Yustinus Martir
Flavius Yustinus (juga disebut Yustinus dari Kaisarea atau Yustinus sang filsuf; bahasa Inggris: Justin Martyr, 103-165) adalah salah seorang penulis Kristen paling terkenal lewat karyanya Liber Apologeticus - "Apologi Pertama".[1] Ia dilahirkan di Samaria pada tahun 95.[1] Pada akhir hayatnya ia mati syahid menjadi martir sehingga namanya disebut sebagai Yustinus Martir.[2][3]
Daftar isi |
Riwayat Hidup [sunting]
Yustinus Martir juga adalah seorang filsuf yang aktif mempelajari ajaran-ajaran Stoa, Aristoteles, dan Phytagoras, tetapi sekarang ia menganut sistem Plato.[2] Yustinus menjadi seorang Kristen ketika ia merenungkan tulisan-tulisan Taurat dan membaca Injil serta surat-surat Paulus.[2] Kemudian Yustinus bertemu dengan seorang tua yang bertapa di padang sunyi di Palestina.[1] Orang tua ini mengajarkan kepadanya tentang Kitab Suci, tentang para nabi dalam Perjanjian Lama.[1] Yustinus menemukan bahwa sekarang ia menemukan kebenaran sejati dalam agama Kristen.[1] Oleh karena itu ia bertobat menjadi Kristen pada tahun 130.[1] Sesudah pertobatannya, Yustinus mengajar di Efesus.[1] Ia memandang pengajaran Kristen sebagai filsafat, yang nilainya lebih tinggi dari filsafat Yunani.[1]
Perjuangan bagi kekristenan [sunting]
Yustinus hidup pada masa gereja dan orang Kristen berada pada keadaan yang tidak menguntungkan.[4] Ia sering melihat bahwa banyak orang Kristen yang dihambat dan dianiaya.[4] Oleh karena rasa keprihatinannya, ia membela kekristenan dari serangan yang dilancarkan oleh pemerintah yang tidak beragama Kristen.[5]
Karya Penting [sunting]
Karya tulis Yustinus, "Apologi Pertama", ditujukan pada Kaisar Antoninus Pius (dalam bahasa Yunani berjudul Apologia, yaitu suatu kata yang mengacu pada logika yang menjadi dasar kepercayaan seseorang).[6] Dalam tulisannya ini, Yustinus menyatakan bahwa orang Kristen menuntut keadilan.[4] Jika orang Kristen bersalah, ia harus diadili.[4] Ia menolak bila orang Kristen dihukum karena mereka seorang Kristen.[4] Ia juga menjelaskan mengenai ibadah Kristen dan Perjamuan Kudus, sehingga kecurigaan kekaisaran Roma terhadap orang Kristen sebagai kelompok subversif, amoral, dan kriminal pun terhapus.[4] Seperti Paulus, Yustinus tidak meninggalkan orang-orang Yahudi ketika ia berpaling kepada orang-orang Yunani.[4] Dalam karya besar Yustinus lainnya, "Dialog dengan Tryfo", ia menulis kepada seorang Yahudi kenalannya, bahwa Kristus adalah penggenapan tradisi Ibrani.[4]
Tidak hanya itu saja, Yustinus juga memberikan informasi mengenai tata ibadah, Baptisan, dan Perjamuan Kudus dalam gereja pada abad ke 2.[1] Mengenai tata ibadah dikatakan bahwa ibadah dilakukan pada hari Minggu.[1] Hal ini dikarenakan Allah beristirahat pada hari ketujuh.[1] Selain itu, jemaat beribadah pada hari minggu juga karena Kristus bangkit pada hari tersebut.[1] Mengenai praktek baptisan, Yustinus menyatakan bahwa mereka yang dibaptis adalah mereka yang telah percaya kepada pengajaran Kristen dan yang telah berjanji hidup mengikuti ajaran-ajaran tersebut.[1]
Karya-karya penting Yustinus tidak hanya terbatas dalam hal menulis saja, Yustinus juga mengadakan perjalanan yang cukup jauh.[1] Dalam perjalanannya ia selalu berargumentasi tentang iman yang diyakininya.[1] Di Efesus, ia bertemu dengan Tryfo.[1] Di Roma, ia bertemu Marcion, pemimpin kelompok Gnostik.[1] Pada suatu perjalanannya ke Roma, ia pernah bersikap tidak ramah terhadap seseorang yang bernama Crescens, seorang Cynic.[1] Ketika Yustinus kembali ke Roma pada tahun 165, Crescens mengadukannya kepada penguasa atas tuduhan memfitnah.[1] Yustinus pun ditangkap, disiksa dan akhirnya dipenggal kepalanya bersama-sama enam orang percaya lainnya.[1]
Referensi [sunting]
- ^ a b c d e f g h i j k l m n o p q r s t F.D. Wellem. 1993. Riwayat Hidup Singkat Tokoh-tokoh Dalam Sejarah Gereja. Jakarta: BPK Gunung Mulia. Hal.149.
- ^ a b c A. Kenneth Curtis, J. Stephen Lang & Randy Petersen. 2001. 100 Peristiwa Penting dalam Sejarah Kristen. Jakarta: BPK Gunung Mulia. Hlm.5-6.
- ^ Lane,Tonny. 2005. Runtut Pijar Sejarah Pemikiran Kristiani. Jakarta:BPK Gunung Mulia. ISBN 979-9290-92-9. Hal. 7-9.
- ^ a b c d e f g h F.D. Wellem. 2003. Hidupku Bagi Kristus. Jakarta: BPK Gunung Mulia. hal. 86.
- ^ Eddy Kristiyanto. 2006. Gagasan yang menjadi Peristiwa: Sketsa Sejarah Gereja Abad I-XV. Yogyakarta: Kanisius. hal.72.
- ^ (Inggris)Emily J. Hunt. 2003. Christianity in The Second century. London: Routledge Taylor&Francis Group. hal.55