Yudhonegoro

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Yudhonegoro
Kanjeng Pangeran Haryo
KPH Yudhonegoro.jpg
Pangeran Yudhonegoro pada pernikahan Ratu Hayu & Pangeran Notonegoro
Lahir26 Oktober 1981 (umur 37)
Bendera Indonesia Jakarta, Indonesia
WangsaHamengkubuwono
Nama lengkap
Kanjeng Pangeran Haryo Yudhonegoro
AyahH. Jusami Ali Akbar [1]
IbuHj. Nurbaiti Helmi
PasanganGusti Kanjeng Ratu Bendoro
AnakRaden Ajeng Nisaka Irdina Yudonegoro

Kanjeng Pangeran Haryo Yudhonegoro sebelumnya bernama Achmad Ubaidillah (lahir di Jakarta, 26 Oktober 1981; umur 37 tahun) adalah suami dari Gusti Kanjeng Ratu Bendoro.

Masa kecil dan pendidikan[sunting | sunting sumber]

Ia lahir dan dibesarkan di Jakarta. Dia kemudian melanjutkan kuliah di Institut Pemerintahan Dalam Negeri di Bandung, dan meraih gelar M.Si. Ia melanjutkan pendidikannya S-3 di Universitas Yamaguchi, Jepang. Di sana ia mengambil bidang public policy.[2]

Pernikahan[sunting | sunting sumber]

Kanjeng Pangeran Haryo Yudonegoro menikah dengan GKR Bendoro pada tanggal 18 Oktober 2011. Pernikahan ini berlangsung pada tahun yang sama dengan pernikahan Pangeran William, Adipati Cambridge. Pada pernikahan tersebut dikunjungi sekitar 2.500 tamu undangan.[3]

Sesuai dengan adat keraton, sebelum menikah GKR Bendoro harus menjalani upacara langkahan. Dikarenakan ia mendahului kakaknya GKR Hayu untuk menikah.[4] Dalam upacara ini, calon penganti wanita memohon izin dari kakaknya untuk mendahului menikah serta menyerahkan plangkah berupa setandan pisang sanggan disertai seperangkat baju dan perhiasan wanita untuk kakaknya. Upacara langkahan adalah bagian dari tradisi yang biasa dilakukan di beberapa kebudayaan di Indonesia bila seorang adik mendahului kakaknya dalam pernikahan.[5] Sebelum menikah, calon pengantin pria yang berasal dari luar keraton terlebih dahulu diwisuda menjadi abdi dalem (pegawai keraton). Calon pengantin pria Achmad Ubaidillah dianugrahi gelar Kanjeng Pangeran Haryo dengan nama Yudonegoro. Penganugerahan gelar ini dilangsungkan dalam upacara wisuda yang dilakukan tiga bulan sebelum upacara pernikahan.[6]. Sementara itu, calon istrinya juga telah menerima gelar dan nama baru yang sebelumnya Gusti Raden Ajeng Nurastuti Wijareni menjadi Gusti Kanjeng Ratu Bendoro.

Kemudian calon pengantin pria mengawali rentetan acara pernikahan dengan upacara nyantri. Dalam upacara ini, pengantin pria dijemput dengan kereta kencana untuk memasuki tembok keraton, dan diperkenalkan dengan tata cara keraton. Selanjutnya kedua pengantin melalui upacara siraman di tempat yang berbeda (kesatrian dan keputren). Upacara ini bermakna membersihkan diri dari kotoran lahir dan batin sebelum memasuki jenjang pernikahan.[7] Pada malam harinya, calon pengantin wanita menjalani upacara tantingan, yakni GKR Bendoro ditanya (ditanting) langsung oleh ayahnya akan kesiapannya menikah. Upacara ini dilakukan karena pada keesokan harinya, ayahnya sendiri yang akan menikahkan putrinya dengan pengantin pria tanpa kehadiran pengantin wanita.[8]

Pada keesokan harinya, sesuai dengan adat yang berlaku di keraton, Sri Sultan sendiri yang menikahkan putrinya dengan KPH Yudonegoro dalam upacara ijab kabul yang dilakukan di masjid dalam lingkungan keraton. Akad nikah menggunakan bahasa Jawa yang dilakukan antara ayah pengantin wanita dengan pengantin pria.[9] Setelah resmi menikah, barulah kedua pengantin dipertemukan dalam upacara panggih yang dilakukan di bangsal kencana.[10]. Upacara ini dihadiri oleh tamu-tamu undangan penting termasuk Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden Budiono.[11]. Acara ini juga dihadiri oleh para pejabat tinggi negara serta duta besar perwakilan negara-negara sahabat.[12]. Dalam upacara panggih, dilaksanakan tradisi pondongan yang hanya dilakukan di dalam lingkungan keraton. Tradisi pondongan ini hanya dilakukan jika pengantin wanita adalah putri raja. Dalam tradisi ini, pengantin pria memondong (mengangkat) istrinya yang dibantu salah seorang paman dari mempelai wanita (GBPH Suryodiningrat). Ini merupakan tradisi sebagai simbol meninggikan posisi seorang istri.

Setelah upacara panggih panggih, kedua mempelai kemudian dikenalkan kepada masyarakat melalui prosesi kirab. Sebagai putri bungsu, GKR Bendoro tidak boleh menjalani kirab keliling benteng keraton. Sebagai gantinya kirab dilaksanakan dari Keraton Yogyakarta ke Kepatihan yang merupakan tempat acara resepsi pernikahan digelar.[13]

Pernikahan KPH Yudonegoro dengan GKR Bendoro dikaruniai seorang putri yang diberi nama Raden Ajeng Nisaka Irdina Yudonegoro. Putri pertama mereka ini lahir di Yogyakarta pada tanggal 1 Maret 2014.[14]

Pekerjaan[sunting | sunting sumber]

KPH Yudhonegoro adalah seorang pegawai negeri sipil yang saat ini sedang cuti untuk tugas belajar ke Jepang.

Jabatan dalam pemerintahan[sunting | sunting sumber]

  • 2003-2003: Staf Biro Umum Departemen Dalam Negeri
  • 2003-2004: Ajudan Gubernur Lampung
  • 2004-2006: Protokol Menteri Dalam Negeri
  • 2006-2007: Staff Direktorat Pejabat Negara Depdagri
  • 2007–2009: Ajudan Sekertaris Wakil Presiden
  • 2009–2011: Sekertaris Pimpinan pada Sub Bagian TUP Kediaman Resmi Wapres
  • 2011-2013: Kepala Substansi Komunikasi Politik Bidang Media Cetak Sekertariat Wakil Presiden

Pendidikan dan latihan[sunting | sunting sumber]

  • 2004: Diklat Bimbingan Teknis Keprotokolan Departemen Dalam Negeri
  • 2005: Diklat Bimbingan Teknis Pengurusan Peraturan Perundang-undangan Terhadap Aparatur di Lingkungan Departemen Dalam Negeri
  • 2006: Diklat Bimbingan Teknis Pelatihan Tenaga Pelatih Pembauran Daerah (TPPD) Direktorat Kesatuan Bangsa Departement Dalam Negeri
  • 2009: Singapore Corporate Programme Protocol Advance Training

Aktivitas[sunting | sunting sumber]

  • Duta Sepeda Yogyakarta Sego Segawe[15]

Referensi[sunting | sunting sumber]