Genosida Pontus

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Genosida Yunani)
Langsung ke: navigasi, cari
Greek Genocide
Smyrna-vict-families-1922.jpg
Warga sipil Yunani meratapi jenazah kerabatnya, korban pembantaian Smyrna, 1922.
Lokasi  Kesultanan Utsmaniyah
Tanggal 1914–1923
Target Penduduk Yunani, terutama etnis Pontus, Kapadokia dan Ionia
Jenis serangan Deportasi, pembunuhan massal, dll.
Korban tewas 750.000[1]–900.000[2]
Pelaku Pemerintah Turki Muda/Turki pimpinan Mustafa Kemal Pasha

Genosida Yunani, kadang disebut juga genosida Pontus, adalah pemusnahan sistematis penduduk Yunani Kristen dari tanah air historis mereka di Asia Kecil, Anatolia tengah, dan Pontus saat Perang Dunia I dan sesudahnya (1914–23). Peristiwa ini dilakukan oleh pemerintah Kesultanan Utsmaniyah terhadap warga Yunani di wilayah Kesultanan. Aksi yang dilakukan meliputi pembantaian, deportasi paksa yang melibatkan barisan kematian, pengusiran di tempat, eksekusi acak, dan penghancuran unsur budaya, sejarah, dan monumen Ortodoks Kristen. Menurut beberapa sumber, sekian ratus ribu orang Yunani Utsmaniyah tewas akibat peristiwa ini.[3] Sejumlah korban selamat dan pengungsi, terutama dari provinsi Timur, mengungsi ke Kekaisaran Rusia. Setelah Perang Yunani-Turki 1919–22 berakhir, kebanyakan orang Yunani yang tinggal di Kesultanan Utsmaniyah dipindahkan ke Yunani sesuai perjanjian pertukaran penduduk antara Yunani dan Turki 1923. Suku bangsa lain juga diserang oleh Kesultanan Utsmaniyah pada masa itu, termasuk Asiria dan Armenia, dan beberapa ahli menganggap penyerangan tersebut adalah bagian dari kebijakan pemusnahan yang sama.[4][5][6][7][8]

Pihak Sekutu mengutuk pembantaian yang didukung pemerintah Utsmaniyah ini dan menyebutnya kejahatan terhadap kemanusiaan. Tahun 2007, International Association of Genocide Scholars mengesahkan sebuah resolusi yang mengakui bahwa kampanye Utsmaniyah terhadap minoritas Kristen di wilayah Kekaisaran, termasuk bangsa Yunani, adalah genosida.[9] Sejumlah organisasi juga telah mengeluarkan resolusi yang menyebut kampanye ini genosida, begitu pula dengan parlemen Yunani, Republik Siprus, dan Swedia.

Latar belakang[sunting | sunting sumber]

"Turks Slaughter Christian Greeks", The Lincoln Daily Star (article), October 19, 1917 .

Setelah Perang Dunia I pecah, Asia Kecil memiliki keragaman etnik yang besar. Penduduknya terdiri dari bangsa Turki, Azeri, Yunani, Armenia, Kurdi, Zaza, Sirkasia, Asiria, Yahudi, dan Laz.

Salah atu penyebab Turki menindas penduduk Yunani adalah ketakutan bahwa mereka akan membantu musuh-musuh Kesultanan Utsmaniyah, serta kepercayaan di kalangan masyarakat Turki bahwa demi membentuk negara bangsa modern mereka perlu mengusir suku bangsa asing di teritorial negaranya yang dianggap mengancam integritas negara Turki modern.[10][11]:{{{1}}}

Menurut seorang atase militer Jerman, menteri perang Utsmaniyah Ismail Enver menyatakan pada Oktober 1915 bahwa ia ingin "menyelesaikan persoalan Yunani selama perang... dengan cara yang sama seperti persoalan Armenia."[12]

Asal usul[sunting | sunting sumber]

Keberadaan bangsa Yunani di Asia Kecil sudah ada sejak masa Homer sekitar 800 SM.[13] Sebelum ditaklukkan bangsa Turkik, bangsa Yunani adalah satu dari sekian suku bangsa pribumi di Asia Kecil.[14] Geografer Strabo menyebut Smyrna sebagai kota Yunani pertama di Asia Kecil.[14] Bangsa Yunani menyebut Laut Hitam "Pontos Euxinos" atau "laut bersahabat". Sejak abad ke-8 SM mereka mulai menjelajahi dan menetap di pesisirnya.[14] Kota-kota Yunani yang paling terkenal di Laut Hitam adalah Trebizond, Sampsounta, Sinope, dan Heraclea Pontica.[14] Pada abad pertengahan, Trebizond menjadi kota dagang penting dan ibu kota Kekaisaran Trebizond.

Peristiwa[sunting | sunting sumber]

Persebaran suku bangsa di Anatolia[15]
Ottoman official statistics, 1910
Provinces Muslims Greeks Armenians Jews Others Total
Istanbul (Asiatic shore) 135,681 70,906 30,465 5,120 16,812 258,984
İzmit 184,960 78,564 50,935 2,180 1,435 318,074
Aidin (Izmir) 974,225 629,002 17,247 24,361 58,076 1,702,911
Bursa 1,346,387 274,530 87,932 2,788 6,125 1,717,762
Konya 1,143,335 85,320 9,426 720 15,356 1,254,157
Ankara 991,666 54,280 101,388 901 12,329 1,160,564
Trebizond 1,047,889 351,104 45,094 - - 1,444,087
Sivas 933,572 98,270 165,741 - - 1,197,583
Kastamon 1,086,420 18,160 3,061 - 1,980 1,109,621
Adana 212,454 88,010 81,250 107,240 488,954
Bigha 136,000 29,000 2,000 3,300 98 170,398
Total
%
8,192,589
75.7%
1,777,146
16.42%
594,539
5.50%
39,370
0.36%
219,451
2.03%
10,823,095
Ecumenical Patriarchate statistics, 1912
Total
%
7,048,662
72.7%
1,788,582
18.45%
608,707
6.28%
37,523
0.39%
218,102
2.25%
9,695,506

Pada musim panas 1914, Organisasi Istimewa (Teşkilat-ı Mahsusa), dibantu pejabat pemerintahan dan militer, merekrut pria Yunani yang cukup usia dari Thracia dan Anatolia barat untuk diikutkan dalam Batalion Buruh yang memakan korban ratusan ribu jiwa.[16] Mereka dikirim ratusan mil ke pedalaman Anatolia untuk membuat jalan, membangun wilayah, menggali terowongan, dan lain-lain namun jumlahnya menyusut akibat tidak diperlakukan dengan baik atau penyiksaan oleh penjaga militer Utsmaniyah.[17] Program wajib militer paksa ini kemudian berkembang ke wilayah lain di Kesultanan Utsmaniyah, termasuk Pontus[rujukan?].

Perekrutan pria Yunani diperparah oleh pembantaian dan deportasi yang melibatkan barisan kematian[rujukan?]. Desa dan kota Yunani dikepung pasukan Utsmaniyah dan penduduknya dibantai[rujukan?]. Ada peristiwa di Phocaea (Yunani: Φώκαια), sebuah kota di Anatolia barat 25 mil di sebelah barat laut Smyrna, pada 12 Juni 1914 ketika jenazah pria, wanita, dan anak-anak dilemparkan ke sebuah sumur.[18]

Bulan Juli 1915, chargé d'affaires Yunani menjelaskan bahwa deportasi tersebut "jelas-jelas pemusnahan bangsa Yunani di Turki dan mereka memaksa penduduk setempat pindah agama ke Islam dengan tujuan jika setelah perang ada intervensi Eropa demi melindungi umat Kristen, jumlahnya di Turki tampak sedikit."[19] Menurut George W. Rendel dari British Foreign Office, pada 1918 "lebih dari 500.000 warga Yunani dideportasi, namun sedikit yang selamat."[20] Dalam memoarnya, duta besar Amerika Serikat untuk Kesultanan Utsmaniyah antara 1913 dan 1916 menulis, "Di berbagai tempat orang-orang Yunani dikumpulkan di bawah perlindungan polisi Turki. Mereka digiring ke pedalaman dengan berjalan kaki. Jumlah penduduk [Yunani] yang terlibat belum diketahui pasti, namun bisa diperkirakan antara 200.000 sampai 1.000.000 jiwa."[21]:{{{1}}}

Tanggal 14 Januari 1917, Cosswa Anckarsvärd, duta besar Swedia untuk Konstantinopel, mengirimkan surat seputar keputusan deportasi penduduk Yunani Utsmaniyah:

Tindakan yang terlihat seperti kekerasan ini menunjukkan bahwa deportasi ini tidak diterapkan pada kaum pria saja, tetapi juga pada wanita dan anak-anak. Hal ini diduga dilakukan agar pemerintah lebih mudah menyita properti mereka.[22]

Metode penghancuran yang mengakibatkan korban jiwa secara langsung, seperti deportasi barisan kematian, kelaparan di kamp buruh, kamp konsentrasi, dan lain-lain, disebut sebagai "pembantaian kulit putih".[20] Pejabat Utsmaniyah Rafet Bey terlibat aktif dalam genosida Yunani. Pada November 1916 ia menyatakan, "Kita harus memusnahkan bangsa Yunani sebagaimana yang pernah dilakukan pada bangsa Armenia... Hari ini kukirim beberapa pasukan militer ke pedalaman untuk membunuh setiap orang Yunani yang ada."[23]

Menurut dokumen resmi Utsmaniyah, pada Januari 1919 pemerintah Utsmaniyah mengizinkan pemulangan orang-orang Yunani yang dideportasi, memberikan bantuan keuangan, dan mengembalikan properti mereka.[24]

The Turkish Courts-Martial of 1919-20 saw charges brought against a number of leading Ottoman officials for their part in ordering massacres against both Greeks and Armenians.[25]

Dalam laporan bulan Oktober 1920, seorang perwira Britania mejelaskan dampak pembantaian di Iznik di Anatolia barat laut. Ia menyebutkan sedikitnya terdapat 100 jenazah pria, wanita, dan anak-anak yang sudah busuk dan dimutilasi. Jenazah-jenazah tersebut ada di dalam dan sekitar sebuah gua besar 300 yard dari dinding kota.[20]

Pembantaian sistematis dan deportasi warga Yunani di Asia Kecil, sebuah program yang diterapkan tahun 1914, adalah penyebab kekerasan yang dilakukan pasukan Yunani dan Turki saat Perang Yunani-Turki, konflik yang terjadi pasca-pendaratan di Smyrna[26][27] pada Mei 1919 sampai Turki berhasil merebut Smyrna dan Kebakaran Besar Smyrna bulan September 1922.[28] Sekitar 50.000[29] sampai 100.000[30] orang Yunani dan Armenia tewas dalam kebakaran dan pembantaian setelahnya. Menurut Norman M. Naimark, "perkiraan yang lebih realistis [untuk korban Kebakaran Besar Smyrna] berkisar antara 10.000 sampai 15.000". Sekira 150.000 hingga 200.000 warga Yunani terusir akibat kebakaran ini, sementara 30.000 warga Yunani dan Armenia kelas pekerja dideportasi ke pedalaman Asia Kecil, kebanyakan dieksekusi di jalan atau meninggal akibat kondisi yang brutal.[31] Ada pula pembantaian warga Turki oleh pasukan Yunani selama pendudukan Anatolia barat sejak Mei 1919 sampai September 1922.[28]

Untuk pembantaian yang terjadi sepanjang Perang Yunani-Turki 1919–1922, sejarawan Britania Arnold J. Toynbee menulis bahwa pendaratan pasukan Yunani yang mendorong pembentukan Gerakan Nasional Turki yang dipimpin Mustafa Kemal:[32]

Bantuan[sunting | sunting sumber]

Foto diambil setelah kebakaran Smyrna. Teks di dalamnya menunjukkan foto ini diambil oleh perwakilan Palang Merah di Smyrna

Pada tahun 1917, sebuah organisasi bantuan bernama Relief Committee for Greeks of Asia Minor dibentuk sebagai tanggapan atas deportasi dan pembantaian warga Yunani di Kesultanan Utsmaniyah. Komite ini bekerja sama dengan Near East Relief dalam mendistribusikan bantuan kepada penduduk Yunani Utsmaniyah di Thracia dan Asia Kecil. Organisasi ini dibubarkan pada musim panas 1921 namun penyaluran bantuan terus dilakukan oleh organisasi lain.[33]

Korban[sunting | sunting sumber]

Smyrna terbakar saat Kebakaran Smyrna. Menurut berbagai sumber, sekitar 10.000[34] sampai 50.000[29] atau 100.000[30] warga Yunani dan Armenia menjadi korban kebakaran dan pembantaian setelahnya.
Harian The Scotsman tanggal 20 Juli 1915 berjudul Greek Population of Turkey, A Crisis At Aivali
Warga Smyrna berusaha meraih kapal-kapal Sekutu saat Kebakaran Smyrna 1922. Foto ini diambil dari perahu luncur milik kapal tempur Amerika Serikat

Menurut berbagai sumber, jumlah korban jiwa etnik Yunani di kawasan Pontus di Anatolia berkisar mulai 300.000 jiwa sampai 360.000 jiwa. Perkiraan korban jiwa di kalangan Yunani Anatolia secara keseluruhan justru lebih tinggi. Sebuah tim peneliti asal Amerika Serikat pada periode awal pascaperang menemukan bahwa jumlah etnik Yunani yang tewas mendekati angka 900.000 jiwa.[2]

Menurut pemerintah Yunani dan Patriarkat, sebanyak satu juta orang diperkirakan menjadi korban pembantaian ini.[35]

Menurut International League for the Rights and Liberation of Peoples, antara 1916 dan 1923, hingga 350.000 orang Yunani Pontus tewas akibat pembantaian, penyiksaan, dan barisan kematian.[36] Merrill D. Peterson memberikan jumlah 360.000 untuk etnik Yunani Pontus.[37] Menurut George K. Valavanis, "Jumlah korban jiwa di kalangan Yunani Pontus sejak Perang Besar (Perang Dunia I) sampai Maret 1924 diperkirakan mencapai 353.000 akibat pembunuhan, penggantungan, hukuman, penyakit, dan kondisi sulit lainnya."[38]

Constantine G Hatzidimitriou menulis bahwa, "jumlah korban jiwa di kalangan Yunani Anatolia selama PDI dan setelahnya mencapai 735.370".[39] Edward Hale Bierstadt menyatakan bahwa, "Menurut kesaksian resmi, bangsa Turki sejak 1914 telah membantai 1.500.000 etnik Armenia dan 500.000 etnik Yunani, pria, wanita, dan anak-anak, dengan kejam dan tanpa intervensi sedikitpun.".[40] Di konferensi Lausanne akhir 1922, Menteri Luar Negeri Britania Raya Lord Curzon mengatakan, "satu juta orang Yunani telah dibunuh, dideportasi, atau meninggal dunia."[41]

Pada tahun 1916, Emanuel Efendi, seorang deputi Utsmaniyah, mengatakan bahwa "550.000 orang Yunani telah dibunuh."[42]

Tugu peringatan[sunting | sunting sumber]

Banyak tugu peringatan penderitaan Yunani Utsmaniyah didirikan di seluruh Yunani dan sejumlah negara lain seperti Jerman, Kanada, Amerika Serikat, dan Australia.[43]

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Catatan kaki[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Jones 2010, hlm. 150–51: ‘By the beginning of the First World War, a majority of the region’s ethnic Greeks still lived in present-day Turkey, mostly in Thrace (the only remaining Ottoman territory in Europe, abutting the Greek border), and along the Aegean and Black Sea coasts. They would be targeted both prior to and alongside the Armenians of Anatolia and Assyrians of Anatolia and Mesopotamia… The major populations of “Anatolian Greeks” include those along the Aegean coast and in Cappadocia (central Anatolia), but not the Greeks of the Thrace region west of the Bosphorus… A “Christian genocide” framing acknowledges the historic claims of Assyrian and Greek peoples, and the movements now stirring for recognition and restitution among Greek and Assyrian diasporas. It also brings to light the quite staggering cumulative death toll among the various Christian groups targeted… of the 1.5 million Greeks of Asia minor – Ionians, Pontians, and Cappadocians – approximately 750,000 were massacred and 750,000 exiled. Pontian deaths alone totaled 353,000.
  2. ^ a b Jones 2010, hlm. 166: ‘An estimate of the Pontian Greek death toll at all stages of the anti-Christian genocide is about 350,000; for all the Greeks of the Ottoman realm taken together, the toll surely exceeded half a million, and may approach the 900,000 killed that a team of US researchers found in the early postwar period. Most surviving Greeks were expelled to Greece as part of the tumultuous “population exchanges” that set the seal on a heavily “Turkified” state.’
  3. ^ Jones 2006, hlm. 154–55.
  4. ^ Jones, hlm. 171–2: ‘A resolution was placed before the IAGS membership to recognize the Greek and Assyrian/Chaldean components of the Ottoman genocide against Christians, alongside the Armenian strand of the genocide (which the IAGS has already formally acknowledged). The result, passed emphatically in December 2007 despite not inconsiderable opposition, was a resolution which I co-drafted, reading as follows:...’
  5. ^ IAGS Resolution on Genocides committed by the Ottoman Empire retrieved via the Internet Archive (PDF), International Association of Genocide Scholars 
  6. ^ "Genocide Resolution approved by Swedish Parliament", News (full text) (AM) , containing both the IAGS and the Swedish resolutions.
  7. ^ Gaunt, David. Massacres, Resistance, Protectors: Muslim-Christian Relations in Eastern Anatolia during World War I. Piscataway, NJ: Gorgias Press, 2006.
  8. ^ Schaller, Dominik J; Zimmerer, Jürgen (2008). "Late Ottoman genocides: the dissolution of the Ottoman Empire and Young Turkish population and extermination policies – introduction". Journal of Genocide Research 10 (1): 7–14. doi:10.1080/14623520801950820. 
  9. ^ IAGS officially recognizes Assyrian, Greek genocides (PDF), International Association of Genocide Scholars .
  10. ^ Bloxham 2004, hlm. 150.
  11. ^ Levene 1998.
  12. ^ Ferguson 2006, hlm. 180.
  13. ^ Hobsbawm, EJ (1992). Nations and nationalism since 1780 programme, myth, reality. Cambridge, UK: Cambridge University Press. hlm. 133. ISBN 0-521-43961-2. 
  14. ^ a b c d Travis 2009, hlm. 637.
  15. ^ Pentzopoulos, Dimitri (2002). The Balkan exchange of minorities and its impact on Greece. C Hurst & Co. hlm. 29–30. ISBN 978-1-85065-702-6. 
  16. ^ Hull 2005, hlm. 273.
  17. ^ King 1922, hlm. 437.
  18. ^ The Atlanta Constitution, 17 June 1914, p. 1.
  19. ^ Avedian 2009, hlm. 40.
  20. ^ a b c Rendel 1922.
  21. ^ Morgenthau 1919.
  22. ^ Avedian 2009, hlm. 47.
  23. ^ Midlarsky, Manus I (2005). The Killing Trap: Genocide in the Twentieth Century. Cambridge University Press. hlm. 342–43. ISBN 978‐0‐521‐81545‐1. "Many (Greeks), however, were massacred by the Turks, especially at Smyrna (today’s Izmir) as the Greek army withdrew at the end of their headlong retreat from central Anatolia at the end of the Greco-Turkish War. Especially poorly treated were the Pontic Greeks in eastern Anatolia on the Black Sea. In 1920, as the Greek army advanced, many were deported to the Mesopotamian desert as had been the Armenians before them. Nevertheless, approximately 1,200,000 Ottoman Greek refugees arrived in Greece at the end of the war. When one adds to the total the Greeks of Constantinople who, by agreement, were not forced to flee, then the total number comes closer to the 1,500,000 Greeks in Anatolia and Thrace. Here, a strong distinction between intention and action is found. According to the Austrian consul at Amisos, Kwiatkowski, in his November 30, 1916, report to foreign minister Baron Burian: “on 26 November Rafet Bey told me: ‘we must finish off the Greeks as we did with the Armenians…’ on 28 November Rafet Bey told me: ‘today I sent squads to the interior to kill every Greek on sight.’ I fear for the elimination of the entire Greek population and a repeat of what occurred last year, Or according to a January 31, 1917, report by Chancellor Hollweg of Austria: the indications are that the Turks plan to eliminate the Greek element as enemies of the state, as they did earlier with the Armenians. The strategy implemented by the Turks is of displacing people to the interior without taking measures for their survival by exposing them to death, hunger, and illness. The abandoned homes are then looted and burnt or destroyed. Whatever was done to the Armenians is being repeated with the Greeks. Massacres most likely did take place at Amisos and other villages in Pontus. Yet given the large number of surviving Greeks, especially relative to the small number of Armenian survivors, the massacres apparently were restricted to Pontus, Smyrna, and selected other ‘sensitive’ regions." 
  24. ^ Osmanli Belgelerinde Ermeniler, Documents 236–40, TR: Devletarsivleri, hlm. 207–11 .
  25. ^ Akçam, Taner (1996). Armenien und der Völkermord: Die Istanbuler Prozesse und die Türkische Nationalbewegung. Hamburg: Hamburger Edition. hlm. 185. 
  26. ^ Toynbee, p. 270.
  27. ^ Rummel (Chapter 5)
  28. ^ a b Taner Akcam, A Shameful Act, p. 322
  29. ^ a b Freely, John. The western shores of Turkey: discovering the Aegean and Mediterranean coasts. Tauris Parke Paperbacks, 2004. p. 103 [1]
  30. ^ a b Rudolph J. Rummel, Irving Louis Horowitz (1994). "Turkey's Genocidal Purges". Death by Government. Transaction Publishers. ISBN 1-56000-927-6. , p. 233
  31. ^ Naimark, Norman (2002). Fires of hatred: Ethnic cleansing in 20th century Europe. Harvard University Press. hlm. 249. ISBN 978-0-674-00994-3. Diakses 3 June 2011. 
  32. ^ Toynbee (1922), pp. 312–313.
  33. ^ Nikolaos Hlamides, ‘‘The Greek Relief Committee: America’s Response to the Greek Genocide,’’ Genocide Studies and Prevention 3, 3 (December 2008): 375–383.
  34. ^ Naimark, Norman M. Fires of hatred: ethnic cleansing in twentieth-century Europe (2002), Harvard University Press, pp. 47–52.
  35. ^ Jones 2010, hlm. 150.
  36. ^ United Nations document E/CN.4/1998/NGO/24 (p. 3) acknowledging receipt of a letter by the "International League for the Rights and Liberation of Peoples" titled "A people in continued exodus" (i.e., Pontian Greeks) and putting the letter into internal circulation (dated 1998-02-24)
    If above link doesn't work, search United Nations documents for "A people in continued exodus"
  37. ^ Peterson[halaman dibutuhkan]
  38. ^ Valavanis, p. 24.
  39. ^ Hatzidimitriou, Constantine G., American Accounts Documenting the Destruction of Smyrna by the Kemalist Turkish Forces: September 1922, New Rochelle, NY: Caratzas, 2005, p. 2.
  40. ^ Bierstadt[halaman dibutuhkan]
  41. ^ "Turks Proclaim Banishment Edict to 1,000,000 Greeks", The New York Times, 2 December 1922, p. 1.
  42. ^ Jones 2010, hlm. 155.
  43. ^ "Memorials", The Greek Genocide 1914–23, diakses 2008-09-18 .

Daftar pustaka[sunting | sunting sumber]

  • Avedian, Vahagn (2009), The Armenian Genocide 1915: From a Neutral Small State's Perspective: Sweden (unpublished master thesis paper), Uppsala University .
  • Bierstadt, Edward Hale (1924), The Great Betrayal; A Survey of the Near East Problem, New York: RM McBride & Co .
  • Bloxham, Donald (2005), The Great Game of Genocide: Imperialism, Nationalism, and the Destruction of the Ottoman Armenians, Oxford: Oxford University Press .
  • Ferguson, Niall (2006), The War of the World: Twentieth-century Conflict And the Descent of the West, New York: Penguin, ISBN 1-59420-100-5 .
  • Fotiadis, Constantinos Emm (2004), The Genocide of the Pontus Greeks by the Turks 13, Thessaloniki: Herodotus .

90-411-1222-7.

Referensi[sunting | sunting sumber]

  • Ascherson, Neal (1995). Black Sea, New York: Hill and Wang, ISBN 0-8090-3043-8.
  • Bassioun, M. Cherif (1999). Crimes Against Humanity in International Criminal Law, The Hague: Kluwer, ISBN *Hulse, Carl (2007). U.S. and Turkey Thwart Armenian Genocide Bill, The New York Times, 26 October 2007
  • King, Charles (2005). The Black Sea: A History, Oxford: Oxford University Press
  • Koromila, Marianna (2002). The Greeks and the Black Sea, Panorama Cultural Society.
  • Lieberman, Benjamin (2006). Terrible Fate: Ethnic Cleansing in the Making of Modern Europe, Ivan R. Dee.
  • Mildrasky, Manus I. (2005). The Killing Trap, Cambridge: Cambridge University Press.
  • Naimark, Norman M. (2001). Fires of Hatred: Ethnic Cleansing in Twentieth-Century Europe, Cambridge and London: Harvard University Press.
  • Rummel, RJ. "Statistics of Democide". Chapter 5, Statistics of Turkey's Democide Estimates, Calculations, and Sources. Diakses 4 October 2006. 
  • "Massacre of Greeks Charged to the Turks",The Atlanta Constitution, 17 June 1914.
  • Shaw, Stanford J; Shaw, Ezel Kural, History of the Ottoman Empire and Modern Turkey, Cambridge University .
  • Taner, Akcam (2006). A Shameful Act
  • Halo, Thea (2001). Not Even My Name, New York: Picador.
  • Totten, Samuel; Jacobs, Steven L (2002). Pioneers of Genocide Studies (Clt). New Brunswick, NJ: Transaction Publishers. ISBN 0-7658-0151-5. 

Bacaan lanjutan[sunting | sunting sumber]

Buku[sunting | sunting sumber]

  • Akcam, Taner. From Empire to Republic: Turkish Nationalism and the Armenian Genocide, New York: Zed Books, 2004.
  • Andreadis, George, Tamama: The Missing Girl of Pontos, Athens: Gordios, 1993.
  • Barton, James L (1943), The Near East Relief, 1915–1930, New York: Russell Sage Foundation .
  • ———; Sarafian, Ara (December 1998), "Turkish Atrocities": Statements of American Missionaries on the Destruction of Christian Communities in Ottoman Turkey, 1915–1917 .
  • Compton, Carl C. The Morning Cometh, New Rochelle, NY: Aristide D. Caratzas, 1986.
  • Documents (PDF), Ataa .
  • Karayinnides, Ioannis (1978), Ο γολγοθάς του Πόντου [The Golgotha of Pontus] (dalam bahasa Greek), Salonica .
  • Morgenthau, Henry sr (1974) [1918], The Murder of a Nation, New York: Armenian General Benevolent Union of America .
  • ——— (1929), I Was Sent to Athens, Garden City, NY: Doubleday, Doran & Co .
  • ——— (1930), An International Drama, London: Jarrolds .
  • Hofmann, Tessa, ed. (2004), Verfolgung, Vertreibung und Vernichtung der Christen im Osmanischen Reich 1912–1922 (dalam bahasa German), Münster: LIT, hlm. 177–221, ISBN 3-8258-7823-6 .
  • Housepian Dobkin, Marjorie. Smyrna 1922: the Destruction of a City, New York, NY: Newmark Press, 1998.
  • de Murat, Jean. The Great Extirpation of Hellenism and Christianity in Asia Minor: the historic and systematic deception of world opinion concerning the hideous Christianity’s uprooting of 1922, Miami, FL (Athens, GR: A. Triantafillis) 1999.
  • Papadopoulos, Alexander. Persecutions of the Greeks in Turkey before the European War: on the basis of official documents, New York: Oxford University Press, American branch, 1919.
  • Pavlides, Ioannis. Pages of History of Pontus and Asia Minor, Salonica, GR, 1980.
  • Tsirkinidis, Harry. At last we uprooted them... The Genocide of Greeks of Pontos, Thrace, and Asia Minor, through the French archives, Thessaloniki: Kyriakidis Bros, 1999.
  • Ward, Mark H. The Deportations in Asia Minor 1921–1922, London: Anglo-Hellenic League, 1922.

Artikel[sunting | sunting sumber]