Muhammad Ali Jinnah

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Mohammad Ali Jinnah)
Lompat ke: navigasi, cari
Muhammad Ali Jinnah
محمد علی جناح
મુહમ્મદ અલી જિન્નાહ
Ali Jinnah
Gubernur Jenderal Pakistan
Masa jabatan
14 Agustus 1947 – 11 September 1948
Penguasa monarki George VI
Perdana Menteri Liaquat Ali Khan
Didahului oleh The Earl Mountbatten of Burma (sebagai Wakil Raja India)
Digantikan oleh Khawaja Nazimuddin
Ketua Majelis Nasional
Masa jabatan
11 Agustus 1947 – 11 September 1948
Deputi Maulvi Tamizuddin Khan
Didahului oleh Jabatan baru
Digantikan oleh Maulvi Tamizuddin Khan
Ketua Majelis Konstitusi
Deputi Liaquat Ali Khan
Didahului oleh Jabatan baru
Digantikan oleh Liaquat Ali Khan
Informasi pribadi
Lahir Mahomedali Jinnahbhai
25 Desember 1876
Meninggal 11 September 1948 (umur 71)
Karachi, Teritorial Federal Ibukota, Pakistan[1]
Partai politik
Suami/istri
Relasi Lihat keluarga Jinnah[2]
Anak Dina (dari Maryam Jinnah)
Alma mater Inns of Court School of Law
Profesi Pengacara
Agama Islam
Tanda tangan

Muhammad Ali Jinnah (bahasa Urdu: محمد علی جناح, Tentang suara ini Audio , lahir Mahomedali Jinnahbhai; 25 Desember 1876 – 11 September 1948) adalah seorang pengacara, politikus dan pendiri Pakistan. Jinnah merupakan pemimpin Liga Muslim India dari 1913 sampai kemerdekaan Pakistan pada 14 Agustus 1947, dan menjabat sebagai Gubernur Jenderal Pakistan pertama sampai kematiannya. Di Pakistan, ia dipanggil Quaid-i-Azam (Pemimpin Besar) dan Baba-i-Qaum (Bapak Bangsa). Ulang tahunnya diperingati sebagai libur nasional di Pakistan.[3][4]

Lahir di Karachi dan dilatih sebagai barrister di Lincoln's Inn, London, Jinnah meraih pengaruh di Kongres Nasional India dalam dua dekade pertama abad ke-20. Pada tahun-tahun awal karir politiknya, Jinnah mengadvokasi persatuan Hindu–Muslim, membantu pembentukan Pakta Lucknow 1916 antara partai Kongres dan Liga Muslim Seluruh India, dimana Jinnah juga menjadi tokoh pentin. Jinnah menjadi pemimpin utama dalam Liga Pemerintahan Dalam Negeri Seluruh India, dan memproporsalkan empat belas poin rencana reformasi konstitusional untuk mengamankan hak politik Muslim. Namun, pada 1920, Jinnah mengundurkan diri dari partai Kongres ketika ia sepakat untuk ikut sebuah kampanye satyagraha, atau pemberontakan non-kekerasan, yang diadvokasikan oleh Mohandas Gandhi, yang ia anggap sebagai anarki politik.

Pada 1940, Jinnah meyakini bahwa Muslim India harus memiliki negara mereka sendiri. Pada tahun tersebut, Liga Muslim, yang dipimpin oleh Jinnah, mengeluarkan Resolusi Lahore, yang menuntut sebuah negara terpisan. Pada Perang Dunia Kedua, Liga tersebut meraih kekuatan saat para pemimpin partai Kongres ditahan, dan dalam pemilihan-pemilihan yang diadakan tak lama setelah perang, Liga tersebut memenangkan sebagian besar kursi yang disediakan untuk Muslim. Selain itu, partai Kongres dan Liga Muslim tidak meraih kesepakatan rumusan pembagian kekuasaan untuk menyatukan India, membuat seluruh partai sepakat untuk memisahkan kemerdekaan yang didominasi Hindu India, dan sebuah negara mayoritas Muslim, yang disebut Pakistan.

Sebagai Gubernur Jenderal Pakistan pertama, Jinnah bekerja untuk mendirikan pemerintahan dan kebijakan negara baru tersebut, dan membantu jutaan migran Muslim yang bermigrasi dari negara baru India ke Pakistan setelah kemerdekaan, dengan secara pribafi memimpin pendirian kamp-kamp pengungsian. Jinnah wafat pada usia 71 tahun pada September 1948, tepat setahun setelah Pakistan meraih kemerdekaan dari Britania Raya. Ia meninggalkan warisan penting dan mendalam di Pakistan. Menurut biografernya, Stanley Wolpert, ia masih menjadi pemimpin terbesar di Pakistan.

Tahun-tahun awal[sunting | sunting sumber]

Latar belakang[sunting | sunting sumber]

Potret ayah Jinnah, Jinnahbhai Poonja

Nama pemberian Jinnah saat lahir adalah Mahomedali Jinnahbhai,[a] dan diyakini lahir pada 1876,[b] dari pasangan Jinnahbhai Poonja dan istrinya Mithibai, di sebuah apartemen sewaan di lantai dua Mansion Wazir, Karachi[5] sekarang di Sind, Pakistan, namun pada waktu itu berada di Kepresidenan Bombay, India Britania. Keluarga Jinnah berasal dari keluarga Ismaili Khoja (Syiah Gujarati, meskipun Jinnah kemudian mengikuti pengacaran Syiah Dua Belas Imam.[6][7][8] Jinnah berasal dari latar belakang pendapatan menengah, ayahnya adalah seorang pedagang dan lahir dari keluarga penendun di desa Paneli, negara kepangeranan Gondal (Kathiawar, Gujarat); ibunya juga berasal dari desa tersebut. Mereka berpindah ke Karachi pada 1875 dan telah meninggal sebelum perpindahan mereka. Karachi pada waktu itu mengalami ledakan ekonomi: pembukaan Terusan Suez pada 1869 mengurangi jarak 200 mil jarak perjalanan menggunakan kapal dari Eropa menuju Bombay.[9][10] Jinnah merupakan anak kedua;[11][12] ia memiliki tiga saudara dan tiga saudara, termasuk adik perempuannya Fatima Jinnah. Orangtuanya merupakan pemakai bahasa Gujarati asli, dan anak-anaknya dapat berbicara dalam bahasa Kutchi dan Inggris.[13] Kecuali Fatima, sedikit yang diketahui tentang saudara-saudaranya, karena mereka jarang bertemu dengan saudara-saudara mereka karena kesibukannya dalam karir hukum dan politik.[14]

Pada masa kecil, Jinnah sempat tinggal di Bombay dengan seorang bibi dan masuk SD Gokal Das Tej disana, kemudian belajar di Cathedral and John Connon School. Di Karachi, ia masuk Sindh-Madrasa-tul-Islam dan Christian Missionary Society High School.[15][16][17] Ia meraih matrikulasinya dari Universitas Bombay pada masa SMA. Pada tahun-tahun berikutnya dan khususnya setelah kematiannya, sejumlah besar cerita tentang masa kecil pemimpin Pakistan tersebut tersebar: bahwa ia menjalani seluruh waktunya di kantor polisi, mempelajari pemprosesan, dan bahwa ia mempelajari buku-bukunya dengan sinar lampu jalan karena kurangnya penerangan di tempat lainnya. Biografer resminya, Hector Bolitho, yang menulis pada 1954, mewawancarai orang-orang terdekat pada masa kecilnya, dan mengetahui bahwa pada masa mudanya, Jinnah bersama dengan anak-anak lainnya suka memainkan kelereng di tempat berpasir, mendesak mereka untuk bangkit, memastikan tangan dan baju mereka bersih, dan juga bermain kriket.[18]

Di Inggris[sunting | sunting sumber]

Lincoln's Inn, difoto pada 2006

Pada 1892, Sir Frederick Leigh Croft, seorang teman bisnis Jinnahbhai Poonja, menawarkan Jinnah muda untuk bergabung dengan firma miliknya di London, Graham's Shipping and Trading Company.[19] Ia mendapatkan sebuah jabatan meskipun ditentang ibunya, yang sebelum ia pergi, berusaha untuk menjodohkannya dengan sepupunya yang berusia dua tahun lebih muda darinya yang berasal dari desa leluhur Paneli, Emibai Jinnah. ibu dan istri pertama Jinnah meninggal saat ia berada di Inggris.[20] Meskipun bujukannya ke London dianggap sebagai kesempatan besar bagi Jinnah, salah satu alasan mengirimkannya ke luar negeri adalah proses hukum terhadap ayahnya, dimana harta keluarganya terancam disita oleh pemerintah. Pada 1893, keluarga Jinnahbhai berpindah ke Bombay.[15]

Setelah ia datang ke London, Jinnah memutuskan untuk belajar hukum dan diminta oleh ayahnya untuk memberikannya uang untuk hidup selama tiga tahun sebelum kepergiannya. Ingin menjabat sebagai barrister di Lincoln's Inn, ia kemudian menyatakan bahwa alasannya memilih Lincoln's ketimbang Inns of Court lainnya adalah sebuah balai utama pada Lincoln's Inn dinamai para pembuat hukum besar di dunia, termasuk Muhammad. Biografer Jinnah Stanley Wolpert menyatakan bahwa meskipun tidak ada inskripsi semacam itu, namun didalamnya terdapat sebuah mural yang menampilkan Muhammad dan para pembuat hukum lainnya, dan berkesimpulan bahwa Jinnah mungkin menyunting cerita tersebut dalam pikirannya sendiri untuk menghindari penyebutan sebuah penggambaran yang akan bertentangan dengan beberapa Muslim.[21] Pendidikan hukum Jinnah mengikuti sistem pupillage (pembelajaran hukum), yang telah diberlakukan selama berabad-abad. Untuk mendampah pengetahuan hukum, ia mengikuti pelatihan barrister dan memahami kegiatan tersebut, serta mempelajari buku-buku hukum.[22] Pada masa tersebut, ia memperpendek namanya menjadi Muhammad Ali Jinnah.[23]

Pada tahun-tahun belajarnya di Inggris, Jinnah terpengaruhi oleh liberalisme Inggris abad ke-19, seperti beberapa pemimpin kemerdekaan India masa depan lainnya. Pendidikan politik tersebut meliputi gagasan negara demokratis, dan politik progresif.[24] Ia menjadi pengagum pemimpin politik Parsi India Dadabhai Naoroji dan Sir Pherozeshah Mehta. Naoroji menjadi Anggota Parlemen Inggris pertama dari India tak lama sebelum kedatangan Jinnah, dengan meraih mayoritas lima suara di Finsbury Central. Jinnah menyimak pidato to Naoroji di Dewan Rakyat dari galeri pengunjung.[25][26]

Dunia Barat tak hanya menginspirasi Jinnah dalam kehidupan politik, namun juga sangat mempengaruhi preferensi pribadinya, terutama busananya. Jinnah meninggalkan India agar dapat berbusana gaya Barat, dan sepanjang hidupnya, ia selalu berbusana demikian di depan umum. Ia memiliki lebih dari 200 jas, yang ia kenakan dengan bersama dengan kemeja berkerah, dan saat ia menjadi barrister, ia tak pernah mengenakan dasi sutra yang sama sebanyak dua kali.[27] Saat ia sekarang, ia ingin menggunakan pakaian formal, "Saya tak ingin pergi menggunakan piyamaku."[14] Pada tahun-tahun berikutnya, ia biasanya terlihat mengenakan topi Karakul yang kemudian dikenal sebagai "topi Jinnah".[28]

Tak puas dengan bidang hukum, Jinnah sempat berkarir panggung pada sebuah perusahaan Shakespeare, namun mengundurkan diri setelah mendapatkan surat penolakan dari ayahnya.[29] Pada 1895, pada usia 19 tahun, ia menjadi orang India termuda yang mengikuti ujian hukum di Inggris.[12] Meskipun ia pulang ke Karachi, ia hanya berada disana dalam jangka pendek sebelum berpindah ke Bombay.[29]

Karir politik awal dan hukum[sunting | sunting sumber]

Barrister[sunting | sunting sumber]

Jinnah saat menjadi seorang barrister

Pada usia 20 tahun, Jinnah memulai praktiknya di Bombay, sebagai satu-satunya barrister Muslim di kota tersebut.[12] Bahasa Inggris menjadi bahasa utamanya dan masih menjadi bahasa utamanya sepanjang hidupnya. Pada tiga tahun pertamanya dalam dunia hukum, dari 1897 sampai 1900, ia meraih beberapa prestasi. Langkah pertamanya menuju karir menonjol terjadi saat pelaksana jabatan Advokat Utama Bombay, John Molesworth MacPherson, mengundang Jinnah untuk bekerja di kantornya.[30][31] Pada 1900, P. H. Dastoor, seorang magistrat kepresidenan Bombay, menginggalkan jabatan tersebut untuk beberapa waktu dan Jinnah menggantikannya untuk sementara waktu. Setelah ia menjabat selama enam bulan, Jinnah ditawarkan sebuah jabatan permanen dengan gaji sejumlah 1,500 rupee per bulan. Jinnah menolak tawaran tersebut, dengan menyatakan bahwa ia menginginkan 1,500 rupee sehari—sebuah angka yang besar pada waktu itu—yang kemudian ia dapatkan.[30][31][32] Meskipun demikian, saat ia menjabat sebagai Gubernur-Jenderal Pakistan, ia menolak menerima gaji besar, dan sebagai gantinya ia mendapatkan 1 rupee per bulan.[33]

Saat menjadi pengacara, Jinnah dikenal karena kemampuannya menangani "Kasus Kaukus" 1907. Kontroversi tersebut berkembang pada pemilihan munisipal Bombay, dimana orang-orang India diduga dicurangi oleh sebuah "kaukus" orang-orang Eropa yang diadakan agar Sir Pherozeshah Mehta tetap berada di dewan. Jinnah meraih pujian besar karena menuntut kasus Sir Pherozeshah, yang dirinya sendiri merupakan seorang barrister terkenal. Meskipun Jinnah tidak memenangkan Kasus Kaukus, ia sukses mencetak rekor, menjadikannya dikenal karena advokasi dan logika hukumnya.[34][35] Pada 1908, pesaing faksionalnya dari partai Kongres Nasional India, Bal Gangadhar Tilak, ditangkap atas tuduhan pencemaran nama baik. Sebelum Tilak gagal mewakilkan dirinya sendiri pada pengadilan, ia meminta Jinnah agar membebaskannya dari dakwaan tersebut. Jinnah gagal, namun berhasil membebaskan Tilak saat ia kembali dituduh dengan dakwaan pencemaran nama baik pada 1916.[36]

Salah satu barrister sejawat Jinnah dari Pengadilan Tinggi Bombay menyatakan bahwa "kepercayaan Jinnah sendiri luar biasa"; ia menyatakan bahwa saat seorang hakim berkata "Tuan Jinnah, saya ingatkan bahwa Anda tidak dapat mengalamatkan seorang magistrat kelas tiga", Jinnah membalas, "Yang Mulia, ijinkan saya untuk memperingatkanmu bahwa aku tidak mengalamatkan seorang pembela kelas tiga."[37] Barrister sejarawannya lainnya menyatakan bahwa:

Ia adalah apa yang Allah ciptakan, seorang pembela agung. Ia memiliki esensi keenam: Ia dapat memandang segala sudut. Kemampuan tersebut merupakan bakat asalnya ... ia merupakan seorang pemikir yang sangat bersih ... Namun ia menyetir poin-poin dalamnya—poin-poin yang dipilih dengan pemilihan eksklusif—yang dikirimkan berlahan, kata demi kata.[34][38]

Sakit dan meninggal[sunting | sunting sumber]

Jinnah menjalani beberapa hari terakhir hidupany di Keresidenan Quaid-e-Azam, Ziarat, Pakistan.

Dari 1930an, Jinnah terserang tuberkulosis; hanya saudarinya dan beberapa orang terdekatnya yang lainnya yang menyadari kondisinya. Hinnah meyakini bila masyarakat mengetahui penyakit paru-parunya akan menyakiti kehidupan politiknya. Dalam sebuah surat 1938, ia menuliskan kepada seorang pendukung bahwa "Anda harus membaca surat kabar tentang perjalanan saya ... Saya menderita, bukan karena ada sesuatu yang salah dengan saya, namun keadaan [jadwal] yang tidak biasa dan sangat berdampak pada kesehatan saya".[39][40] Beberapa tahun kemudian, Mountbatten menyatakan bahwa jika ia mengetahui bahwa Jinnah terserang penyakit, ia akan berhenti, dengan harapan kematian Jinnah dapat mencegah partisi.[41] Fatima Jinnah kemudian menyatakan bahwa, "bahkan di saat-saat kemenangan, Quaid-e-Azam menderita sakit ... Ia bekerja dalam hiruk pikuk untuk mengkonsolidasikan Pakistan. Dan, tentunya, ia sangat mengabaikan kesehatannya ..."[42] Jinnah bekerja dengan sekaleng rokok Craven "A" di lacinya, dimana ia menghisap 50 rokok lebih pada 30 tahun sebelumnya, serta sekotak rokok Kuba. Karena kesehatannya memburuh, ia berbaring di ruang pribadi Dewan Gubernur di Karachi, dimana hanya ia, Fatima dan para pelayan yang boleh masuk.[43]

Pada Juni 1948, ia dan Fatima terbang ke Quetta, pegunungan Baluchistan, dimana cuacanya lebih dingin ketimbang Karachi. Ia tak dapat beristirahat dengan nyaman di sana, dan berkata kepada para perwira di Command and Staff College, "Anda, bersama dengan Pasukan Pakistan lainnya, adalah tumpuan hidup, properti dan kehormatan bangsa Pakistan."[44] Ia kembali ke Karachi pada 1 Juli untuk mengikuti acara pembukaan Bank Negara Pakistan, dimana ia berpidato. Sebuah sambutan oleh seorang komisioner dagang Kanada pada sore hari untuk menghormati Hari Dominion adalah acara publik terakhir yang ia hadiri.[45]

Masa selanjutnya[sunting | sunting sumber]

Salat khusus diadakan di masjid Kwitang, Jakarta (Indonesia) setelah kematian Jinnah.

Dina Wadia, putri Jinnah, masih berada di India setelah kemerdekaan sebelum menetap di New York City. Dalam pemilihan presiden 1965, Fatima Jinnah, yang kemudian dikenal sebagai Madar-e-Millat ("Ibu Bangsa"), menjadi kandidat presiden dari koalisi partai politik yang menentang pemerintahan Presiden Muhammad Ayub Khan, namun gagal.[46]

Rumah Jinnah di Bukit Malabar, Bombay, dipegang oleh Pemerintah India, namun kepemilikannya diperebutkan oleh Pemerintah Pakistan.[47] Jinnah secara pribadi meminta Perdana Menteri Nehru agar menyerahkan rumah tersebut dan mengharapkan agar ia datang ke Bombay. Terdapat usulan untuk rumah tersebut yang ditawarkan pemerintah Pakistan untuk mendirikan sebuah konsulat di kota tersebut sebagai tanda persahabatan, namun Dina Wadia juga meminta propertinya.[47][48]

Setelah Jinnah wafat, saudarinya Fatima meminta pengadilan untuk melaksanakan kehendak Jinnah di bawah hukum Islam Syiah.[49] Permintaan tersebut kemudian menjadi bagian dari perbincangan di Pakistan tentang afiliasi agama Jinnah. Vali Nasr menyatakan bahwa Jinnah "adalah lahir sebagai seorang Ismaili dan mengaku sebagai seorang Syiah Dua Belas Imam, meskipun ia bukanlah seorang pria yang taat beragama."[50] Dalam sebuah tuntutan hukum 1970, Hussain Ali Ganji Walji mengklaim bahwa Jinnah telah berpindah ke Islam Sunni, namun Pengadilan Tinggi menepis klaim tersebut pada 1976, dengan menyatakan bahwa keluarga Jinnah adalah Syiah.[51] Menurut jurnalis Khaled Ahmed, Jinnah adalah seorang non-sektarian dan "menyatukan Muslim dari India di bawah spanduk sebuah kepercayaan Muslim umum dan bukannya di bawah identitas sektarian yang divisif." Ahmed melaporkan sebuah keputusan pengadilan Pakistan 1970 yang menyatakan bahwa Jinnah adalah "seorang Muslim sekuler yang tidak berpihak pada Syiah maupun Sunni", dan pada 1984 ia berkata bahwa "Quaid bukanlah sebuah sebutan Syiah". Liaquat H. Merchant, anak dari keponakan Jinnah, menyatakan bahwa "ia juga bukanlah seorang Sunni, ia hanya seorang Muslim".[49]

Warisan dan pandangan sejarah[sunting | sunting sumber]

Warisan Jinnah adalah Pakistan. Menurut Mohiuddin, "Ia merupakan dan masih menjadi orang yang paling dihormati di Pakistan seperti halnya [presiden AS pertama] George Washington di Amerika Serikat ... Pakistan memiliki banyak bukti penyetiran, keuletan, dan keadilannya ... pengaruh Jinnah dalam pembentukan Pakistan bersifat monumental dan tak terukur."[52] Stanley Wolpert, yang memberikan sebuah ceramah dalam menghormati Jinnah pada 1998, menyebutnya sebagai pemimpin Pakistan terbesar.[53] Hari ulang tahunnya dijadikan hari libur nasional di Pakistan.[54][55][56] Jinnah meraih gelar Quaid-e-Azam (artinya "Pemimpin Besar"). Gelar lainnya adalah Baba-i-Qaum (Bapak Bangsa). Gelar Quaid-e-Azam dikabarkan diberikan kepada Jinnah mula-mula oleh Mian Ferozuddin Ahmed. Gelar tersebut menjadi sebuah gelar resmi pada sebuah resolusi yang dikeluarkan pada 11 Agustus 1947 oleh Liaquat Ali Khan dalam Majelis Konstituen Pakistan. Terdapat beberapa sumber yang menyatakan bahwa Gandhi memberikannya gelar tersebut.[57]

Menurut Singh, "Dengan kematian Jinnah, Pakistan kehilangan tambatan mereka. Di India, tidak akan mudah menemukan Gandhi yang lain, sementara di Pakistan, [tidak akan muda menemukan] Jinnah yang lain."[58] Malik menyatakan, "Sepanjang hidup Jinnah, ia dapat membujuk dan bahkan mendesak para pemimpin regional untuk melakukan akomodasi menguntungkan yang lebih besar, namun setelah ia meninggal, kurangnya konsensus atas distribusi kekuasaan politik dan sumber daya ekonomi seringkali berujung kontroversial."[59] Menurut Mohiuddin, "Kematian Jinnah membuat Pakistan kehilangan seorang pemimpin yang dapat mewujudkan pemerintahan stabil dan demokratis ... Jalan berbatu menuju demokrasi di Pakistan dan hubungan lunak di India dapat sedikit mengukur tragedi hilangnya pemimpin paling dihargai dan tak bercacat di Pakistan setelah kemerdekaan."[60]

Plat Biru London yang didedikasikan kepada Jinnah

Jinnah digambarkan pada seluruh mata uang rupee Pakistan, dan namanya disematkan pada beberapa lembaga publik Pakistan. Bekas Bandar Udara Internasional Quaid-i-Azam di Karachi, yang sekarang dinamai Bandar Udara Internasional Jinnah, adalah bandar udara tersibuk di Pakistan. Salah satu jalan terbesar di ibukota Turki Ankara, Cinnah Caddesi, mengambil nama darinya, seperti halnya Jalan Ekspres Mohammad Ali Jenah di Tehran, Iran. Pemerintah royalist Iran juga mengeluarkan sebuah perangko peringatan kelahiran Jinnah keseratus pada 1976. Di Chicago, sebuah bagian dari Devon Avenue dinamai "Mohammed Ali Jinnah Way". Mazar-e-Quaid, mausoleum Jinnah, adalah salah satu markah tanah Karachi.[61] "Menara Jinnah" di Guntur, Andhra Pradesh, India, dibangun untuk memperingati Jinnah.[62]

Terdapat cukup banyak prestasi yang Jinnah cetak di Pakistan; menurut Akbar S. Ahmed, tidak banyak bacaan di luar negara tersebut dan biasanya menghindari kritik tajam terhadap Jinnah.[63] Menurut Ahmed, beberapa buku tentang Jinnah di luar Pakistan menyatakan bahwa ia meminum alkohol, namun pernyataan tersebut tidak tercantum pada buku-buku di dalam Pakistan. Ahmed berkesimpulan bahwa pernyataan Quaid meminum alkohol dapat melemahkan identitas Islam Jinnah, dan secara khusus, identitas Pakistan Jinnah. Beberapa sumber menyatakan bahwa ia berhenti meminum alkohol menjelang akhir hidupnya.[64][65]

Menurut sejarawan Ayesha Jalal, meskipun terhadap tendensi terhadap hagiografi dalam pandangan Pakistan Jinnah, di India ia dipandang buruk.[66] Ahmed menyatakan bahwa Jinnah merupakan "orang paling difitnah dalam sejarah India modern ... Di India, beberapa orang memandangnya sebagai iblis yang memisahkan wilayah."[67] Beberapa Muslim India memandang buruk Jinnah, menuduhnya membuat mereka menjadi minoritas di negara tersebut.[68] Beberapa sejarawan seperti Jalal dan H. M. Seervai menyatakan bahwa Jinnah tak pernah menginginkan partisi India—peristiwa tersebut merupakan kehendak para pemimpin partai Kongres yang tak ingin berbagi kekuasaan dengan Liga Muslim. Mereka menyatakan bahwa Hinnah hanya menggunakan tuntutan Pakistan dalam upaya memobilisasi dukungan hak politik signifikan untuk kaum Muslim.[69]

Patung lilin Jinnah dan saudarinya Fatima Jinnah pada sebuah museum di Monumen Pakistan, Islamabad

Jinnah meraih sanjungan dari has para politikus nasionalis India seperti Lal Krishna Advani, yang memuji Jinnah karena menganggapnya telah menggemparkan Partai Bharatiya Janata (PBJ).[70] Buku karya politikus India Jaswant Singh Jinnah: India, Partition, Independence (2009) menuai kontroversi di India.[71][72] Buku tersebut berdasarkan pada ideologi Jinnah dan mengklaim bahwa kebijakan sentralisasi Jawaharlal Nehru bertanggung jawab terhadap Partisi tersebut.[73] Setelah buku tersebut dirilis, Singh dikeluarkan dari Partai Bharatiya Janata. Ia kemudian membalas bahwa PBJ "berpikiran sempit" dan "berpengetahuan terbatas".[74][75]

Jinnah adalah figur utama dalam film 1998 Jinnah, yang mendokumentasikan kehidupan Jinnah dan perjuangannya dalam pembentukan Pakistan. Christopher Lee yang memerankan Jinnah, menyebut penampilannya sebagai hal yang terbaik sepanjang karirnya.[76][77] Buku Hector Bolitho 1954 Jinnah Creator of Pakistan mendorong Fatima Jinnah untuk merilis sebuah, yang berjudul My Brother (1987), karena ia menyadari bahwa buku Bolitho gagal mengeluarkan aspek-aspek politik Jinnah. Buku tersebut meraih sambutan positif di Pakistan. Jinnah of Pakistan (1984) karya Stanley Wolpert dianggap sebagai salah satu buku biografi terbaik tentang Jinnah.[78]

Potret Jinnah pada perangko Turkmenistan dan Iran Potret Jinnah pada perangko Turkmenistan dan Iran
Potret Jinnah pada perangko Turkmenistan dan Iran

Pandangan Jinnah di dunia Barat membentuk batas tertentu pada penggambarannya dalam film 1982 Sir Richard Attenborough, Gandhi. Film tersebut didedikasikan kepada Nehru dan Mountbatten dan diberi dukungan dari putri Nehru, perdana menteri India, Indira Gandhi. Film tersebut menampilkan Jinnah (diperankan oleh Alyque Padamsee) dalam sebuah aura tak menyenangkan, yang nampaknya bersikap cemburu terhadap Gandhi. Padamsee kemudian menyatakan bahwa perannya tidak sesuai sejarah.[79]

Dalam sebuah artikel jurnal tentang gubernur-jenderal pertama Pakistan, sejarawan R. J. Moore menyatakan bahwa Jinnah banyak diakui sebagai tokoh utama dalam pembentukan Pakistan.[80] Wolpert merangkum efek mendalam yang Jinnah buat di dunia:

Beberapa orang penting mencetak sejarah. Sedikit orang mengubah peta dunia. Tak banyak orang yang dapat dikenal karena membuat sebuah negara. Mohammad Ali Jinnah adalah ketiganya.[81]

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Catatan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ bahasa Gujarati: મહમદ અલી ઝીણાભાઇ
  2. ^ Meskipun ulang tahun Jinnah dirayakan pada 25 Desember 1876, alasan penanggalannya diragukan. Karachi tidak mengeluarkan sertifikat kelahiran, tidak ada catatan yang disimpan oleh keluarganya (tanggal kelahiran berpengaruh kecil bagi Muslim pada tahun itu), dan catatan sekolahnya menunjukkan tanggal kelahirannya adalah 20 Oktober 1875. Lihat Bolitho, hlm. 3

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Singh, hlm. 402–405.
  2. ^ Guriro, Amar (30 June 2009). "Aslam Jinnah's claim of being Quaid's family disputed". Daily Times. Diakses tanggal 11 September 2012. 
  3. ^ "National public holidays of Pakistan in 2013". Office Holidays. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2013-04-22. Diakses tanggal 2013-04-22. 
  4. ^ "Nation celebrates Quaid-e-Azam’s birthday". Pakistan Today. 25 Dec 2012. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2013-04-22. Diakses tanggal 2013-04-22. 
  5. ^ Qasim Abdallah Moini (20 December 2003). Remembering the Quaid di Wayback Machine (diarsipkan 7 Oktober 2008). Dawn.com. "[I]t has been alleged in sections of the press that the Quaid was born not in this quarter of Karachi but in Jhirk, located in Thatta district. But most historians and biographers go along with the official line ..."
  6. ^ Wolpert, hlm. 4.
  7. ^ Wolpert, hlm. 18.
  8. ^ https://books.google.com/books?id=iekF9X3OwwMC&pg=PA173&dq#v=onepage&q&f=false
  9. ^ Singh, hlm. 30–33.
  10. ^ Wolpert, hlm. 3–5.
  11. ^ Desai, Anjali (2007). India Guide Gujarat. Indian Guide Publications. ISBN 978-0-9789517-0-2. Diakses tanggal 2 December 2010. In 1913, Muhammad Ali Jinnah, the son of an affluent Gujarati merchant from Kathiawad, joined the League after leaving the Congress due to disagreements with Gandhiji. 
  12. ^ a b c Ahmed, hlm. 3.
  13. ^ Jinnah, Fatima, hlm. 48–49.
  14. ^ a b Puri, hlm. 34.
  15. ^ a b Singh, hlm. 54.
  16. ^ Ahmed, hlm. 26.
  17. ^ Sharif, Azizullah. "KARACHI: Restoration of Church Mission School ordered" (Archive). Dawn. 20 February 2010. Retrieved on 26 May 2014. "Taking notice of the highly dilapidated and bad condition of the Church Mission School (CMS) where Quaid-i-Azam Mohammad Ali Jinnah had studied,[...]"
  18. ^ Bolitho, hlm. 5–7.
  19. ^ Read, hlm. 95-96.
  20. ^ Wolpert, hlm. 8–9.
  21. ^ Wolpert, hlm. 9–10.
  22. ^ Wolpert, hlm. 12–13.
  23. ^ Singh, hlm. 56.
  24. ^ Syed Qasim Mehmood (1998). Encyclopedia Pakistanica, p. 725. Qadir Printers, Karachi.
  25. ^ Bolitho, hlm. 10–12.
  26. ^ Singh, hlm. 55.
  27. ^ Wolpert, hlm. 9.
  28. ^ Ahmed, hlm. 85.
  29. ^ a b Wolpert, hlm. 14–15.
  30. ^ a b Bolitho, hlm. 14–17.
  31. ^ a b Wolpert, hlm. 17.
  32. ^ Ahmed, hlm. 4–5.
  33. ^ "Quaid on government spending". Business Recorder. 14 December 2011. Diakses tanggal 15 November 2012. 
  34. ^ a b Official website, Government of Pakistan. "The Lawyer: Bombay (1896–1910)". Diarsipkan dari versi asli tanggal 27 January 2006. Diakses tanggal 20 April 2006. 
  35. ^ Bolitho, hlm. 20.
  36. ^ Wolpert, hlm. 29.
  37. ^ Bolitho, hlm. 17.
  38. ^ Wolpert, hlm. 19.
  39. ^ Wolpert, hlm. 158–159, 343.
  40. ^ Ahmed, hlm. 9.
  41. ^ Ahmed, hlm. 10.
  42. ^ Wolpert, hlm. 343.
  43. ^ Wolpert, hlm. 343, 367.
  44. ^ Wolpert, hlm. 361.
  45. ^ Wolpert, hlm. 361–362.
  46. ^ "Profile of Fatima Jinnah". Fatima Jinnah Official website. 
  47. ^ a b "Dina seeks Jinnah House's possession". Dawn. 25 May 2005. Diarsipkan dari versi asli tanggal 29 October 2010. 
  48. ^ Sitapati, Vinay (13 October 2008). "Muslim law doesn't apply to Jinnah, says daughter". The Indian Express. Diakses tanggal 22 April 2010. 
  49. ^ a b Ahmed, Khaled (23 May 1998). "The secular Mussalman". The Indian Express. Diakses tanggal 4 May 2012. 
  50. ^ Nasr, Vali (2006). The Shia Revival: How Conflicts Within Islam Will Shape the Future. New York: W. W. Norton & Co. pp. 88–90. ISBN 978-0-393-32968-1. Diakses tanggal 15 November 2012. 
  51. ^ "Was Jinnah a Shia or Sunni?". United News of India via rediff.com. 9 May 1998. Diakses tanggal 15 November 2012. 
  52. ^ Mohiuddin, hlm. 74–75.
  53. ^ Wolpert, Stanley (22 March 1998). "Lecture by Prof. Stanley Wolpert". humsafar.info. Diakses tanggal 16 August 2012. 
  54. ^ "National public holidays of Pakistan in 2013". Office Holidays. Diarsipkan dari versi asli tanggal 22 April 2013. Diakses tanggal 3 February 2016. 
  55. ^ "Nation celebrates Quaid-e-Azam's birthday". Pakistan Today. 25 Dec 2012. Diarsipkan dari versi asli tanggal 22 April 2013. Diakses tanggal 3 February 2016. 
  56. ^ The Rediscovery of India By Meghnad Desai. Penguin Books India. Diakses tanggal 3 February 2016. 
  57. ^ "Was Quaid-e Azam Jinnah the only founder of Pakistan?". The Milli Gazette. 8 May 2011. Diakses tanggal 3 February 2016. 
  58. ^ Singh, hlm. 406.
  59. ^ Malik, hlm. 134.
  60. ^ Mohiuddin, hlm. 81–82.
  61. ^ Mehmood, Syed Qasim (1998). Encyclopedia Pakistanica. Karachi: Qadir Printers. p. 869. 
  62. ^ Sekhar, A. Saye (7 September 2003). "Tower of harmony in Guntur". The Hindu. Diakses tanggal 15 November 2012. 
  63. ^ Ahmed, hlm. 31.
  64. ^ Talbot, Ian (February 1984). "Jinnah and the Making of Pakistan". History Today. Diakses tanggal 26 October 2012. 
  65. ^ Ahmed, hlm. 200.
  66. ^ Jalal, hlm. 221.
  67. ^ Ahmed, hlm. 27.
  68. ^ Ahmed, hlm. 28.
  69. ^ Seervai, H. M. (2005). Partition of India: Legend and Reality. Oxford University Press. p. 127. ISBN 978-0-19-597719-6. 
  70. ^ Online edition, Hindustan Times. "Pakistan expresses shock over Advani's resignation as BJP chief". Diarsipkan dari versi asli tanggal 9 June 2005. Diakses tanggal 20 April 2006. 
  71. ^ "BJP fears Jaswant’s Jinnah book will re-ignite controversy". The Hindu. Aug 18, 2009. Diakses tanggal 2009-08-20. 
  72. ^ "India state bans book on Jinnah". BBC. 20 August 2009. Diakses tanggal 2009-08-20. 
  73. ^ "Nehru not Jinnah’s polity led to partition". Jai Bihar. Diarsipkan dari versi asli tanggal 22 August 2009. Diakses tanggal 19 August 2009. 
  74. ^ Joy, Santosh (Aug 19, 2009). "BJP expels Jaswant Singh over praise for Jinnah in his book". LiveMint. Diakses tanggal 2009-08-20. 
  75. ^ "Jaswant Singh expelled over Jinnah remarks". Jai Bihar. 19 August 2009. Diarsipkan dari versi asli tanggal 21 August 2009. Diakses tanggal 19 August 2009. 
  76. ^ Lindrea , Victoria (11 October 2004). "Christopher Lee on the making of legends". BBC. Diakses tanggal 5 November 2011. 
  77. ^ "Christopher Lee talks about his favorite role". YouTube. 21 March 2002. Diakses tanggal 5 August 2009. 
  78. ^ "Leading News Resource of Pakistan". Daily Times. Diakses tanggal 2012-02-08. 
  79. ^ Ahmed, hlm. 28–29.
  80. ^ Moore, R. J. (1983). "Jinnah and the Pakistan Demand". Modern Asian Studies (Cambridge University Press) 17 (4): 529–561. doi:10.1017/s0026749x00011069. JSTOR 312235. 
  81. ^ Wolpert, hlm. vii.

Kesalahan pengutipan: Tag <ref> dengan nama "statesman" yang didefinisikan di <references> tidak digunakan pada teks sebelumnya.
Kesalahan pengutipan: Tag <ref> dengan nama "Urdu_Columns_December_2010" yang didefinisikan di <references> tidak digunakan pada teks sebelumnya.

Kesalahan pengutipan: Tag <ref> dengan nama "lawson" yang didefinisikan di <references> tidak digunakan pada teks sebelumnya.

Daftar pustaka[sunting | sunting sumber]

Buku[sunting | sunting sumber]

Jurnal dan media lain[sunting | sunting sumber]

  • Moore, R. J. (1983). "Jinnah and the Pakistan Demand". Modern Asian Studies (Cambridge, U.K.: Cambridge University Press) 17 (4): 529–561. doi:10.1017/S0026749X00011069. JSTOR 312235. 
  • Puri, Balraj (1–7 March 2008). "Clues to understanding Jinnah". Economic and Political Weekly (Mumbai: Sameeksha Trust) 43 (9): 33–35. JSTOR 40277204. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]