Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari PMII)
Jump to navigation Jump to search
Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia
LogoPMII.png
Lambang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia
Singkatan PMII
Slogan Dzikir, Fikir, dan Amal Saleh
Tanggal pembentukan 17 April 1960 / 17 Syawwal 1379 Hijriyah.
Jenis Organisasi Kemahasiswaan,
Kantor pusat Jakarta, Indonesia
Bahasa resmi
Indonesia
Ketua Umum PB PMII 2017-Sekarang
Agus Herlambang

Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia atau yang disingkat dengan PMII adalah sebuah organisasi kemahasiswaan yang berdiri pada tanggal 17 April tahun 1960 di Surabaya. Adapun ketua umum pertama PMII bernama Mahbub Djunaedi.

Latar belakang pembentukan PMII[sunting | sunting sumber]

Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) lahir karena menjadi suatu kebutuhan dalam menjawab tantangan zaman. Berdirinya organisasi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia bermula dengan adanya hasrat kuat para mahasiswa NU untuk mendirikan organisasi mahasiswa yang berideologi Ahlusssunnah wal Jama’ah. Di bawah ini adalah beberapa hal yang dapat dikatakan sebagai penyebab berdirinya PMII:

  1. Carut marutnya situasi politik bangsa indonesia dalam kurun waktu 1950-1959.
  2. Tidak menentunya sistem pemerintahan dan perundang-undangan yang ada.
  3. Pisahnya NU dari Masyumi.
  4. Ketika PSI (Partai Sosialis Indonesia) dan Masyumi dibubarkan oleh Bung Karno, Bung Karno meminta kepada NU untuk mendirikan oganisasi mahasiswa Islam yang 'Indonesia' maka berdirilah Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia

Hal-hal tersebut di atas menimbulkan kegelisahan dan keinginan yang kuat dikalangan intelektual-intelektual muda NU untuk mendirikan organisasi sendiri sebagai wahana penyaluran aspirasi dan pengembangan potensi mahasiswa-mahsiswa yang berkultur NU. Disamping itu juga ada hasrat yang kuat dari kalangan mahsiswa NU untuk mendirikan organisasi mahasiswa yang berideologi Ahlussunnah Wal Jama’ah. Dengan berasaskan Pancasila. ==Tujuan PMII sebagaimana termaktub dalam Anggaran Dasar (AD PMII) BAB IV pasal 4 "Terbentuknya pribadi muslim Indonesia yang bertaqwa kepada Allah SWT, berbudi luhur, berilmu, cakap dan bertanggung jawab dalam mengamalkan ilmunya dan komitmen memperjuangkan cita-cita kemerdekaan Indonesia".

Organisasi-organisasi pendahulu
[sunting | sunting sumber]

Di Jakarta pada bulan Desember 1955, berdirilah Ikatan Mahasiswa Nahdlatul Ulama (IMANU) yang dipelopori oleh Wa’il Harits Sugianto.Sedangkan di Surakarta berdiri KMNU (Keluarga Mahasiswa Nahdhatul Ulama) yang dipelopori oleh Mustahal Ahmad. Namun keberadaan kedua organisasi mahasiswa tersebut tidak direstui bahkan ditentang oleh Pimpinan Pusat IPNU dan PBNU dengan alasan IPNU baru saja berdiri dua tahun sebelumnya yakni tanggal 24 Februari 1954 di Semarang. IPNU punya kekhawatiran jika IMANU dan KMNU akan memperlemah eksistensi IPNU. Gagasan pendirian organisasi mahasiswa NU muncul kembali pada Muktamar II IPNU di Pekalongan (1-5 Januari 1957). Gagasan ini pun kembali ditentang karena dianggap akan menjadi pesaing bagi IPNU. Sebagai langkah kompromis atas pertentangan tersebut, maka pada muktamar III IPNU di Cirebon (27-31 Desember 1958) dibentuk Departemen Perguruan Tinggi IPNU yang diketuai oleh Isma’il Makki (Yogyakarta). Namun dalam perjalanannya antara IPNU dan Departemen PT-nya selalu terjadi ketimpangan dalam pelaksanaan program organisasi. Hal ini disebabkan oleh perbedaan cara pandang yang diterapkan oleh mahasiswa dan dengan pelajar yang menjadi pimpinan pusat IPNU. Disamping itu para mahasiswa pun tidak bebas dalam melakukan sikap politik karena selalu diawasi oleh PP IPNU.

Konferensi Besar IPNU
[sunting | sunting sumber]

Oleh karena itu gagasan legalisasi organisasi mahasiswa NU senantisa muncul dan mencapai puncaknya pada konferensi besar (KONBES) IPNU I di Kaliurang pada tanggal 14-17 Maret 1960. Dari forum ini kemudian kemudian muncul keputusan perlunya mendirikan organisasi mahasiswa NU secara khusus di perguruan tinggi. Selain merumuskan pendirian organ mahasiswa, KONBES Kaliurang juga menghasilkan keputusan penunjukan tim perumus pendirian organisasi yang terdiri dari 13 tokoh mahasiswa NU. Mereka adalah:

  1. A. Khalid Mawardi (Jakarta)
  2. M. Said Budairy (Jakarta)
  3. M. Sobich Ubaid (Jakarta)
  4. Makmun Syukri (Bandung)
  5. Hilman Badruddinsyah (Bandung)
  6. Ismail Makki (Yogyakarta)
  7. Munsif Nakhrowi (Yogyakarta)
  8. Nuril Huda Suaidi (Surakarta)
  9. Laily Mansyur (Surakarta)
  10. Abd. Wahhab Jaelani (Semarang)
  11. Hizbulloh Huda (Surabaya)
  12. M. Kholid Narbuko (Malang)
  13. Ahmad Hussein (Makassar)

Keputusan lainnya adalah tiga mahasiswa yaitu Hizbulloh Huda, M. Said Budairy, dan Makmun Syukri untuk sowan ke Ketua Umum PBNU kala itu, KH. Idham Kholid.

Deklarasi
[sunting | sunting sumber]

Pada tanggal 14-16 April 1960 diadakan musyawarah mahasiswa NU yang bertempat di Sekolah Mu’amalat NU Wonokromo, Surabaya. Peserta musyawarah adalah perwakilan mahasiswa NU dari Jakarta, Bandung, Semarang,Surakarta, Yogyakarta, Surabaya, dan Makassar, serta perwakilan senat Perguruan Tinggi yang bernaung dibawah NU. Pada saat tu diperdebatkan nama organisasi yang akan didirikan. Dari Yogyakarta mengusulkan nama Himpunan atau Perhimpunan Mahasiswa Sunny. Dari Bandung dan Surakarta mengusulkan nama PMII. Selanjutnya nama PMII yang menjadi kesepakatan. Namun kemudian kembali dipersoalkan kepanjangan dari ‘P’ pakah perhimpunan atau persatuan. Akhirnya disepakati huruf “P” merupakan singkatan dari Pergerakan sehingga PMII menjadi “Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia”. Musyawarah juga menghasilkan susunan Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga organisasi serta memilih dan menetapkan sahabat Mahbub Djunaidi sebagai ketua umum, M. Khalid Mawardi sebagai wakil ketua, dan M. Said Budairy sebagai sekretaris umum. Ketiga orang tersebut diberi amanat dan wewenang untuk menyusun kelengkapan kepengurusan PB PMII. Adapun PMII dideklarasikan secara resmi pada tanggal 17 April 1960 masehi atau bertepatan dengan tanggal 17 Syawwal 1379 Hijriyah.

Pengurus PB PMII dari masa ke masa[1][sunting | sunting sumber]

Sahabat Mahbub Junaidi (Periode 1960–1967)[sunting | sunting sumber]

Lahir di Jakarta 27 Juli 1933, Ketua Umum PP.PMII tiga periode, yaitu periode 1960–1961, hasil Musyawarah Mahasiswa Nahdliyin pada saat PMII pertama kali didirikan di Surabaya Jawa Timur. Periode 1961-1963, Hasil Kongres I PMII di Tawangmangu Jawa Barat. Dan Periode 1963-1967, hasil Kongres PMII II di Kaliurang Yogjakarta. Pada masa kepemimpinan sahabat Mahbub Junaidi inilah PMII secara politis menjadi sangat populer di dunia kemahasiswaan dan kepemudaan, sampai pada periode pertama sahabat Zamroni. Pernah menjabat sebagai Ketua Umum PWI pusat dan pimpinan Redaksi Harian Duta Masyarakat (1965–1967), ketua dewan kehormatan PWI (1979 – 1983), anggota DPR GR (1967-1971), Wakil Ketua PB NU (1984-1989), Wakil sekjen DPP PPP, Anggota DPR/MPR RI (1971-1982), Pencetus “Khittah Plus”, Ketua Majlis Pendidikan Soekarno dan anggota mustasyar PB NU (1989-1994).

Dalam sejarah republik ini, pernah muncul seorang tokoh aktivis mahasiswa yang sangat multi talenta,bahkan hampir jarang ditemukan sosok yang lengkap seperti dia saat ini, dia adalah Mahbub Junaidi. Mahbub adalah seorang tokoh satrawan, jurnalis, organisatoris, agamawan dan politisi. Dalam hal tulis-menulis Mahbub temasuk sangat piawai pada masanya

Sahabat Muhammad Zamroni (Periode 1967-1973)[sunting | sunting sumber]

Lahir di Kudus/Jepara Jawa Tengah Tanggal 10 Agustus 1935. Riwayat Pendidikan: SD Muhammadiyah Kudus (1948), SMP Negeri Kudus (1951), SGHA Yogjakarta (1955), IAIN Jurusan Pendidikan, Jakarta (1969), Pesantren Bale Tengahan Kudus, Pesantren Jamsaren Solo, Madrasah Tsanawiyah dan Aliyah di Kudus dan Solo. Karier: Guru Ilmu Pasti , Agama dan Olah Raga PGAN Magelang (1955-1958) Asisten Sastra Arab IAIN Syarif Hidayatullah Ciputat Jakarta (1963-1965), Penata Madya Pegawai Departemen Agama (1965-1967), Ketua Umum PP PMII dua periode yaitu periode 1967-1970, hasil kongres PMII III di Malang Jawa Timur.

Dialah satu-satunya tokoh PMII yang terpilih tanpa kehadiran yang bersangkutan di arena Kongres, karena pada saat itu dia masih berada di Tokyo Jepang, dalam rangka operasi jari tangan kanan akibat kecalakaan mobil sewaktu konsolidasi KAMI ke daerah Serang. Kemudian Periode 1970-1973, hasil Kongres IV PMII di Makasar Ujungpandang Sulawesi Selatan. Pada masa kepemimpinan sahabat Zamroni yang ke dua inilah PMII menyatakan diri “Independen”, (dicetuskan di MUBES II di Murnajati Lawang Malang 1972). Dialah penggagas Independensi PMII. Pada masa kepemimpinan sahabat Zamroni inilah PMII berkembang sangat pesat terutama jika dilihat dari segi banyaknya Cabang-cabang yang ada, tidak kurang dari 120 cabang yang hidup diseluruh Indonesia. Suatu prestasi yang belum pernah terjadi sebelumnya dan sangat sulit terulang kembali hingga sekarang ini.

Menjadi Ketua Persidium KAMI Pusat (mulai pertama dibentuk sampai bubar), Inilah tokoh PMII, Tokoh Mahasiswa, dan Tokoh Pemuda yang berhasil menggerakkan Mahasiswa dan Pemuda di seluruh Indonesia berdemonstrasi turun ke jalan menuntut dan berhasil merontokkan Rezim Orde Lama. Dialah Figur Tokoh angkatan 66. Dialah tokoh demonstran yang berhasil menumbangkan suatu rezim. Dialah tokoh paling populer dan terkenal pada masanya, setelah Soekarno. Tokoh idola yang mampu menjadi “inspirator gerakan” mahasiswa dan pemuda di seluruh nusantara. Dialah tokoh yang berani berdemonstrasi dan berdebat berhadap-hadapan secara langsung dengan Presiden Soekarno.

Pernah menjadi anggota DPR GR/MPRS Fraksi Karya Pembangunan (1967-1971), DPR/MPR RI Fraksi Partai NU (1971-1977), DPR/MPR RI Fraksi PPP (1977-1983), Ketua Komisi I DPR RI (1983-1987), dan terakhir sebagai wakil Ketua Komisi X DPR/MPR RI. penandatangan Deklarasi KNPI (1973), Ketua I DPP PPP (periode Naro), dan wakil Sekjen PB NU (periode Idham Chalid).

Drs. HM. Zamroni bin Sarkowi, Berpulang ke Rahmatullah pada dini hari pukul 03.00 WIB, Hari Senen Tanggal 5 Februari 1996, di RS Fatmawati Jakarta Selatan karena sakit sesak pernapasan dan stroke yang diderita sejak lama. Meninggalkan seorang Isteri, 3 (tiga) orang putra-putri dan 4 (empat) orang cucu. Dimakamkan di Pemakaman Khusus Tanah Kusir Jakarta.

Sahabat Abduh Paddare (Periode 1973-1977)[sunting | sunting sumber]

Lahir di Kampung Rambang Makasar Sulawesi Selatan, Tanggal 27 Desember 1938. Ketua Umum PB. PMII periode 1973-1977, hasil Kongres V PMII di Ciloto Jawa Barat. Inilah satu-satunya Kongres PMII yang tidak berhasil memilih Ketua Umum. Pemilihan pengurus dilanjutkan di Wisma Angkatan Laut (di belakang Hotel Borobudur Jakarta) selama dua malam, belum juga berhasil. Akhirnya acara pemilihan pengurus itu dilanjutkan di Kantor PB NU. Sahabat Abduh terpilih sebagai ketua umum PB.PMII untuk periode 1973-1977 setelah bersaing dengan sahabat Amdir Thahir.

Dil disebut sebagai Ketua Umum PB PMII yang paling dilematis dalam perjalanan sejarah PMII, karena dia termasuk salah satu tokoh PMII yang tidak setuju dengan “Independensi PMII” sehingga dia tidak mau hadir pada acara MUBES II PMII di Murnajati Lawang Malang, yang melahirkan “Deklarasi Independensi PMII”, tapi di sisi lain dia harus mengemban amanat “Independensi PMII” sebagai amanat Kongres V PMII di Ciloto Jawa Barat.

Bersama-sama dengan Zamroni ia juga sebagai penandatangan Deklarasi Berdirinya KNPI (1973), menggabungkan PMII menjadi anggota Kelompok Cipayung (1974), menjadi anggota MPR (1977-1982), DPR/MPR RI (1983-1987), Anggota MPR (1992-1997), Ketua Forum Komunikasi dan Silaturrahmi Alumni (FOKSIKA) PMII (1988-1991), Wakil Sekjen DPP PPP (1994-1999) dan Pegawai Negeri Sipil Departemen Agama RI. Alumnus Sarjana Muda Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel Surabaya, dan Sarjana Lengkap di IAIN Jakarta.

Sahabat Ahmad Bagja (Periode 1977-1981)[sunting | sunting sumber]

Lahir di Kuningan Jawa Barat 1945, pernah menjadi Ketua Umum Dewan Mahasiswa IKIP Jakarta, dan Ketua Badan Koordinasi Senat-senat Mahasiswa IKIP se Indonesia (1970), Ketua Umum PB PMII periode 1977-1981) Wakil Sekjen PB NU (1984-1989 dan 1989-1994), Sekjen PB NU pada periode kepengurusan Gus Dur yang kedua, tokoh sentral yang paling berpengaruh dalam Kelompok Cipayung. Pada masanya Kelompok Cipayung benar-benar menjadi kelompok sosial kontrol yang kritis dan berani. Terpilih sebagai Ketua FOKSIKA menggantikan Abduh Paddare, setelah menang bersaing dengan Burhanuddin Abdullah (Gubernur BI).

Sahabat Muhyiddin Arubusman (Periode 1981-1984)[sunting | sunting sumber]

Lahir di Ende Flores Nusa Tenggara Timur, 24 April 1951 (cucu Raja Flores), Ketua Umum PB PMII periode 1981-1985, pernah dua periode duduk sebagai ketua DPP KNPI, yaitu periode 1984-1987 dan 1987-1990). Sekjen DPP AMII (angkatan muda islam Indonesia). Ketua Majlis Pembina Nasional PB.PMII Periode 2005-2007

Sahabat Suryadharma Ali (Periode 1985-1988)[sunting | sunting sumber]

Lahir di Jakarta, Ketua Umum PB PMII periode 1985-1988 dari hasil Kongres VIII PMII di Bandung Jawa Barat. Ia terpilih setelah bersaing ketat dengan Iqbal Assegaf, dengan selisih sangat tipis, hanya satu suara.Asisten Direktur Hero Supermarket, Wakil Sekjen Asosiasi pedagang, Pengicer dan pertokoan Indonesia (AP3I), Dewan Pembina PP GP ANSOR, Anggota DPR/MPR RI Fraksi PPP (1999-2004), Menteri Koperasi dan UKM (2004-2009), Ketua Umum PPP Periode 2007-2011

Sahabat Muhammad Iqbal Assegaf (Periode 1988-1991)[sunting | sunting sumber]

Lahir di Labuha Maluku pada 12 Oktober 1958, Riwayat Pendidikan: SD Islamiyah I Ternate (1971), Madrasah Ibtidaiyah Al-Khairat (1972), SMP Negeri Ternate (1974), SMA Negeri Ternate (1977), Fakultas Kedokteran Hewan IPB (1983), Institut Of Management IEU Jakarta (1993). Pengalaman Organisasi: Ketua Umum OSIS SMP Negeri Ternate (1972-1973), Ketua Umum OSIS SMP Negeri Ternate (1976-1977), Ketua Badan Kerohanian Islam Keluarga Mahasiswa IPB Bogor (1979-1981), Sekjen Badan Perwakilan Mahasiswa Fak. Kedokteran Hewan IPB Bogor (1982-1984), Sekjen Majlis Permusyawaratan Mahasiswa IPB Bogor (1982-1984), Ketua Umum PMII Cabang Bogor (1981-1983),  Ketua Umum PB PMII periode 1988-1991, hasil Kongres IX PMII di Asrama Haji Surabaya Jawa Timur, dia menduduki jabatan sebagai Ketua Umum PB PMII setelah berhasil menang dengan suara mutlak dari saingannya Syaifullah Maksum.

Setelah melepas jabatan sebagai Ketua Umum PB PMII, ia langsung menjadi Ketua Dewan Pembina PB PMII pada periode berikutnya, 1991-1994. Ini baru pertama kali terjadi dalam organisasi PMII. Wakil Ketua Majlis Pemuda Indonesia (1987-1990), Anggota Pengurus Group Diskusi Nasional (GDN) Kosgoro (1992-1994), Anggota Pokja Hankam DPP Golkar (1988-193). Ia adalah tokoh PMII yang pernah menawarkan sesuatu yang dianggap baru dalam lingkungan dunia kepemudaan di Indonesia melalui proses “debat langsung” para kandidat Ketua Umum DPP KNPI tahun 1993.

Meski akhirnya ia dikhianati oleh kadernya sendiri, Ketua Umum PB PMII saat itu (Ali Masykur Musa) dengan tidak mendukungnya dan meninggalkan di tengah perjalanan, bahkan Ali Masykur berpaling mendukung calon dari Kosgoro, Maulana Isman, padahal beberapa hari sebelumnya PB PMII secara resmi mengumumkan secara terbuka kepada pers, bahwa PMII mencalonkan Iqbal Assegaf sebagai calon Ketua Umum DPP KNPI, tetapi sebagai kader PMII yang memiliki prinsip dan keyakinan tinggi, Iqbal jalan terus memperjuangkan nilai dan keyakinannya itu.

Iqbal adalah Ketua Umum PB PMII yang relatif dianggap paling sukses memimpin dan membesarkan PMII, setelah Mahbub dan Zamroni. Ia pernah bersikap sangat tegas menolak gagasan dan saran sebagian tokoh dan kiai-kiai NU yang menginginkan agar PMII kembali “Dependen dengan NU”. Sikap tegas itu ia tunjukkan dengan mengeluarkan keputusan “Penegasan Cibogo”. Sehubungan dengan itu, ia pernah megeluarkan statemen “PMII dengan rendah hati siap menerima pendapat, gagasan, dan saran, bahkan kritik dari siapapun, tetapi keputusan tetap berada di tangan PMII”. Itulah cermin dari sikap seorang pemimpin yang independen.

Direktur Utama PT Shahanaz Swamandiri, ketua Tim Asistensi Departemen Pemenangan Pemilu DPP Golkar dan wakil ketua POKJA Depnaker-Rabithatul Ma’ahid Islamiah (RMI), Ketua Umum PP GP ANSOR, menggantikan Slamet Effendy Yusuf. Ia terpilih sebagai Ketua Umum pada Kongres GP ANSOR setelah bersaing ketat dengan Khoirul Anam (Ketua GP ANSOR Jawa Timur) yang konon mendapat restu dan dukungan dari Gus Dur (Ketua umum PB NU) Ia berhasil menembus peraturan yang mensyaratkan seorang calon ketua harus pernah menjadi pengurus GP ANSOR setidaknya satu periode kepengurusan. Ia berhasil meyakinkan peserta kongres untuk mengesampingkan peraturan tersebut, bahkan ia sukses menafikan pengaruh Gus Dur di Arena Kongres tersebut. Drh. Muhammad Iqbal Assegaf, meninggal pada hari… tanggal… 1999, kerena kecelakaan Mobil di Jalan Tol…. Menuju kearah Tangjung Priok. Meninggalkan seorang isteri dan 3 orang anak.

Sahabat Ali Masykur Musa (Periode 1991-1994)[sunting | sunting sumber]

Lahir di Tulung Agung Jawa Timur dan menjadi Ketua Umum PB PMII periode 1991-1994, dari hasil Kongres X PMII di Asrama Haji Pondok Gede Jakarta, dengan tema, “Demokrasi, Keadilan Sosial dan Pembangunan Masyarakat Religius.” Ia terpilih setelah bersaing ketat dengan kandidat lainnya yaitu Endin AJ Sofihara, Idrus Marham Putra dan Fajrul Falah (yang terakhir ini gugur pada tahap pencalonan) Angota DPR / MPR RI dari Fraksi PKB, Ketua Fraksi PKB DPR (1999-2004), anggota DPR / MPR RI (2004-2009), peraih suara terbanyak untuk semua calon-calon anggota legeslatif tingkat pusat dari daerah pemilihan Jawa Timur, Ketua DPP PKB (1999-2004)  dan Wakil Ketua Umum DPP PKB hasil Kongres PKB Semarang (2004-2009). Ketua GM Kosgoro (…), Anggota IV BPK RI (2009-2014), dll.

Sahabat Muhaimin Iskandar (Periode 1994-1997)[sunting | sunting sumber]

Lahir di Jombang Jawa Timur 1966, Pernah terjun dalam dunia Jurnalistik pada Tabloit DeTik. Alimni Fisipol UGM Yogjakarta. Ketua Umum PB PMII periode 1994-1997, hasil Kongres XI PMII di Kutai Kertanegara Kalimantan, dengan tema, “Moralitas, Pemberdayaan Masyarakat dan Integrasi Nasional.” Karier politiknya:  Anggota DPR/MPR RI Fraksi PKB (1999-2004), Ketua Fraksi PKB DPR RI (1999-2004), Wakil Ketua DPR RI dari Fraksi PKB (menggantikan posisi Dra. Khofifah Indarparawansa yang diangkat sebagai Mentri Negara Pemberdayaan Perempuan pada masa Kabinet Presiden Abdurrahman Wahid) Wakil Ketua DPR RI dari Fraksi PKB (1999-2004), Sekjen DPP PKB (1998-2003) pada masa kepemimpinan Matori Abdul Jalil, Ketua DPP PKB (…), Sekjen DPP PKB lagi menggantikan posisi Syaifullah Yusuf yang diangkat sebagai Menteri Pemberdayaan Daerah Tertinggal pada Kabinet Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.  Ketua Umum DPP PKB hasil Muktamar PKB di Semarang Jawa Tengah (2005-2010).

Sahabat Syaiful Bahri Anshori (Periode 1997-2000)[sunting | sunting sumber]

Lahir di Jember pada 15 November 1966, menjadi Ketua Umum PB PMII periode 1997-2000, hasil Kongres XII PMII di Asrama Haji Sukolilo Surabaya Jawa Timur, 1-5 Desember 1997, dengan tema, “Revitalisasi Tradisi, Pengokohan Demokrasi dan Pemandirian Masyarakat Menghadapai Tantangan Global.” Pada Kongres kali inilah mulai muncul gejala anarkhi dari peserta kongres, seperti baku hantam dan saling lempar kursi. Ia terpilih sebagai Ketua Umum PB PMII setelah bersaing dengan sahabat Chatibul Umam Wirano, Munawar Fuad Noeh.

Sahabat Nusron Wahid (Periode 2000-2003)[sunting | sunting sumber]

Lahir di Kudus pada 12 Oktober 1973 Jawa Tengah, Ketua Umum PB PMII periode 2000-2003, hasil Kongres XIII PMII di Medan Sumatra Utara. Anggota DPR/MPR RI dari Fraksi Golkar (2004-2009) dari daerah pemilihan Jawa Tengah. Sekretaris Majelis Pembina Nasional PB PMII Periode 2005-2007, Anggota DPR RI Periode 2009-2014, Ketua Umum PP GP Ansor Periode 2010-2015,  Kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) sekarang, Ketua PBNU 2015-2020.

Sahabat A Malik Haramain (Periode 2003-2005)[sunting | sunting sumber]

Lahir di Probolinggo Jawa Timur, 3 Mei 1972. Pendidikan dasar di tempuh di MI Ihya’ul Islam, MTs Roudlotut Tholibin di Probolinggo. Sambil nyantri di PP. Roudlotut Tholibin, melanjutkan pendidikan di SMAN 3 Probolinggo. Kemudian melanjutkan studi ke Universitas Merdeka Malang (Unmer) Lulus tahun 1977, selama menjadi mahasiswa ia juga nyantri di PP. Miftahul Huda Gading Malang. Studi program S2 di UI Jakarta dan lulus tahun 2003.

Karier Organisasi dimulai sebagai Ketua Departemen Penalaran Senat Mahasiswa Fisipol Unmer Malang. Aktif di PMII di mulai sejak tahun 1993 sebagai Ketua Komisariat PMII Merdeka Malang, Ketua Bidang II PMII Cabang Kota Malang (1995),  Ketua Umum PMII Cabang Kota Malang (1996), Wakil Sekjen PB PMII (1997-2000),Ketua Umum PB PMII Periode 2003-2005, hasil Kongres XIV PMII di Kutai Kertanegara Kalimantan Timur.

Selain itu ia juga pernah aktif dan dipercaya menjadi koordinator kajian di Pusat Studi dan Pengembangan Kebudayaan (PUSPeK) Averroes (Averroes Community). Buku-buku yang pernah ditulis antara lain: Mengawal Transisi, Refleksi atas Pemantauan Pemilu 1999 (Jakarta 1999), PMII di Singpang Jalan, Pustaka Pelajar (Yogjakarta 1999) Menjadi Kontributor tulisan: Pemikiran-pemikiran Revolusioner Antonio Gramci Be(rtanya)lajar lagi pada kesalahan Karl Marx (Averroes Press dan Pustaka Pelajar 2000). Politik Indonesia dalam Masa Transisi (Upaya Menuju Sistem Politik Demokratis). Oposisi, Upaya Mengawal Transisi, Aktivisme Politik Islam dalam Babakan Politik Indonesia. Gus Dus, Militer dan Politik (LKiS Yogjakarta). Neraca Gus Dur di Panggung Kekuasaan, Lakpesdam (Jakarta 2002), Sketsa Pergerakan: Kritik-Otokritik Gerakan PMII, (Fajar Pustaka 2003), Saat ini ia menjadi staf ahli Komisi I DPR RI dan menjadi staf pengajar di Pascasarjana UI untuk program studi Kajian Timur Tengah dan Islam.

Buku-buku yang pernah diterbitkan PB PMII pada periode ini antara lain: PMII dalam Simpul-simpul Sejarah Perjuangan; PMII 1960-1985 (Fauzan Alfas) Untukmu Satu Tanah Airku, Untukmu Satu Keyakinanku; Menuju Karifan Bernegara; Kilas Balik Perjuangan Zamroni. Pada periode inilah PB PMII mempunyai kantor sekretariat sendiri secara permanen.

Sahabat Herry Azzumi (Periode 2005-2008)[sunting | sunting sumber]

Hery Haryanto Azumi adalah salah satu tokoh muda NU yang saat ini telah cukup dikenal di pelbagai. Karier organisasi yang terbilang lancar dan gagasannya tentang kebangsaan dan kerakyatan yang cukup luas, membuat pemuda kelahiran Trenggalek, 29 April 1977 ini sering tampil di media massa, baik cetak maupun elektronik. Berbagai macam kegiatan baik level nasional dan internasional pernah dia ikuti.

Salah satu kelebihan Ketua Umum Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB PMII), adalah kejelian dan kepekaannya dalam membaca perkembangan situasi nasional dan isu-isu luar negeri. Dengan kegemarannya dalam membaca dan jaringan yang luas, mantan Ketua Umum Cabang PMII Ciputat ini selalu bisa memberikan penjelasan detail soal isu-isu terbaru dari berbagai belahan dunia.

Memang demikianlah ajaran yang diterimanya dari keluarga dan pondok pesantren Denanyar Jombang, tempat dia belajar dan mendalami ilmu agama dan ketrampilan hidup. Hery menuturkan, orang tuanya sengaja memboyongnya ke pondok pesantren yang didirikan oleh tokoh NU KH Bisri Syansuri tersebut untuk nyantri melanjutkan pendidikan formal pada Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Mambaul Maarif. Tepatnya, pada tahun 1995, Hery berhasil menamatkan pendidikan formalnya tersebut dengan nilai memuaskan.

Orang tua ternyata memberikan restu kepadanya. Dia pun akhirnya berangkat ke Jakarta dan diterima pada Fakultas Syariah UIN Jakarta, di perguruan tinggi Islam terbesar di Indonesia tersebut. Kesempatan menjadi mahasiswa dimanfaatkan Hery dengan baik untuk mengembangkan diri. Dia pun memilih PMII sebagai wadah menempa diri dan mengembangkan bakat berorganisasi yang dimilikinya sejak kecil. Hari demi hari ruang pergaulannya semakin luas. Seiring dengan itu, bakat kepemimpinannya pun semakin tampak. Dia terpilih sebagai Ketua Cabang PMII Ciputat untuk masa khidmat 1998-1999.

Kongres PMII di Bogor pada 2005 adalah momen yang bersejarah bagi hidupnya. Mendapat mandat dari PMII Cabang Ciputat, dia mencalonkan diri sebagai Ketua Umum PB PMII. Alhasil, dengan dorongan para alumni PMII Ciputat, dia berhasil mengungguli kandidat-kandidat Ketua Umum PMII lain dengan suara mayoritas.

Jabatan Ketua Umum PMII adalah hal yang luar biasa baginya, karena sebelumnya dia tak pernah menduga bisa menjadi orang nomor satu di organisasi yang didirikan oleh Mahbub Djunaidi dkk itu. “Melihat panasnya persaingan, terpilihnya saya adalah hal yang luar biasa,” jelas pemuda hitam manis bertubuh tambun ini.

Selain menjadi aktivis PMII, pengalaman lain yang pernah didapatkannya, adalah kegiatan berkunjung ke luar negeri. Diantara program kunjungan ke luar negeri yang pernah diikutinya, antara lain, Program International untuk Ethnisitas, Multikulturalisme, dan Security Issues yang diselenggarakan oleh Departmen Luar Negeri Amerika Serikat di 10 negara Bagian AS (Washington D.C., Maryland, Virginia, Florida, Ohio, Georgia, California, San Francisco, Seattle, New York ), tahun 2003.

Hery juga aktif mengikuti acara diskusi dan dialog di dalam dan luar negeri. Diantaranya menjadi pembicara dalam Dialog antar agama, yang diselenggarakan oleh Acron State University di (Ohio 2003), Lecture pada Frederich Von Hayek’s Thoughts yang diselenggarakan oleh Indonesian CSIS bekerja sama dengan Australian Institute of Liberal Studies dan Swedish Hayek Institute (2002), ASEAN People’s Assembly II, diselenggarakan ASEAN ISIS (Denpasar, 2002) dan Kursus ketrampilan Presentasi and penulisan, granted oleh The British Council (2001).

Di bidang pengalaman kerja, Hery pernah menjadi Directur The Kemang Institute for Research and Analysis (2003-2005), Direktur Riset Yayasan Sentral Indonesia Semesta (2000-2002), Departemen Politik dan Demokrasi, Institute of Social Institutions Studies (ISIS), (sejak 2000). Dia juga punya segudang pengalaman dalam bidang advokasi dan mediasi, di antaranya mediasi konflik sosial di Bekasi dan Tangerang pada tahun 1999 hingga 2004, Wasekjen PBNU 2015-2020, Sekretaris Jenderal Majelis Dzikir Hubbul Wathan (….), Dewan Pakar Perhimpunan Perhimpunan Indonesia-Tionghoa 2017-2021. 

Sahabat Muhammad Rodli Kaelani (2008-2011)[sunting | sunting sumber]

sapaan Odie lahir pada tanggal 1 April 1978 disebuah rumah sakit “kelas kecil” di Jakarta. Terlahir dalam pola hidup kaum urban kota Jakarta namun tetap dalam kultur dan tradisi sosial keagamaan yang terpelihara. Ayahnya Muhammad Murthado H.M Noer yang berasal dari etnis “Betawi NU” adalah seorang pegawai negeri sipil, sedangkan ibunya, Nona Albugis, yang percampuran dari darah etnis bugis dan etnis tionghoa (Komunitas Tionghoa Campa sejak pengembangan Islam di wilayah timur Indonesia) yang membumi di Ternate dan Manado.

Semasa kuliah di Manado ia juga mendapat penguatan pengetahuan agama dari kultur dan tradisi keagamaan Alkhairaat yang menjadi pattern keagamaan keluarga ibunya dan sebagian besar kaum muslimin di wilayah timur Indonesia, karena Alkhairaat yang didirikan oleh almarhum Al Habib Salim Aljufri (Guru Tua), adalah salah satu ormas Islam berorientasi dakwah dan pendidikan terbesar di wilayah timur Indonesia yang tersambung secara emosional dan idilogis dengan kultur Ahlussunah Wal Jamaah (NU). Bahkan ia pernah mengabdikan diri selama dua tahun sebagai salah satu pengajar di Ponpes Alkhairaat Manado tersebut.

Saat diperantauan inilah ia mengenal, berinterkasi dengan komunitas PMII, hingga akhirnya menempa diri dan berproses dalam organisasi ini. Diakuinya, sesungguhnya PMII lah yang menjadi titik balik dalam kehidupan dirinya. Mengubah gaya hidup “anak kota” yang sebelumnya melekat pada dirinya, pola hidup konsumeristik dan hedonistik, bahkan cara ia melihat realitas dan kesulitan kehidupan masyarakat. Saat menjadi kader PMII semua berubah total, sampai-sampai  ia seringkali mengiklaskan kelebihan materi yang dimilikinya dalam pergumulannya di PMII dan interaksi dengan masyarakat, tak ketinggalan kuliahpun terkadang dikesampingkan. Namun ia nikmati dan rasakan kepuasan batin dan jiwa dengan pilihan pergumulannya itu.

Pengalamannya di PMII berawal sebagai kader rayon Fakultas Sastra pada pertengahan 1998, kemudian menjadi sekretaris rayon lalu ketua rayon. Setelah Konfercab PMII Manado pada akhir tahun 1999 ia dipercayakan oleh formatur dan sahabat-sahabatnya menjadi Sekretaris Umum PC PMII Manado hingga pada Konfercab berikutnya ia dipilih dan ditetapkan menjadi Ketua Umum PC PMII Manado masa khidmat 2001 – 2002. Sekaligus semasa kepemimpinannya memperkuat karakter gerakan intelektual dan advokasi sosial yang melekat pada kultur PMII Manado, bahkan hingga saat ini.

Selain itu jelang akhir kepemimpinan struktural PMII-nya, ia juga berinteraksi dan bergelut dengan teman-teman dan senior-seniornya di dunia NGOs dan penguatan masyarakat. Aktif dan pernah menjadi Kepala Divisi Pluralisme dan Advokasi pada Yayasan SERAT Manado (2001 – 2005), mendirikan dan menjadi salah satu Dewan Pendiri Pusat Belajar Lintas Komunitas (PuBLiKa) Sulawesi Utara (2000 – hingga sekarang), serta Anggota Dewan Pendiri South East Asia Committee on Advocacy (SEACA) yang berkedudukan di Filipina (2004 – hingga sekarang). Inilah pula yang memperkuat kultur gerakan dan advokasi sosial pada diri sebagai bagian dari komitmen keberpihakannya.

Pernah juga mengajar di Ponpes Putri Assalaam Manado dan bergelut dengan dunia broadcasting dengan menjadi Presenter pada acara talk show televisi regional selama setahun. Serta senantiasa menjadi trainer dan fasilitator pada kegiatan-kegiatan penguatan masyarakat (CO dan CD) diwilayah Gorontalo, Sulawesi Utara dan Maluku Utara. Apalagi pada tahun 2004, Rodli pernah merasakan fellowship pada Program Internship of Leadership and Social Movement di Institute for Popular Democracy of Phillpinnes.

Seiring dengan dedikasinya terhadap PMII, sahabat-sahabatnya didaerah dan regional Indonesia timur merekomendasikannya untuk berkiprah di jajaran Pengurus Besar PMII hingga setelah Kongres XV PMII di Bogor, ia diangkat dan dipercayakan menjadi Sekretaris Jenderal (Sekjen) PB PMII. Dedikasi ini juga lah yang membawanya “pulang kampung” dan berdomisili kembali di Jakarta, mengabdi dan berkiprah di PB PMII. Tidak berhenti di sekjend, kongres XVI PMII di Batam dia terpilih menjadi ketua umum PMII 2008-2011.

Karya buku yang pernah ditulis-baik sendiri maupun bersama teman-temannya antara lain; “Menuju Perubahan Sulawesi Utara; Refleksi, Aksi dan Proyeksi Gerakan PMII” (2001) serta “Melibatkan Partisipasi Masyarakat Dalam Perumusan Kebijakan” (2004). “Mengawal Gagasan, Mendorong Sentrum Gerakan” (2008).

Hingga saat ini, Rodli selalu diundang pada kegiatan-kegiatan Southeast Asian Committee on Advocacy (SEACA) di negara-negara ASEAN yang berkedudukan di Filipinan,. Selain itu juga aktif menjadi narasumber, trainer maupun fasilitator di berbagai forum, seminar, lokakarya dan pelatihan. Saat ini Rodli juga menjabat sebagai Wakil Sekretaris Jendral DPP PAN (2011 – 2016), juga Ketua Umum PANDU Indonesia, yang merupakan sayap pemuda PAN. Tercatat juga sebagai Sekretaris Pembina Dewan Pengurus Pusat Persatuan Wirausaha Muda Indonesia (DPP PWMI), dan salah satu Ketua Dewan Pimpinan Pusat Generasi Penerus Perjuangan Merah Putih (DPP GPPMP).

Rodli juga terlibat dalam beberapa perusahaan yang dibangun bersama beberapa senior dan kawan-kawannya, seperti PT Karya Bangkit Bersama dan PT OPSI-B, dan juga adalah Tenaga Ahli F-PAN DPR RI periode 2014-2019, dan mengajar dibeberapa perguruan tinggi. Rodli beristrikan Susilowati Moko, SHI, seorang aparatur sipil negara Kementerian Agama dan memiliki seorang putri bernama Annisa Alifiah Restu Putri Kaelani.

Sahabat Addin Jauharuddin (2011-2014)[sunting | sunting sumber]

Laki-laki kelahiran Cirebon, saat ini menjabat sebagai salah satu komisaris independen BUMN yaitu PT. Garam.

Sahabat Aminuddin Ma'ruf (2014-2017)[sunting | sunting sumber]

Laki-laki kelahiran Karawang, Jawa Barat ini menyelesaikan gelar sarjananya di Universitas Negeri Jakarta . Aminudin Ma'ruf terpilih menjadi Ketua umum PB PMII dalam kongres PMII ke-18 yang berlangsung 30 Mei sampai 10 Juni 2014 di GOR Kotabaru, Jambi.

Dalam kepemimpinannya, Aminuddin berhasil membuat terobosan dalam hal kaderisasi secara massive dan nasional. Adanya Pelatihan Kader Nasional dan berbagai acara seminar-lokakarya strategis kader menjadi konsentrasi strategis PMII dalam mencetak kader yang dapat duduk di berbagai macam posisi sektor strategis dan profesional.

Sahabat Agus Herlambang (2017-2019)[sunting | sunting sumber]

Lahir pada tanggal 17 Juni 1988 di sebuah daerah yang terkenal dengan sebutan kota Mangga, Indramayu. Putra pertama dari pasangan Guru Agama di kampung sehingga sedikit banyak Sahabat Agus sejak dini tumbuh dengan berinteraksi secara langsung dalam dunia pendidikan agama.

Setelah lulus SD, Sahabat Agus melanjutkan pendidikannya di pesantren Raudlatut Thalibin Lengkong Kuningan sembari menempuh pendidikan formalnya di MTS Yaspika Kuningan. Lulus MTS kemudian meneruskan proses pembelajaran formalnya pada MAN Cigugur Kuningan dan pendidikan pesantrennya di Pondok Pesantren Al-Ma’mur Cipondok Kadugede.

Kecerdasannya yang memang sudah terlihat sejak usia dini, membawa sahabat Agus menjadi siswa berprestasi yang tak pernah lepas dari posisi tiga (3) besar rangking teratas di semua level pendidikannya. Sehingga sahabat Agus mendapatkan undangan PMDK di Institute Teknologi Bandung (ITB), jurusan Seni rupa dari jalur Beasiswa Santri Berprestasi pada tahun 2006 dikarenakan memperoleh nilai UAN yang tinggi.

Sahabat Agus memilih melanjutkan studi S1nya di Sastra Inggris Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum (Unipdu) Jombang, satu-satunya Perguruan Tinggi di Indonesia yang menggunakan nama Pesantren. Di tahun 2010 Sahabat Agus lulus tepat waktu dengan uji thesis berjudul Afro-American Struggle for Spelling Bee Competition, berisi tentang kisah perjuangan seorang anak afro-amerika  diatas mimbar bergengsi orang-orang kulit putih. Minatnya terhadap sastra, kemudian membuatnya melanjutkan studi S2 Di Jurusan Magister Ilmu Susastra Universitas Indonesia (UI)  dan diterima pada tahun 2012.

Pada tahun yang sama (2012) sahabat Agus mulai terlibat dalam program Community Empowerment of People Againts Tuberculosis, sebuah pilot project pemberdayaan masyarakat di bidang kesehatan, yang disponsori oleh USAID dengan Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama dan Kementrian kesehatan RI, berperan sebagai koordinator Program di Jakarta Utara hingga awal 2017 dalam pengentasan TBC di Indonesia. Setelah bersentuhan langsung melakukan advokasi masyarakat di Jakarta Utara, pada tahun 2016  Sahabat Agus memutuskan fokus menggeluti bidang komunikasi publik dengan mengambil studi S2 di Universitas Mercubuana, di Jurusan Magister Komunikasi  yang fokus pada Public Relation, Mass media dan Komunikasi Politik karena ketertarikannya dalam keterlibatan publik dalam menentukan kebijakan pemerintah yang dia dapat ketika melakukan empowering di masyarakat urban di Jakarta Utara.

Agus Mulyono Herlambang atau biasa dipanggil Agus Herlambang adalah seorang aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) sejati, dimana tumbuh kembangnya selalu mengenyam pendidikan pesantren, dan berkecimpung di berbagai organisasi, baik yang nota bene organisasi PMII maupun lembaga lainnya sebagai rekam jejak kembang karakter ke PMII-annya, berikut tambahan aktivitas organisasi yang pernah di geluti: Aktif MAPABA (Masa Penerimaan Anggota Baru) PMII 2006, Ketua rayon pertama fakultas bahasa dan sastra inggris Unipdu Jombang 2007, Salah satu penggagas Teater SATU FBS tahun 2007, Wakil ketua BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) Fakultas 2007-2008, Pengurus Komisariat PMII Umar Tamin Unipdu Koordinator Penerbitan dan penelitian dengan melahirkan buletin Change 2008-2009, Sekjend BEM Unive Unipdu Jombang 2010-2011, Penggagas FGD (Focus Group Discussion) Surau Sahabat di Komisariat PMII Umar Tamim Unipdu Jombang 2010-2011, Pengurus Cabang PMII Jombang di koordinator Penerbitan dan Penelitian dengan menerbitkan Buletin MOVE 2010-2011, Penggagas FIKRAH INSTITUE 2010-2011, Pengajar aktif bahasa inggris di forum Pengurus Besar (PB) PMII 2011-2013, Koordinator Program Community Empowerment of People Againts Tuberculosis wilayah Jakarta Utara 2012, Ketua Bidang Hubungan Internasional dan Jaringan Luar Negeri PB PMII 2014-2016, Terpilih menjadi Ketua Umum PB PMII 2017-2019 saat Kongres di Palu, Sulawesi Tengah (Sulteng).

Di Sisi lain, karena Sahabat Agus terbiasa dididik mandiri secara ekonomi oleh orang tuanya, Agus bersama sahabat-sahabatnya menghidupkan rayon dari hasil penjualan tiket pementasan Teater SATU, menghidupkan komisariat dengan berjualan buku di kampus, menghidupkan forum diskusi Cabang juga dengan jualan buku dan jualan kopi. Saat ini, selain aktif di kegiatan kemasyarakatan, kuliah dan organisasi, Agus juga memiliki usaha mandiri yang bergerak di bidang limbah besi tua yang dia rintis bersama Istrinya sejak 2014 di CV Karunia Baja. Prinsip yang slalu dipegangnya hingga saat ini adalah hidupkan organisasi, bukan hidup dari organisasi.[2]

Independensi PMII
[sunting | sunting sumber]

Pada awal berdirinya PMII sepenuhnya berada di bawah naungan NU. PMII terikat dengan segala garis kebijaksanaan partai induknya, NU. PMII merupakan perpanjangan tangan NU, baik secara struktural maupun fungsional. Selanjutnya sejak dasawarsa 70-an, ketika rezim neo-fasis Orde Baru mulai mengkerdilkan fungsi partai politik, sekaligus juga penyederhanaan partai politik secara kuantitas, dan issue back to campus serta organisasi- organisasi profesi kepemudaan mulai diperkenalkan melalui kebijakan NKK/BKK, maka PMII menuntut adanya pemikiran realistis. 14 Juli 1972 melalui Mubes ke-III di Murnajati, PMII mencanangkan independensi, terlepas dari organisasi manapun (terkenal dengan Deklarasi Murnajati). Kemudian pada kongres tahun 1973 di Ciloto, Jawa Barat, diwujudkanlah Manifest Independensi PMII. Namun, betapapun PMII mandiri, ideologi PMII tidak lepas dari paham Ahlussunnah wal Jamaah yang merupakan ciri khas NU. Ini berarti secara kultural- ideologis, PMII dengan NU tidak bisa dilepaskan. Ahlussunnah wal Jamaah merupakan benang merah antara PMII dengan NU. Dengan Aswaja PMII membedakan diri dengan organisasi lain. Keterpisahan PMII dari NU pada perkembangan terakhir ini lebih tampak hanya secara organisatoris formal saja. Sebab kenyataannya, keterpautan moral, kesamaan background, pada hakikat keduanya susah untuk direnggangkan.

Makna Filosofis
[sunting | sunting sumber]

Dari namanya PMII disusun dari empat kata yaitu “Pergerakan”, “Mahasiswa”, “Islam”, dan “Indonesia”. Makna “Pergerakan” yang dikandung dalam PMII adalah dinamika dari hamba (makhluk) yang senantiasa bergerak menuju tujuan idealnya memberikan kontribusi positif pada alam sekitarnya. “Pergerakan” dalam hubungannya dengan organisasi mahasiswa menuntut upaya sadar untuk membina dan mengembangkan potensi ketuhanan dan kemanusiaan agar gerak dinamika menuju tujuannya selalu berada di dalam kualitas kekhalifahannya. Pengertian “Mahasiswa” adalah golongan generasi muda yang menuntut ilmu di perguruan tinggi yang mempunyai identitas diri. Identitas diri mahasiswa terbangun oleh citra diri sebagai insan religius, insan dimnamis, insan sosial, dan insan mandiri. Dari identitas mahasiswa tersebut terpantul tanggung jawab keagamaan, intelektual, sosial kemasyarakatan, dan tanggung jawab individual baik sebagai hamba Tuhan maupun sebagai warga bangsa dan negara.

“Islam” yang terkandung dalam PMII adalah Islam sebagai agama yang dipahami dengan haluan/paradigma ahlussunah wal jama’ah yaitu konsep pendekatan terhadap ajaran agama Islam secara proporsional antara iman, islam, dan ikhsan yang di dalam pola pikir, pola sikap, dan pola perilakunya tercermin sikap-sikap selektif, akomodatif, dan integratif. Islam terbuka, progresif, dan transformatif demikian platform PMII, yaitu Islam yang terbuka, menerima dan menghargai segala bentuk perbedaan. Keberbedaan adalah sebuah rahmat, karena dengan perbedaan itulah kita dapat saling berdialog antara satu dengan yang lainnya demi mewujudkan tatanan yang demokratis dan beradab (civilized).

Sedangkan pengertian “Indonesia” adalah masyarakat, bangsa, dan negara Indonesia yang mempunyai falsafah dan ideologi bangsa (Pancasila) serta UUD 45.[3]

Rujukan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ https://pmiigadjahmada.wordpress.com/2013/04/01/ketua-pb-pmii-dari-masa-ke-masa/
  2. ^ "Agus M Herlambang Terpilih Menjadi Ketua Umum PMII Periode 2017-2019 - Tribunnews.com". Tribunnews.com. Diakses tanggal 2017-09-17. 
  3. ^ http://www.pmii.or.id/sejarah/

3. http://www.pmiinews.online/2017/05/agus-herlambang-terpilih-ketum-pb-pmii.html

Pranala luar[sunting | sunting sumber]