Sakit kepala

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Sakit kepala
Klasifikasi dan rujukan eksternal
Sakit kepala.
ICD-10 G43.-G44., R51.
ICD-9 339, 784.0
DiseasesDB 19825
MedlinePlus 003024
eMedicine neuro/517  neuro/70
MeSH D006261

Sakit kepala yang secara medis dikenal sebagai cephalalgia atau dilafalkan cephalgia adalah suatu kondisi terdapatnya rasa sakit di dalam kepala: kadang sakit di belakang leher atau punggung bagian atas, disebut juga sebagai sakit kepala. Jenis penyakit ini termasuk dalam keluhan-keluhan penyakit yang sering diutarakan.

Klasifikasi[sunting | sunting sumber]

Sakit kepala adalah masalah universal, dengan prevalensi hampir 99%, dan merupakan alasan paling umum untuk rujukan neurologis. Sakit kepala bisa memiliki makna klinis sedikit akan tetapi juga mungkin menjadi pertanda adanya penyakit yang mengancam jiwa.(mayo)Rasa sakit pada kepala disebabkan oleh traksi/penarikan, perpindahan, peradangan, spasme dari pembuluh darah, atau distensi dari struktur di kepala atau leher yang sensitif terhadap rasa nyeri.[1]

Salah satu jenis sakit kepala yang juga banyak dikeluhkan adalah sakit kepala sebelah atau migrain. Serangan sakit kepala migrain terasa lebih menyiksa dan terkadang datang tiba-tiba. Penderita migrain akan merasakan nyeri dan berdenyut seperti dipukuli dan ditarik-tarik dan biasanya disertai dengan gangguan saluran cerna seperti mual dan muntah. Penderitanya pun cenderung menjadi lebih sensitif terhadap cahaya, suara dan bau-bauan. Hal itu tentu amat mengganggu dan bisa menghambat segala aktifitas si penderita.

Kata migrain berasal dari bahasa Yunani yaitu hemicrania (hemi = setengah, cranium = tengkorak kepala). Serangan sakit kepala migrain dapat terjadi beberapa kali setahun sampai beberapa kali seminggu, dengan lama serangan biasanya 1-2 jam. Migrain atau sakit kepala sebelah sebenarnya belum diketahui secara pasti penyebabnya. Namun, diperkirakan jenis sakit kepala ini disebabkan karena adanya hiperaktifitas impuls listrik otak yang meningkatkan aliran darah di otak sehingga terjadi pelebaran pembuluh darah otak serta proses inflamasi (luka radang). Ada juga Sakit kepala tipe ketegangan (tension type headache, atau TTH) cirinya adalah kedua sisi kepala seperti diremas dengan kencang, tapi tidak disertai gejala lain (tidak mual, muntah, sensitif cahaya, dan lain-lain).

Sakit kepala sebagian besar bersifat primer yaiatu tanpa ada penyakit yang mendasarinya seperti migrain, cluster, dan tension type headache. Meskipun demikian ada juga sakit kepala yang disebabkan oleh sebuah proses yang mendasari penyakit atau kondisi atau biasa disebut sakit kepala sekunder, dimana kondisi ini harus menjadi fokus awal dalam evaluasi diagnostik sakit kepala. Manifestasi dari penyakit sistemik yang mendasari dapat membantu dalam diagnosis etiologi sakit kepala dan harus selalu dicari. Karena jika sampai terlambat bisa berakibat fatal.[2]

Berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan dari sakit kepala yang menjadi pertanda sakit kepala sekunder.

Migraine.jpg
  1. Profil temporal/waktu.sakit kepala yang akut/mendadak menunjukkan penyebab vaskular. Dalam hal ini, yang paling dipertimbangkan sebagai diagnostik serius adalah perdarahan ''subarachnoid'', perdarahan dari malformasi arteriovenosa, hipofisis pitam, dan perdarahan ke dalam lesi massa. Jika ditemukan keluhan ini pemeriksaan CT-scan merupakan pemeriksaan tambahan yang disarankan.[2]
  2. Profil lain yang mengkhawatirkan adalah percepatan pola sakit kepala. Paling umum, pola ini

terjadi pada pasien yang telah menggunakan obat analgesik secara berlebihan, tetapi juga ada kemungkinan penyebabnya akibat lesi massa yang membesar seperti tumor atau hematoma subdural.[2]

  1. Sebuah sakit kepala yang baru saja dialamai oleh pasien dengan keganasan atau orang yang yang immunocompromised harus selalu diselidiki. Karena pertimbangan diagnostik metastasis, carcinomatous atau infeksi meningitis, dan abses otak,[2]
  2. Pasien dengan sakit kepala yang juga disertai demam, leher kaku, ruam, atau tanda-tanda lain dari penyakit sistemik juga perlu dicurigai terkena penyakit infeksi seperti: Meningitis, Ensefalitis,

penyakit Lyme, dan infeksi sistemik yang berhubungan dengan sakit kepala.[2]

  1. Penurunan berat badan terakhir mungkin menyertai keganasan, arteritis sel raksasa, atau depresi.[1]
  2. Demam atau kedinginan mungkin menunjukkan infeksi sistemik atau meningitis.[1]
  3. Dispnea atau gejala lain dari penyakit jantung meningkatkan kemungkinan endokarditis infektif subakut dan abses otak yang dihasilkan.[1]
  4. Gangguan visual menunjukkan kelainan mata (misalnya, glaukoma), migrain, atau proses intrakranial yang melibatkan saraf optik atau saluran atau jalur penglihatan sentral.[1]
  5. Mual dan muntah yang umum di migrain dan sakit kepala biasanya merupakan tanda sindrom pasca trauma atau dapat dilihat sebagai perkembangan dari lesi massa. Beberapa pasien dengan migrain

juga melaporkan bahwa diare bisa turut menyertai serangan.[1]

  1. Fotofobia mungkin menonjol di migrain dan meningitisakut atau perdarahan subarachnoid.[1]
  2. Mialgia sering menyertai tension type headache, namun bisa juga akibat dari infeksi virus ataupun arteritis sel raksasa.[1]
  3.  ;Ipsilateral:satu sisi rinore dan lakrimasi selama sakit kepala menandakan serangan cluster.[1]
  4. Kehilangan kesadaran sementara mungkin diakibatkan karena migrain atau neuralgia glosofaringeal. [1]

Epidemiologi[sunting | sunting sumber]

Migrain

Meskipun banyak orang di masyarakat umumnya mengalami tension type headache (TTH) dibanding migrain, akan tetapi sebagian besar orang yang menderita sakit kepala mencari pengobatan ketika menderita migrain. Lebih dari 90% dari 1203 pasien konsultasi dokter umum datang dengan keluhan sakit kepala didiagnosis dengan migrain sebagai penyebab keluhan mereka. Meskipun prevalensi pasien dokter umum yang didiagnosis migrain cukup banyak di antara pasien sakit kepala, akan tetapi pasien sendiri seringkali yakin bahwa sakit kepala yang mereka alami diakibatkan oleh penyakit sinus.[3]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c d e f g h i j (Inggris) David A. Greenberg, Michael J. Aminoff, Roger P. Simon (2002). Clinical Neurology 5th edition. McGraw-Hill/Appleton & Lange. -. 
  2. ^ a b c d e (Inggris) Andrea C. Adams, MD (2008). Mayo Clinic Essential Neurology. Mayo Foundation. ISBN-13 9781420079739. 
  3. ^ (Inggris) Dawn A. Marcus, MD (2007). Headache and Chronic Pain Syndromes. Humana Press Inc. eISBN 1-59745-258-0. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]