Sanghyang Wenang

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari

SANG HYANG MAHA WENANG didalam Bahasa Jawa Kuno yang berarti Tuhan yang Maha Kuasa. Jaman Jawa Kuno merupakan Jaman dimana peradaban indonesia dipengaruhi oleh kebudayaan dan tradisi HINDU INDIA, pengaruh ini telah terbukti dari situs2 candi dan peninggalan bersejarah lainnya di Indonesia. Mengacu pada hal tersebut, pada jaman Jawa Kuno, para resi dan wiku dan Mpu sujana nan Suci jaman itu menjunjung tinggi Sang Hyang Wenang sebagai Tuhan pencipta dan bermanifestasi dalam wujud Dewa Dewi dengan kekuatan2nya yang Agung. Sang hyang Maha wenang bukan dewa senior atupun sempat berkelahi dengan ini dan itu..beliau tak berwujud, tak terpikirkan, tak terlahirkan dan tidak terkena pengaruh keduniawian karena beliaulah yang mencipta segala yang ada dan tiada ini..banyak penulis sejak kedatangan pengaruh tradisi arab berusaha menggeser pengertian ini. KARENA BANYAK DARI JAMAN ITU PERGESERAN SPIRITUAL MURNI MENJADI SPIRITUAL POLITIK DAN KEKUASAAN SEHINGGA BANYAK HAL-Hal yg benar diselewengkan dan diartikan berbeda sesuai penafsirannya untuk kepentingan politik, misi agama dan kekuasaan. Sampai sekarangpun pewayangan dan cerita2 Jawa Kuno banyak yg dikubah dari bentuk dan cerita aslinya. Seperti cerita dibawah ini; Sanghyang Wenang adalah nama seorang dewa senior dalam tradisi pewayangan Jawa. Ia dianggap sebagai leluhur Batara Guru, pemimpin Kahayangan Suralaya. Ia sendiri bertempat tinggal di Khayangan Awang-awang Kumitir. Kisah kehidupan Sanghyang Wenang yang diangkat dalam pentas pewayangan antara lain bersumber dari naskah Serat Paramayoga yang disusun oleh pujangga Ranggawarsita. Sebenarnya LONTAR ASLINYA serat ini tidak TERTULISKAN bahwa SANG HYANG WENANG adalah dewa senior tetapi Beliaulah yang memanisfestasikan diri menjadi Maha Guru, para Dewa dan Dewi serta keturunannya sampai menjadi peradabannya sampai jaman sejarah selanjutnya

Asal-usul[sunting | sunting sumber]

Serat Paramayoga merupakan karya sastra berbahasa Jawa yang isinya merupakan perpaduan unsur Hindu, tradisi kebudayaan india dan Jawa asli. Tokoh Sanghyang Wenang misalnya, disebut sebagai leluhur dewa-dewa diMahabharata

Sanghyang Maha Wenang memanifestasikan diri beliau menjadi Sang Hyang Widhi, Sanghyang Tunggal, Sang Hyang Acintya dan lainnya sesuai fungsi beliau didalam menata dan mengontrol dan mengorganisasikan Alam semesta beserta isinya ini.

Berselisih dengan Nabi Sulaiman[sunting | sunting sumber]

Sanghyang Wenang dipuja bagaikan Tuhan oleh para penduduk Pulau Dewa yang saat itu kebanyakan dari bangsa jin. Hal ini didengar oleh Nabi Sulaiman pemimpin Bani Israil. Para pengikut Nabi Sulaiman mendesak supaya Sanghyang Wenang diberi hukuman. Nabi Sulaiman pun mengirim panglimanya yang bernama Jin Sakar untuk menyerang Pulau Dewa.

Jin Sakar tiba di tujuannya. Namun justru dirinya yang berhasil dikalahkan Sanghyang Wenang. Jin Sakar dikirim balik untuk mencuri rahasia kesaktian Nabi Sulaiman, yaitu Cincin Maklukatgaib pemberian Tuhan. Setelah berhasil mencuri cincin tersebut, Jin Sakar kembali ke Pulau Dewa, namun Cincin Maklukatgaib jatuh tercebur ke dasar laut.

Nabi Sulaiman jatuh sakit setelah kehilangan cincinnya. Berkat doanya yang tekun, ia pun memperoleh kesembuhan. Pulau Dewa tempat Sanghyang Wenang dipasangi tumbal sehingga meledak dan hancur menjadi pulau-pulau kecil. Sanghyang Wenang sendiri bahkan sampai mengungsi ke dasar laut.

Membangun Kahyangan Tengguru[sunting | sunting sumber]

Beberapa tahun kemudian setelah Nabi Sulaiman meninggal, Sanghyang Wenang pun muncul kembali dan membangun kahyangan baru di Gunung Tengguru. Setelah memimpin sekian tahun lamanya, Sanghyang Wenang mewariskan takhta kahyangan kepada putranya yang bernama Sang Hyang Tunggal. Setelah itu, ia sendiri juga manunggal, bersatu ke dalam diri putranya itu.

Meskipun Sanghyang Wenang telah bersatu ke dalam diri Sanghyang Tunggal, namun para dalang dalam pementasan wayang masih tetap memunculkan tokoh Sanghyang Wenang dalam lakon-lakon tertentu. Hal ini dimungkinkan karena setelah bersatu dengan ayahnya, Sanghyang Tunggal tetap memakai nama ayahnya, yaitu Sanghyang Wenang sebagai salah satu nama julukannya.dan sampai sekarang pun sang hyang wenag masih mengintai untuk melindungi cucunya dan tanah jawa dari peradapan kaum pendatang.