Komando Pertahanan Udara Nasional Indonesia

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Komando Pertahanan Udara Nasional Indonesia
Tentara Nasional Indonesia
Lambang Kohanudnas.png
Didirikan 9 Februari 1962
Negara  Indonesia
Angkatan Lambang TNI 2013.png Tentara Nasional Indonesia
Tipe unit Komando Pertahanan Nasional
Bagian dari Tentara Nasional Indonesia
Komando tempur
Komandan Marsekal Muda TNI Hadiyan Suminta Admadja.
Situs resmi
Situs www.kohanudnas.mil.id

Komando Pertahanan Udara Nasional disingkat Kohanudnas merupakan komando utama terpenting dalam kekuatan Markas Besar TNI. Kohanudnas berfungsi sebagai mata dan telinga yang mengawasi berbagai pergerakan pesawat udara yang melintasi wilayah Indonesia. Kohanudnas didirikan pada 9 Februari 1962.

Sebagai pengawal keamanan wilayah Indonesia, dalam melaksanakan tugasnya Kohanudnas didukung oleh Satuan Radar TNI-AU yang ditempatkan di berbagai daerah. Selain itu Kohanudnas juga telah mengintegrasikan data dari radar-radar sipil di seluruh Indonesia.

Organisasi[sunting | sunting sumber]

Sekarang ini Kohanudnas memiliki empat Komando Sektor (Kosek) dan Pusdiklat Hanudnas, yaitu:

  1. Kosek Hanudnas I di Jakarta
  2. Kosek Hanudnas II di Makassar
  3. Kosek Hanudnas III di Medan
  4. Kosek Hanudnas IV di Biak (diresmikan KSAU pada 25 Maret 2004).
  5. Pusdiklathanudnas di Surabaya

Kohanudnas merupakan ujung tombak Kotama Operasional TNI AU yang bertugas melaksanakan Penegakan hukum di Udara dan mengatur seluruh potensi kekuatan udara bangsa indonesia. Terkait kekuatan minimum yang diperlukan Kohanudnas sebagai salah satu Ujung Tombak TNI AU dalam operasi Pertahanan Udara maka Kohanudnas diharapkan segera menghidupkan kembali 3 Wing dan ditambah 2 wing yang sudah terbentuk saat ini yaitu Wing 200 Radar dan Wing 400 Hanud Titik Paskhas sehingga diharapkan menjadi 4 Wing yang berada di bawah Kohanudnas, terdiri dari :

  1. Wing/Resimen 100 Peluncur Rudal menengah/jauh Paskhas (next) :
    1. Yon 101 peluncur rudal Paskhas Kohanudnas wilayah Kosekhanudnas I
    2. Yon 102 peluncur rudal Paskhas Kohanudnas wilayah Kosekhanudnas II
    3. Yon 103 peluncur rudal Paskhas Kohanudnas wilayah Kosekhanudnas III
    4. Yon 104 peluncur rudal Paskhas Kohanudnas wilayah Kosekhanudnas IV
    5. Yon 105 Pemeliharaan
  2. Wing 200 Satuan Radar Kohanudnas, rencana 32 Satrad :
    1. Kosek Hanudnas I Jakarta :
      1. Satrad 211
      2. Satrad 212
      3. Satrad 213
      4. Satrad 214
      5. Satrad 215
      6. Satrad 216
      7. Satrad 217
      8. Satrad 218
    2. Kosek Hanudnas II Makassar :
      1. Satrad 221
      2. Satrad 222
      3. Satrad 223
      4. Satrad 224
      5. Satrad 225
      6. Satrad 226
      7. Satrad 227
      8. Satrad 228
    3. Kosek Hanudnas III Medan :
      1. Satrad 231
      2. Satrad 232
      3. Satrad 233
      4. Satrad 234
      5. Satrad 235
      6. Satrad 236
      7. Satrad 237
      8. Satrad 238
    4. Kosek Hanudnas IV Biak :
      1. Satrad 241
      2. Satrad 242
      3. Satrad 243
      4. Satrad 244
      5. Satrad 245
      6. Satrad 246
      7. Satrad 247
      8. Satrad 248
  3. Wing 300 Buru Sergap Kohanudnas (next):
    1. Skadron Udara 301 Buru Sergap wilayah Kosekhanudnas I
    2. Skadron Udara 302 Buru Sergap wilayah Kosekhanudnas II
    3. Skadron Udara 303 Buru Sergap wilayah Kosekhanudnas III
    4. Skadron Udara 304 Buru Sergap wilayah Kosekhanudnas IV
  4. Wing/Resimen 400 Hanud Titik Paskhas :
    1. Den Hanud 471 Paskhas Lanuma Halim Perdana Kusuma Jakarta
    2. Den Hanud 472 Paskhas Lanuma Hasanudin Makassar
    3. Den Hanud 473 Paskhas Lanuma Supadio Pontianak
    4. Den Hanud 474 Paskhas Lanuma Adisutjipto Yogyakarta
    5. Den Hanud 475 Paskhas Lanuma Rusmin Nuryadin Pekanbaru (next)
    6. Den Hanud 476 Paskhas Lanuma Suwondo Medan (next)
    7. Den Hanud 477 Paskhas Lanuma Iswahyudi Madiun (next)
    8. Den Hanud 478 Paskhas Lanuma Husein Sastranegara Bandung (next)
    9. Den Hanud 479 Paskhas Lanuma Manuhua Biak (next)
  5. Pusdiklat Hanudnas Surabaya

Untuk mendukung dan memaksimalkan pertahanan udara maka perlu adanya integrasi dengan Den Hanud Arhanud PSU Paskhas yang terdapat di tiap Lanuma/Lanud dan 40 Pangkalan Udara (sudah ada).

Panglima[sunting | sunting sumber]

Daftar panglima Kohanudnas:

No. Nama Dari Sampai
1. Laksamana Muda Udara H.M.Soedjono 1962 1966
2. Laksamana Muda Udara L.W.J.Wattimena 1966 1967
3. Laksamana Muda Udara Roesmin Nuryadin 1967 1969
4. Marsekal Muda TNI Sudjatmiko 1969 1973
5. Marsekal Muda TNI Suwondo 1973 1978
6. Marsekal Muda TNI Iskandar 1978 1984
7. Marsekal Muda TNI Hartono 1984 1987
8. Marsekal Muda TNI Ateng Suarsono 1987 1989
9. Marsekal Muda TNI Isbandi Gondosuwignyo 1989 1991
10. Marsekal Muda TNI Subagyo 1991 1993
11. Marsekal Muda TNI F.X. Soejitno 1993 1995
12. Marsekal Muda TNI Irawan Saleh 1995 1997
13. Marsekal Muda TNI M. Koesbeni 1997 1999
14. Marsekal Muda TNI Sonny Rizani 1999 2000
15. Marsekal Muda TNI Wartoyo 2000 2001
16. Marsekal Muda TNI Zeky Ambadar 2001 2002
17. Marsekal Muda TNI Achmad Hasan Sadjad 2002 2003
18. Marsekal Muda TNI Wresniwiro 2003 2003
19. Marsekal Muda TNI Faustinus Djoko Poerwoko 2003 2006
20. Marsekal Muda TNI Eris Herryanto, S.Ip, M.A 2006 2007
21. Marsekal Muda TNI Pandji Utama Iskaq, S.Ip 2007 2008
22. Marsekal Muda TNI Drajat Rahardjo, S.Ip 2008 2010
23. Marsekal Muda TNI Eddy Suyanto, S.T 2010 2011
24. Marsekal Muda TNI Johnny FP. Sitompul 2011 2012
25. Marsekal Muda TNI F. Henry Bambang Sulistyo 2012 2013
26. Marsekal Muda TNI Hadiyan Suminta Admadja 18 Februari 2013 sekarang

Peristiwa Bawean[sunting | sunting sumber]

Pada tanggal 2 Juli 2003 sekitar 11:38 Military Coordination Civil di Bandar Udara (Bandara) Ngurah Rai, Bali, menangkap pergerakan manuver beberapa pesawat asing di wilayah sebelah barat laut Pulau Bawean. Dalam pemantauan melalui radar, penerbangan gelap itu jumlahnya berubah-ubah antara empat pesawat kadang-kadang hingga sembilan pesawat yang melakukan manuver di atas Pulau Bawean tanpa memiliki izin perlintasan di lintasan udara (air way) Indonesia yang ada. (Indonesia memiliki lebih dari 1.000 perlintasan domestik dan 42 perlintasan internasional). Penerbangan gelap itu pun kadang berada di ketinggian 15.000 kaki, tetapi kadang naik sampai 30.500 kaki dengan kecepatan sampai 450 knot. Kemudian menghilang beberapa waktu dan setelah beberapa saat kemudian muncul kembali di daerah tersebut. Akibat manuver penerbangan gelap tersebut, sejumlah penerbangan sipil Indonesia yang melintas di wilayah tersebut mendapat gangguan, antara lain seperti penerbangan pesawat Bouraq dari Banjarmasin menuju Surabaya. Pilot pesawat Bouraq mengira itu pesawat tempur TNI AU sehingga hal tersebut dilaporkan ke Air Traffic Controller (ATC) di Bandara Juanda, Surabaya.

Selain tidak memiliki izin, penerbangan gelap tersebut juga mencurigakan karena tidak mengadakan kontak radio sama sekali ke ATC yang berada di Bandara Soekarno-Hatta (Tangerang), Bandara Juanda (Surabaya), atau dengan ATC Bandara Ngurah Rai (Denpasar). Untuk itulah, setelah melalui perkembangan yang terekam, Panglima Kosek Hanudnas II Makassar Marsekal Pertama TNI Pandji Utama Iskaq memerintahkan satu penerbangan yang terdiri dari dua pesawat F-16 Fighting Falcon I dari Skuadron Udara 3 Pangkalan Udara (Lanud) TNI AU Iswahjudi, Madiun, untuk melaksanakan identifikasi visual. Sekitar pukul 18.15, kedua pesawat F-16 TNI AU mendarat kembali di Lanud Iswahjudi setelah menyergap dan memperingati kelima pesawat F-18 Hornet, yang mengaku dari US Navy yang tengah mengawal armada Navy yang mengarah ke timur melalui perairan internasional. Setelah penyergapan tersebut, kelima pesawat F-18 Hornet tersebut langsung pergi menjauh.

Lihat Pula[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]