Sartono Anwar

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Sartono Anwar
Informasi pribadi
Nama lengkapSartono Anwar
Tanggal lahir30 September 1947 (umur 71)
Tempat lahirSemarang, Indonesia
Karier senior*
TahunTimTampil(Gol)
PS SSS Semarang
Diklat Salatiga
PSIS Semarang
PS Atomsi Malang
Persema Malang
PS Angkasa Bandung
Persib Bandung
Kepelatihan
PSIS Semarang
Diklat Salatiga
Asisten pelatih tim nasional A
Pelatih tim nasional B
Assyabaab Salim Group
Petrokimia Putra
Arseto Solo
Persegi Gianyar
Persibas Banyu Mas
Persedikab Kediri
Persikab Bandung
PSIS
2011-2012Persibo Bojonegoro
2012-sekarangPersisam Putra Samarinda
2014-Persak Kebumen
* Penampilan dan gol di klub senior hanya dihitung dari liga domestik.

Sartono Anwar (lahir di Semarang, Jawa Tengah, 3 September 1947; umur 71 tahun) adalah mantan pemain sepak bola Indonesia yang saat ini berkarier sebagai pelatih sepak bola. Lelaki itu telah menyerahkan hidupnya pada lapangan rumput hijau sejak bertahun-tahun lalu. Bahkan dia rela meninggalkan hidup yang mapan: gaji dan bonus yang tertib di Pertamina serta jadwal kerja yang jelas. Semuanya ia tinggalkan demi bola dan lapangan rumput hijau. Meski dunia sepak bola kerap mendatangkan frustrasi, “Saya tidak bisa lepas dari sepak bola. Saya siap kecewa,” kata Sartono sambil membetulkan topinya. Sartono Anwar melakoni dunianya dengan sabar. Baginya, hari-hari sepak bola adalah hari-hari yang menyenangkan. Seperti pagi itu, setelah memberikan sesi latihan, Sartono bercengkerama dengan para pemain. Dia mengobrol santai dengan para pemain di pinggir lapangan dan kamar ganti. Itu adalah cara Sartono menjaga kedekatan dengan timnya.Karier sepak bola bapak tujuh anak ini dimulai sejak usia 13 tahun. Saat itu Sartono muda bergabung di klub Sport Supaya Sehat (SSS), sebuah klub lokal di Kota Semarang. Bakat Sartono mengolah si kulit bundar menurun dari M. Anwar, sang bapak yang juga pemain bola di PS POP Semarang.

“Selain sering melihat ayah saya bermain bola, sewaktu kecil saya sering membawakan bola PSIS hanya agar bisa ikut menyaksikan PSIS bertanding,” kenangnya. Bagi Sartono, pelatih sepak bola yang bagus tidak harus mantan pemain tim nasional. Dia menyebutkan nama Bendol dan Daniel Roekito adalah beberapa contoh pelatih bagus yang tidak mempunyai latar belakang sebagai pemain tim nasional seperti dirinya. “(Jose) Mourinho saja bukan mantan pemain, kan?” katanya menyebut mantan pelatih Chelsea tersebut.Setelah bergabung di PS SSS, bakatnya sebagai pemain gelandang makin terasah setelah bergabung di Pendidikan dan Latihan Salatiga pada 1962-1966. Setelah itu, selama dua tahun, Sartono langsung memperkuat tim PSIS Senior. Dari sekolah itu karier Sartono meroket hingga bergabung dengan PSIS. Ia benar. Gajinya sebagai pelatih Diklat Salatiga saat itu Rp 50 ribu per bulan. Jumlah ini dua kali lipat gajinya sebagai karyawan Pertamina.Bagi publik sepak bola Semarang, Sartono adalah legenda. Selain pernah memperkuat tim itu pada 1970-an, pelatih yang identik dengan topi pet inilah yang pertama kali sukses menghantarkan Mahesa Jenar, julukan PSIS Semarang, menjadi juara divisi utama mengalahkan Persebaya pada 1987. Masyarakat Semarang rindu merayakan pesta kemenangan serupa. Terakhir mereka merayakan kemenangan pada 1999.

Meski telah memperkuat sejumlah klub, Sartono mengaku kariernya sebagai pemain mentok. Dia tidak pernah terpilih memperkuat tim nasional. “Saya sadar, sebagai pemain, prestasi saya mentok. Saya tidak tahu sebabnya,” katanya. Akhirnya, pada 1972, Sartono memutuskan gantung sepatu.

Pada tahun yang sama, dia diterima sebagai pegawai Pertamina Distribusi Pengapon Semarang. Namun, dia merasa jiwanya tidak bisa lepas dari sepak bola. Sembari bekerja di Pertamina, ia menjadi pelatih anak gawang PSIS–sekolah sepak bolanya PSIS saat itu–hingga 1975. Setelah itu, 1975-1976, ia melatih PSIS. Sartono boleh gagal sebagai pemain, tetapi, sebagai pelatih, kariernya termasuk sukses.

Pada 1976-1978, Wiel Coerver, pelatih tim nasional, menunjuk Sartono sebagai pelatih Diklat Salatiga. Menjadi pelatih di pemusatan latihan ini cukup bergengsi saat itu. Diklat ini menjadi kawah candradimuka beberapa pemain nasional saat itu.

Seringnya mondar-mandir Semarang-Salatiga ternyata menjadi catatan tersendiri bagi pemimpin Pertamina tempat Sartono bekerja. Ultimatum pun datang. Sartono harus memilih menjadi karyawan Pertamina atau pelatih. Sartono menjawab ultimatum tersebut dengan keluar dari Pertamina saat itu juga. “Saya ingin menunjukkan sepak bola yang saya geluti sejak kecil juga bisa memberi penghidupan layak,” ujarnya.

Sejak saat itu, ayah pemain tim nasional dan Persib Bandung, Nova Arianto, ini menjalani karier sebagai pelatih sepak bola sampai sekarang. Selain Diklat Salatiga dan PSIS, beberapa klub yang pernah dia arsiteki adalah tim PON Jawa Tengah, PS UMS Jakarta (Galatama), BPD Jateng (Galatama), Assyabaab Salim Group, Petrokimia Putra, Arseto Solo , Putra Samarinda, Persegi Gianyar,Persibas Banyu Mas , Persidikab (Kabupaten Kediri), Persikab Bandung, PSIS, Persibo Bojonegoro, Persisam Putra Samarinda

Untuk tim nasional, bapak tujuh anak ini pada 1982 pernah menjadi asisten pelatih Sinyo Aliandoe, yang menangani tim nasional. Pada 1984-1992, Sartono menjadi asisten pelatih tim A PSSI dan menjadi pelatih kepala tim B PSSI dengan Benny Dolo sebagai asisten pelatihnya. Pada 2002, Sartono dipercaya sebagai pelatih tim nasional futsal.

“Saya tidak bisa lepas dari sepak bola. Saya siap kecewa”

Pranala luar[sunting | sunting sumber]

  • (Indonesia) [1]