Rosihan Arsyad

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Jump to navigation Jump to search
Laksda TNI (Purn), H.,
Rosihan Arsyad
115px
Gubernur ke-12
Masa jabatan
23 September 1998 – 7 November 2003
Pendahulu Ramli Hasan Basri
Pengganti Syahrial Oesman
Informasi pribadi
Lahir 29 Juli 1949 (umur 68)
Bendera Indonesia Bengkulu
Kebangsaan Bendera Indonesia Indonesia
Pasangan Rachma Arsyad
Anak Reza Alfisyahr Arsyad
Raisuli Abin Arsyad
Rasuna Ayu Ananda
Alma mater Akademi TNI AL

Laksda TNI (Purn.) Rosihan Arsyad (lahir di Bengkulu, 29 Juli 1949; umur 68 tahun) adalah salah seorang tokoh militer Indonesia. Dia pernah menjabat Kepala Staf Armada Barat Angkatan Laut RI sebelum menjadi Gubernur Sumatera Selatan. Ia dilantik sebagai Gubernur Sumatera Selatan menggantikan Ramli Hasan Basri untuk periode 1998-2003. Ia juga pernah dicalonkan pada pemilihan umum kepala daerah Bengkulu untuk periode 2010-2015.[1]

Masa kecil dan remaja[sunting | sunting sumber]

Rosihan Arsyad yang berdarah Minang dan Palembang ini merupakan anak kedua dari Bapak H. Achmad Anwar Arsyad (Alm) dan Ibu Hj Rosmimi Anwar (Alm), dilahirkan di Bengkulu pada tanggal 29 Juli 1949. Sejak berumur satu tahun, Rosihan Arsyad dititipkan kepada kakeknya, Muhamad Arsyad, yang bekerja sebagai Kepala Sekolah SD 06 Sungai Tawar Palembang, dan neneknya, Amnah. Setelah menamatkan SD, SMP dan SMA di sekolah Yayasan Xaverius Palembang, Rosihan Arsyad memilih melanjutkan pendidikan di Akademi Angkatan Bersenjata RI (AKABRI) Angkatan kedua, atau Akademi Angkatan Laut (AAL) Angkatan 17.[2]

Keluarga[sunting | sunting sumber]

Rosihan Arsyad menikah dengan Rachma, dan dianugerahi tiga anak, Reza Alfisyahr Arsyad, Raisuli Abin Arsyad dan Rasuna Ayu Ananda Rosihan. Dua menantu Rosihan Arsyad yaitu Nurfitri dan Irma Nurul Huda telah memberi tiga orang cucu-cucu terkasih, Redhanes Althafah Abin Arsyad, Raphaella Adora Reza Alfisyahr, Rommel Abrahams Abin Arsyad serta Radhellia Amberly Alfisyahr Arsyad.

Karier[sunting | sunting sumber]

Setelah menyelesaikan pendidikan di AAL, Rosihan menjalankan penugasan pendidikan di Pendidikan Lanjutan Perwira Tingkat II, Sekolah Staf dan Komando TNI AU (SESKOAU) dan Lemhannas Kursus Reguler Angkatan 29. Bertugas sebagai penerbang pesawat udara di Satuan Udara Armada, menerbangkan pesawat Nomad N-22, CASA C-212 dan Dakota C-47, Rosihan Arsyad mengumpulkan jam terbang sebanyak lebih dari 6.000 jam tanpa kecelakaan, dan berhasil mencapai jenjang sebagai penerbang instruktur. Rosihan Arsyad pernah dua kali mendapat tugas sebagai Komandan Skuadron, yaitu Komandan Skuadron 200 (Latih) dan Skuadron 800 (Patroli Maritim).

Pada tahun 1991, Rosihan Arsyad mendapat kepercayaan untuk bertugas di kapal perang, dimulai dengan jabatan Perwira Pelaksana KRI Teluk Banten, dan pada tahun 1993 mendapat amanah menjadi Komandan KRI Teluk Semangka. Sejak itu, karier Rosihan Arsyad terus meningkat, baik di staf maupun Komando, berturut-turut sebagai Perwira Pembantu Utama Pengkajian Strategis, Komandan Satuan Udara Armada, Kepala Sub Direktorat Latihan, Komandan Gugus Keamanan Laut Armada Barat. Karier Rosihan Arsyad di TNI AL terakhir adalah Kepala Staf Armada Barat, sebelum menjadi Gubernur Sumatera Selatan tahun 1998 pada umur 49 tahun.

Pengabdian Rosihan Arsyad tidak berhenti setelah menyelesaikan tugasnya sebagai Gubernur Sumatera Selatan pada tahun 2003. Rosihan Arsyad pernah aktif membina olahraga sebagai Wakil Ketua Umum I KONI dan Sekretaris Jenderal KONI tahun 2007-2011, serta sebagai Direktur Eksekutif Institute for Maritime Studies. Rosihan juga pernah menjadi Presiden Direktur PT Bukit Baiduri Energi, Mahakam Coal Mining dan Presiden Direktur sekaligus Pemimpin Umum Koran Sinar Harapan. Saat ini, selain sebagai Presiden Komisaris PT Softex Indonesia Rosihan adalah juga Komisaris Independen Blitzmegaplex Indonesia, Presiden United in Diversity serta anggota Advisory Board Conservation International Indonesia.

Intelektual[sunting | sunting sumber]

Kebiasaan Rosihan Arsyad menulis sudah dimulai sejak masih menjadi perwira muda, dimulai dengan menyusun buku-buku petunjuk pelaksanaan dan pertunjuk teknis untuk kepentingan TNI AL, bahkan menyusun buku Etiket dan Kehidupan Perwira TNI Angkatan Laut, yang kemudian menjadi buku pegangan resmi mengenai etiket di lingkungan TNI AL. Dalam menghadapi pemilihan Gubernur Sumatera Selatan tahun 1998, walaupun saat itu belum jamak, Rosihan Arsyad telah menyiapkan konsep pembangunan Sumsel dengan judul Revitalisasi Pembangunan Sumatera Selatan Melalui Pemberdayaan Masyarakat.

Rosihan Arsyad pernah beberapa kali berbicara pada seminar dan dialog internasional, diantaranya: Dialogue Indonesia-Japan on Maritime Security Cooperation, Jakarta, February 20, 2006 dan Indonesia – Japan 2nd Dialogue on Maritime Security Cooperation, Tokyo, 2007, The Asian Energy Security Conference, Mississippi State University, Jackson, USA, on 1-2 October 2007, The Maritime Capacity Building Conference, Mississippi State University, Columbus, USA, on 16-17 June 2009, International Seminar On "Prospects of Cooperation and Convergence of the Issues and Dynamics in South China Sea" May 31, 2011, Hotel Le Meridien, Jakarta, serta “International Conference on “South China Sea Disputes: The Road to Peace, Stability and Development”, Kuala Lumpur, Malaysia on October 17, 2011.

Tulisan Rosihan Arsyad juga telah diterbitkan dalam publikasi internasional, antaranya dalam “Asian Energy Security: Regional Cooperation in the Malacca Strait”, Papers in Australia Maritime Affairs, No. 23, Sea Power Center – Australia dan dalam “Maritime Capacity Building in the Asia-Pacific Region”, Papers in Australia Maritime Affairs, No. 30”, Sea Power Center – Australia.

Penghargaan[sunting | sunting sumber]

Sepanjang kariernya, Rosihan Arsyad menerima tidak kurang dari 16 penghargaan, diantaranya Bintang Jalasena Nararya, Bintang Yudha Dhama Nararya, Bintang Jalasena Pratama, Menggala Karya Kencana Kelas I, Satya Lencana Wira Karya, Satya Lencana Pembangunan Di Bidang Transmigrasi. Keberhasilannya memimpin SAR pada kecelakaan Silk Air di Sungai Musi tahun 1997 mendapat pengakuan dari pemerintah Singapura. Karena pengabdian dan perhatiannya yang besar pada bidang olahraga, Rosihan Arsyad menerima penghargaan Adimanggalya Krida, dan pada Olimpiade Beijing 2008, Rosihan Arsyad mendapat kepercayaan untuk menjadi Chef de Mission Kontingen Indonesia.

Referensi[sunting | sunting sumber]