Fansub

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari

Fansub (Kependekan dari fan-subtitled) adalah versi acara televisi yang telah dialihbahasakan oleh para penggemar dan telah diberi teks terjemahan dalam bahasa selain bahasa aslinya. Materi yang paling umum dalam fansub berbahasa Inggris adalah Anime Jepang. Fenomena yang serupa berlaku juga dalam bahasa secara umum selain bahasa Inggris.

Karena tindakan pendistribusian "materi yang disubtitle oleh fan" merupakan pelanggaran hak cipta di beberapa negara, implikasi dari kegiatan produksi, distribusi, dan menonton fansub adalah topik yang penuh kontroversi sepanjang masa, meskipun faktanya kelompok fansub tidak mengambil keuntungan finansial dari kegiatan mereka, dan dalam banyak kasus menghentikan distribusi apabila pekerjaan mereka menjadi materi terlisensi dalam region bersangkutan.

Evolusi Fansub[sunting | sunting sumber]

Fansub bermula ketika ledakan produksi anime sekitar tahun 1980-an di Jepang. Pada saat itu relatif sedikit judul yang terlisensi untuk didistribusikan di luar Jepang. Hal ini membuat fans Anime di seluas dunia kesulitan untuk mendapatkan judul-judul baru. Beberapa fans, pada umumnya mereka yang sanggup berbahasa Jepang, mulai memroduksi anime bersubtitle amatiran agar dapat dibagikan kepada rekan-rekan sesama pecinta Anime Jepang - yang tidak dapat berbahasa Jepang. Agar terhindar dari masalah legalitas, maka fansub menerapkan prinsip "distribusi tanpa mengambil keuntungan".

Media pertama yang dipergunakan untuk mendistribusikan fansub adalah VHS. Tentu saja media demikian membuat Anime yang didistribusikan rendah secara kualitas, memakan waktu lama dalam produksi, susah didapatkan, dan mahal! (sekitar US$4000 pada tahun 1986). Dibuat dalam jumlah terbatas dan didistribusikan ke kelompok-kelompok pecinta anime lokal melalui jasa ekspedisi. Seorang fans dapat memperoleh anime dengan harga yang pantas, atau dapat juga menghubungi kelompok yang bersangkutan untuk mendapatkan kopi dari fansub dengan menggunakan video kaset blank milik mereka sendiri.

Namun, melalui kemajuan dan semakin umumnya akses Internet berkecepatan tinggi, video editing, dan DVD ripping desktop, metode asli dalam produksi fansub telah ditinggalkan dan diganti menjadi digital fansubbing (digisubbing) dan menggunakan metode distribusi elektronik sebagai hasil dari digisub. Hal ini memungkinkan proses pembuatan fansub yang semula sangat susah, sangat lambat dan dengan hasil kualitas rendahan menjadi lebih murah, mudah dan cepat dan dengan kualitas terbaik yang bisa dibuat, bahkan bisa dibandingkan dengan kualitas aslinya. Beberapa kelompok bahkan menrilis dalam kualitas HD.

Meskipun demikian, sebagian besar fansub membuat rilisnya jauh dibawah kualitas DVD, sering kali dengan channel suara lebih sedikit dan kualitas gambar lebih rendah. Ini disebabkan fansub mengambil material yang berasal dari rekaman TV. Bahkan fansub yang menggunakan materi berasal dari DVD pun mempunyai kualitas yang lebih rendah. Ini disebabkan karena standard ukuran file : 175 MB, 233 MB, dan 350 MB. Standart tersebut diterapkan oleh fansub karena itu adalah angka yang genap dibagi dalam medium 700Mb - ukuran standard kebanyakan CD-R. Sejak diperkenalkan medium DVD, ukuran 172 MB dan 344 MB juga dipergunakan, ini memungkinkan anime sepanjang 13 atau 26 episode (satu season) untuk muat ke dalam satu keping DVD. Namun, sejak sebagian besar dari digisub menggunakan metode kompresi MPEG-4 yang lebih bagus, dibandingkan dengan metode kompresi MPEG-2 yang digunakan dalam DVD, pernedaan kualitas dengan DVD asli menjadi semakin tipis meskipun ukuran filenya lebih kecil.

Digisub sekarang berada pada titik kualitas dan pada tingkat aksesibilitas yang sedemikian tinggi, meskipun anjuran yang diberikan fansub untuk membeli kopi asli dari Anime sering kali dilanggar namun penelitian yang dibuat dari Yale Economic Review menunjukkan bahwa orang-orang yang mendownload fansub juga membeli originalnya bahkan tidak kurang dari orang yang tidak mendownload fansub. Kesimpulan ini kemudian menjadi pertanyaan serius. Stabilitas perekonomian di Amerika Serikat dan Jepang sulit mengukur secara tepat konsekuensi yang ditimbulkan oleh digisub dalam industri komersial.

Beberapa komunitas anime berpendapat bahwa digisubbing telah berubah fungsi yang semulanya berupa sebuah kultur fansub menjadi sesuatu yang tidak lebih daripada pembajakan sarana hiburan yang murah, dan bahkan menganggapnya sama dengan Zero day warez trading. Beberapa fansub bahkan muncul di situs-situs wares - meskipun hal itu disebabkan karena trader [warez]] yang kebetulan juga adalah fans anime, yang kemudian secara tidak sengaja berlanjut ke situs-situs yang menempatkan Anime dan materi pornografi di tempat yang sama.

Awal Mula Fansub[sunting | sunting sumber]

Fansub pada awalnya atau fansub-fansub "tradisional" diproduksi dengan menggunakan peralatan editing video analog. Mula-mula, mendapatkan sebuah kopi dari material aslinya. Sumber raw yang paling umum pada masa itu adalah laserdisc. Namun, tape VHS komersial atau rekaman rumahan pun bisa digunakan, yang tentu saja akan berpengaruh pada kualitas hasil akhirnya. Kemudian script translasi dibuat sama berdasarkan dialog yang ada pada video raw. Lalu di-timing. Timing adalah proses untuk menempatkan "waktu awal" (Synch-Point) dan "waktu akhir" dari setiap baris dari subtitle; hal ini yang menentukan berapa panjang subtitle akan nampak di layar. Timing biasanya dilakukan oleh sebuah software komputer yang didesain secara spesifik untuk maksud tujuan tersebut. Orang yang melakukan timing akan menempatkan, mengubah, menghilangkan text subtitle menggunakan komputer. Dua program yang paling populer untuk hal ini adalah JACOsub (di Commodore Amiga) dan Substation Alpha (di MS Windows). Ketika skrip sudah ter-timing, angkah berikutnya adalah memroduksi satu buah master. Master berupa kualitas tinggi dari fansub yang sudah jadi - yang dari sini kopi-kopi untuk didistribusikan dibuat. Fansuber akan memutar ulang video raw di dalam perangkat komputer dengan sebuah genlock untuk menciptakan subtitle yang melekat pada gambar raw. Pilihan perangkat untuk membuat hal ini adalah Amiga PC - sama seperti yang digunakan subber profesional - tentu dengan harga yang luar biasa mahal. Hasil akhir dari proses ini yang disebut "master" kemudian direkam pada sebuah tape S-VHS dengan maksud untuk mengoptimalkan kualitasnya, meskipun beberapa fansuber terpaksa menggunakan VHS yang lebih murah dan tentu dengan kualitas lebih rendah. Setelah selesai, master ini dikirimkan kepada distributor.

Fansub distributor (yang mendistribusikan video ke fans-fans) biasanya adalah kelompok yang berbeda dengan fansubber yang melakukan translasi dan memroduksi master. Karena sebagian besar anggota dari kelompok fansub tidak mengharapkan keuntungan dari kegiatan mereka, maka fansub biasanya tidak "dijual". Pada umumnya, seorang fan yang menginginkan sebuah kopi dari anime yang diinginkan akan mengirimkan tape VHS blank ke distributor beserta pembayaran alakadarnya sebagai pengganti ongkos kirim. Distributor akan merekam master ke kaset yang dikirimkan "pelanggan", kemudian mengirimkannya kembali. Atau dengan cara lain, distributor dapat menjual VHS VHS kopian, namun dengan harga yang rendah ... yang hanya ditujukan untuk menutupi biaya kaset blank dan ongkos kirim.

Metode fansubbing seperti ini sangat menghabiskan biaya bagi para fansubber dan distributornya. Karena raw biasanya didapatkan dengan harga yang relatif mahal; hampir semua Anime dalam format Laserdisc (atau berupa tape) berharga lebih dari US$50, dan bahkan banyak yang lebih dari $100. Padahal setiap laserdisk yang seharga $50 biasanya berisi tidak lebih dari 30 menit. Jadi memperoleh raw berkualitas untuk satu seri penuh Anime dengan panjang seri pada umumnya bisa memakan biaya $1000. Juga, banyak kelompok fansub yang membayar translator profesional untuk membuat skripnya. Belum lagi, perangkat produksi video yang dibutuhkan seperti : Lasedisc player, PC, genlock, dan recording deck untuk memroduksi master; ditambah lagi dua atau lebih video deck untuk bagian distribusi. Perangkat video seperti player, recorder dan editing deck pada waktu itu harganya luar biasa mahal; harganya dalam ribuan US dollar.

Kualitas video pada zaman fansub permulaan masih belum bagus. Mahalnya perangkat yang dibutuhkan memaksa beberapa kelompok fansub untuk menggunakan perangkat yang lebih murah namun dengan hasil yang lebih rendah. Bahkan ketika LD berkualitas tinggi sebagai raw material digunakan beserta perangkat-perangkat professional, hasil akhirnya tetap saja berupa kopi berkualitas kelas tiga. Sesungguhnya, sebagian besar fansub pada zaman itu bahkan mendistribusikan kopi-kopi ber kelas-empat dan kelas-lima, karena tidak menggunakan perangkat profesional. Meskipun kualitas rekamannya yang sangat rendah, namun kualitas translasi dan editingnya tidak berbeda jauh dengan fansub-fansub profesional modern.

Teknik Fansub Modern[sunting | sunting sumber]

Fansub modern diproduksi hampir seluruhnya menggunakan komputer. Raw masih diperlukan, namun tidak seperti fansubber yang tergantung kepada laser disc, sebagian besar raw berasal dari rekaman TV Jepang yang bisa didapat melalui program peer-to-peer Jepang seperti Winny atau Share. Rekaman TV adalah materi raw yang digunakan sebagian besar fansub, baik dalam bentuk transport stream atau sudah ter-encode menjadi MP4. Kebanyakan grup fansub internasional mempunyai seorang 'capper' yang bertugas merekam siaran TV di Jepang khusus untuk grup itu. Seringkali suatu grup melakukan rilis ulang saat DVD atau Blu-Ray suatu seri telah tersedia, dengan kualitas gambar dan suara yang lebih baik daripada rilis yang bersumber dari rekaman TV.[rujukan?] Untuk anime lama yang tidak berada dalam DVD, fansubber modern menggunakan peralatan komputer dengan perangkat video capturer yang rumit untuk mengambil gambar digital dari media analog seperti laser disc atau tape.

Ketika video sudah berada dalam komputer, video tersebut dapat diedit dan dibubuhi subtitle dengan sedikit sekali atau tanpa penurunan kualitas, tidak seperti proses fansub tradisional. Namun, sebagian besar format encoding yang digunakan oleh fansubber memang menyebabkan penurunan kualitas dari medium aslinya. Seperangkat PC yang relatif murah dapat melakukan semua manipulasi yang dibutuhkan, tanpa diperlukan peralatan yang kompleks dan mahal seperti editing decks dan genlock.

Translasi biasanya dilakukan dengan mendengarkan rekamannya. Sebagian besar, translatornya bahkan tidak berpengalaman dalam hal teknologi fansubbing dan hanya melakukan translasi saja. Kalau yang komersial rilis biasanya mendapatkan script dialognya untuk di sulih suara, sebaliknya fansubber hanya mengandalkan telinga. Hal ini sering kali menyebabkan kesalahan penerjemahan dalam penulisan nama yang tidak jelas. Biasanya kesalahan yang umum adalah pada Anime yang menggunakan nama nama barat. Hal ini disebabkan karena pengucapan yang ambigu dari bahasa Jepang untuk menyebutkan istilah-istilah asing. Misalnya nama Alice akan terdengar sebagai "Arisu". Inilah yang menyebabkan beberapa fansub bisa menggunakan penulisan yang berbeda. Contoh yang terkenal misalnya Winry Rockbell dari Full Metal Alchemist, yang dituliskan sebagai Winry dan Winly oleh dua fansub yang berbeda.

Cara alternatif untuk memroduksi fansub adalah menggunakan raw video dari jepang dengan video yang telah dibubuhi subtitle dalam bahasa lain, biasanya bahasa Mandarin. Orang orang Cina juga memiliki kelompok fansub yang beredar di Internet. Beberapa fansubber yang dikenal melakukan penerjemahan dari bahasa Mandarin ke bahasa Inggris dari bahasa aslinya - Jepang. Hal ini biasanya menyebabkan penurunan keakurasian translasi karena melalui dua kali proses translasi. Contoh dari fansub yang keseluruhannya menggunakan terjemahan dari bahasa Mandarin adalah My-Otome (Doremi subs) yang menggunakan 2 penerjemah bahasa Mandarin - Inggris dan tentunya melalui beberapa translation checker untuk memeriksa kecocokan dengan bahasa aslinya - Jepang. Dengan cara yang sama, fansub berbahasa Inggris bisa diterjemahkan ke bahasa lainnya.

Setelah proses translasi selesai, subtitle kemudian di timing (menggunakan SubStation Alpha, Aegisub, Sabbu atau JACOSub), melewati proses typeset, dan pengecekan error (quality control, atau disingkat QC). Kemudian subtitle di-encoding menggunakan VirtualDub atau program sejenis pada distribusi dengan hardsub, atau di-mux kedalam kontainer media, biasanya matroska, pada distribusi dengan softsub.

Ada beberapa metode subbing yang sekarang digunakan. "Hard" subtitle, atau disebut hard subs, adalah subtitle yang menjadi satu dengan video melalui proses encoding dan mencetak subtitel ke tiap frame video sehingga tidak dapat dihilangkan tanpa menurunkan kualitas videonya (bisa dilakukan dengan VirtualDub Filter). "Soft" subtitle, atau disebut soft sub, adalah subtitle yang disertakan dalam kontainer media atau bisa berupa file terpisah. Dengan program-program yang tepat softsub akan muncul ketika video dimainkan seperti hardsub. Hardsub secara tradisional lebih populer daripada softsub karena kekhawatiran yang ditimbulkan akibat support atau tidaknya player lebih kecil dan juga lebih susah diplagiat. Namun, belakangan (mulai tahun 2006) sebagian besar fansub sudah mulai menggunakan softsub. Dengan menggunakan softsub suatu grup bisa memberikan beberapa jenis subtitle ke dalam suatu video, beberapa kelompok merilis fansub dengan menggunakan dua bahasa yang berbeda atau dengan gaya yang berbeda tergantung kesukaan.

Internet memungkinkan fansub berkolaborasi dengan baik. Komunitas fansubbing online pun bisa merilis satu episode penuh yang tersubtitle (termasuk efek pada karaoke, tulisan kana & kanji dan informasi tambahan) dalam kurun waktu kurang dari 24 jam setelah ditayangkan pertama kali di Jepang. Website seperti stormberry.tv memungkinkan soft subtitle yang dipilih untuk ditayangkan bersama stream video dari youtube.

Dalam kasus hard subtitle, sebuah video editor (umumnya VirtualDub) menggunakan AVISynth script dan VSFilter untuk me-load file raw video beserta file subtitle yang kemudian software video tersebut "mencetak" subtitle di atas raw video yang digunakan.

Hasil akhir dari proses fansubbing ini adalah sebuah file video untuk komputer, beserta file subtitle jika metode yang digunakan adalah soft sub (apabila data subtitle tidak menjadi satu dengan file video). File file tersebut bisa dikopi ke CD atau DVD untuk distribusi fisik, tetapi yang paling sering adalah menggunakan protokol-protokol file sharing online seperti viral video, BitTorrent dan bot file-sharing di IRC. Metode yang seperti ini memungkinkan fans anime modern untuk mendownload hasil akhir dari fansub dengan biaya yang sedikit atau tanpa biaya sama sekali, begitu juga dengan distributornya.

Distribusi[sunting | sunting sumber]

Di akhir tahun 1990 dan pada awal tahun 2000, fansub dalam format elektronik didistribusikan seperti zaman tape VHS dulu : dengan menggunakan CD-R. Karena sebagian besar fans tidak memiliki akses internet berkecepatan tinggi dan sebagian lagi tidak dapat mendownload file dalam ukuran besar. Bahkan masih ada yang mendistribusikan dengan VHS, seperti dalam kasus Sailor Moon yang didistribusikan dalam kurun waktu 7 tahun.

Memasuki tahun 2006, sebagian besar fansub mendominasi BitTorrent dan IRC channel. Website-website Fansub anime menyediakan informasi yang cepat sehubungan dengan rilis-rilis fansub. Dan karena media-media seperti CD-R dan DVD-R yang terus berkembang, standard ukuran file lama kelamaan telah ditinggalkan.

Sebuah playback video dan audio yang khusus diperlukan. Tambah lagi, banyak file video yang menggunakan format multimedia container yang spesial seperti OGM dan Matroska. Decoder yang spesial diperlukan untuk dapat memainkan format itu juga. Keuntungan utama dari menggunakam media OGM dan Matroska adalah memungkinkan satu buah file untuk memiliki fitur DVD, seperti : audio track yang berbeda, subtitle yang berbeda, dan chapter. Dan file multimedia container ini dapat di demux kembali menjadi file-file individual, dimana file-file individual ini dapat dikembangkan lagi sesuai keinginan (misalnya, subtitle yang salah ketik) kemudian di remux menjadi satu kembali.

Legal dan Isu Etikal[sunting | sunting sumber]

Fansub sejak dari semula memegang kode etik dan tidak menganggap diri mereka sebagai pembajak. Karena fansub dibuat oleh fans dan untuk fans, dan tidak ditujukan untuk keuntungan komersial, sebagian fans tahu benar bahwa fansub tidak boleh dijual untuk maksud keuntungan finansial. Fansub-fansub kalau tidak diberikan secara cuma-cuma biasanya dijual senilai dengan harga produksi (ongkos medium blank dan ongkos kirim). Banyak fansub bahkan dalam rilis mereka menyertakan kata kata seperti "This is a free fansub: not for sale, rent, or auction" (Ini fansub gratis : bukan untuk dijual, disewakan, atau dilelang!) yang terdapat di eyecatch dengan tujuan mencegah botlegger melanggar kode etik ini. Namun beberapa situs tetap saja mewajibkan membayar bulanan untuk dapat mendownload dengan menjanjikan bandwidth yang lebih besar.

Sebagian besar fansubber biasanya hanya mengerjakan material yang tidak terlisensi di area domestik tempat mereka berada. Apabila ada perusahaan domestik ayang membeli lisensi distribusi, maka fansub yang bersangkutan akan menghentikan rilisnya untuk judul yang sama. Dengan sebuah perkecualian, apabila licensor bermaksud untuk mengedit isi anime secara berat tanpa mengeluarkan versi uncut-nya, seperti dalam kasus berhubungan dengan 4Kids Entertainment.

Fansubber mengklaim posisi distribusi secara gratis selama tidak ada suatu badan yang memiliki lisensi untuk mendistribusikan Anime yang bersangkutan di region atau negara tempat distribusi fansub berada. Tapi hal ini melewati fakta bahwa hak cipta itu dihargai secara internasional dan tanpa batasan region meskipun tidak ada licensor yang membeli hak izin distribusi, pencipta aslinya masih tetap mempunyai wewenang atas hak milik mereka di seluas dunia. Argumen yang berbeda mengungkapkan fakta bahwa fansub diperuntukkan bagi orang-orang yang tidak dapat berbicara bahasa aslinya dan tidak dapat menjangkau tayangannya yang dibroadcast atau tidak mempunyai akses untuk itu. Tanpa kelompok fansub, beberapa fan anime tidak mempunyai pilihan lain dalam memperoleh material yang bahkan seharusnya terkenal. Misalnya Yakitate!! Japan dan Gintama yang saat ini populer di kalangan komunitas fansub, namun tidak ada tanda tanda pembeli lisensi untuk Amerika Utara (berbahasa Inggris), dan kelihatannya perusahaan produksinya di Jepang tidak menunjukkan tanda-tanda mau merilis dengan subtitel professional ke luar negeri.

Pendukung fansub menunjuk pada akibat positif dalam publisitas perindustrian anime melalui fansub. Ada banyak kasus di mana beberapa lisensor pada mulanya meremehkan beberapa judul, dan kemudian belakangan membeli lisensinya setelah fansub membuat judul yang bersangkutan meledak dan populer. Salah satu contohnya adalah Azumanga Daioh, yang sekarang dilisensi oleh ADV Films. Dalam A-Kon ke 15 musim panas 2005, ADV mengakui bahwa mereka sebelumnya berpikir bahwa Azumanga Daioh tidak akan populer di Amerika. Kemudian belakangan ADV memutuskan untuk membeli lisensi anime ini setelah menyaksikan kepopulerannya dalam komunitas fansub.

John Sirabella dari Media Blasters belakangan terlibat dalam diskusi panjang dengan fans sehubungan dengan topik ini, dan mengungkapkan " But let's be honest, how many people download and never buy? If I have to count the number of people who come by my table and say I already downloaded that one, I would not need to release anymore titles. The idea that somehow everyone is honest and only downloads to preview and later buy is a fallacy. The other problem with downloads is that you convince the border line people to go download and not buy because it so easily available. The people who only download will always download and never buy but it is that bigger audience who than believe "downloads are okay, everyone does it." "

Peranan fansub telah berpengaruh besar dalam membuat anime menjadi populer yang kemudian dilirik oleh dua distributor besar. Dalam video promosi peluncuran The Melancholy of Haruhi Suzumiya lisensi Amerika, Kadokawa Pictures USA dan Bandai Entertainment secara spesial memberikan ucapan terimakasih kepada para pemirsa fansub dan menganjurkan mereka untuk membeli rilis officialnya. Ini adalah pertama kalinya dalam sejarah [[Perusahaan Jepang]] mengakui dan menerima fansub, tapi tentu hal itu bukannya berarti mendukung fansub.

Para penentang fansubbing membalas dengan menunjuk kepada "sisi gelap" fansubbing. Dimana ketika sebagian besar fansubbing menghentikan distribusi ketika judul tersebut terlisensi di Amerika Utara, masih ada beberapa yang terus melanjutkan kegiatannya jauh setelah itu. Tentu ini bertentangan dengan kode etik dasar dari fansubbing. Apabila tayangan aslinya terpaut sangat jauh dengan yang terlisensi (Bleach, misalnya, baru dilisensi setelah sampai episode 70 an. Dan Naruto 150 an episode), maka beberapa fansub akan terus memroduksi episode-episode selanjutnya. Ketika Cartoon Network menayangkan Naruto episode 117 fansub memroduksi episode 245 dan lebih.

Ada beberapa contoh kasus di mana beberapa perusahaan yang memiliki lisensi dari keseluruhan seri dari sebuah judul hanya menrilis sebagian di Amerika. Seperti Sailor Moon dan Fist of North Star. Seperti yang disebutkan 'Bishoujo Senshi Sailor Moon Sailor Stars', seri terakhir dari Sailor Moon tidak pernah dirilis di Amerika, sedangkan Fist of North Star hanya dirilis bagian-bagian awal dari keseluruhan seri, berhenti di produksi di episode 36. Judul lainnya dengan kasus yang serupa adalah Air Master, Slam Dunk dan BT'x. Masalah ini memunculkan apa yang disebut daerah operasi abu-abu bagi para fansubber. Ketika misalnya semua episode Fist of the North Star terlisensi di Amerika, namun hanya sebagian episodenya yang tersedia. Fan yang ingin membeli keseluruhan serinya mendapatinya mustahil. Namun, fansub dapat mengambil peranan di sini.

Kritik kepada fansub selalu menyimpulkan bahwa distribusi digital berpengaruh negatif pada industri anime di Amerika. Namun, ada pendapat lain yang mengatakan bahwa fansub menciptakan sebuah fanbase yang memungkinkan pemegang hak cipta untuk "menjumlah laba bersih dari fans yang sudah siap untuk mengeluarkan ribuan dolar untuk judul tersebut'" baik di Jepang maupun di Amerika. Seperti yang dibuktikan oleh komentar Sirabella, kasusnya tidak hanya demikian. Masalah lain yang muncul adalah beberapa kelompok yang mengunduh fansub kemudian menjadikannya bootleg DVD. Banyak Bootlegger Hong Kong yang merusak reputasi fansub, dengan mendistribusikan DVD bootleg dari fansub bahkan beserta peringatan "Tidak untuk dijual" juga. Aksesibilitas fansub dalam Internet menuntun ke aspek pembajakan lebih hebat ketimbang zaman fansub VHS.

Beberapa kelompok fansub internasional juga berasal dari Indonesia, salah satunya adalah Anime-RG [1] yang merupakan kumpulan dari mahasiswa yang berkuliah di Bandung. Akhir-akhir ini juga banyak bermunculan grup fansub yang mengerjakan terjemahan anime ke bahasa Indonesia.

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "“Anime-RG fansub”". Diakses 31 Mei 2010.