Glossolalia

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari

Glossolalia (juga disebut Bahasa Lidah atau Bahasa Roh; bahasa Inggris: speaking in tongues) adalah suatu pengucapan atau pengungkapan yang lancar (jarang dalam bentuk tulisan) dari suku-suku kata dan kata-kata yang tidak dapat dipahami secara langsung dalam bahasa daerah pendengar di lingkungan wilayah tersebut, yang biasanya merupakan suatu bagian dari kegiatan agamawi.[1] Bahasa yang dituturkan tersebut dalam berupa bahasa asing dari daerah lain (seperti yang terjadi dalam peristiwa permulaan berdirinya gereja Kristen), yang tidak lazimnya digunakan oleh pembicara dan pendengarnya, atau bahasa yang sama sekali asing (xenoglossia), bisa sebagai suku-suku kata yang tampak tidak berarti, atau sebagai "bahasa mistis" yang tidak dikenal; di mana ucapan/ungkapan ini biasanya muncul sebagai bagian dari penyembahan religius (glossolalia religius).

Nilai penting glossolalia ini berbeda-beda menurut konteksnya, dimana sejumlah minoritas, terutama dalam suku-suku yang menganut animisme, menganggapnya sebagai "bahasa suci". Umumnya lebih dikenal dalam praktek keagamaan penganut aliran Pentakostal dan Gerakan Kristen Karismatik, tetapi sebenarnya juga dikenal dalam praktek-praktek ibadah agama-agama di luar Kekristenan.

Sementara Glossoalia semakin tersebar luas dan didokumentasikan dengan baik, terjadi perdebatan serius di antara komunitas-komunitas religius (khususnya Kristen) dikarenakan status glossolalia itu sendiri:

  • sampai tingkat mana ucapan glossolalia ini bisa dianggap membentuk suatu bahasa, dan
  • sumber glossolalia itu sendiri, apakah glossolalia merupakan fenomena alami atau supernatural.

Etimologi[sunting | sunting sumber]

"Glossolalia" berasal dari kata Yunani "γλωσσολαλία", dibentuk dua kata, yaitu "γλώσσα" (glôssa) yang berarti "lidah"[2] dan "λαλώ" (lalô) atau "λαλέω" (laleō) yang berarti "berbicara; berkata-kata; bersuara; mengeluarkan suara".[3] Istilah Yunani ini (dalam berbagai bentuk bahasa) muncul dalam bagian Perjanjian Baru di Alkitab Kristen, terutama dalam kitab-kitab Kisah Para Rasul dan Surat 1 Korintus.

Istilah "Berbicara dalam bahasa lidah" (bahasa Inggris: "speaking in tongues") telah digunakan paling tidak sejak penerjemahan Alkitab Perjanjian Baru ke dalam bahasa Inggris menengah ("Middle English") pada Alkitab bahasa Inggris terjemahan John Wycliffe pada abad ke-14.[4] Frederic William Farrar pertama kali menggunakan kata "glossolalia" pada tahun 1879.[5]

Glossolalia di tradisi Kristen[sunting | sunting sumber]

Glossolalia atau "bahasa roh" dalam tradisi Kristen dianggap sebagai salah satu karunia Roh Kudus, di mana seseorang - atas anugerah tersebut, bukan karena belajar bahasa - dapat berkata-kata dalam bahasa yang tidak dimengerti oleh manusia, dikatakan bisa berupa "bahasa malaikat" ataupun bahasa yang ada di muka bumi ini. Bahasa Roh dicatat turun pertama kali atas para rasul, sehingga mereka dapat berbicara dan mewartakan Injil (kabar gembira) meskipun orang lain itu berbahasa yang berbeda. Bahasa Roh tidak dapat dipelajari, namun orang dapat memintanya dengan sepenuh hati pada Roh Kudus, sebab Roh Kudus sendiri telah dijanjikan Yesus Kristus kepada orang yang percaya kepada-Nya. Orang berbahasa roh tidak dalam keadaan ekstase (di luar kesadarannya), melainkan ia secara sadar berkata-kata dalam Bahasa Roh tersebut, hanya saja, kata-kata yang keluar tersebut merupakan hasil bimbingan Roh Kudus. Saat berbahasa Roh, orang akan mendapat kepenuhan Roh dalam dirinya. Ada yang menyebut para penutur Bahasa Roh sebagai golongan karismatik; baik berupa "Kristen karismatik" (misalnya "Gereja Bethany" dan lain-lain) dan juga "Katolik karismatik".

Glossolalia tercatat dalam Kitab Injil Kristiani dan dipraktikkan oleh beberapa denominasi Kristen dan kaum Kristen kontemporer. Namun, konsep-konsep glossolalia/bahasa Roh sebagai "bahasa-yang-diilhami-Allah" maupun bahasa Roh sebagai "praktik Kristiani yang relevan/sah" belum diterima secara universal.

Di Indonesia, kata glossolalia ditemukan di Alkitab sebagai "bahasa roh". Walaupun demikian, sering juga disebut sebagai "bahasa lidah" maupun "berbicara dalam lidah asing".[6]

Dalam Perjanjian Baru[sunting | sunting sumber]

Dalam Perjanjian Baru, kitab Kisah Para Rasul menceritakan peristiwa "Pentakosta", di mana "lidah-lidah api" hinggap pada para orang percaya dan dilanjutkan secara ajaib mereka mulai berkata-kata dengan bahasa-bahasa lain.

Kitab Kisah Para Rasul (Kisah Para Rasul 2:1) menggambarkan fenomena "penerjemahan mujizat", di mana ketika Para Rasul sedang berbicara, orang-orang dari berbagai belahan dunia yang hadir mendengar mereka berbicara dalam bahasa mereka sendiri. Di lain pihak, beberapa pengulas mengajarkan bahwa kasus Biblikal ini merupakan contoh dari xenoglossia religius, yakni berbicara secara ajaib dalam bahasa-bahasa asing yang tidak dikenal oleh si pembicara itu sendiri.

Beberapa lagu himne Ortodoks mengenai Hari Raya Pentakosta, yang memperingati peristiwa di Kisah Para Rasul ini, menggambarkan hal ini sebagai pembalikan dari kejadian Menara Babel (Kejadian 11). Dengan kata lain, bahasa umat manusia yang dikacaubalaukan dalam peristiwa Menara Babel direunifikasikan dalam peristiwa Pentakosta, yang menghasilkan penyebaran Injil bagi orang-orang yang sedang berada di Yerusalem dari berbagai negara.

Di bagian lain Perjanjian Baru versi terjemahan King James (King James Version, KJV, terjemahan tahun 1611 Masehi, atas penugasan Raja James I dari Inggris), terdapat kata "unknown tongue" ("lidah asing") dalam 1 Korintus 14:2. Dari hasil penelitian sarjana Alkitab, kemudian kata "unknown" ("asing") ini dituliskan dengan huruf miring (italics), yang menandakan bahwa kata tersebut sedianya tidak terdapat dalam manuskrip aslinya dalam Bahasa Yunani. Para penerjemah KJV memasukkan kata "lidah asing" ini dalam hasil terjemahannya. Dalam Alkitab Terjemahan Baru (LAI), kata-kata ini diterjemahkan sebagai "bahasa roh" (dengan "roh" huruf kecil).

Bahasa roh, menurut Paulus:

  • berkata-kata kepada Allah; bukan kepada manusia; oleh Roh mengucapkan hal-hal yang rahasia, dan tidak ada seorangpun yang mengerti bahasanya (1 Korintus 14:2)
  • orang yang berkata-kata dalam bahasa roh membangun (memperbaiki) dirinya sendiri (1 Korintus 14:4)
  • merupakan doa yang dilakukan oleh roh (1 Korintus 14:14)
  • merupakan bahasa pengucapan syukur yang sangat baik (1 Korintus 14:16-17).

Tulisan Paulus lainnya menyatakan juga beberapa hal:

  • Paulus meminta jemaat agar "jangan melarang orang yang berkata-kata dengan bahasa roh" (1 Korintus 14:39),
  • dan bahwa ia berharap jemaat semua "berkata-kata dengan bahasa roh" (1 Korintus 14:5),
  • dan bahwa ia "berkata-kata dalam bahasa roh lebih dari pada kamu semua" (1 Korintus 14:18).

Sekalipun demikian, Paulus meminta agar jemaat berlaku bijak dalam berbahasa roh, karena bila dalam suatu ibadah setiap orang berkata-kata dalam bahasa roh, maka orang-orang yang tidak percaya bisa mengatakan mereka "gila" (1 Korintus 14:23).

Mengenai karunia Roh, Paulus meminta agar jemaat berusaha untuk memperoleh juga terutama karunia untuk bernubuat; dengan alasan bahwa nubuat adalah kata-kata bagi manusia (jemaat) untuk membangun, menasihati, dan menghibur; sedangkan bahasa roh adalah bahasa untuk membangun diri sendiri.

Gambaran Alkitabiah mengenai orang-orang yang berbicara dalam bahasa roh muncul tiga kali dalam Kisah Para Rasul, dan setiap kali dirangkaikan dengan fenomena "|pencurahan Roh Kudus", yakni dalam Kisah Para Rasul 2 dan bagian-bagian lain (Kisah Para Rasul 2:4, 10:46; 19:6).

Fundamental bagi interpretasi Alkitab adalah penerjemahan yang tepat atas istilah-istilah primitif, dan seperti istilah "roh" yang berasal dari "napas" atau "asap/uap"; istilah "lidah-lidah api" kemungkinan besar merupakan penggunaan metafora api untuk menunjukkan semakin bertambah-tambahnya kuasa yang memancar selama peristiwa Pentakosta.[butuh rujukan]

Bahasa Lidah dan Interpretasinya[sunting | sunting sumber]

Alkitab juga mencatat gambaran akan tata cara ibadah berkaitan dengan bahasa roh:

  • Jika dalam suatu ibadah sepenuhnya diwarnai oleh bahasa roh, maka orang lain tidak dapat mengerti apa yang dikatakan (1 Korintus 14:11)
  • Karunia-karunia Roh harus diusahakan untuk dipergunakan membangun Jemaat (1 Korintus 14:12)
  • Siapa yang berkata-kata dalam bahasa roh, haruslah berdoa agar diberikan juga karunia untuk menafsirkannya (karena bila berdoa dalam bahasa roh, maka roh yang berdoa, dan akal budi tidak ikut berdoa) (1 Korintus 14:14)
  • Oleh karena itu, dalam suatu ibadah/pertemuan Jemaat, Paulus menyarankan agar didominasi dengan penggunaan bahasa yang dimengerti oleh semua orang (1 Korintus 14:19)
  • Jika ada yang berkata-kata dalam bahasa roh, haruslah ada yang dapat menafsirkannya (1 Korintus 14:27).

Bahasa Lidah sebagai Tanda[sunting | sunting sumber]

Alkitab mengajarkan bahwa bahasa roh berguna sebagai tanda:

  • Merupakan tanda bagi orang yang belum beriman, bukan untuk orang beriman (1 Korintus 14:22)
  • Konteks dari poin di atas, menurut Yesaya 28:11, mengindikasikan bahasa roh sebagai "tanda penghakiman", ketimbang "tanda belas kasihan"
  • Yesus sendiri menyatakan hal tersebut dalam Markus 16:17: "Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka."

Bahasa Lidah dalam Sejarah Gereja[sunting | sunting sumber]

Aliran Pentakosa abad kedua puluh bukan merupakan aliran yang pertama kali "berbahasa lidah" selama Sejarah Gereja. Pendahulu-pendahulu dalam berabad-abad era Kristen, di antaranya adalah:

  • 150M - Justin Martyr menyinggung mengenai bahasa lidah dalam sebuah dialog dengan Trypho, "Jika Anda mau membuktikan mengenai Roh Allah yang bersama dengan jemaat Anda dan membiarkan Anda untuk datang kepada kami, datanglah ke dalam jemaat-jemaat kami, dan Anda akan menemukan Dia mengusir setan-setan, menyembuhkan yang sakit, dan mendengar Dia berbicara dalam bahasa lidah dan bernubuat."
  • Sebelum 200M - Irenaeus dalam risalatnya "Against Heresies" ("Melawan Bidah/Ajaran Sesat") menuliskan mengenai mereka "yang melalui Roh berbicara dalam segala macam bahasa."[7]
  • Sekitar 200M - Tertulianus menyinggung tentang "interpretasi bahasa roh" sebagai "tanda".[8]
  • Sekitar 350M - Ambrosius dalam karyanya "Of the Holy Spirit" ("Dari Roh Kudus"), menyebutkan "karunia bahasa roh" sedang dicurahkan pada masanya oleh "Sang Bapa".[9]
  • Sekitar 390M - Agustinus dari Hippo dalam sebuah pengajaran mengenai Mazmur 32, mendiskusikan fenomena biasa di zamannya mengenai mereka yang "bernyanyi dalam sorak-sorai", menyanyikan pujian bagi Allah bukan dalam bahasa mereka sendiri, tetapi dalam gaya yang "tidak dapat dibatasi oleh keterbatasan bahasa".[10].
  • Tahun 1100an - Hildegard dari Bingen berbicara dan bernyanyi dalam bahasa roh. Lagu rohani yang dinyanyikannya sering disebut-sebut pada masanya sebagai "konser dalam Roh".
  • Tahun 1300an - Kelompok Moravian disebut-sebut berbahasa roh oleh para pengkritiknya.[11].
  • Tahun 1500an - Nabi-nabi Perancis: Para Camisard juga kadang-kadang berbicara dalam bahasa-bahasa yang tidak dikenal: "Sekelompok orang dari jenis kelamin berbeda," James Du Bois dari Montpellier teringat, "Saya mendengar dalam kegembiraan mereka mengucapkan kata-kata tertentu, yang tampaknya adalah Bahasa Asing." Kalimat-kalimat ini kadang-kadang diikuti dengan interpretasi atas karunia tersebut, dan menurut pengalaman Du Bois, dilakukan oleh orang yang telah memiliki bahasa roh.[12]
  • Tahun 1600an - Perkumpulan Quaker, seperti Edward Burrough, menyatakan bahwa bahasa roh dipergunakan dalam kebaktian-kebaktian mereka: "Kami berbicara dalam lidah asing, sebagaimana diberikan Tuhan untuk kami katakan, dan Roh-Nya memimpin kami"[13].
  • Tahun 1800an - Edward Irving dan Gereja Apostolik Katolik. Edward Irving, seorang gembala dari Gereja Skotlandia, menulis mengenai seorang wanita yang "berkata-kata sangat panjang, dan bukan dengan kekuatan manusia biasa, dalam bahasa yang tidak dikenal, mengherankan semua yang mendengarnya, dan bagi dia sendiri ada kemajuan dan kebahagiaan dalam Tuhan"[14]. Irfing melanjutkan bahwa "bahasa roh adalah sebuah instrumen hebat untuk pembaaruan diri, sekalipun hal itu mungkin tampak misterius bagi kita."
  • Pentakostalisme awal - Para kaum Pentakosta awal percaya bahwa bahasa lidah yang mereka nyatakan merupakan xenoglossia[15]

Glossolalia dalam Dunia Kristen Abad Keduapuluh[sunting | sunting sumber]

Kebanyak praktik glossolalia kaum Kristiani saat ini merupakan semacam kebaktian pribadi mereka. Beberapa bagian komunitas Kristiani juga menerima dan kadang-kadang turut mempromosikan penggunaan glossolalia selama ibadah penyembahan bersama. Hal ini terutama sekali nyata dalam tradisi Pentakosta dan Karismatik. Keduanya percaya bahwa kemampuan berkata-kata dalam bahasa roh dan ungkapan-ungkapannya, adalah karunia supernatural dari Allah.

Kaum Kristen yang mempraktikkan glossolalia biasanya menggambarkan pengalaman mereka sebagai bagian sehari-hari dari doa yang cenderung diasosiasikan dengan emosi yang tenang dan menyenangkan. Hal ini kontras dengan persepsi kaum Kristen yang menyaksikan namun tidak mempraktikkan bahasa roh dan mereka yang tidak memiliki pengalaman berbahasa roh. Keduanya memandang berbahasa roh seperti aktivitas dengan emosi dan kehebohan yang tinggi.[16]

Kontroversi[sunting | sunting sumber]

Klaim kaum Pentakosta dan Karismatik mengenai bahasa roh telah menyebabkan suatu kontroversi yang serius dan meluas di antara cabang-cabang Gereja Kristen, terutama sekali sejak kelahiran Gerakan Karismatik pada tahun 1960an. Berbagai buku telah dipublikasikan entah yang membela[17] maupun yang menyerang[18] klaim tersebut. Isu ini telah seringkali menyebabkan perpecahan di gereja-gereja lokal maupun di tingkat denominasi yang lebih besar.

Glossolalia di Agama Lain[sunting | sunting sumber]

Selain di Agama Kristen, beberapa kelompok religius juga tampaknya memiliki praktik dengan bentuk theopneustik glossolalia.

Glossolalia menjadi suatu penjelasan mengenai kemashyuran kuno Oracle dari Delphi, di mana para pendeta dewa Apollo (disebut sebagai seorang sibyl) berbicara dalam ungkapan-ungkapan aneh, seakan-akan Apollo berada di dalamnya, tetapi kemungkinan berhubungan dengan gas alami tingkat tinggi pada sumber mata air di dalam kuil tersebut.

Dalam beberapa naskah gaib Gnostik dari zaman Romawi telah tercatat suku-suku kata tanpa arti seperti "t t t t t t t t n n n n n n n n n d d d d d d d..." dan lain-lain. Kemungkinan besar tulisan ini merupakan transliterasi dari suara yang muncul selama glossolalia. Kitab Koptik dari Mesir juga menyajikan sebuah himne dengan (kebanyakan) suku-suku kata tanpa arti yang kemungkinan merupakan contoh dari glossolalia Kristen mula-mula.

Pada abad ke-19, Spiritisme muncul sebagai semacam agama baru yang didirikan oleh Allan Kardec dan fenomena ini dianggap sebagai salah satu manifestasi yang nyata dari roh-roh. Para kaum Spiritis menyatakan bahwa beberapa glossolalia adalah peristiwa aktual akan xenoglossia (ketika seseorang berbicara dalam bahasa lain yang asing baginya). Bagaimanapun, atribut bahwa glossolalia itu penting dalam spiritisme telah secara signifikan berkurang. Spiritis pada saat ini menganggap fenomena tersebut tidak ada artinya, karena tidak menyampaikan pesan yang dapat dimengerti bagi penggunanya.

Glossolalia juga terdapat di Shamanisme dan agama Voodoo di Haiti; yang mana seringkali dimunculkan dengan pengkonsumsian obat-obatan halusinogenik atau entheogen seperti jamur Psilocybe.

Perspektif Ilmiah[sunting | sunting sumber]

Linguistik[sunting | sunting sumber]

Suku-suku kata yang membentuk glossolalia biasanya tampak seperti reorganisasi fonem yang tidak berpola dari bahasa ibu seseorang yang mengucapkannya; jadi glossolalia orang-orang dari Rusia, Inggris, dan Brasilia bisa berbeda satu sama lain, tetapi secara samar masing-masing menyerupai bahasa Rusia, Inggris, dan Portugis. Kebanyakan ahli bahasa pada umumnya menganggap kebanyakan glossolalia kurang/tidak memiliki semantik, sintaksis, maupun morfologi.[19]

Psikologi[sunting | sunting sumber]

Studi ilmiah pertama mengenai glossolalia dilakukan oleh psikiatris Emil Kraepelin sebagai bagian dari penelitiannya mengenai perilaku linguistik pasien-pasien skizofrenia. Pada tahun 1927, G.B. Cutten mempublikasikan bukunya Speaking with tongues; historically and psychologically considered (Berbicara dalam bahasa lidah; kajian historis dan psikologis), yang dianggap sebagai standar dalam literatur medis selama bertahun-tahun. Seperti Kraepelin, Cutten menghubungkan glossolalia dengan skizofrenia dan histeria.

Pada tahun 1972, John Kildahl mengambil perspektif psikologis yang berbeda dalam bukunya The Psycholgy of Speaking in Tongues (Psikologi Bahasa Lidah). Ia menyatakan bahwa glossolalia bukan merupakan gejala sakit jiwa dan para pengguna glossolalia (glossolalis) justru mengalami penyembuhan dari kondisi stres. Namun, ia mengamati bahwa para glossolalis cenderung memiliki kebutuhan lebih besar akan figur yang memiliki otoritas dan tampaknya mereka sering mengalami kemelut dalam hidupnya.

Nicholas Spanos menggambarkan glossolalia sebagai kecakapan yang dapat dipelajari, di mana tidak diperlukan kondisi tak sadarkan diri/kerasukan yang untuk mengalaminya dalam publikasi "Glossolalia as Learned Behaviour: An Experimental Demonstration" ("Glossolalia sebagai Perilaku yang Dapat Dipelajari: Sebuah Demonstrasi Eksperimental"), tahun 1987. Hal ini juga dikenal sebagai simplex communication.

Glossolalia dalam kebudayaan pop[sunting | sunting sumber]

  • Neal Stephenson mengarang sebuah novel fiksi ilmiah Snow Crash yang melibatkan mitologi Sumeria, sejarah kuno, asal usul bahasa, serta fenomena glossolalia.

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Diterjemahkan dari definisi "Glossolalia n." A Dictionary of Psychology. Edited by Andrew M. Colman. Oxford University Press 2009. Oxford Reference Online. Retrieved 5 August 2011.
  2. ^ γλῶσσα, Henry George Liddell, Robert Scott, A Greek-English Lexicon, on Perseus
  3. ^ λαλέω, Henry George Liddell, Robert Scott, A Greek-English Lexicon, on Perseus
  4. ^ Markus 16:17-53 pada "Alkitab Wyclif"]]
  5. ^ Oxford English Dictionary, 2nd ed, 1989
  6. ^ Kata "bahasa lidah" didasarkan pada Terjemahan Lama (LAI, 1954, 1958), misalnya 1 Korintus 12:10, yang memakai istilah "karunia lidah" dan "makna lidah".
  7. ^ Against Heresies
  8. ^ Against Marcion, Book V, Chapter 8
  9. ^ Of the Holy Spirit, XIII, 151.
  10. ^ On Psalm 32, Enarrationes in Psalmos, 32, ii, Sermo 1:8
  11. ^ Stanley M. Burgess, "Medieval and Modern Western Churches," Initial Evidence, ed. Gary B. McGee (Peabody, MA: Hendrickson, 1991), 32
  12. ^ John Lacy, A Cry from the Desert (London, 1708), p. 32) (The Charismatic Movement, 1975, Michael P. Hamilton, p 75)
  13. ^ Epistle to the Reader by Edward Burrough, prefixed to George Fox, The Great Mystery of the Great Whore Unfolded and Antichrist's Kingdom Revealed Unto Destruction(London: Thomas Simmons, 1659), ISBN 0-404-09353-1
  14. ^ Edward Irving, "Facts Connected With Recent Manifestations of Spiritual Gifts," Frasers Magazine (Jan. 1832)
  15. ^ Anderson, Robert Mapes, Vision of the disinherited: the making of American Pentecostalism, Peabody, Mass.: Hendrickson Publishers, 1992, ISBN 1-56563-000-9, (dipublikasikan pertama kali: Oxford: Oxford University Press, 1979)
    :"Alfred G. Garr dan istrinya berkunjung ke TImur Jauh dengan keyakinan bahwa mereka akan mengabarkan injil dalam 'bahasa India dan China'. Lucy Parrow berkunjung ke Afrika dan kembali setelah tujuh bulan di mana ia menyatakan bahwa ia telah berkotbah kepada kaum pribumi dalam bahasa daerah 'Kru'. Seorang pendeta dan analis Jerman Oskar Pfister melaporkan mengenai Pentakosta... 'Simon,' telah berencana berangkat ke China dan akan mempergunakan bahasa lidah untuk berkotbah. Banyak misionaris Pentakosta lainnya berangkat dengan kepercayaan bahwa mereka memiliki kemampuan ajaib untuk berbicara dalam bahasa ibu orang, kepada siapa mereka diutus. Klaim-klaim Pentakosta seperti ini sangat terkenal pada masa itu. S.C. Todd dari Perhimpunan Misionaris Injil mewawancarai delapan belas orang Pentakosta yang pergi ke Jepang, China, dan India 'berharap untuk mengabarkan injil kepada kaum pribumi di negara-negara tersebut dan berbicara dalam bahasa ibu mereka,' dan menemukan bahwa menurut pengakuan mereka sendiri mereka ternyata tidak dapat melakukan itu. Sebagaimana para misionaris ini dan yang lainnya kembali dalam kekecewaan dan kegagalan, kaum Pentakosta terpaksa harus memikirkan kembali pandangan mereka semula mengenai berbicara dalam bahasa roh".
  16. ^ Grady, B., & Loewenthal, K. M. (1997). Features associated with speaking in tongues (glossolalia). British Journal of Medical Psychology, 70, 185-191.
  17. ^ Contoh: Christenson, Laurence, Speaking in tongues: and its significance for the church, Minneapolis, MN : Dimension Books, 1968.
  18. ^ Contoh: Gromacki, Robert Glenn, The modern tongues movement, Nutley, N.J. : Presbyterian and Reformed Publishing Co., 1973, ISBN 0875223048 (Originally published 1967)
  19. ^ http://www.meta-religion.com/Linguistics/Glossolalia/contemporary_linguistic_study.htm

Referensi Biblikal mengenai Glossolalia[sunting | sunting sumber]

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]