Ukiran Jepara

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari
Pengukir Jepara di zaman kolonial

Ukiran Jepara merupakan seni ukir khas yang berasal dari Jepara. Jepara yang terkenal dengan sebutan Kota Ukir, kini berubah menjadi Kota Ukir Dunia. Setelah meningkatkan citra Jepara “The World Carving Center”, karena produk-produk ukir Jepara sudah sangat terkenal dan sangat banyak penyuka seni ukiran Jepara dari berbagai negara. AS Merupakan Negara Tujuan Ekspor Terbesar Jepara. Negara tujuan ekspor mebel Ukiran Jepara tahun 2015 juga mengalami kenaikan menjadi 113[1] negara dengan jumlah eksportir sebanyak 296 pengekspor, sedangkan tahun 2014 nilai ekspornya hanya 114,78 juta dolar AS dengan 223 pengekspor untuk negara tujuan 106 negara.

Legenda[sunting | sunting sumber]

Versi Pertama[sunting | sunting sumber]

Konon ada sebuah cerita unik yang menjadi kisah sejarah asal mula munculnya seni ukir[2] di Jepara. Cerita ini menjadi sebuah dongeng sebelum tidur saya ketika masih kecil dulu. Bapak saya sering menceritakannya, berulang-ulang, dan saya tidak pernah bosan mendengarnya. Begini ceritanya. Pada zaman dahulu kala ada seorang pengukir dan pelukis dari Kerajaan Majapahit, Jawa Timur. Waktu itu masa pemerintahan raja Brawijaya. Pengukir itu bernama Prabangkara disebut juga Joko Sungging. Lukisan dan ukiran Prabangkara sudah sangat terkenal di seluruh negeri. Suatu ketika Raja Brawijaya ingin memiliki lukisan istrinya dalam keadaan telanjang tanpa busana sebagai wujud rasa cinta sang raja. OIeh karena itu, Prabangkara dipanggil untuk mewujudkan keinginan sang Raja. Hal ini tentu merupakan hal yang sulit bagi Prabangkara, Karena meskipun mengenal wajah sang istri raja, tapi dia tidak pernah meilhat istri raja tanpa busana. Dengan usaha keras dan imajinasinya, akhirnya Prabangkara berhasil mengerjakan lukisan tersebut. Ketika Prabangkara sedang istirahat, tiba-tiba saja ada seekor cicak buang tinja dan mengenai lukisan permaisuri tersebut. Kotoran cicak tersebut mengering dan menjadi bentuk seperti tahi lalat. Raja tentu sangat gembira dengan hasil karya Prabangkara tersebut. Sebuah lukisan yang sempurna , persis seperti aslinya. Sang raja mengamati lukisan tersebut dengan teliti. Begitu dia melihat tahi lalat, raja murka. Dia menuduh Prabangkara melihat langsung permaisuri tanpa busana. Karena lokasi tahi lalat persis seperti kenyataan. Raja Brawijaya pun cemburu dan menghukum pelukis Prabangkara dengan mengikatnya di layang-layang, kemudian menerbangkannya. Layang-layang itu terbang hingga ke Belakang Gunung di Jepara dan mendarat di Belakang Gunung itu. Belakang Gunung itu kini bernama Mulyoharjo di Jepara. Kemudian Prabangkara mengajarkan ilmu mengukir kepada warga Jepara pada waktu itu dan kemahiran ukir warga Jepara bertahan dan lestari hingga sekarang.

Versi Kedua[sunting | sunting sumber]

Menurut sejarah mengapa masyarakat Jepara mempunyai keahlian di pahat ukir[3] kayu adalah konon pada jaman dulu kala ada seorang seniman hebat yang bernama Ki Sungging Adi Luwih. Dia tinggal di kerajaan. Kepiawaian Ki Sungging ini terkenal dan sang raja pun akhirnya mengetahuinya. Singkat cerita raja bermaksud memesan gambar untuk permaisurinya kepada Ki Sungging. Ki Sungging bisa menyelesaikan gambarnya dengan baik namun pada saat Ki Sungging hendak menambahkan cat hitam pada rambutnya, ada cat yang tercecer di gambar permaisuri tersebut bagian paha sehingga nampak seperti tahilalat.Kemudian diserahkan kepada raja dan raja sangat kagum dengan hasil karyanya.Namun takdir berkata lain sang raja curiga kepada Ki Sungging difikir Ki Sungging pernah melihat permaisuri telanjang karena adanya gambar tahi lalat pada pahanya. Akhirnya raja menghukum Ki sungging dengan membawa alat pahat disuruh membuat patung permaisuri di udara dengan naik layang-layang. Ukiran patung permaisuri sudah setengah selesai tapi tiba-tiba datang angin kencang dan patung jatuh dan terbawa sampai Bali. Itulah sebabnya mengapa masyarakat Bali juga terkenal sebagai ahli membuat patung. Dan untuk alat pahat yang dipakai oleh ki Sungging jatuh di belakang gunung dan ditempat jatuhnya pahat inilah yang sekarang diakui sebagai Jepara tempat berkembangnya ukiran.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Pada masa Kerajaan Kalinyamat arsitektur Jepara mengalami kemajuan terutama dalam bidang ukir-ukiran. Tepatnya ketika Tjie Bin Thang (Toyib) dan ayah angkatnya yaitu Tjie Hwio Gwan pindah ke Jawa (Jepara), Ketika Tjie Bin Thang (Toyib) menjadi raja di sebuah Kerajaan Kalinyamat, dimana Toyib menjadi raja bergelar Sultan Hadlirin dan Tjie Hwio Gwan menjadi patih bergelar Sungging Badar Duwung. Arti dari gelar Sungging Badar Duwung yaitu (sungging "memahat", badar "batu", duwung "tajam"). Nama sungging diberikan karena Badar Duwung adalah seorang ahli pahat dan seni ukir.

Tjie Hwio Gwan adalah yang membuat hiasan ukiran di dinding Masjid Astana Mantingan. Ialah yang mengajarkan keahlian seni ukir kepada penduduk di Jepara. Di tengah kesibukannya sebagai mangkubumi Kerajaan Kalinyamat (Jepara), Patih Sungging Badar Duwung masih sering mengukir di atas batu yang khusus didatangkan dari negeri Tiongkok. Karena batu-batu dari Tiongkok kurang mencukupi kebutuhan, maka penduduk Jepara memahat ukiran pada batu putih dan kayu. Tjie Hwio Gwan mengajarkan seni ukir kepada penduduk Jepara, sehingga arsitektur rumah di Jepara dihiasi ornamen-ornamen ukir karena warga Jepara yang trampil dalam seni ukir, bahkan kini produk furniture kayu ukiran Jepara dikenal keseluruh dunia.

Bukti otentik ukiran Jepara berupa artefak peninggalan zaman Ratu Kalinyamat di Masjid Mantingan. Ukiran Jepara sudah ada jejaknya pada masa Pemerintahan Ratu Kalinyamat (1521-1546) pada 1549. Sang Ratu mempunyai anak perempuan bernama Retno Kencono yang besar peranannya bagi perkembangan seni ukir. Di kerajaan, ada mentri bernama Sungging Badarduwung, yang datang dari Campa (Cambodia) dan dia adalah seorang pengukir yang baik. Ratu membangun Masjid Mantingan dan Makam Jirat (makam untuk suaminya) dan meminta kepada Sungging untuk memperindah bangunan itu dengan ukiran. Sampai sekarang, ukiran itu bisa disaksikan di Masjid dan Makam Sultan Hadlirin. Terdapat 114 relief pada batu putih. Pada waktu itu, Sungging memenuhi permintaan Ratu Kalinyamat.

Sentra Ukir Jepara[sunting | sunting sumber]

Keberadaan sentra-sentra ukir Jepara mempermudah pembeli mencari barang serta produksi semakin efisien. Mulai dari sentra relief, patung, gebyok, almari, dan lain-lainnya. Pemkab Jepara memusatkan ukiran Jepara, yaitu:

Kebanyakan masyarakat Desa Mulyoharjo merupakan pengukir dan pemahat patung kayu, Oleh karena itu kini desa Mulyoharjo menjadi Sentra Kerajinan Ukir Patung. Jenis seni patung yang terkenal dan legendaris dari Mulyoharjo adalah patung Macan Kurung. Mantan presiden Susilo Bambang Yudoyono juga pernah sengaja berkunjung ke Desa Mulyoharjo untuk membeli produk kerajinan dari Desa Mulyoharjo.

  • Sentra Ukir Relief, di Desa Senenan

Desa Senenan merupakan sentra pengrajin seni ukir relief. Ada rasa kagum dan takjub ketika pertama kali melihat seni yang satu ini. Bagaimana tidak daribsebuah papan kayu utuh kemudian dipahat sedemikian rupa hingga berubah wujud menjadi gambar tiga dimensi yang benar-nenar hidup. desainnya pun kini semakin berkembang,tidak hanya gambar pemandangan saja ketika pertama kali kerajinan imi ada namun berkembang denga desain dimensi yang lain.

Mayoritas masyarakat Desa Petekeyan bergelut dibidang Industri Kerajinan Ukir Meubel Minimalis. Oleh karena itu kini desa Petekeyan menjadi Sentra Kerajinan Meubel Minimalis Hasil dari Industri masyarakat Desa Petekeyan dipasarkan secara langsung di showroom milik pengrajin. Selain dipasarkan secara offline, hasil masyarakat juga dipasarkan secara online oleh pengusaha furniture Desa Petekeyan. Nama website yang memasarkan produk masyarakat adalah Petekeyan Kampoeng Sembada Ukir.

Gebyok Ukir Jepara sangat cocok untuk di jadikan pintu rumah ataupun pintu masjid sehingga semakin membuat rumah anda semakin menarik dan unik. Desa Blimbingrejo sudah menjadi Sentra Ukir Gebyok sejak tahun 1980-an hingga sekarang. Saat ini di desa tersebut sudah ada 90 orang pengrajin, dengan jumlah total pekerja mencapai lebih dari 300 orang. Karena dari setiap pengrajin besar bisa memperkerjakan 6-14 orang, sedangkan untuk pengrajin kecil biasanya memperkerjakan sebanyak 2-3 karyawan saja.

Warga Desa Bulungan mayoritas bekerja sebagai pembuat produk mebel ukir terutama berbentuk almari. almari produksi Desa Bulungan yang selama ini sudah diminati berbagai kalangan baik di Pulau Jawa dan luar Jawa. sektor mebel khususnya almari mampu menyerap banyak tenaga kerja, mulai dari pengusaha kayu, perajin, showroom, jasa angkutan dan lain sebagainya. Nilai transaksi yang dihasilkan dari sektor ini juga mencapai ratusan juta rupiah tiap bulannya. Selama ini pemasaran almari Bulungan tidak hanya di kota-kota besar di Pulau Jawa.saja, namun juga merambah kawasan luar Pulau Jawa seperti Sumatera, Kalimantan, Aceh dan lain sebagainya.

Genteng Ukir Jepara adalah genteng dengan bentuk ukir-ukiran Jepara, genteng tersebut yang banyak di produksi di Mayong, yaitu Genteng Makuta, Genteng Gatotkaca, Genteng Krepyak.

Motif[sunting | sunting sumber]

Motif atau ragam hias khas Jepara merupakan expresi dari pada bentuk-bentuk tanaman yang menjalar. Tiap ujung relungnya menjumbai daun-daun krawing yang sangat dinamis. Biasanya di tengah jumbai terdapat buah-buah kecil-kecil yang berbentuk lingkaran. Ciri ragam hias ini dapat dilihat dengan adanya berjenis-jenis Burung Merak. Tangkai relungnya panjang-panjang melingkari disana-sini membentuk cabang kecil, berfungsi sebagai mengisi ruang / pemanis. Pelaksanaan penampang berbentuk segitiga, daun-daun trubusan keluar bebas pada setiap tangkai relung. Motif atauragam hias Jepara terdiri dari:

  • Tangkai Relung
  • Jumbai (Ujung Relung)
  • Trubusan

Status Sosial[sunting | sunting sumber]

Furnitur Ukir Jepara merupakan dapat memperlihatkan status sosial bahwa orang tersebut itu benar-benar orang yang sangat berkelas. Bagi siapa saja yang memiliki mebel ukir Jepara baik kursi, meja, almari, patung, gebyok ukir Jepara, seolah-olah status sosialnya meningkat atau tinggi dan memperlihatkan status ekonomi pemilik rumah. Karena kualitasnya ukir Jepara terkenal sangat baik dan harganya juga cukup mahal, maka tak khayal jika yang memiliki biasanya adalah seorang Pejabat ataupun seorang Pengusaha yang kaya raya.

Keunggulan[sunting | sunting sumber]

Ukiran Jepara memiliki keunggulan sehingga ukiran Jepara terkenal dan digemari[4], karena:

  • Inovasi pengrajin ukiran Jepara

Jika dicermati, motif ukir-ukiran Jepara pasti selalu berubah-ubah mengikuti tren yang berkembang saat ini, jadi motifnya tidak monoton itu-itu saja, dengan kata lain motif ukiran jepara selalu berubah mengikuti perkembangan zaman. Kalau dulu ukir-ukiran Jepara kebanyakan bermotif rumit (klasik), kini di era modern motif dan model ukiran Jepara dibuat lebih simpel dengan tujuan lebih menonjolkan kesan minimalis sesuai dengan model yang banyak digemari saat ini.

  • Tampilan ukiran

Tampilan ukiran Jepara selalu terlihat luwes (tidak kaku) dan terlihat rapi sehingga ukirannya menarik dan enak dipandang mata. Keelokan ukiran Jepara tidak pernah luntur dimakan zaman, dipandang dan dinikmati kapanpun akan selalu tetap indah dan mempesona.

  • Pengukir ukiran yang profesional

Untuk menciptakan motif ukiran yang baik dan menarik tidaklah mudah, pengrajin harus mempunyai jiwa seni yang tinggi. Untuk itu, pengukir membutuhkan keahlian dan ketelatenan yang tinggi, tidak sedikit orang yang belajar mengukir berhenti ditengah jalan dikarenakan waktu dan prosesnya yang cukup lama sehingga benar-benar menguasai. Selain itu, kreativitas dari si pengukir juga sangat diperlukan untuk menciptakan motif ukiran yang selalu inovatif.

Pranata luar[sunting | sunting sumber]

Catatan kaki[sunting | sunting sumber]