Gangguan pada sistem peredaran darah manusia

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
gangguan peredaran darah pada manusia

Gangguan pada Sistem Peredaran Darah Manusia adalah kelainan atau penyakit yang terjadi pada sistem peredaran atau sirkulasi darah manusia baik yang disebabkan oleh faktor internal maupun faktor eksternal.[1] Sistem peredaran darah berfungsi mengangkut makanan dan zat sisa hasil metabolisme.[2] Sistem peredaran darah manusia terdiri dari darah, jantung, dan pembuluh darah.[3] Sistem peredaran darah dapat mengalami gangguan (penyakit) dan kelainan bawaan (faktor genetis).[3] Gangguan atau kelainan peredaran darah manusia dapat dikelompokkan menjadi kelainan pada darah dan kelainan pada pembuluh darah.[3]

Penyebab Masalah pada Pembuluh Darah[sunting | sunting sumber]

Berbagai masalah yang terjadi pada Pembuluh Darah disebabkan oleh pola makan dan gaya hidup yang tidak sehat. [4] Sistem peredaran darah terdiri atas jaringan dari organ, darah, dan pembuluh darah. [4] Organ dan pembuluh darah bertanggung jawab untuk mengalirkan darah yang berisi, nutrisi, oksigen, hormon dan gas-gas lain menuju sel. [5]

Kolesterol dan Pola Makan[sunting | sunting sumber]

Kolesterol adalah senyawa lemak kompleks, yang 80% dihasilkan oleh tubuh (organ hati) dan 20% dihasilkan dari luar tubuh berupa zat makanan.[4] Kolesterol yang berasal dari zat makanan dapat meningkatan kadar kolesterol dalam darah.[4] Tetapi jika konsumsi seimbang dengan kebutuhan, maka tubuh akan tetap sehat.[4] Kolesterol tidak larut dalam darah.[4] Untuk itu, agar dapat dikirim ke seluruh tubuh, kolesterol dikemas bersama protein menjadi partikel lipoprotein.[4] Kolesterol terbagi menjadi dua jenis, yaitu Low Density Lipoprotein (LDL) dan High Density Lipoprotein.[4]

Banyaknya kolesterol atau kadar lemak ditentukan oleh makanan yang dikonsumsi.[4] Semakin banyak konsumsi makanan berlemak, maka akan semakin besar kadar kolesterol.[4] Contoh makanan dengan kadar lemak yang menghasilkan kolesterol tinggi adalah gorengan, minyak kelapa atau kelapa sawit, alpukat, durian, daging berlemak, jeroan, kacang tanah, dan sejenisnya.[4]

Kolesterol disebabkan oleh makanan cepat saji yang rendah serat dan tinggi lemak.[4] Selain itu, Kolesterol juga disebabkan oleh faktor keturunan.[4]

Kolesterol total tersusun dari trigliserida, LDL kolesterol, dan HDL kolesterol.[4]

  • Trigliserida adalah salah satu bentuk lemak yang diserap usus setelah mengalami hidrolisis (terurainya garam dalam air yang menghasilkan garam atau basa).[4] Trigliserida merupakan lemak darah yang cenderung naik seiring dengan konsumsi alkohol, peningkatan berat badan, makanan tinggi gula atau lemak, serta gaya hidup.[4] Trigliserida tinggi dapat menyebabkan gangguan tekanan darah dan risiko diabetes.[4]
  • LDL kolesterol atau kolesterol lipoprotein berkepadatan rendah dikenal sebagai kolesterol jahat karena kolesterol LDL melekat pada dinding arteri dan bisa menyebabkan terjadinya penutupan arteri serta menyebabkan peyempitan dan penyumbatan aliran darah.[4] Akibatnya, jantung kesulitan untuk memompa darah dan akhirnya berlanjut ke gejala serangan jantung.[4] Bila penyumbatan itu terjadi di otak, maka akan menyebabkan stroke.[4]
  • HDL kolesterol atau kolesterol lipoprotein berkepadatan tinggi dikenal sebagai kolesterol baik karena membawa kembali kolesterol buruk ke organ hati untuk pemrosesan lebih lanjut.[4]

Rokok[sunting | sunting sumber]

rokok

Bahaya rokok bukan saja berdampak pada perokok aktif, namun juga pada perokok pasif.[6] Perokok aktif adalah orang yang merokok, sedangkan perokok pasif adalah orang yang terkena imbas secara langsung dari kegiatan merokok.[6] Saat merokok, segala zat beracun yang ada dalam rokok akan mengalir dalam darah dan juga menyebabkan terkontaminasinya zat-zat penting dalam darah.[4] Dan akan terjadi penggumpalan dalam pembuluh darah, sehingga aliran darah menjadi tidak lancar dan tersumbat.[4] Rokok terbuat dari tembakau (Nicotiana Tobaccum L.).[4] Asap rokok mengandung kurang lebih 4000 bahan kimia berbahaya.[7] Zat kimia yang dikeluarkan terdiri dari komponen gas (85%) dan partikel.[7]

Komponen penyusun rokok dapat dibagi dalam dua golongan besar, yaitu:[4]

Komponen gas[sunting | sunting sumber]

Komponen gas dapat melewati filter ataupun hasil dari pembakaran tidak sempurna. Seperti CO2, CO, oksida nitrogen, amonia, gas N-nitrosamine, sianogen, peroksida, oksidan senyawa belerang, aldehid, dan keton.[4]

Komponen Padat[sunting | sunting sumber]

Komponen padat adalah bagian dari hasil saringan yang tertinggal pada filter rokok, sebagian besar terdiri dari unsur nikotin dan tar.[4] Selain itu, komponen-komponen lain yang terdapat dalam rokok adalah sebagi berikut:[4]

Di antara zat-zat kimia tersebut, yang paling berbahaya dan menimbulkan berbagai penyakit akibat merokok adalah:[4]

- Tar

Tar mengandung bahan kimia beracun perusak sel paru dan penyebab kanker.[4] Tar berupa hidrokarbon yang lengket pada paru-paru.[7]

- Nikotin

Nikotin merupakan jenis obat perangsang yang dapat merusak jantung dan sirkulasi darah (disfungsi endotelial) serta dapat menyebabkan ketergantungan.[4]

- Karbon Monoksida (Co)

Karbon monoksida merupakan gas beracun yang dapat menyebabkan penurunan kemampuan sel darah merah mengangkut oksigen.[4] Selain dihasilkan dari pembakaran rokok, gas ini juga dihasilkan oleh asap dari mesin-mesin pabrik, dan asap kendaraaan.[4] CO adalah zat yang mengikat hemoglobin dalam darah dan membuat darah tidak mampu mengikat oksigen.[7] Jika ada asap rokok, maka kadar oksigen dalam darah akan berkurang karena terdesak oleh gas CO, hingga berakibat sel darah merah akan semakin kekurangan oksigen.[4] Darah pun hanya akan mengangkut gas CO dan bukan oksigen.[4] Sel tubuh yang kekurangan oksigen akan berusaha meningkatkan kinerjanya, yaitu melalui kompensasi pembuluh darah dengan jalan menciut atau spasme.[4] Bila proses spasme berlangsung lama dan terus-menerus, maka pembuluh darah akan mudah rusak dengan terjadinya aterosklerosis (penyempitan).[4]

Bahaya rokok bagi pembuluh darah:

  • Merokok dapat menyebabkan bertambahnya kadar karbon monoksida di dalam darah, sehingga meningkatkan risiko terjadinya cedera pada lapisan dinding arteri.[4]
  • Merokok dapat mempersempit arteri yang sebelumnya telah menyempit karena aterosklerosis.[4]
  • Merokok menimbulkan kecenderungan pembekuan darah, sehingga dapat meningkatkan risiko terjadinya penyakit arteri perifer, arteri koroner, dan stroke.[4]
  • Merokok dapat mengurangi kadar kolesterol baik (kolesterol HDL) dan meningkatkan kadar kolesterol jahat (kolesterol LDL).[4]

Gangguan pada Pembuluh Darah[sunting | sunting sumber]

Arteriosklerosis[sunting | sunting sumber]

Arteriosklerosis disebabkan oleh tumpukan lemak di bagian bawah lapisan dinding arteri.[4] Arteriosklerosis bisa terjadi di otak, jantung, ginjal, organ vital lainnya, dan lengan serta tungkai.[4] Jika arteriosklerosis terjadi di arteri yang menuju otak (arteri karotid), maka bisa menyebabkan stroke.[4] Jika arteriosklerosis terjadi dalam arteri yang menuju jantung (arteri koroner), maka bisa menyebabkan serangan jantung. [4] Arteriosklerosis bermula saat sel darah putih (monosit) pindah dari aliran darah ke dinding arteri dan berubah menjadi sel-sel penumpuk lemak.[4] Penumpukan ini menyebabkan penebalan di lapisan arteri.[4]

Serangan Jantung[sunting | sunting sumber]

Serangan jantung terjadi saat rusaknya otot jantung (myocardium) akibat kurangnya pasokan darah karena penyumbatan dan terganggunya aliran darah secara mendadak.[4] Serangan jantung adalah puncak dari kerusakan yang berlangsung lama, yang menimbulkan kejutan emosional, kekacauan fisiologis, dan kelelahan mental.[4] Serangan jantung pertama kali digambarkan pada tahun 1912 sebagai rasa sakit di bagian dada yang terjadi terus-menerus hingga setengah jam, dan kemudian menjalar ke tangan kiri dan rahang.[4] Akibatnya, muncul perasaan takut yang begitu besar dan kesulitan bernapas.[4]

Gejala-gejala serangan jantung:

  • Kelelahan atau kepenatan

Jantung tidak efektif memompa aliran darah ke otot selama melakukan aktivitas akan berkurang, sehingga menyebabkan penderita merasa lemah dan lelah.[4]

  • Pusing dan pingsan

Disebabkan oleh penurunan aliran darah karena denyut jantung yang abnormal atau karena ketidakmampuan jantung memompa dengan baik.[4]

Tumor Jantung[sunting | sunting sumber]

Tumor adalah suatu pertumbuhan abnormal, bisa berupa kanker ganas ataupun nonkanker (benigna, jinak).[4] Tumor di jantung dibagi menjadi dua kelompok:

Tumor Primer[sunting | sunting sumber]

Tumor primer berasal dari dalam jantung dan bisa terjadi pada bagian mana pun dari jaringan jantung.[4]

Tumor Sekunder[sunting | sunting sumber]

Tumor sekunder berasal dari bagian tubuh lain (biasanya paru-paru, payudara, dan kulit) yang menyebar ke jantung.[4]

Sebagian besar tumor jantung berbentuk miksoma.[8] Miksoma adalah tumor jinak, dimana bentuknya seperti agar-agar dan tidak teratur.[8] 75% dari miksoma berada di atrium kiri (bilik jantung yang menerima darah yang kaya akan oksigen dari paru-paru).[8]

Gejala miksoma:

Stroke[sunting | sunting sumber]

Stroke adalah gangguan fungsi sistem saraf yang terjadi mendadak dan disebabkan oleh gangguan peredaran darah otak.[9] Gangguan peredaran darah otak dapat berupa tersumbatnya pembuluh darah atau pecahnya pembuluh darah. [9] Hal ini menyebabkan kekurangan pasokan oksigen ke otak.[9] Gangguan fungsi otak ini yang menyebabkan gejala stroke.[9]

Jenis-jenis Stroke[sunting | sunting sumber]

Stroke Sumbatan (Stroke Iskemik)[sunting | sunting sumber]

Stroke sumbatan terjadi saat pembuluh darah ke otak tersumbat.[9] Stroke sumbatan terbagi dua, yaitu sumbatan akibat thrombus dan sumbatan akibat emboli.[9] Thrombus terjadi di dinding pembuluh darah sebagai bagian dari proses pengerasan dinding pembuluh darah (atherosklerosis).[9] Emboli adalah gumpalan darah yang berasal dari organ lain (misalnya gumpalan darah dari jantung).[9]

Stroke Perdarahan[sunting | sunting sumber]

Stroke perdarahan dibagi menjadi dua, yaitu:

  • Stroke Perdarahan Intraserebal

Stroke Perdarahan Intraserebal (pada jaringan otak) terbagi menjadi dua, yaitu perdarahan intraserebal primer yang disebabkan oleh hipertensi dan perdarahan intraserebal sekunder yang disebabkan oleh kelainan pembuluh darah, penggunaan obat pengencer darah, penyakit hati, dan leukimia.[9]

  • Stroke Perdarahan Subarachnoid (di bawah jaringan pembungkus otak).[9]

Faktor Risiko Stroke[sunting | sunting sumber]

1. Faktor Risiko Stroke yang Tidak Dapat Diubah[sunting | sunting sumber]

Faktor risiko stroke yang tidak dapat diubah adalah usia, jenis kelamin, ras, riwayat keluarga, dan riwayat stroke sebelumnya.[9] Orang dengan riwayat keluarga stroke mudah terkena penyakit stroke.[9]

2. Faktor Risiko Stroke yang Dapat Diubah[sunting | sunting sumber]

Faktor risiko stroke yang dapat diubah adalah hipertensi, diabetes, obesitas.[9]

Hipertensi[sunting | sunting sumber]

Hipertensi adalah tekanan darah tinggi.[4] Seseorang mengalami hipertensi apabila tekanan darahnya lebih dari 140/90 mmHg.[9] Hipertensi merupakan faktor risiko stroke, dan serangan jantung.[9]

Diabetes Melitus[sunting | sunting sumber]

Diabetes melitus dapat meningkatkan risiko stroke dua kali lipat.[9] Peningkatan kadar gula berhubungan lurus dengan risiko stroke (semakin tinggi kadar gula dalam darah, semakin mudah terkena stroke).[9]

Obesitas[sunting | sunting sumber]

obesitas

Obesitas adalah berat badan berlebih memiliki risiko yang tinggi.[9] Penelitian menghubungkan kegemukan (terutama kegemukan sentral) dengan peningkatan risiko stroke (Olsen, 2003).[9] Kegemukan sentral didefenisikan sebagai lingkar pinggang 120 cm atau lebih pada laki-laki dan 88 cm atau lebih pada perempuan.[9]

Gangguan pada Darah[sunting | sunting sumber]

Anemia[sunting | sunting sumber]

Anemia adalah penyakit akibat kekurangan hemoglobin dalam darahh.[3] Penyebab anemia adalah kurangnya kandungan hemoglobin dalam eritrosit, kurangnya eritrosit dalam darah, dan atau kurangnya volume darah dari volume normal.[3] Anemia dapat terjadi pada tubuh seseorang yang terluka dan mengeluarkan banyak darah, misalnya akibat kecelakaan.[3] Anemia juga dapat terjadi karena kekurangan ion besi, atau kekurangan vitamin B12, anemia ini disebut anemia pernisiosa.[3]

Thalasemia[sunting | sunting sumber]

Thalasemia adalah kondisi kelainan genetika dimana tubuh tidak mampu memproduksikan globin (protein pembentuk hemoglobin).[3] Jika penderita thalasemia mampu memproduksi eritrosit, biasanya usia sel darahnya lebih singkat dan lebih mudah rusak.[3]

Thalasemia dibedakan menjadi 3 tingkatan:

Thalasemia Mayor[sunting | sunting sumber]

Penderita penyakit ini mengalami anemia berat, mulai umur 3-6 bulan setelah lahir dan tidak dapat hidup tanpa transfusi darah.[3] Ciri fisik dari penderita thalasemia adalah kelainan tulang, berupa tulang pipi masuk ke dalam dan batang hidung menonjol, penonjolan dahi dan jarak kedua mata menjadi lebih jauh, serta tulang menjadi lemah dan keropos.[3] Gejala lain yang tampak adalah lemah, pucat, berat badan kurang, perut membuncit, dan pertumbuhan fisik tidak sesuai umur.[3]

Thalasemia Intermedia[sunting | sunting sumber]

Thalasemia Intermedia gejalanya lebih ringan.[3] Namun gejala seperti thalasemia mayor baru tampak pada masa dewasa.[3]

Thalasemia Minor[sunting | sunting sumber]

Thalasemia ini umumnya tidak memiliki gejala klinis yang khas, hanya ditandai dengan anemia ringan.[3]

Leukimia (Kanker Darah)[sunting | sunting sumber]

Leukimia atau kanker darah adalah penyakit yang disebabkan oleh bertambahnya sel darah putih yang tak terkendali.[10] Disamping itu, sel darah putih akan memakan sel darah merah (eritrosit) sehingga penderita mengalami anemia berat.[3] Gejala leukimia yaitu: demam, kedinginan, badan lemah dan sakit kepala, sering mengalami infeksi, penurunan berat badan, nyeri tulang dan sendi, berkeringat terutama di malam hari.[10]

Hemofilia[sunting | sunting sumber]

penyakit hemofilia

Hemofilia adalah penyakit darah yang sulit membeku.[3] Luka sedikit saja darah dapat mengucur terus, sehingga penderita mengalami kurang darah, bahkan bisa menyebabkan kematian.[3] Penyakit ini bersifat menurun, diwariskan orang tua kepada anaknya.[3] Kaum laki-laki besar kemungkinan mendapat warisan penyakit ini, karena gen hemofilia cenderung menampakkan pengaruhnya pada laki-laki.[3] Hemofilia bersifat mematikan sehingga kaum perempuan akan mati sebelum dewasa jika menderita penyakit ini.[3]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Praktis Belajar Biologi, untuk Kelas XI, SMA dan MA Program Ilmu Pengetahuan Alam, Visiindo
  2. ^ "Sistem Peredaran Darah". Kemdiknas. Diakses 11 April 2014.22.10. 
  3. ^ a b c d e f g h i j k l m n o p q r s t u "Sistem Peredaran Darah Pada Manusia". Kemdikbud. Diakses 11 April 2014.22.30. 
  4. ^ a b c d e f g h i j k l m n o p q r s t u v w x y z aa ab ac ad ae af ag ah ai aj ak al am an ao ap aq ar as at au av aw ax ay az ba bb bc bd be bf Mencermati Gangguan pada Darah dan Pembuluh Darah, hal 57, DIVA Press, Juli 2010
  5. ^ "Gangguan Kelainan Sistem Peredaran Darah". SMA Kita. Diakses 4 April 2014.23.50. 
  6. ^ a b "Bahaya Merokok Bagi Kesehatan Tubuh". Hidup Sehat. Diakses 2 April 2014.17.48. 
  7. ^ a b c d Pembunuh Berbahaya Itu Bernama Rokok. Riz’ma, 2009
  8. ^ a b c d "Tumor Jantung". Dokter Sehat. Diakses 10 April 2014.15.05. 
  9. ^ a b c d e f g h i j k l m n o p q r s t awas STROKE! Pengertian, gejala, tindakan, perawatan, & pencegahan. CV.Andi Offset, 2010
  10. ^ a b "Kelainan pada Sistem Peredaran Darah Manusia". Hikmat. Diakses 11 April 2014.23.15.