Sejarah perpustakaan

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Perpustakaan adalah sebuah gedung atau ruangan yang digunakan untuk menyimpan koleksi bahan pustaka (buku atau monograf, terbitan berseri, brosur, atau pamflet dan bahan non pustaka).[1] Koleksi bahan pustaka pada sebuah perpustakaan digunakan oleh pemustaka (pengguna/user dan pembaca) bukan untuk diperjual-belikan, itulah perpustakaan dalam paradigma lama.[2] Sedangkan dalam paradigma baru Perpustakaan adalah sesuatu yang hidup, dinamis, segar menawarkan hal-hal yang baru, produk layannya inovatif, dan dikemas sedemikian rupa, sehingga apapun yang ditawarkan oleh perpustakaan akan menjadi atraktif, interaktif, edukatif, dan rekreatif bagi pengunjungnya.[3] Dalam struktur bahasa (etimologi), Perpustakaan dalam bahasa Indonesia berasal dari kata dasar pustaka.[4] Dalam berbagai bahasa yang lain, seperti dalam bahasa Ingris Perpustakaan disebut Library, dalam bahasa Belanda disebut Bibliotheek, dalam bahasa Jerman disebut Bibliothek, bahasa Prancis menyebutnya dengan Bibliotheque, bahasa Italia menyebut dengan Biblioteca, bahasa Spanyol dan Portugis menyebut dengan Bibliotheca, dan dalam bahasa Arab menyebutnya dengan istilah al-Maktabah.[5][6]

Dari berbagai struktur dan asal kata Perpustakaan tadi, bisa dinilai bahwa pada dasarnya memiliki makna yang sama seperti Library yang berasal dari akar kata Liber bahasa Yunani yang artinya buku.[4] Begitupun dengan akar kata dari Bibliotheek adalah biblos dalam bahasa Yunani yang artinya juga buku.[4] Kemudian berkembang pula biblos itu dengan sebutan bible yang artinya kitab. Sedangkan al-Maktabah sendiri yang berasal dari bahasa Arab akar katanya adalah ka-ta-ba yang berarti menulis. Dari itu, Perpustakaan sendiri selalu berkaitan dengan buku dan tulis-menulis.[4][6]

Menurut Muljani A. Nurhadi,[7] terkait pengertian Perpustakaan ada lima unsur yang perlu dalam pengertian Perpustakaan, yaitu:

  • Tempat mengumpulkan, menyimpan dan memelihara koleksi bahan pustaka.
  • Koleksi bahan pustaka itu dikelola dan diatur secara sistematis.
  • Untuk digunakan secara kontinu oleh pemakainya.
  • Sebagai sumber informasi, dan
  • Merupakan suatu unit kerja.

Penjelasan lain, Michael H. Harris memberikan definisi bahwa Perpustakaan adalah sekumpulan koleksi bahan grafis yang diatur untuk dipergunakan dengan mudah, dikelola oleh perseorangan atau lebih yang sudah mengenal, terbiasa dan memahami tata kelolanya dengan baik yang bertujuan untuk dipergunakan oleh sejumlah orang.[8]

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Perpustakaan ketika ditulis dalam perspektif sejarah, tentu tidak terlepas dengan waktu, tempat, dan pelaku sejarah itu sendiri. Apalagi ketika mengkajinya mengenai asal muasal, bahkan Michael H. Harris menyatakan harus juga ditinjau dari kondisi sosial, kondisi ekonomi, ataupun kondisi politik.[8]

Sejarah Sebelum Masehi[sunting | sunting sumber]

Sejarah Perpustakaan tidak terlepas dengan yang biasa kita sebut tulisan, pada 2500 SM, di Mesir ditemukan sebuah tulisan berupa papyrus yang dibuat dari sejenis rumput yang tumbuh di sepanjang sungai Nil.[9] Papyrus merupakan rumput yang dihaluskan dengan cara ditumbuk lalu diratakan, kemudian dikeringkan dan digunakan untuk menulis dengan menggunakan pahatan dan tinta.[9] Bermula dari papyrus kita bisa mengenal istilah paper, papiere, papiros, yang kesemuanya itu berarti kertas.[9] Mulajni A. Nurhadi, menulis bahwa kebudayaan perpustakaan telah dirinti pada zaman kejayaan Arab oleh orang-orang Arab yang pada zaman itu telah mempunyai peradaban yang sangat tinggi.[7] Pada tahun 3.750 SM telah terdapat pahatan-pahatan berupa ukiran lambang informasi ke dinding-dinding bangunan, monumen, dan tempat-tempat peringatan untuk menunjukkan keagungan raja-raja pada masa terdahulu.[7] Papyrus itu sendiri menurut Muljani A. Nurhadi, semenjak 3.200 tahun SM sudah ditemukan tulisan yang disebut papyrus yang terbuat dari dedaunan.[7]

Sejarah Sesudah Masehi[sunting | sunting sumber]

Keberadaan papyrus cukup sentral, karena dari situlah dikembangkannya sehingga berupa kertas pada zaman modern.[9] Bahkan hingga tahun 700-an masehi, papyrus masih dipergunakan sebagai bahan tulisan, sebulum kemudian ditemukan bahwa bahan kulit binatang, dan besi bisa dipergunakan untuk bahan tulisan.[9] Penjajahan bangsa Romawi, juga memiliki peranan dalam proses penyebaran dunia perpustakaan hingga ke pelosok. Karena, pada awal masehi hampir di setiap ibu kota negara jajahan bangsa Romawi terdapat Perpustakaan, seperti Cyprus, Afrika, Yunani, dan Asia Kecil. Adapun Perpustakaan yang didirikan oleh bangsa Romawi, seperti Perpustakaan di Timgad, Afrika Utara yang didirikan karena pengaruh Kerajaan Trajan pada tahun 98-117 Masehi.[7] Selain itu, Romawi sendiri mendirikan perpustakaan besar yaitu Perpustakaan Ulpian dengan koleksinya berupa karya Yunani dan Latin.

Sejarah Perpustakaan di Indonesia[sunting | sunting sumber]

Perpustakaan Tanoh Abee sebagai salah satu perpustakaan klasik di Indonesia yang sudah berdiri sejak masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda yakni 1607-1636 M.

Selanjutnya pada masa penjajahan Belanda juga membangun perpustakaan di Indonesia.

Jenis-Jenis Perpustakaan[sunting | sunting sumber]

Dalam Undang-Undang RI No. 43 tahun 2007 Pasal 20 disebutkan bahwa Perpustakaan terdiri atas:

  1. Perpustakaan Nasional
  2. Perpustakaan Umum
  3. Perpustakaan Sekolah/Madrasah
  4. Perpustakaan Perguruan Tinggi
  5. Perpustakaan Khusus.

Lima Perpustakaan Tertua[sunting | sunting sumber]


Jenis Koleksi Bahan Pustaka di Perpustakaan[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Tine Silvana dan Tati Sumiati (2011). Modul Pembelajaran Mata Kuliah Katalogisasi Deskriptif. Bandung: Kementerian Pendidikan Nasional Universitas Padjadjaran Fakultas Ilmu Komunikasi Jurusan Ilmu Informasi dan Perpustakaan. hlm. 18. 
  2. ^ Sulistyo Basuki (1991). Pengantar Ilmu Perpustakaan. Jakarta:PT Gramedia Pustaka Utama. hlm. 3. 
  3. ^ Rachman Hermawan dan Zulfikar Zen (2010). Etika Kepustakawanan:Suatu Pendekatan Terhadap Kode Etik Pustakawan Indonesia. Jakarta:Sagung Seto (Anggota Ikapi). hlm. 7. 
  4. ^ a b c d Sulistyo Basuki (1994). Periodisasi Perpustakaan Indonesia. Bandung:PT Remaja Rosdakarya (Anggota Ikapi). hlm. 1. 
  5. ^ P. Sumardji (2010). Perpustakaan:Organisasi dan Tatakerjanya. Yogyakarta:Kanisius (Anggota Ikapi). hlm. 11. 
  6. ^ a b Asad M. Alkalali (1997). Kamus Indonesia-Arab. Jakarta: Bulan Bintang (Anggota Ikapi). hlm. 427. 
  7. ^ a b c d e Muljani A. Nurhadi (1983). Sejarah Perpustakaan dan Perkembangannya di Indonesia. Yogyakarta: Andi Offset. hlm. 4.  Kesalahan pengutipan: Tanda <ref> tidak sah; nama "Nurhadi" didefinisikan berulang dengan isi berbeda Kesalahan pengutipan: Tanda <ref> tidak sah; nama "Nurhadi" didefinisikan berulang dengan isi berbeda Kesalahan pengutipan: Tanda <ref> tidak sah; nama "Nurhadi" didefinisikan berulang dengan isi berbeda Kesalahan pengutipan: Tanda <ref> tidak sah; nama "Nurhadi" didefinisikan berulang dengan isi berbeda
  8. ^ a b Michael H. Harris (1984). History of Libraries in the Western World. Londen:The Scarecrow Press. hlm. 3.  Kesalahan pengutipan: Tanda <ref> tidak sah; nama "Harris" didefinisikan berulang dengan isi berbeda
  9. ^ a b c d e Wiji Suwarno (2010). Pengetahuan Dasar Kepustakaan: SIsi Penting Perpustakaan dan Pustakawan. Bogor:Penerbit Ghalia Indonesia. hlm. 50.