Timur Muhammad

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
GRM Timur Muhammad
Kanjeng Gusti Pangeran Arya Timur Muhammad Surya ing Ngalaga
Makam Ratu Kedaton & GRM Timur Muhammad.jpg
Makam GRM Timur Muhammad di TPU Muslim Mahakeret Timur, Manado, Sulawesi Utara.
LahirGusti Raden Mas Timur Muhammad
17 Juni 1855
Kraton Yogyakarta, Yogyakarta
Wafat12 Januari 1901(1901-01-12) (umur 45)
Wenang, Manado, Sulawesi Utara
Pemakaman
WangsaMataram
AyahSultan Hamengkubuwana V
IbuGKR Ratu Kedaton
AgamaIslam

Gusti Raden Mas Timur Muhammad (lahir 17 Juni 1855 – meninggal 12 Januari 1901 pada umur 45 tahun) adalah seorang putra satu-satunya dari Sultan Hamengkubuwono V dan permaisurinya GKR Ratu Kedhaton yang lahir 13 hari setelah ayahnya wafat (5 Juni 1855). Ia kemudian diasuh oleh Kanjeng Pangeran Haryo (KPH) Suryaning Ngalogo. Merasa putranya GRM Timur Muhammad yang berhak mewarisi takhta sepeninggal Hamengkubuwana V, sang permaisuri GKR Ratu Kedaton kemudian meminta hak takhta raja atas anaknya tersebut tetapi klaim GKR Ratu Kedaton ditolak oleh Gusti Raden Mas Mustojo adik Hamengkubuwana V (nantinya naik takhta bergelar Hamengkubuwana VI), GRM Mustojo mengklaim bahwa seorang putra raja yang lahir setelah raja meninggal menurut adat Jawa tidak berhak atas takhta.[1][2] Akhirnya GRM Mustojo lah yang naik tahta menggantikan abangnya Hamengkubuwana V yang juga merupakan ayah dari GRM Timur Muhammad.

Meninggal di pengasingan[sunting | sunting sumber]

Setelah Hamengkubuwono VI meninggal dunia sesuai kesepakatan seharusnya GRM Timur Muhammad putra Hamengkubuwana V yang menggantikanya naik takhta tetapi sebelum meninggal, Hamengkubuwana VI telah menunjuk putranya GRM Murtejo yang akan menggantikanya kelak.

Hal ini mendapat tentangan dari GKR Ratu Kedaton permaisuri almarhum Hamengkubuwana V (ibunda GRM Timur Muhammad), setelah sekian lama usahanya untuk menjadikan GRM Timur Muhammad sebagai raja gagal akhirnya GKR Ratu Kedhaton dan GRM Timur Muhammad memilih jalan kekerasan memberontak dengan mengangkat senjata. Sayangnya, usahanya gagal, keduanya tertangkap saat melakukan perlawanan pada 8 April 1883.[1]

Saat itu juga Van Baak selaku perwakilan pemerintah Hindia Belanda di Yogyakarta yang mendukung Hamengkubuwana VI mengirim telegram kepada Gubernur Jenderal Frederik s'Jacob yang berisi permintaan untuk mengasingkan GKR Ratu Kedaton dan Pangeran Timur Muhammad ke Manado, Sulawesi Utara.

Dalam pembuangan di Manado, Kanjeng Ratu Sekar Kedaton dan putranya tinggal di kampung Pondol, Wenang Selatan, Wenang, Manado hingga meninggal dunia. GKR Ratu Kedaton meninggal pada 25 Mei 1918, sedangkan Pangeran Timur Muhammad meninggal pada 12 Januari 1901.[1] Dengan meninggalnya GKR Ratu Kedaton dan GRM Timur Muhammad berarti habis sudah trah keturunan Hamengkubuwana V yang kemudian merubah garis keturunan penguasa Yogyakarta hingga saat ini.

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c d Makam ratu dan pangeran Yogyakarta di Manado. musabab.com. 3 November 2017. Diakses tanggal 22/07/2019
  2. ^ "Raja Raja | Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat - Kraton Jogja". kratonjogja.id (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2018-07-23.