Talang Parigi, Rakit Kulim, Indragiri Hulu
Talang Parigi | |||||
|---|---|---|---|---|---|
Peta lokasi Desa Talang Parigi | |||||
| Negara | |||||
| Provinsi | Riau | ||||
| Kabupaten | Indragiri Hulu | ||||
| Kecamatan | Rakit Kulim | ||||
| Kode pos | 29352 | ||||
| Kode Kemendagri | 14.02.13.2004 | ||||
| Luas | 785,98 km² | ||||
| Jumlah penduduk | 1.445 jiwa | ||||
| Kepadatan | ... jiwa/km² | ||||
| |||||
Talang Parigi merupakan salah satu desa di kecamatan Rakit Kulim, Kabupaten Indragiri Hulu, provinsi Riau, Indonesia.Secara geografis, Kec. Rakit Kulim berbatasan dengan Kecamatan Kelayang dan Kecamatan Sungai Lala di sebelah Utara, berbatasan dengan Kecamatan Peranap dan Batang Cenaku di sebelah Selatan, di sebelah Timur dan Barat dengan Kecamatan Seberida.
Secara astronomis letak Kecamatan Rakit Kulim berada di antara 0°15’ Lintang Utara dan 1°5’ Lintang Selatan serta di antara 10°10’ Bujur Timur dan 102°48 Bujur Barat.
Penduduk Talang Perigi dominan suku Talang Mamak. Suku Talang Mamak sudah bermukim disana sejak zaman nenek moyang mereka. Penduduk sekitar Talang Perigi sudah menyatu dengan alam sekitarnya. Hutan merupakan sumber kehidupan bagi mereka dan sangat berharga.[1]
Rata-rata pekerjaan masyarakat di Desa Talang Perigi adalah petani karet, sawit, peternak sapi, dan kambing, serta karyawan pabrik. Beberapa potensi Desa Talang Perigi yang bisa dijadikan penopang ekonomi keluarga adalah kerajinan tikar dan bakul, hasil pertanian, ternak dan sebagainya.
Karakteristik kehidupan masyarakat Desa Talang Perigi pada umumnya bergantung pada alam. Anggota masyarakat saling mengenal, sifat gotong royong di Desa Talang Perigi masih cukup kuat.
Kehidupan religi di desa ini cukup kuat. Masyarakat rata-rata menganut agama Islam dan kepercayaan lain (Percaya Kepada Tuhan YME), yaitu agama kepercayaan turun-temurun Suku Talang Mamak. Mereka menyebut dirinya "orang langkah lama" (orang adat). Kepercayaan dominan adalah sinkretisme antara animisme dan Islam ("Islam langkah lama"). Identitas Talang Mamak akan berubah menjadi Melayu jika memeluk Islam secara penuh.[2]
Sebagian masyarakat Desa Talang Perigi sudah bersekolah, bahkan sudah ada yang sarjana, terutama generasi mudanya. Namun sebagian besar orang tua-tua masyarakat Talang Perigi buta huruf.
Adat-istiadat di Talang Perigi masih kental. Sampai saat ini seluruh warganya masih berpegang teguh kepada ajaran Talang Mamak.
Kepekaan terhadap masalah kesehatan di desa ini masih lemah. Tata cara kehidupan tradisional mendekatkan warga kepada prinsip-prinsip kesehatan tradisional, antara lain pengobatan menggunakan Gumantan yang dilakukan dukun. Dalam ritual pengobatan atau menyemah (semah) orang sakit itu, dukun dibantu empat orang yang memegang daun sambil mengelilingi api damar, menjaga api supaya tidak padam.[3]
Saat ini Desa Talang Parigi dipimpin Kades yang akrab dipanggil Pak Saini, dia termasuk masyarakat asli Talang Parigi yang masih kental dengan berbagai kegiatan adat istiadatnya. Secara adat warga Talang Perigi dipimpin oleh tetua adat (Batin). Warga terdiri dari kelompok-kelompok kecil yang disebut suku, tobo, hinduk/puak.[2]
Salah satu upaca adat yang menarik di Talang Perigi adalah prosesi pernikahan adat Talang Mamak. Acara ini disebut gawai. Ini merupakan salah satu keunikan budaya Talang Mamak sehingga ramai dikunjungi. Prosesi perayaan adat besar (Gawai Gedang) untuk pernikahan ini, antara lain penyerahan sirih pinang, tarian, silat, sabung ayam dan Makan Gadang.[2]
Ekonomi dan mata pencaharian di Talang Perigi secara tradisional adalah berladang berpindah, berburu, mencari ikan, mengumpulkan hasil hutan (rotan, madu,damar). Sedangkan pertanian secara moderen menghasilkan padi, ubi, getah karet, jelutung, dan gula enau.
Tradisi pepaghian merupakan hal wajib di Talang Perigi. Masyarakat yang nota bene petani akan berladang secara bersama, biasanya pada tahapan membersihkan lahan, menanam dan panen.
Kegiatan bertani si Talang Perigi dilakukan secara tradisional turun temurun,, terutama dalam mengelola lahan dan sumber daya hutan. Metode bertani mereka terintegrasi dengan kehidupan sosial dan budaya , termasuk pemanfaatan lahan dusun di wilayah konservasi hutan.
Di desa saat ini pembangunan keagamaan menjadi perhatian, sehingga terdapat beberapa rumah ibadah, seperti mushola. Penyuluh agama, terutama Islam, menjadi pembimbing pelaksanaan kehidupan beragama.
Salah satu perubahan yang terjadi adalah kegiatan berladang berpindah sudah jarang dilakukan. Selain semakin sempitnya wilayah hutan juga pengetahuan masyarakat terhadap pengelolaan lahan semakin baik. Usaha tani sejak dahulu dilakukan adalah berladang dengan komoditas padi, mentimun, jagung, labu, kunyit, dan juga cabe.
Peningkatan keterampilan sangat diminati warga Talang Perigi. Pelatihan menganyam, yaitu membuat anyaman kerajinan tangan berciri Talang Mamak, seperti tikar pandan, bakul bambu dan rotan, ambung, dan lainnya disukai amai-amai (ibu-ibu) dan pemuda karena sekaligus melestarikan kebudayaan Talang Mamak.
Sepengetahuan saya untuk penduduk desa tidak ada yang berpindah ke daerah lain.Baik untuk urusan pekerjaan ataupun urusan lainnya.
Untuk bahasa yang di gunakan sehari-hari ialah bahasa Indonesia.Adapun bahasa asli yang di kenal dengan bahasa talang mamak.
Referensi
[sunting | sunting sumber]- ↑ Imelda, Imelda (2017). Karenisa, Kity; Mediagus, Mediagus; Ramadhani, Ramadhani (ed.). Talang Perigi (dalam bahasa Inggris). Jakarta: Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. ISBN 978-602-437-281-1.
- 1 2 3 "Kehidupan Sosial Budaya Suku Talang Mamak di Desa Talang Perigi Kecamatan Rakit Kulim Kabupaten Indragiri Hulu Riau (1990-2000)". Repository Universitas PGRI Sumatera Barat. 2015.
- ↑ divertal. "Ritual Pengobatan Desa Talang Perigi". witness.com. Diakses tanggal 2025-12-09.
