Pilek

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Pilek
Klasifikasi dan rujukan eksternal
Penampakan permukaan molekul pada salah satu varian virus rhinovirus.
ICD-10 J00.0
ICD-9 460
DiseasesDB 31088
MedlinePlus 000678
MeSH D003139

Pilek, biasa juga dikenal sebagai nasofaringitis, rinofaringitis, koriza akut, atau selesma, merupakan penyakit menular pada sistem pernapasan, mudah menyebar dan terutama menyerang hidung. Gejalanya meliputi batuk, sakit tenggorokan, hidung meler (rhinorrhea), dan demam. Gejala tersebut biasanya mereda setelah tujuh hingga sepuluh hari. Namun, beberapa gejala dapat berlangsung hingga tiga minggu. Lebih dari dua ratus virus dapat menjadi penyebab pilek. Rhinovirus merupakan penyebab paling umum penyakit tersebut.

Infeksi akut pada hidung, sinus, tenggorokan atau laring (infeksi saluran pernapasan bagian atas (URI atau URTI) dikelompokkan berdasarkan bagian tubuh yang paling banyak terinfeksi. Selesma terutama menyerang hidung, faring tenggorokan, dan sinus. Gejala yang timbul lebih dikarenakan oleh respons sistem kekebalan terhadap infeksi, bukan oleh kerusakan jaringan yang disebabkan oleh virus tersebut. Mencuci tangan adalah tindakan pencegahan infeksi yang paling utama. Beberapa bukti menunjukkan keefektifan pemakaian masker muka.

Tidak ada pengobatan untuk pilek, namun gejalanya bisa ditangani. Pilek adalah penyakit infeksi yang paling sering menyerang manusia. Orang dewasa rata-rata terserang pilek dua hingga tiga kali per tahun. Anak-anak rata-rata terkena pilek antara enam dan dua belas kali per tahun. Infeksi ini sudah ada dalam kehidupan manusia sejak zaman purba.

Tanda dan gejala[sunting | sunting sumber]

Gejala pilek yang paling sering timbul termasuk batuk, hidung meler, hidung tersumbat, dan sakit tenggorokan. Gejala lainnya bisa berupa nyeri otot (mialgia), sakit badan ringan, sakit kepala, dan hilangnya nafsu makan.[1] Sakit tenggorokan timbul pada 40% dari penderita pilek. Batuk muncul pada sekira 50% dari mereka.[2] Nyeri otot terjadi pada sekira setengah dari kasus pilek tersebut.[3] Demam tidak termasuk gejala biasa muncul pada orang dewasa, namun muncul pada bayi dan anak kecil.[3] Batuk yang disebabkan oleh pilek biasanya lebih ringan daripada batuk yang disebabkan oleh flu (influenza).[3] Batuk dan demam pada orang dewasa kemungkinan besar merupakan indikasi flu (influenza). [4] Beberapa jenis virus penyebab pilek mungkin juga tidak memunculkan gejala.[5][6] Warna mukus yang dikeluarkan saat batuk dari saluran pernapasan bagian bawah (dahak) berbeda-beda, mulai dari kuning hingga hijau. Warna mukus tidak dapat mengindikasikan apakah penyebab infeksi tersebut adalah bakteri atau virus.[7]

Perkembangan penyakit[sunting | sunting sumber]

Pilek biasanya diawali dengan sakit badan ringan, perasaan kedinginan, bersin-bersin, dan sakit kepala. Gejala lainnya seperti hidung meler dan batuk terjadi setelah dua hari atau lebih.[1] Secara umum, gejala mencapai puncaknya pada hari kedua hingga hari ketiga setelah infeksi terjadi.[3] Gejala biasanya mereda setelah tujuh hingga sepuluh hari, namun gejala tersebut dapat berlangsung hingga tiga minggu.[8] Batuk berlangsung hingga lebih dari sepuluh hari pada 35% hingga 40% kasus yang melibatkan anak-anak. Batuk berlanjut hingga lebih dari 25 hari pada 10% kasus yang melibatkan anak-anak.[9]

Penyebab[sunting | sunting sumber]

Virus[sunting | sunting sumber]

Coronavirus merupakan sekelompok virus yang dikenal sebagai penyebab pilek. Virus tersebut memiliki halo (semacam lingkaran yang mengelilingi suatu objek), atau tampilan yang menyerupai mahkota (korona) jika dilihat melalui mikroskop elektron.

Pilek merupakan infeksi saluran pernapasan atas yang mudah menular. Rhinovirus paling banyak menyebabkan pilek tersebut. Virus tersebut ditemukan pada 30% hingga 80% dari semua kasus yang ada. Rhinovirus adalah virus yang memiliki RNA dan merupakan bagian dari famili Picornaviridae. Terdapat 99 jenis virus yang telah diidentifikasikan sebagai famili virus tersebut.[10][11] Virus lain juga dapat menyebabkan pilek. Coronavirus menyebabkan 10% hingga 15% dari kasus. Flu (influenza) menyebabkan 5% hingga 15% dari kasus.[3] Kasus lain mungkin disebabkan oleh virus parainfluenza manusia, virus sinsisial pernapasan, adenovirus, enterovirus, dan metapneumovirus.[12] Seringkali, lebih dari satu jenis virus menyerang dan menyebabkan infeksi pilek.[13] Secara keseluruhan, lebih dari dua ratus virus dapat menyebabkan pilek.[3]

Penularan[sunting | sunting sumber]

Virus pilek biasanya ditularkan dengan satu cara dari dua cara penularan utama. Menghirup atau menelan droplet di udara yang mengandung virus. Atau terkena ingus yang terinfeksi atau objek yang terkontaminasi.[2][14] Belum ada kepastian mengenai cara apa yang menjadi metode penularan yang paling sering terjadi.[15] Virus dapat bertahan lebih lama di lingkungan sekitar. Kemudian virus dapat ditularkan dari tangan ke mata atau hidung di mana infeksi terjadi.[14] Orang yang duduk berdekatan mungkin paling berisiko terinfeksi virus tersebut.[15] Penularan sering terjadi di tempat penitipan anak dan di sekolah karena anak-anak berdekatan dan di antara mereka terdapat anak-anak dengan kekebalan tubuh yang rendah dan kebersihan yang buruk.[16] Infeksi tersebut kemudian terbawa ke rumah dan menular ke anggota lain di dalam keluarga.[16] Tidak terdapat bukti bahwa udara yang disirkulasi ulang selama berada di dalam pesawat komersial dapat menularkan virus.[14] Pilek yang disebabkan oleh rhinovirus sangat mudah menginfeksi selama tiga hari pertama timbulnya gejala, kemudian menjadi tidak terlalu menular setelahnya.[17]

Cuaca[sunting | sunting sumber]

Teori tradisional meyakini bahwa pilek ditularkan melalui pemajanan yang terus-menerus seperti dalam kondisi hujan atau musim dingin, oleh karena itu pilek disebut dengan cold (dingin dalam bahasa Inggris).[18] Faktor risiko yang disebabkan oleh penggunaan pendingin badan (body cooling) masih menjadi kontroversi.[19] Beberapa virus yang menyebabkan pilek bersifat musiman, lebih sering terjadi saat cuaca dingin atau saat hujan.[20] Hal ini terutama diyakini terjadi karena orang-orang lebih banyak menghabiskan waktu di dalam ruangan dan berdekatan satu dengan lainnya;[21] khususnya anak-anak yang pulang dari sekolah.[16] Namun, ini mungkin juga berkaitan dengan perubahan sistem pernapasan yang mengakibatkan mudahnya terjadi infeksi.[22] Kelembapan dapat meningkatkan risiko penularan karena udara kering memudahkan droplet kecil menyebar dengan mudah dan lebih jauh serta bertahan di udara lebih lama.[23]

Lain-lain[sunting | sunting sumber]

Imunitas kelompok, imunitas yang terjadi ketika semua orang dalam suatu kelompok menjadi kebal terhadap infeksi tertentu yang disebabkan oleh pemajanan sebelumnya terhadap virus-virus penyebab pilek. Selain itu populasi dengan anggota berusia lebih muda memiliki risiko lebih tinggi terkena infeksi pernapasan dibandingkan populasi dengan anggota berusia lebih tua yang berisiko lebih rendah terkena infeksi pernapasan.[24] Fungsi kekebalan yang rendah juga menjadi faktor risiko penyakit tersebut.[24][25] Tidur yang tidak cukup dan gizi buruk juga menimbulkan risiko lebih tinggi terhadap terjadinya infeksi setelah seseorang terpajan virus rhinovirus karena infeksi tersebut diyakini memengaruhi fungsi kekebalan.[26][27]

Patofisiologi[sunting | sunting sumber]

Pilek adalah penyakit saluran pernapasan atas.

Gejala pilek diyakini sangat berkaitan dengan respons imun terhadap virus.[28] Mekanisme respons imun tersebut berbeda-beda bergantung jenis virusnya. Contohnya, rhinovirus biasanya diperoleh melalui persinggungan langsung. Virus ini mengikat reseptor ICAM-1 manusia melalui metode yang tidak diketahui dan memicu pelepasan mediator inflamasi.[28] Kemudian mediator inflamasi ini memunculkan gejala.[28] Pada umumnya virus tersebut tidak menyebabkan kerusakan pada epitelium hidung.[3] Sebaliknya, virus sinsisial pernapasan (RSV)ditularkan secara langsung atau melalui droplet yang terbawa udara. Kemudian, virus mereplikasi diri di dalam hidung dan tenggorokan sebelum menyebar berkali-kali ke dalam saluran pernapasan bagian bawah.[29] RSV tidak menyebabkan kerusakan epitelium.[29] Virus parainfluenza manusia biasanya menyebabkan inflamasi di dalam hidung, tenggorokan, dan saluran pernapasan.[30] Pada anak kecil, apabila virus menyerang trakea,virus tersebut menimbulkan krup, batuk kering dan sesak napas. Hal tersebut dikarenakan kecilnya ukuran saluran pernapasan anak-anak.[30]

Diagnosis[sunting | sunting sumber]

Perbedaan infeksi saluran pernapasan bagian atas (URTI) semata karena gejalanya terlihat di lokasi yang berbeda. Pilek terutama menyerang hidung, faringitis terutama menyerang tenggorokan, dan bronkitis terutama menyerang paru-paru.[2] Pilek seringkali didefinisikan sebagai inflamasi hidung serta berbagai jenis inflamasi tenggorokan.[31] Swa-diagnosis biasa dilakukan.[3] Isolasi agen virus yang sesungguhnya jarang dilakukan.[31] Secara umum identifikasi jenis virus tidak mungkin dilakukan hanya berdasarkan gejalanya.[3]

Pencegahan[sunting | sunting sumber]

Satu-satunya cara efektif untuk mencegah pilek adalah dengan mencegah penularan virus secara fisik.[32] Tindakan pencegahan tersebut termasuk mencuci tangan dan memakai masker penutup muka. Di lingkungan pusat pelayanan kesehatan, jubah dan sarung tangan sekali pakai juga dikenakan.[32] Mengisolasi orang yang terkena pilek tidak mungkin dilakukan karena penyakit tersebut dapat menyebar kemana-mana dan gejalanya pun tidak spesifik. Vaksinasi terbukti sulit untuk mencegah penularan karena terlalu banyak virus yang dapat menyebabkan pilek dan virus-virus tersebut mengalami perubahan yang sangat cepat.[32] Pengembangan vaksin pencegah pilek yang sangat ampuh juga sepertinya tidak mungkin dilakukan.[33]

Mencuci tangan secara teratur mengurangi penularan virus selesma dan hal tersebut merupakan metode pencegahan yang paling efektif pada anak-anak.[34] Belum diketahui apakah menggunakan atau tidak menggunakan zat antivirus atau antibakteri pada saat mencuci tangan biasa mampu meningkatkan faedah mencuci tangan.[34] Memakai masker penutup muka ketika berdekatan dengan orang yang terinfeksi mungkin bisa berguna. Tidak ada bukti cukup untuk memastikan bahwa tindakan pencegahan dengan cara menjauhi penderita selesma atau pilek secara fisik atau dalam pergaulan dapat berguna.[34] Konsumsi suplemen Zinc mungkin efektif guna mengurangi frekuensi seseorang terserang pilek.[35] Konsumsi suplemen vitamin C secara rutin tidak dapat mengurangi risiko keparahan pilek tersebut. Vitamin C mungkin mengurangi lamanya pilek.[36]

Manajemen[sunting | sunting sumber]

Poster yang menghimbau para warga untuk "Berkonsultasilah dengan Dokter Anda" untuk penanganan pilek

Saat ini belum ada obat-obatan maupun jamu yang terbukti mampu memperpendek masa infeksi.[37] Penanganan meliputi pemberian obat pengurang gejala.[38] Pengurangan gejala termasuk juga memperbanyak istirahat, memperbanyak minum air agar tetap terhidrasi, berkumur-kumur dengan air garam hangat.[12] Namun demikian, sebagian besar faedah perawatan ini diyakini sebagai efek plasebo.[39]

Tentang gejalanya[sunting | sunting sumber]

Penanganan yang membantu meringankan gejala termasuk obat-obatan penghilang nyeri ringan (analgesik) dan penawar demam (antipiretik) seperti ibuprofen[40] dan asetaminofen/parasetamol.[41] Bukti tidak menunjukkan bahwa obat batuk lebih efektif daripada obat-obatan untuk mengurangi nyeri ringan(analgesik). [42] Obat batuk juga tidak dianjurkan untuk digunakan pada anak-anak karena kurangnya bukti keefektifannya dan karena dapat membahayakan.[43][44] Pada 2009, Kanada melakukan pelarangan terhadap penggunaan obat batuk dan flu yang dijual bebas pada anak-anak usia enam tahun atau di bawah enam tahun karena ada kekhawatiran akan timbul risiko dan karena manfaatnya yang tidak dapat dibuktikan.[43] Akibat penyalahgunaan dekstrometorfan (obat batuk yang dijual bebas), penggunaan obat tersebut dilarang di sejumlah negara.[45]

Pada orang dewasa, gejala seperti hidung meler dapat diringankan dengan antihistamin generasi pertama. Namun, antihistamin generasi pertama diyakini menimbulkan efek samping, misalnya rasa kantuk.[38] Dekongestan lain seperti pseudoephedrine juga efektif pada orang dewasa.[46] Semprot hidung Ipratropium dapat meredakan gejala hidung meler, namun akan sedikit berakibat pada hidung mampet.[47] Antihistamin generasi kedua sepertinya tidak efektif.[48]

Karena kurangnya penelitian, belum diketahui apakah memperbanyak asupan cairan dapat meredakan gejala atau memperpendek durasi penyakit pernapasan tersebut. [49] Penggunaan udara yang dilembapkan dengan pemanasan juga belum diketahui dapat meredakan gejala karena kurangnya data mengenai hal tersebut.[50] Suatu penelitian menemukan bahwa balsam gosok dada efektif untuk meredakan gejala batuk pada malam hari, hidung mampet, dan susah tidur.[51]

Antibiotik dan antivirus[sunting | sunting sumber]

Antibiotik tidak mempan untuk melawan infeksi virus, oleh sebab itu antibiotik juga tidak mempan untuk melawan pilek.[52] Biasanya antibiotik diresepkan meskipun menimbulkan efek samping yang buruk.[52][53] Biasanya antibiotik diresepkan karena pasien mengharapkan dokter memberikannya dan dokter ingin membantu pasiennya. Meresepkan antibiotik juga dilakukan karena sulitnya menentukan penyebab infeksi mana yang dapat disembuhkan dengan antibiotik.[54] Tidak ada obat-obatan antivirus untuk mengatasi pilek meskipun beberapa penelitian awal menunjukkan bahwa obat-obatan tersebut bermanfaat.[38][55]

Penanganan alternatif[sunting | sunting sumber]

Meskipun terdapat banyak penanganan alternatif yang digunakan untuk pilek, tidak ada cukup bukti untuk mendukung penggunaan penanganan biasa.[38] Sejak 2010, tidak ada cukup bukti untuk menganjurkan atau tidak menganjurkan madu atau irigasi hidung.[56][57] Suplemen Zinc dapat meredakan keparahan dan memperpendek durasi gejala apabila dikonsumsi dalam kurun waktu 24 jam sejak gejala awal muncul.[35] Efek vitamin C pada selesma, meskipun telah diteliti secara luas, mengecewakan.[36][58] Bukti mengenai kegunaan echinacea tidaklah ajek.[59][60] Jenis suplemen echinacea yang berbeda memiliki keefektifan yang berbeda pula.[59]

Hasil[sunting | sunting sumber]

Pilek biasanya ringan dan hilang dengan sendirinya seiring meredanya gejala pilek setelah satu minggu.[2] Komplikasi yang parah, jika ada, dialami oleh mereka yang berusia sangat tua, sangat muda, atau mereka yang mengalami imunosupresi (memiliki sistem imun yang lemah).[61] Infeksi bakteri sekunder dapat terjadi dan menyebabkan sinusitis, faringitis, atau infeksi telinga.[62] Sinusitis diperkirakan terjadi pada 8% kasus. Infeksi telinga terjadi pada 30% kasus.[63]

Kemungkinan[sunting | sunting sumber]

Pilek atau selesma merupakan penyakit yang paling umum pada manusia [61] dan terjadi di seluruh dunia.[16] Orang dewasa biasanya terkena infeksi dua hingga lima kali per tahun.[2][3] Anak-anak dapat terserang pilek enam hingga sepuluh kali per tahun (dan hingga dua belas kali per tahun pada anak sekolah).[38]Angka infeksi dengan gejala meningkat pada manula karena sistem imun yang melemah.[24]

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Meskipun penyebab pilek baru dapat diidentifikasi pada 1950-an, penyakit tersebut telah ada di tengah kehidupan manusia sejak zaman purba.[64] Gejala dan penanganannya dijelaskan dalam papirus Ebers dari Mesir, teks medis tertua yang pernah ada, ditulis sebelum abad ke-16 Sebelum Masehi.[65] Istilah “selesma” ("common cold") mulai digunakan pada abad ke-16, yakni karena kemiripan gejalanya dengan gejala orang yang terpajan cuaca dingin.[66]

Di Inggris, Common Cold Unit (CCU) dibuat oleh Medical Research Council pada 1946 dan di sanalah rhinovirus ditemukan pada 1956.[67] Pada 1970-an, CCU menunjukkan bahwa penanganan dengan interferon selama fase inkubasi infeksi rhinovirus memberikan perlindungan dari penyakit tersebut.[68] Belum ada penanganan praktis yang dapat dikembangkan. Unit tersebut ditutup pada 1989, dua tahun setelah unit tersebut menyelesaikan riset terhadap tablet hisap zink glukonat untuk pencegahan dan penanganan pilek yang disebabkan oleh rhinovirus. Zink menjadi satu-satunya penanganan yang berhasil yang dikembangkan sepanjang sejarah CCU.[69]

Dampak Ekonomi[sunting | sunting sumber]

Poster di Inggris dari Perang Dunia II yang menggambarkan biaya penanganan selesma[70]

Dampak ekonomi dari pilek belum dipahami secara benar di sebagian besar negara di dunia.[71] Di Amerika Serikat, terdapat 75 juta hingga 100 juta kunjungan ke dokter per tahun dengan keluhan selesma atau pilek dan perkiraan biayanya mencapai $7,7 juta per tahun. Penduduk Amerika membelanjakan $2,9 juta untuk obat-obatan yang dijual bebas. Penduduk Amerika membelanjakan $400 juta lainnya untuk obat-obatan dengan resep dokter hanya untuk meringankan gejala pilek.[72] Lebih dari sepertiga pasien yang memeriksakan diri ke dokter menerima resep antibiotik. Penggunaan resep antibiotik menimbulkan implikasi kekebalan terhadap antibiotik.[72] Sekira 22 juta hingga 189 juta hari terbuang setiap tahunnya karena pilek. Akibatnya, para orang tua absen dari kerja mereka selama 126 juta hari kerja agar mereka bisa berada di rumah dan merawat anak-anak mereka. Jika ditambahkan dengan 150 juta hari kerja yang ditinggalkan oleh para pegawai yang menderita pilek, dampak ekonomi total dari hilangnya waktu kerja yang disebabkan oleh penyakit pilek melampaui $20 miliar per tahun.[12][72] Ini berarti 40% dari total waktu kerja yang hilang di Amerika Serikat.[73]

Penelitian[sunting | sunting sumber]

Kemanjuran sejumlah obat antivirus telah diuji untuk menangani penyakit pilek. Sejak 2009, belum ada yang terbukti efektif maupun mendapat lisensi.[74] Percobaan terhadap obat antivirus pleconaril sedang dilakukan. Obat ini menjanjikan solusi untuk melawan picornavirus. Percobaan lain juga sedang dilakukan yakni percobaan terhadap BTA-798.[75] Bentuk obat oral pleconaril semula bermasalah dengan keamanannya, oleh karena itu penelitian dilakukan terhadap bentuk semprotnya.[75]

Peneliti dari University of Maryland, College Park dan University of Wisconsin–Madison telah memetakan genom untuk semua galur virus penyebab pilek yang telah diketahui.[76]


Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b Eccles Pg. 24
  2. ^ a b c d e Arroll, B (2011 Mar 16). "Common cold.". Clinical evidence 2011 (03). PMID 21406124. 
  3. ^ a b c d e f g h i j Eccles R (November 2005). "Understanding the symptoms of the common cold and influenza". Lancet Infect Dis 5 (11): 718–25. doi:10.1016/S1473-3099(05)70270-X. PMID 16253889. 
  4. ^ Eccles Pg.26
  5. ^ Eccles Pg. 129
  6. ^ Eccles Pg.50
  7. ^ Eccles Pg.30
  8. ^ Heikkinen T, Järvinen A (January 2003). "The common cold". Lancet 361 (9351): 51–9. doi:10.1016/S0140-6736(03)12162-9. PMID 12517470. 
  9. ^ Goldsobel AB, Chipps BE (March 2010). "Cough in the pediatric population". J. Pediatr. 156 (3): 352–358.e1. doi:10.1016/j.jpeds.2009.12.004. PMID 20176183. 
  10. ^ Palmenberg, A. C.; Spiro, D; Kuzmickas, R; Wang, S; Djikeng, A; Rathe, JA; Fraser-Liggett, CM; Liggett, SB (2009). "Sequencing and Analyses of All Known Human Rhinovirus Genomes Reveals Structure and Evolution". Science 324 (5923): 55–9. doi:10.1126/science.1165557. PMID 19213880. 
  11. ^ Eccles Pg.77
  12. ^ a b c "Common Cold". National Institute of Allergy and Infectious Diseases. 27 November 2006. Diakses 11 June 2007. 
  13. ^ Eccles Pg.107
  14. ^ a b c editors, Ronald Eccles, Olaf Weber, (2009). Common cold (ed. Online-Ausg.). Basel: Birkhäuser. hlm. 197. ISBN 9783764398941. 
  15. ^ a b Eccles Pg.211
  16. ^ a b c d al.], edited by Arie J. Zuckerman ... [et (2007). Principles and practice of clinical virology (ed. 6th ed.). Hoboken, N.J.: Wiley. hlm. 496. ISBN 9780470517994. 
  17. ^ Gwaltney JM Jr, Halstead SB. "Contagiousness of the common cold".  Invited letter in "Questions and answers". Journal of the American Medical Association 278 (3): 256–257. 16 July 1997. Diakses 16 September 2011. 
  18. ^ Zuger, Abigail (4 March 2003). "'You'll Catch Your Death!' An Old Wives' Tale? Well...". The New York Times. 
  19. ^ Mourtzoukou, EG; Falagas, ME (2007 Sep). "Exposure to cold and respiratory tract infections.". The international journal of tuberculosis and lung disease : the official journal of the International Union against Tuberculosis and Lung Disease 11 (9): 938–43. PMID 17705968. 
  20. ^ Eccles Pg.79
  21. ^ Eccles Pg.80
  22. ^ Eccles Pg.80
  23. ^ Eccles Pg. 157
  24. ^ a b c Eccles Pg. 78
  25. ^ Eccles Pg.166
  26. ^ Cohen S, Doyle WJ, Alper CM, Janicki-Deverts D, Turner RB (January 2009). "Sleep Habits and Susceptibility to the Common Cold". Arch. Intern. Med. 169 (1): 62–7. doi:10.1001/archinternmed.2008.505. PMC 2629403. PMID 19139325. 
  27. ^ Eccles Pg.160–165
  28. ^ a b c Eccles Pg. 112
  29. ^ a b Eccles Pg.116
  30. ^ a b Eccles Pg.122
  31. ^ a b Eccles Pg. 51–52
  32. ^ a b c Eccles Pg.209
  33. ^ Lawrence DM (May 2009). "Gene studies shed light on rhinovirus diversity". Lancet Infect Dis 9 (5): 278. doi:10.1016/S1473-3099(09)70123-9. 
  34. ^ a b c Jefferson, T; Del Mar, CB, Dooley, L, Ferroni, E, Al-Ansary, LA, Bawazeer, GA, van Driel, ML, Nair, S, Jones, MA, Thorning, S, Conly, JM (2011 Jul 6). "Physical interventions to interrupt or reduce the spread of respiratory viruses.". Cochrane database of systematic reviews (Online) (7): CD006207. doi:10.1002/14651858.CD006207.pub4. PMID 21735402. 
  35. ^ a b Singh, M; Das, RR (2011 Feb 16). "Zinc for the common cold.". Cochrane database of systematic reviews (Online) (2): CD001364. doi:10.1002/14651858.CD001364.pub3. PMID 21328251. 
  36. ^ a b Hemilä, Harri; Chalker, Elizabeth; Douglas, Bob; Hemilä, Harri (2007). "Vitamin C for preventing and treating the common cold". In Hemilä, Harri. Cochrane database of systematic reviews (3): CD000980. doi:10.1002/14651858.CD000980.pub3. PMID 17636648. 
  37. ^ "Common Cold: Treatments and Drugs". Mayo Clinic. Diakses 9 January 2010. 
  38. ^ a b c d e Simasek M, Blandino DA (2007). "Treatment of the common cold". American Family Physician 75 (4): 515–20. PMID 17323712. 
  39. ^ Eccles Pg.261
  40. ^ Kim SY, Chang YJ, Cho HM, Hwang YW, Moon YS (2009). "Non-steroidal anti-inflammatory drugs for the common cold". In Kim, Soo Young. Cochrane Database Syst Rev (3): CD006362. doi:10.1002/14651858.CD006362.pub2. PMID 19588387. 
  41. ^ Eccles R (2006). "Efficacy and safety of over-the-counter analgesics in the treatment of common cold and flu". Journal of Clinical Pharmacy and Therapeutics 31 (4): 309–319. doi:10.1111/j.1365-2710.2006.00754.x. PMID 16882099. 
  42. ^ Smith SM, Schroeder K, Fahey T (2008). "Over-the-counter medications for acute cough in children and adults in ambulatory settings". In Smith, Susan M. Cochrane Database Syst Rev (1): CD001831. doi:10.1002/14651858.CD001831.pub3. PMID 18253996. 
  43. ^ a b Shefrin AE, Goldman RD (November 2009). "Use of over-the-counter cough and cold medications in children". Can Fam Physician 55 (11): 1081–3. PMC 2776795. PMID 19910592. 
  44. ^ Vassilev, ZP; Kabadi, S, Villa, R (2010 Mar). "Safety and efficacy of over-the-counter cough and cold medicines for use in children.". Expert opinion on drug safety 9 (2): 233–42. doi:10.1517/14740330903496410. PMID 20001764. 
  45. ^ Eccles Pg. 246
  46. ^ Taverner D, Latte J (2007). "Nasal decongestants for the common cold". In Latte, G. Jenny. Cochrane Database Syst Rev (1): CD001953. doi:10.1002/14651858.CD001953.pub3. PMID 17253470. 
  47. ^ Albalawi, ZH; Othman, SS, Alfaleh, K (2011 Jul 6). "Intranasal ipratropium bromide for the common cold.". Cochrane database of systematic reviews (Online) (7): CD008231. doi:10.1002/14651858.CD008231.pub2. PMID 21735425. 
  48. ^ Pratter, MR (2006 Jan). "Cough and the common cold: ACCP evidence-based clinical practice guidelines.". Chest 129 (1 Suppl): 72S–74S. doi:10.1378/chest.129.1_suppl.72S. PMID 16428695. 
  49. ^ Guppy, MP; Mickan, SM, Del Mar, CB, Thorning, S, Rack, A (2011 Feb 16). "Advising patients to increase fluid intake for treating acute respiratory infections.". Cochrane database of systematic reviews (Online) (2): CD004419. doi:10.1002/14651858.CD004419.pub3. PMID 21328268. 
  50. ^ Singh, M; Singh, M (2011 May 11). "Heated, humidified air for the common cold.". Cochrane database of systematic reviews (Online) (5): CD001728. doi:10.1002/14651858.CD001728.pub4. PMID 21563130. 
  51. ^ Paul IM, Beiler JS, King TS, Clapp ER, Vallati J, Berlin CM (December 2010). "Vapor rub, petrolatum, and no treatment for children with nocturnal cough and cold symptoms". Pediatrics 126 (6): 1092–9. doi:10.1542/peds.2010-1601. PMID 21059712. 
  52. ^ a b Arroll B, Kenealy T (2005). "Antibiotics for the common cold and acute purulent rhinitis". In Arroll, Bruce. Cochrane Database Syst Rev (3): CD000247. doi:10.1002/14651858.CD000247.pub2. PMID 16034850. 
  53. ^ Eccles Pg.238
  54. ^ Eccles Pg.234
  55. ^ Eccles Pg.218
  56. ^ Oduwole, O; Meremikwu, MM, Oyo-Ita, A, Udoh, EE (2010 Jan 20). "Honey for acute cough in children.". Cochrane database of systematic reviews (Online) (1): CD007094. doi:10.1002/14651858.CD007094.pub2. PMID 20091616. 
  57. ^ Kassel, JC; King, D, Spurling, GK (2010 Mar 17). "Saline nasal irrigation for acute upper respiratory tract infections.". Cochrane database of systematic reviews (Online) (3): CD006821. doi:10.1002/14651858.CD006821.pub2. PMID 20238351. 
  58. ^ Heiner, Kathryn A; Hart, Ann Marie; Martin, Linda Gore; Rubio-Wallace, Sherrie (2009). "Examining the evidence for the use of vitamin C in the prophylaxis and treatment of the common cold". Journal of the American Academy of Nurse Practitioners 21 (5): 295–300. doi:10.1111/j.1745-7599.2009.00409.x. PMID 19432914. 
  59. ^ a b Linde K, Barrett B, Wölkart K, Bauer R, Melchart D (2006). "Echinacea for preventing and treating the common cold". In Linde, Klaus. Cochrane Database Syst Rev (1): CD000530. doi:10.1002/14651858.CD000530.pub2. PMID 16437427. 
  60. ^ Sachin A Shah, Stephen Sander, C Michael White, Mike Rinaldi, Craig I Coleman (2007). "Evaluation of echinacea for the prevention and treatment of the common cold: a meta-analysis". The Lancet Infectious Diseases 7 (7): 473–480. doi:10.1016/S1473-3099(07)70160-3. PMID 17597571. 
  61. ^ a b Eccles Pg. 1
  62. ^ Eccles Pg.76
  63. ^ Eccles Pg.90
  64. ^ Eccles Pg. 3
  65. ^ Eccles Pg.6
  66. ^ "Cold". Online Etymology Dictionary. Diakses 12 January 2008. 
  67. ^ Eccles Pg.20
  68. ^ Tyrrell DA (1987). "Interferons and their clinical value". Rev. Infect. Dis. 9 (2): 243–9. doi:10.1093/clinids/9.2.243. PMID 2438740. 
  69. ^ Al-Nakib, W; Higgins, PG; Barrow, I; Batstone, G; Tyrrell, DA (December 1987). "Prophylaxis and treatment of rhinovirus colds with zinc gluconate lozenges". J Antimicrob Chemother. 20 (6): 893–901. doi:10.1093/jac/20.6.893. PMID 3440773. 
  70. ^ "The Cost of the Common Cold and Influenza". Imperial War Museum: Posters of Conflict. vads. 
  71. ^ Eccles Pg.90
  72. ^ a b c Fendrick AM, Monto AS, Nightengale B, Sarnes M (2003). "The economic burden of non-influenza-related viral respiratory tract infection in the United States". Arch. Intern. Med. 163 (4): 487–94. doi:10.1001/archinte.163.4.487. PMID 12588210. 
  73. ^ Kirkpatrick GL (December 1996). "The common cold". Prim. Care 23 (4): 657–75. doi:10.1016/S0095-4543(05)70355-9. PMID 8890137. 
  74. ^ Eccles Pg.218
  75. ^ a b Eccles Pg.226
  76. ^ "Genetic map of cold virus a step toward cure, scientists say". Val Willingham (CNN). March 2009. Diakses 28 April 2009. 

Bacaan lanjutan[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]