Ular kepala-dua

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari
?Ular Kepala-dua
Ular kepala-dua, Cylindrophis ruffusdari Cihideung Ilir, Ciampea, Bogor
Ular kepala-dua, Cylindrophis ruffus
dari Cihideung Ilir, Ciampea, Bogor
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan: Animalia
Filum: Chordata
Upafilum: Vertebrata
Kelas: Reptilia
Ordo: Squamata
Upaordo: Serpentes
Famili: Cylindrophiidae
Genus: Cylindrophis
Spesies: C. ruffus
Nama binomial
Cylindrophis ruffus
(Laurenti, 1768)
Sinonim
  • Anguis ruffa Laurenti 1768[1]
  • Anguis rufusGmelin 1789 (nomen emend.)
  • Anguis striatusGmelin 1789
  • Anguis rufaShaw 1802 (nomen emend.)
  • Cylindrophis resplendens Wagler 1828[2]
  • Tortrix rufade Filippi 1840
  • Cylindrophis rufa Gray 1842

Sinonim selengkapnya: The Reptile Database[3]


Ular kepala-dua atau ular-pipa ekor-merah[4] adalah sejenis ular primitif yang tidak berbisa, anggota suku Cylindrophiidae. Dinamai 'kepala-dua', karena perilakunya manakala merasa terganggu, ular ini menegakkan ekornya seolah-olah di situlah letak kepalanya. Pada kenyataannya kepala yang sesungguhnya disembunyikannya di bawah gulungan badannya.

Ular ini juga dikenal dengan nama-nama lain seperti, oray totog atau oray teropong (Sd.), majara (Toraja), ular gelenggang, dan lain-lain. Dalam bahasa Inggris disebut dengan nama Red-tailed Pipe Snake, Common Pipe Snake atau Two-headed Snake[5], sementara nama ilmiahnya adalah Cylindrophis ruffus (Laurenti, 1768). Meskipun sebelumnya dianggap menyebar luas, kajian baru-baru ini[4] mendapatkan bahwa spesies ini ada kemungkinan menyebar terbatas (endemik) di Pulau Jawa.

Pemerian[sunting | sunting sumber]

Ilustrasi C. resplendens dalam Wagler 1828
Close up kepala. Spesimen 49 cm TL
Sketsa sisik-sisik kepala.
Close up perut dan bawah ekor.
Kepala dan ekor serupa bentuknya. Spesimen 25 cm TL

Ular yang bertubuh silindris (cylindrophis; Gr. kylinder, batang penggiling, dan ophis, ular), dengan ekor amat pendek dan hampir tak terbedakan dengan kepala. Kepala dan ekor sama-sama tumpul.[6]

Cylindrophis ruffus tergolong ke dalam kelompok Cylindrophis dengan sisik-sisik dorsal di tengah badan dalam 19 deret; sedangkan kelompok-kelompok yang lainnya memiliki 17, 21 atau 23 deret sisik dorsal di tengah badan. Selanjutnya, dalam kelompok 19 deret sisik dorsal itu, C. ruffus dibedakan dari kerabat-kerabat dekatnya karena memiliki:[4]

  • 186–197 buah sisik-sisik ventral (vs. 233–275 pada C. melanotus; dan 201–225 in C. burmanus)
  • belang atau pita agak lebar, meskipun acap terputus di tengah punggung, yang konstan letaknya di sepanjang sisi atas badan yang berwarna gelap (vs. pita sempit yang terletak berseling di atas warna agak pucat pada C. burmanus; atau sisi atas badan berwarna hitam seragam tanpa belang pada C. boulengeri)
  • belang atau pita lebar namun terputus di bagian tengkuk (vs. pita sempit yang utuh di tengkuk C. burmanus; atau tanpa pita sama sekali pada C. boulengeri).

Kepala sedikit memipih setentang moncong, ujungnya terlihat membulat dari atas maupun samping. Leher tidak terbedakan besarnya dari kepala. Perisai rostral besar, sedikit banyak terlihat dari atas kepala dengan ujung runcing menyegi tiga. Perisai nasal tunggal tak terbagi, di kiri dan kanan moncong, saling bersentuhan lebar di belakang perisai rostral, perisai internasal tak ada. Lubang hidung (nostril) besar, terletak di tengah perisai nasal. Prefrontal menyegi empat, agak lebih besar daripada perisai frontal yang juga berukuran besar namun berbentuk segi tiga. Perisai loreal dan preokular tak ada. Mata berukuran kecil, pupilnya bundar. Sisik-sisik supralabial (bibir atas) 6 buah; yang ke-3 hingga ke-5 lebih besar daripada yang lain; yang ke-3 dan ke-4 menyentuh mata. Perisai mental (dagu depan) kecil, menyegi tiga. Sisik-sisik infralabial (bibir bawah) 6 buah, yang ke-1 lebih besar daripada perisai mental, dan saling bersentuhan lebar di belakang perisai mental, namun dipisahkan oleh celah dagu (mental groove) yang berjalan dari belakang mental hingga akhir deretan perisai tenggorokan (chin shield).[4]

Badannya panjang ramping, dengan penampang bundar merata. Sisik-sisik yang menutupi punggung halus tak berlunas, hampir bundar, sedikit bertumpang tindih, tersusun dalam (20–23) – 19 – (17–18) deret, sisik-sisik vertebral dan mid-ventral sukar atau tidak terbedakan dari sisik-sisik di kanan-kirinya. Perisai kloakal (anal) terbelah atau sepasang; perisai subkloakal tunggal tak terbagi dan menyegi tiga. Ekornya amat pendek, lk. 2,1–2,9% dari panjang total (TL, total length), dengan ujung yang tebal dan kokoh meruncing; perisai subkaudal 5–8 buah, tak berbelah. Panjang hingga dubur (SVL, snout-vent length) mencapai 71,5 cm.[4]

Tubuh bagian atas (dorsal) berwarna hitam, dengan belang-belang merah jingga di kanan-kirinya (ruffus; salah tulis dari kata rufus, kemerahan). Kepala dan ekor berwarna merah jingga dengan noda-noda hitam. Warna-warna cerah ini sering memudar atau menghilang dengan bertambahnya umur dan ukuran tubuh ular, sehingga ular nampak dominan kehitaman. Sisi bawah tubuh (ventral) hitam dengan belang-belang putih, setidaknya sebagian tersusun berseling seperti papan catur. Sisi bawah ekor kemerahan, menyebabkannya sering disangka sebagai ular cabe (Maticora intestinalis) yang berbisa.

Kebiasaan[sunting | sunting sumber]

Ekornya ditegakkan ketika merasa terganggu

Ular kepala-dua umumnya ditemukan di dataran rendah, meskipun Tweedie (1983) menyebutkan pernah didapatkan pada ketinggian 1.700 m dpl.[7] Ular ini menghuni hutan-hutan dataran rendah yang lembap, kebun dan lahan-lahan pertanian. Tempat yang disukainya adalah yang memiliki tanah gembur atau berlumpur, di mana ular ini dapat menyusup masuk (fossorial) untuk mencari mangsanya. Karena itu, ular kepala-dua sering pula ditemukan di sekitar daerah berawa-rawa dan persawahan, di bawah kayu-kayu lapuk di hutan, di balik tumpukan serasah yang membusuk, atau di tepi sungai. Ular ini tidak jarang dijumpai di jalan tanah, di pagi hari sesudah hujan lebat turun pada malamnya.[8]

Aktif di malam hari (nokturnal), ular kepala-dua diketahui memangsa ular-ular lain yang lebih kecil, kadal, bayi-bayi mamalia, dan cacing tanah. Juga pernah dilaporkan memangsa sejenis sidat dan larva serangga.[8]

Ular yang berwarna indah ini tidak berbisa dan tidak berbahaya. Bila merasa terusik, alih-alih berlari ular kepala-dua biasanya segera menggulung tubuhnya dan menyembunyikan kepalanya, serta menegakkan ekornya tinggi-tinggi.[5] Postur ekornya yang memipih dan melengkung dengan tepat, mengingatkan pada rupa seekor kobra yang sedang marah, meski berukuran lebih kecil. Namun hanya itu saja kebisaannya. Bilamana si pengganggu tidak kena digertak, ular inilah yang segera beringsut pergi. Tentu saja dengan kepala aslinya lebih dahulu. Melihat postur yang ‘mengancam’ itu, orang-orang yang tidak mengenalnya biasanya tanpa ampun segera membunuhnya. Dan malangnya ular ini tidak begitu lincah dan cepat untuk menghindarinya.

Ular kepala-dua bersifat ovovivipar, telurnya menetas selagi dalam kandungan, dan melahirkan sampai 13 ekor anak di satu saat.

Catatan taksonomis dan penyebaran[sunting | sunting sumber]

Cylindrophis ruffus semula dianggap menyebar luas mulai dari Tiongkok dan Hainan di utara, Hong Kong, Laos, Vietnam, Kamboja, Thailand, Semenanjung Malaya, Sumatra, Borneo, Jawa, Sulawesi, Kepulauan Sula, Kepulauan Sangihe, Buton, Boano dan Bacan di Maluku. Akan tetapi kajian baru-baru ini mendapati bahwa populasi-populasi tersebut terdiri dari beberapa taksa yang berlainan[4]. Studi yang mendasarkan diri pada analisis morfologi dan morfometri itu kemudian menyimpulkan beberapa hal berikut:

  • C. ruffus (Laurenti 1768) sejauh ini hanya dikenal dari Pulau Jawa.
  • Anak jenis C. ruffus burmanus yang menyebar terbatas di Burma, ditingkatkan statusnya menjadi spesies tersendiri yaitu Cylindrophis burmanus Smith 1943.
  • Taksa yang menyebar di Vietnam dianggap berbeda dan dipisahkan sebagai spesies baru, Cylindrophis jodiae Amarasinghe, Ineich, Campbell & Hallermann, 2015
  • Demikian pula taksa yang menyebar di Singapura dianggap berbeda dan dipisahkan sebagai spesies baru, Cylindrophis mirzae Amarasinghe, Ineich, Campbell & Hallermann, 2015
  • Populasi-populasi yang menyebar di Thailand dan Indocina, serta yang menyebar di Kawasan Sunda (Sumatera, Semenanjung Malaya, dan Kalimantan) masih menunggu kajian yang lebih lanjut dan belum dapat ditetapkan statusnya, apakah termasuk ke dalam spesies(-spesies) di atas atau merupakan spesies baru yang lain lagi.

Catatan kaki[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Laurenti, JN. 1768. Specimen medicum, exhibens synopsin reptilium emendatam cum experimentis circa venena et antidota reptilium austracorum, quod authoritate et consensu. p.71. Viennae :Typ. Joan. Thomae nob. de Trattnern ...,1768.
  2. ^ Wagler, J. 1828. Descriptiones et icones amphibiorum. Vol. 1. (illust.) Monachii, Stuttgartiae et Tubingae: Sumtibus J.G. Cottae, [1828-]1833.
  3. ^ The Reptile Database: Cylindrophis ruffus (LAURENTI 1768)
  4. ^ a b c d e f Amarasinghe, AAT., PD. Campbell, J. Hallermann, I. Sidik, J. Supriatna, & I. Ineich. 2015. "Two new species of the genus Cylindrophis Wagler, 1828 (Squamata: Cylindrophiidae) from Southeast Asia". Amphibian & Reptile Conservation 9(1): 34–51.
  5. ^ a b Lim, FLK. & Lee MLM. 1989. Fascinating Snakes of Southeast Asia. An introduction. : 32. Kuala Lumpur :Tropical Press.
  6. ^ Stuebing, R.B. & R.F. Inger. 1999. A Field Guide to The Snakes of Borneo: 60-3. Kota Kinabalu: Natural History Publications (Borneo). ISBN 983-812-031-6
  7. ^ Tweedie, M.W.F. 1983. The Snakes of Malaya: 28. Singapore: The Singapore National Printers.
  8. ^ a b David, P and G. Vogel. 1996. The Snakes of Sumatra. An annotated checklist and key with natural history.: 36-7. Frankfurt: Edition Chimaira. ISBN 3-930612-08-9

Pranala luar[sunting | sunting sumber]