Pulau Pongok

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Pulau Pongok
Nama asli: Pulau Pongok
Pulau Liat
Pulo Leat
Pongok Island Location.svg
Geografi
Koordinat2°52′39″S 107°1′35″E / 2.87750°S 107.02639°E / -2.87750; 107.02639
Luas48,35 km2 (18,67 sq mi)
Titik tertinggi125 m (410 ft)
Pemerintahan
Negara
ProvinsiKepulauan Bangka Belitung
KabupatenBangka Selatan
KecamatanKepulauan Pongok
DesaPongok
Demografi
Populasi5.377 (2016)[1]
Kepadatan111.2 /km2 (288 /sq mi)

Pulau Pongok, kadang dikenal sebagai Pulau Liat, adalah sebuah pulau yang merupakan bagian dari Kecamatan Kepulauan Pongok di Kabupaten Bangka Selatan, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Pulau ini mencakup lebih dari 95% luas kecamatan dan sebagian besar penduduknya, dengan luas 48,3 km2. Pulau ini merupakan pulau ke-5 terbesar di provinsi tersebut, jauh lebih kecil daripada Pulau Bangka dan Belitung di samping Pulau Lepar dan Mendanau.

Pulau yang lebih kecil, Pulau Celagen, di lepas pantai barat pulau tersebut, memiliki sisa populasi kecamatan. Sebelum pemekarannya pada tahun 2012, pulau ini merupakan bagian dari Kecamatan Lepar Pongok.

Geografi[sunting | sunting sumber]

Pulau ini terletak kira-kira di tengah di antara Pulau Bangka dan Belitung, di tengah Selat Gaspar, yang sehingga kadang disebut sebagai "Pulau Tengah".[2] Pulau ini membentang sekitar 10 km dari utara ke selatan dan 8,5 km dari timur ke barat. Beberapa sungai kecil mengalir di pulau ini. Relief topografinya sebagian besar datar dengan sedikit ketinggian yang menonjol, titik tertinggi di pulau itu hanya 125 m di atas permukaan laut.[3] Pulau ini dapat diakses melalui perahu, dengan tiga jam perjalanan dari Pulau Bangka.[4]

Demografi[sunting | sunting sumber]

Pulau ini, sebagai Desa Pongok, memiliki populasi sebanyak 5.377 jiwa dengan rasio jenis kelamin 1,14 dan terbagi menjadi 916 rumah tangga (5,8 jiwa per rumah tangga).[1]

Pulau ini dahulu dikenal sebagai pulau penghasil kelapa dan berakhir kejayaannya pada tahun 1970an sampai sekitar 1980 karena kalah bersaing dengan kelapa sawit. Di masa kejayaan itu, kelapa diolah jadi kopra, dikirim ke Jakarta, dan karena saking besarnya penghasilan dari situ, masyarakat tidak mau bekerja di perusahaan timah.[5] Akhirnya, banyak yg alih profesi menjadi nelayan. Diketahui, sekitar 70% warga Pulau Pongok adalah nelayan. Dalam sehari, ikan yang ditangkap dapat mencapai 10 ton, dan 30% ikan di Bangka Belitung berasal dari daerah ini. Ikan-ikan tangkapan daerah ini sebagian diolah jadi ikan asin, dan sebagiannya dijual pada pengumpul.[5] Masyarakat pulau ini diketahui kalau hendak menabung harus pergi ke desa Sadai yang jaraknya 3 jam dari pulau ini. Hal inilah yang baru diketahui dari laporan Pontianak Post yang meliput Ekspedisi Kas Keliling BI di Pulau Terdepan, Terluar, dan Terpencil —dari Abu Hasan, kepala desa setempat pada September 2018.[5]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b "Pongok Islands Subdistrict in Numbers 2017" (PDF). Toboali: Statistics Indonesia. Diakses tanggal 3 October 2017. 
  2. ^ Horsburgh, James (2014). Directions for Sailing to and from the East Indies, China, New Holland, Cape of Good Hope, and the Interjacent Ports, Volume 2. Cambridge University Press. hlm. 125. ISBN 9781108077293. Diakses tanggal 3 October 2017. 
  3. ^ "Digital Elevation Data - with SRTM voids filled using accurate topographic mapping". www.viewfinderpanoramas.org. Diakses tanggal 3 October 2017. 
  4. ^ "Kepulauan Pongok Surganya Penikmat Ikan Segar - Bangka Selatan". Bangka Selatan. 4 August 2016. Diakses tanggal 3 October 2017. 
  5. ^ a b c Eko, Adong (25 September 2018). "Warga di Pulau Mendambakan Ada Kantor Bank". Pontianak Post. Pontianak: PT Akcaya Utama Press. Hlm. 1 & 7.