der Industrie". Bilanz (dalam bahasa Jerman). Diakses tanggal 13 November 2020. 
  9. ^ "Share - Listing information". Abb. 
  10. ^ "History of ABB". ABB Group. 
  11. ^ "ABB Group profits from Ulrich Spiesshofer's automation gamble". European CEO (dalam bahasa Inggris). 2018-01-18. Diakses tanggal 2020-02-06. 
  12. ^ "Electrifying founders". new.abb.com. 
  13. ^ a b "BBC-Brown, Boveri and Asea Announce Merger". AP NEWS. Diakses tanggal 2020-10-09. 
  14. ^ Crainer, Stuart. ""A.B.B., the Dancing Giant" by Kevin Barham and Claudia Heimer". strategy+business (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2020-10-09. 
  15. ^ Cole, Robert J. (1989-11-14). "Combustion To Merge With ABB (Published 1989)". The New York Times (dalam bahasa Inggris). ISSN 0362-4331. Diakses tanggal 2020-10-09. 
  16. ^ ABB joins forces with Daimler-Benz Rail issue 249 29 March 1995 page 6
  17. ^ Rivals to merge Railway Gazette International April 1995 page 197
  18. ^ Merger approved Railway Gazette International December 1995 page 818
  19. ^ "ABB acquires Alfa Laval Automation". Abb. 
  20. ^ "Elsag Bailey was acquired by ABB Group". Bloomberg. 
  21. ^ "DaimlerChrysler buys ABB's share in Adtranz". Abb. 
  22. ^ "Press release: ABB to sell nuclear business to BNFL". Abb. 29 December 1999. Diakses tanggal 13 September 2009. 
  23. ^ "ALSTOM acquires ABB's share in ABB ALSTOM POWER". Abb. 
  24. ^ "ABB posts US$ 691 million loss for 2001 after substantial charges, cuts net debt in Q4 by US$ 2.2 billion on record cash flow". Abb. 
  25. ^ Edith M. Lederer (1 March 2002). "UN: Swedish Businessman Loses Job". CorpWatch. Diakses tanggal 12 December 2010. 
  26. ^ Restructuring announced by ABB Railway Gazette International October 2005 page 645
  27. ^ a b Uncredited (1 September 2006). "ABB asbestos claims resolved". Reuters. 
  28. ^ Vinluan, Frank (9 July 2010). "ABB buys $50M Louisiana company K-TEK". Triangle Business Journal. Diakses tanggal 2020-09-11. 
  29. ^ "ABB enters US market for electric vehicle infrastructure with ECOtality stake". Abb. 
  30. ^ "ABB acquires Epyon to expand offering in EV charging infrastructure". Abb. 
  31. ^ "ABB completes acquisition of Baldor Electric Company". Abb. 
  32. ^ "Thomas & Betts Corporation Reports Fourth Quarter 2011 Net Earnings" (PDF). TNB. 30 January 2012. Diakses tanggal 1 February 2012. 
  33. ^ "ABB completes acquisition of Power-One". Abb. 
  34. ^ "Ulrich Spiesshofer takes over as ABB's new Chief Executive Officer". Abb. 
  35. ^ "ABB completes acquisition of B&R". Abb. 
  36. ^ "ABB and Formula E partner to write the future of e-mobility". Abb. 
  37. ^ JPNN.com, Rdo (20 September 2021). "ABB Terima Penghargaan Best Companies dalam Kategori Industri Mesin". JPNN.com. Diakses tanggal 20 September 2021. 

Bacaan lebih lanjut[sunting | sunting sumber]

  • ABB (2005): The Dormann Letters, Jürgen Dormann/ABB Group, Zurich
  • Bélanger, Jacques et al. (2001): Being local worldwide: ABB and the challenge of global management, Cornell University Press, New York. ISBN 0-8014-3650-8
  • Kevin Barham, Claudia Heimer (1998): ABB: the dancing giant – creating the globally connected corporation. Financial Times, London. ISBN 0-273-62861-5

Pranala luar[sunting | sunting sumber]