Sosro Kartono

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari R.M. Panji Sosrokartono)
Lompat ke: navigasi, cari
Raden Mas Panji Sosrokartono
Lahir 10 April 1877
Bendera Belanda Pelemkerep, Mayong, Jepara, Hindia Belanda
Meninggal 8 Februari 1952 (umur 74)
Bendera Indonesia Bandung, Indonesia
Agama Islam

R.M.P. Sosrokartono[1] atau Raden Mas Panji Sosrokartono (lahir di Pelemkerep, Mayong, Jepara, 10 April 1877 – meninggal di Bandung, Indonesia, 8 Februari 1952 pada umur 74 tahun). Sebagai putra dari R.M. Ario Sosrodiningrat, RMP Sosrokartono adalah kakak kandung R.A. Kartini, yang memberi inspirasi R.A. Kartini untuk menjadi tokoh emansipasi wanita.

Semenjak kecil telah menunjukkan kepandaiannya, setelah tamat dari Europesche Lagere School di Jepara, Sosrokartono meneruskan pendidikannya ke H.B.S. di Semarang. Selanjutnya pada tahun 1898, Sosrokartono meneruskan sekolahnya ke negeri Belanda dengan masuk di Sekolah Teknik Tinggi Leiden. Namun demikian, karena merasa tidak cocok, ia pun pindah ke Jurusan Bahasa dan Kesusastraan Timur sehingga lulus dengan menggenggam gelar Doctorandus in de Oostersche Talen dari Perguruan Tinggi Leiden. Beliau merupakan mahasiswa Indonesia pertama yang meneruskan pendidikan ke negeri Belanda, yang pada urutannya disusul oleh putera-putera Indonesia lainnya. 

Profesi[sunting | sunting sumber]

RMP Sosrokartono memiliki beberapa profesi karena kejeniusannya sehingga dia dijuluki "Si Jenius dari Timur" dan "De Javanese Prins",[2] diantaranya:

  • Wartawan Perang Dunia I, dari harian The New York Herald Tribune di kota Wina (Austria) semenjak 1917. Dalam buku "Memoirs" tulisan Muhammad Hatta, dituliskan bahwa Sosrokartono memperoleh gaji sebesar USD 1250. Bahkan guna memudahkan pergerakannya selama Perang Dunia I, ia diberi pangkat Mayor oleh Panglima Perang Amerika Serikat. Prestasinya yang lain, Sosrokartono adalah seorang wartawan pertama di Indonesia yang bisa memotret kawah Gunung Kawi dari atas udara, tanpa menggunakan pesawat terbang. Dalam Sejarah Dunia, Perundingan Perdamaian Perang Dunia ke I yang resmi berlangsung di kota Versailles (Perancis). Ketika banyak wartawan yang mencium adanya 'perundingan perdamaian rahasia' masih sibuk mencari informasi, koran Amerika The New York Herald Tribune ternyata telah berhasil memuat hasil perundingan perdamaian rahasia di hutan Champaigne, Perancis Selatan yang menggemparkan Amerika dan Eropa. Penulisnya 'anonim', hany a menggunakan kode pengenal 'Bintang Tiga'. Kode tersebut di kalangan wartawan Perang Dunia ke I dikenal sebagai kode dari wartawan perang RMP Sosrokartono. Dalam 'Memoir' tulisan Drs Muhammad Hatta ditulis bahwa RMP Sosrokartono yang menguasai bahasa Basque, menjadi penerjemah pasukan Sekutu kala melewati daerah suku Basque menjelang akhir Perang Dunia I, diadakan perundingan perdamaian rahasia antara pihak yang bertikai. Suku Basque adalah salah satu suku yang hidup di Spanyol. Pihak-pihak yang berunding naik kereta api dan berhenti di hutan Compaigne di Perancis Selatan. Di dalam kereta api, pihak yang bertikai melakukan perundingan perdamaian rahasia. Di sekitar tempat perundingan telah dijaga ketat oleh tentara dan tidak sembarangan orang apalagi wartawan boleh mendekati tempat perundingan dalam radius 1 km. Semua hasil perundingan perdamaian rahasia tidak boleh disiarkan, dikenakan embargo sampai perundingan yang resmi berlangsung.[3]
  • Penerjemah di Wina (Austria), dengan menguasai 24 bahasa asing dan 10 bahasa daerah di Nusantara. Tahun 1919 didirikan Liga Bangsa-Bangsa (League of Nations) atas prakarsa Presiden Amerika Serikat Woodrow Wilson. Dari tahun 1919 sampai 1921, RMP Sosrokartono menjadi anak Bumiputra yang mampu menjabat sebagai Kepala penerjemah untuk semua bahasa yang digunakan di Liga Bangsa-Bangsa. Bahkan dia berhasil mengalahkan para poliglot (ahli bahasa) dari Eropa dan Amerika sehingga meraih jabatan tersebut. Liga Bangsa-Bangsa kemudian berubah nama menjadi Perserikatan Bangsa-Bangsa (United Nations Organization) pada tahun 1921.[4]
  • Dokter[5] , dikenal Belanda sebagai Dokter Air Putih, karena dapat mengobati penyakit hanya dengan menggunakan media air putih. Dikisahkan bahwa Sosrokartono mendengar berita tentang sakitnya seorang anak berumur lebih kurang 12 tahun. Anak itu adalah anak dari kenalannya yang menderita sakit keras, yang tak kunjung sembuh meski sudah diobati oleh beberapa dokter. Dengan dorongan hati yang penuh dengan cinta kasih dan hasrat yang besar untuk meringankan penderitaan orang lain, saat itu juga beliau menjenguk anak kenalannya yang sakit parah itu. Sesampainya di sana, beliau langsung meletakkan tangannya di atas dahi anak itu dan terjadilah sebuah keajaiban. Tiba-tiba si bocah yang sakit itu mulai membaik dengan hitungan detik, dan hari itu juga ia pun sembuh. Kejadian itu membuat orang-orang yang tengah hadir di sana terheran-heran, termasuk juga dokter-dokter yang telah gagal menyembuhkan penyakit anak itu. Setelah itu, ada seorang ahli Psychiatrie dan Hypnose yang menjelaskan bahwa sebenarnya Drs. R.M.P. Sosrokartono mempunyai daya persoonalijke magneetisme yang besar sekali yang tak disadari olehnya. Mendengar penjelasan tersebut, akhirnya beliau merenungkan dirinya dan memutuskan menghentikan pekerjaannya di Jenewa dan pergi ke Paris untuk belajar Psychometrie dan Psychotecniek di sebuah perguruan tinggi di kota itu. Akan tetapi, karena beliau adalah lulusan Bahasa dan Sastra, maka di sana beliau hanya diterima sebagai toehoorder saja, sebab di Perguruan Tinggi tersebut secara khusus hanya disediakan untuk mahasiswa-mahasiswa lulusan medisch dokter.
  • Cendekiawan

Kata Mutiara RMP Sosrokartono[sunting | sunting sumber]

Pada nisan RMP Sosrokartono, dituliskan beberapa kata mutiara. Pada nisan sebelah kiri terdapat kata-kata terpilih dari Kartono : Sugih tanpa banda, digdaya tanpa aji (Kaya tanpa harta, sakti tanpa mantra).

Sedang pada nisan sebelah kanan tercantum kalimat : Trimah mawi pasrah (pasrah terhadap keadaan yang telah terjadi), suwung pamrih tebih ajrih (tanpa imbalan, tanpa rasa takut), langgeng tan ana susah tan ana bungah (tetap tenang, tidak kenal duka maupun suka), anteng manteng sugeng jeneng (diam sungguh-sungguh, maka akan selamat sentosa).

Referensi[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]