Tati Saleh

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Jump to navigation Jump to search
Raden Siti Hatijah
Tati Saleh (foto oleh DataSunda.org).jpg
Lahir Raden Siti Hatijah
lahir di Jakarta, 24 Juli 1944 – meninggal di Bandung, 9 Februari 2006 pada umur 61 tahun)
Bendera Indonesia Jakarta
Nama lain Tati Saleh
Pekerjaan Seniman tari Sunda
Suami/istri Maman Sulaeman
Anak Muthia Purnamawati, Budhi Laksana, Lia Muliawati Agustini.

Raden Siti Hatijah (lebih dikenal dengan nama Tati Saleh; lahir di Jakarta, 24 Juli 1944 – meninggal di Bandung, 9 Februari 2006 pada umur 61 tahun akibat komplikasi luka lambung dan vertigo) adalah seorang penari jaipongan asal Indonesia.

Biografi[sunting | sunting sumber]

Ayahnya, Abdullah Saleh, adalah seorang seniman yang juga berprofesi sebagai Kepala Kebudayaan Ciamis, sedangkan ibunya Tjarwita Djuariah adalah pengajar seni tari dan tembang. Selain ayahnya, Tati Saleh mempelajari seni tari dari Raden Enoch Atmadibrata, Ono Lesmana, serta tokoh tari Sunda, Raden Cece Somantri.

Pendidikan[sunting | sunting sumber]

Pendidikan formal Tati Saleh sewaktu SD dan SMP ditempuhnya di Ciamis. Sedangkan Sekolah Lanjutan Atas (SLA) ditempuhnya di KOKAR (Konservatori Karawitan) Bandung (SMK Negeri 10 Bandung). Tati Saleh masih ingat, pada waktu sekolah di KOKAR yang menjadi Kepala Sekolahnya adalah Daeng Soetigna.

Kiprah Seninya[sunting | sunting sumber]

Usaha keras itu membuahkan hasil. Pada usia belia, Tati Saleh sudah jadi bintang panggung. Ketika duduk di kelas I SMP, pada 1959, dia sudah dipercaya membawakan kidung menyambut Ayub Khan, Presiden Pakistan yang berkunjung ke Bandung. Selepas SMP, oleh ayahnya, Tati tak dikirim ke sekolah umum, melainkan disuruh melanjutkan ke sekolah karawitan.

Setelah melewati proses pematangan, jadilah Tati Saleh sebagai seniman serba bisa: penyanyi, penari, juga artis. Namanya dikenal tak hanya di lingkaran etnis Sunda, melainkan juga di tataran nasional. Sebagai penyanyi, dia punya karakter suara yang unik, bisa mencapai empat setengah oktaf, hal yang jarang dipunyai penyanyi lain.[1]

Di Konservatori Karawitan (Kokar), ia dan beberapa rekannya menggubah beberapa Seni Ibing Jaipongan seperti Lindeuk Japati, Rineka Sari, Mega Sutra. Pada tahun 1960-an, ia juga, bersama Indrawati Lukman, Irawati Durban, Tien Sapartinah dan Bulantrisna Jelantik, dikenal sebagai penari istana.

Ketika di KOKAR Tati Saleh seangkatan dengan Atik Sopandi dan juga Nano S. Tokoh yang mempopulerkan Seni Ibing Jaipongan bersama Euis Komariah dan Gugum Gumbira ini sangat tekun dengan kariernya. Bersama mereka pula Tati Saleh menggubah beberapa Seni Ibing Jaipongan seperti Lindeuk Japati, Rineka Sari, Mega Sutra serta beberapa kreasi Seni Ibing Jaipongan lainnya.

Pengalaman pertama Tati Saleh belajar tari selain dari ayahandanya juga dari tokoh Tari Sunda R. Cece Somantri atau Raden Tjetje Somantri pada tahun 1961. Ketika belajar di KOKAR Tati Saleh juga berguru pada R. Enoch Atmadibrata dan Ono Lesmana. Sejak usia 5 tahun, Tati kecil senang mendengarkan lagu-lagu kawih maupun tembang yang dinyanyikan Upit Sarimanah, Titim Fatimah dan Ibu Saodah. Bakatnya ini tersalurkan dengan berguru pada Mang Koko Koswara, Apung S. Wiratmaja dan Mang Bakang Abubakar, sewaktu sekolah di KOKAR. Tidaklah heran dengan ketekunannya belajar Seni Tembang itu, pada tahun 1961 Tati Saleh berhasil merebut gelar Juara II dalam Pasanggiri Tembang Sunda Cianjuran yang diselenggarakan DAMAS.

Falsafah hidup Seniwati Sunda yang sering melawat ke luar negeri mewakili Indonesia dan Jawa Barat ini adalah, dalam menjalani segala sesuatu termasuk menekuni profesi harus dijalani secara tuntas. "Pokona mah kudu junun, ulah kapalang ngajalanannana, sarta ulah adigung, gumede jeung gede hulu," ucap Tati Saleh yang low profile ini. [2][3]

Meninggal[sunting | sunting sumber]

Tati Saleh meninggal dunia pada 9 Februari 2006, dimakamkan taman pemakaman keluarga di Ciamis, Jawa Barat. Maestro Jaipongan Sunda, Tati Saleh, meninggal dunia,Kamis pukul 15.30 WIB dalam usia 61 tahun di RS Immanuel Bandung karena penyakit komplikasi luka lambung, vertigo dan terdeteksi penyakit diabetes. Tati Saleh yang merupakan srikandi jaipongan sunda di era 70-an itu pergi selama-lamanya dengan meninggalkan suami tercinta Maman Sulaeman dan tiga orang anak yaitu Mutia Purnamawati, Budi Laksana dan Lia Mulyati Agustina. Menurut putri sulung almarhumah Muti, Tati Saleh pernah dirawat di RS Advent beberapa waktu lalu dan sudah diperbolehkan pulang. "Mama mengeluh sakit kembali pada saat menghadiri pernikahan Taufik Hidayat dan Ami putri Agum Gumelar di Jakarta, Sabtu lalu," katanya."Sepulang dari Jakarta tubuh mama demam dan keesokan harinya seluruh wajahnya berwarna biru. Ketika hari Rabu mama di bawa ke RS Muhhammadiyah, kondisinya semakin parah sampai-sampai suhu tubuhnya mencapai 42 derajat dan kejang-kejang, " katanya lagi. Tati akhirnya dibawa ke RS Immanuel dan menghembuskan nafas terakhirnya setelah sebelumnya muntah darah. Tampak hadir di rumah duka Jl Salendro Bandung para seniman sunda seperti Kang Ibing, Teti Kadi, Toni Kasmiri, Nano S serta seniman lainnya.[4]

Referensi[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]