Refrigerasi

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Refrigerasi adalah proses pemindahan kalor dari suatu ruangan dengan temperatur rendah ke temperatur yang lebih tinggi. Pada ruang dengan temperatur rendah terjadi penyerapan kalor, sedangkan pada ruang dengan temperatur tinggi terjadi pembuangan kalor. Refrigerasi dapat dilakukan melalui penerapan siklus kompresi uap, siklus absorpsi, siklus adsorpsi, refrigerasi termoelektrik, refrigerasi magnetik, refrigerasi dengan ejektor, atau refrigerasi dengan gelombang suara.[1] Proses refrigerasi terjadi dengan bantuan dari mesin pendingin dan refrigeran yang bekerja berdasarkan teori termodinamika dan perpindahan panas.[2]

Refrigerasi dapat dikelompokkan menjadi refrigerasi rumah tangga, refrigerasi komersial, refrigerasi industri, dan refrigerasi transportasi.[3] Pemanfaatan utama dari refrigerasi adalah dalam bidang pengawetan makanan dalam suhu dingin dengan temperatur 4°C.[4] Refrigerasi juga dimanfaatkan untuk pengkondisian udara, pendingin minuman, dan pengendalian kelembaban. Penerapan refrigerasi pada industri dilakukan dalam bidang manufaktur, tekstil, kimia, dan jasa boga.[4]

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Refrigerasi merupakan teknik pengawetan makanan yang telah dikenal oleh manusia sejak masa lampau. Penerapan refrigerasi dimulai dengan penggunaan es alami. Setelah penemuan prinsip refrigerasi, teknik ini digunakan untuk menghasilkan es. Pada perkembangan berikutnya, refrigerasi dimanfaatkan dalam proses pembuatan dan penyaluran makanan dalam industri makanan.[5]

Prinsip dasar[sunting | sunting sumber]

Refrigerasi merupakan proses pengubahan temperatur dalam suatu ruang menjadi lebih rendah dibandingkan temperatur awalnya. Pengubahan temperatur memanfaatkan reservoir dingin untuk menyerap panas dan reservoir panas untuk menerima panas. Panas yang diserap oleh reservoir dingin menghasilkan energi yang kemudian disalurkan ke reservoir panas.[6]

Proses pendinginan[sunting | sunting sumber]

Pendinginan dalam sistem refrigerasi melalui empat proses utama. Proses pertama adalah penyerapan panas oleh cairan refrigeran di dalam evaporator. Selama proses penyerapan, wujud refrigeran berubah dari cair menjadi gas. Ketika refrigeran melalui evaporator, gas diberikan pemanasan sehingga menjadi gas panas lanjut. Selanjutnya gas panas lanjut menuju ke kompresor untuk menerima proses kompresi sehingga terjadi penaikan tekanan kerja. Pemindahan energi dari alat kompresi menuju ke refrigeran menghasilkan kenaikan temperatur kerja pada gas panas. Gas panas lanjut kemudian disalurkan ke kondenser. Pada kondenser terjadi pembuangan kalor akibat adanya pelepasan kalor sensibel dan pelepasan kalor laten yang menyebabkan gas berubah menjadi cair. Penurunan temperatur dilanjutkan pada pipa kapiler sehingga cairan menjadi dingin sebelum mengalir ke alat ekspansi.[7] Alat ekspansi kemudian mengurangi tekanan dan mengendalikan jumlah aliran refrigeran yang dapat menuju ke evaporator.[8]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Suamir dan Sumantri 2016, hlm. 14.
  2. ^ Firman dan Anshar 2019, hlm. 33.
  3. ^ Firman dan Anshar 2019, hlm. 34.
  4. ^ a b Suamir dan Sumantri 2016, hlm. 15.
  5. ^ Pudjanarsa dan Nursuhud 2013, hlm. 267.
  6. ^ Pudjanarsa dan Nursuhud 2013, hlm. 269.
  7. ^ Suamir dan Sumantri 2016, hlm. 16.
  8. ^ Suamir dan Sumantri 2016, hlm. 17.

Daftar pustaka[sunting | sunting sumber]

  1. Pudjanarsa, A., dan Nursuhud, D. (2013). Mesin Konversi Energi. Yogyakarta: Penerbit ANDI. ISBN 978-979-29-3452-6. 
  2. Firman dan Anshar, M. (2019). Refrigerasi dan Pengkondisian Udara (PDF). Makassar: Garis Putih Pratama. ISBN 978-623-91023-0-2. 
  3. Suamir, I. N., dan Sumantri, I. M. (2016). Sistem Refrigerasi dan Pengkondisian Udara. Denpasar: Program Studi Teknik Pendingin dan Tata Udaram, Politeknik Negeri Bali.