Mineirazo

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Mineirazo
TurnamenSemifinal Piala Dunia FIFA 2014
Tanggal8 Juli 2014
StadionEstádio Mineirão, Belo Horizonte, Brasil
Pemain Terbaik
Toni Kroos (Jerman)
WasitMarco Rodríguez (Mexico)
Penonton58,141
CuacaCerah
22 °C (71 °F)
51% kelembaban[1]

Pertandingan Brasil vs Jerman atau disebut juga Mineirazo adalah pertandingan pertama dalam babak semifinal Piala Dunia FIFA 2014. Pertandingan ini dimainkan di Mineirão di kota Belo Horizonte, Brasil, pada 8 Juli 2014.

Baik Brasil maupun Jerman mencapai semifinal tanpa terkalahkan. Di babak perempat final melawan Kolombia, Brasil kehilangan striker Neymar karena cedera dan kapten Thiago Silva karena akumulasi kartu kuning. Meskipun demikian, pertandingan diprediksi akan berlangsung ketat mengingat keduanya adalah langganan juara Piala Dunia, dengan pertemuan terakhir mereka adalah Final Piala Dunia FIFA 2002, yang dimenangkan Brasil dengan skor 2-0. Tetapi pertandingan kali ini berakhir mengerikan bagi Brasil; Jerman sudah memimpin 5-0 di babak pertama, dengan 4 gol dicetak dalam enam menit, dan bertambah menjadi 7-0 di babak kedua. Brasil hanya mencetak satu gol hiburan di menit terakhir, dan pertandingan berakhir dengan skor 7-1. Toni Kroos dari Jerman menjadi pemain terbaik.

Pertandingan ini mencatatkan sejumlah rekor. Kemenangan Jerman menjadi kemenangan terbesar dalam babak semifinal Piala Dunia FIFA. Jerman juga menggeser Brasil sebagai tim pencetak gol terbanyak Piala Dunia dan menjadi tim pertama yang delapan kali mencapai babak final. Miroslav Klose mencetak golnya yang ke-16 sepanjang kariernya di Piala Dunia, melampaui Ronaldo sebagai pencetak gol terbanyak Piala Dunia. Pertandingan ini mengakhiri rentetan 62 pertandingan Brasil di kandang tanpa terkalahkan sejak Copa America 1975 (melawan Peru 1-3). Kekalahan Brasil adalah kekalahan terburuk kedua dalam sejarah setelah kalah 0-6 lawan Uruguay delam kejuaraan sepak bola Amerika Selatan pada tahun 1920.

Oleh media internasional, pertandingan ini dijuluki Mineirazo (bahasa Portugis: Mineiraço, dieja [mineiˈrazu], yang berarti "Tamparan Mineirão"), mengingatkan kembali pada pertandingan Final Piala Dunia FIFA 1950 di mana Brasil kalah dari Uruguay di kandang sendiri. Brasil akhirnya kalah melawan Belanda dalam perebutan juara ketiga, dan Jerman menjadi Juara Dunia keempat kalinya setelah mengalahkan Argentina di babak Final Piala Dunia FIFA 2014.

Latar belakang[sunting | sunting sumber]

Brasil menjadi tuan rumah Piala Dunia FIFA kedua kalinya (setelah 1950), dan telah lima kali menjadi juara. Jerman sudah tiga kali juara tetapi belum pernah meraih gelar dalam 24 tahun terakhir. Brasil kembali menapaki babak semifinal setelah tahun 2002, ketika mereka akhirnya berhasil menjadi juara setelah mengalahkan Jerman; sementara Jerman memecahkan rekor empat kali berturut-turut masuk semifinal. Kedua tim adalah favorit juara, di mana Jerman menempati ranking 2 dan Brasil di tempat ke-3 dalam Peringkat Dunia FIFA.

Perjalanan Brasil menuju semifinal diawali di fase group melawan Kroasia, Meksiko dan Kamerun di Group A, dan melaju dengan nilai tujuh untuk mengalahkan Chili di babak perdelapan final lewat adu penalti, dan Kolombia di perempat final. Jerman bersama dengan Portugal, Ghana dan Amerika Serikat di Group G, dan melaju dengan nilai tujuh untuk mengalahkan Aljazair di babak perdelapan final (perpanjangan waktu) dan Prancis di perempat final. Kedua tim sudah pernah bertanding 21 kali, tetapi pertemuan terakhir mereka dalam babak gugur Piala Dunia adalah Final Piala Dunia FIFA 2002, yang dimenangkan Brasil dengan skor 2-0.

Pemain bertahan sekaligus kapten Brasil, Thiago Silva dilarang bermain karena akumulasi kartu kuning, meskipun sudah diusahakan naik banding oleh Konfederasi Sepak Bola Brasil. Penyerang Neymar juga tidak bisa tampil, bahkan sampai dengan kejuaraan berakhir karena mengalami retak tulang belakang dalam pertandingan semifinal melawan Kolombia. Dante dan Bernard, yang tampil perdana dalam kejuaraan ini, berturut-turut menggantikan Thiago Silva dan Neymar, sementara Luiz Gustavo menggantikan Paulinho sebagai gelandang bertahan. Jerman tidak mengubah formasi perempat final. Kiper Júlio César dan kapten pengganti David Luiz memberi penghormatan pada Neymar dengan memegang kausnya saat menyanyikan lagu kebangsaan. Meskipun bukan formasi utama, analis memperkirakan pertandingan akan berlangsung ketat, karena pendukung tuan rumah memberikan keuntungan.

Pertandingan[sunting | sunting sumber]

Kedua tim melaju ke semifinal tanpa pernah terkalahkan. Pertandingan dipimpin oleh wasit Marco Antonio Rodríguez dari Meksiko, dan menjadi pertandingan penutup kariernya.

Babak pertama[sunting | sunting sumber]

Kedua tim mulai bermain menyerang. Tembakan Marcelo di menit ketiga melebar dan tendangan Sami Khedira di menit ketujuh tanpa sengaja terpental teman satu timnya, Toni Kroos. Di menit ke-11, Jerman mencetak gol dari tendangan sudut pertamanya. Thomas Müller lolos dari kawalan David Luiz di kotak penalti, dan tendangan sudut Toni Kroos diterimanya dengan leluasa untuk ditembakkan ke dalam gawang. Menit berikutnya Brasil berusaha membalas tapi serangan mereka sia-sia; meskipun Philipp Lahm harus menjegal Marcelo untuk mencegahnya mengambil peluang emas dalam kotak penalti. Tetapi di menit ke-23, Jerman mencetak gol lagi setelah kerjasama Kroos dan Müller memberi umpan pada Miroslav Klose, yang mencetak gol setelah menyambar bola hasil tendangannya yang ditepis kiper Júlio César. Ini adalah gol Klose yang ke-16 di Piala Dunia, melampaui Ronaldo dari Brasil sebagai pencetak gol terbanyak Piala Dunia.

Gol Klose mengawali banjir gol Jerman setelah Brasil kehilangan kontrol. Di menit ke-24, Kroos mencetak gol dengan kaki kiri dari tepi kotak penalti menyambar muntahan umpan lambung Lahm. Kemudian, di menit ke-26, hanya beberapa detik setelah kick-off Brasil, Kroos mencuri bola dari Fernandinho di lapangannya sendiri dan bermain satu-dua dengan Khedira untuk mencetak gol lagi. Kedua gol Kroos hanya terpaut 70 detik. Khedira sendiri mencetak gol di menit ke-29 setelah bertukar umpan dengan Mesut Özil. Kelima gol jerman di babak pertama dicetak dalam setengah jam pertama, empat diantaranya dalam rentang enam menit. Tidak ada tembakan Brasil yang tepat sasaran di babak pertama. Banyak suporter Brasil yang terkejut dan menangis. Perkelahian yang terjadi di tribun Mineirão memaksa Polisi Militer mengirimkan pasukan khusus ke dalam stadion.

Babak kedua[sunting | sunting sumber]

Brasil memasukkan Paulinho menggantikan Fernandinho dan Ramires menggantikan Hulk, sehingga permainannya di babak kedua membaik; Kiper Jerman, Manuel Neuer menyelamatkan gawangnya dari tembakan bertubi-tubi Oscar, Paulinho dan Fred. Di menit ke-60, Jerman nyaris mencetak gol lagi, di mana Júlio César dua kali menggagalkan tembakan Müller. Gol Jerman benar-benar datang di menit ke-69 – umpan silang mendatar Lahm mendarat di kaki pemain pengganti André Schürrle, yang menyepaknya dengan santai ke dalam gawang dari jarak dekat. 10 menit kemudian, Schürrle berlari menyambut umpan silang Müller dari kiri dan melepaskan tembakan keras ke dalam tiang dekat Júlio César. Dengan skor 7–0, pendukung tuan rumah yang tersisa menyemangati pemain Jerman sambil berdiri, bertepuk tangan untuk gol Schürrle dan permainan umpan Jerman. Menjelang akhir pertandingan, Özil menerima umpan terobosan tapi tembakannya melenceng tipis. Beberapa detik kemudian, Oscar menerima umpan panjang dan mencetak gol di menit ke-90 sehingga pertandingan berakhir 7–1. Skor akhir tersebut menyamai hasil terburuk Brasil (6–0 lawan Uruguay tahun 1920) dan mengakhiri 62 pertandingan kandang tak terkalahkan. Pemain Brasil meninggalkan lapangan sambil menangis diiringi cemoohan penonton.

Toni Kroos terpilih sebagai pemain terbaik, dengan tiga tembakan, dua gol, ketepatan umpan 93%, satu assist dan dua peluang.

Penyerang Brasil Fred, yang digantikan Willian di menit ke-70, diejek habis-habisan oleh pendukungnya sendiri. Menurut Opta Sports, Fred tak sekalipun berhasil menjegal, mengumpan, menggiring atau merebut bola sepanjang pertandingan, dan benar-benar menghabiskan sebagian besar waktunya dengan bola di titik tengah lapangan karena enam kali kick off.

Detail[sunting | sunting sumber]

8 Juli 2014
17:00
Brasil  1–7  Jerman
Oscar Gol 90' Laporan Müller Gol 11'
Klose Gol 23'
Kroos Gol 24'26'
Khedira Gol 29'
Schürrle Gol 69'79'
Brasil
Jerman
GK 12 Júlio César
RB 23 Maicon
CB 4 David Luiz (c)
CB 13 Dante Diberikan kartu kuning pada menit ke-68 68'
LB 6 Marcelo
CM 5 Fernandinho Keluar digantikan pada menit ke-46 46'
CM 17 Luiz Gustavo
RW 7 Hulk Keluar digantikan pada menit ke-46 46'
AM 11 Oscar
LW 20 Bernard
CF 9 Fred Keluar digantikan pada menit ke-70 70'
Cadangan:
GK 1 Jefferson
DF 2 Dani Alves
MF 8 Paulinho Masuk menggantikan pada menit ke-46 46'
DF 14 Maxwell
DF 15 Henrique
MF 16 Ramires Masuk menggantikan pada menit ke-46 46'
MF 18 Hernanes
MF 19 Willian Masuk menggantikan pada menit ke-70 70'
FW 21
GK 22 Victor
Pelatih:
Luiz Felipe Scolari
BRA-GER 2014-07-08.svg
GK 1 Manuel Neuer
RB 16 Philipp Lahm (c)
CB 20 Jérôme Boateng
CB 5 Mats Hummels Keluar digantikan pada menit ke-46 46'
LB 4 Benedikt Höwedes
CM 6 Sami Khedira Keluar digantikan pada menit ke-76 76'
CM 7 Bastian Schweinsteiger
RW 13 Thomas Müller
AM 18 Toni Kroos
LW 8 Mesut Özil
CF 11 Miroslav Klose Keluar digantikan pada menit ke-58 58'
Cadangan:
GK 12 Ron-Robert Zieler
DF 2 Kevin Großkreutz
DF 3 Matthias Ginter
FW 9 André Schürrle Masuk menggantikan pada menit ke-58 58'
FW 10 Lukas Podolski
MF 14 Julian Draxler Masuk menggantikan pada menit ke-76 76'
DF 15 Erik Durm
DF 17 Per Mertesacker Masuk menggantikan pada menit ke-46 46'
MF 19 Mario Götze
GK 22 Roman Weidenfeller
MF 23 Christoph Kramer
Pelatih:
Joachim Löw

Man of the Match:
Toni Kroos (Jerman)

Asisten wasit:
Marvin Torrentera (Meksiko)
Marcos Quintero (Meksiko)
Ofisial keempat:
Mark Geiger (Amerika Serikat)
Ofisial kelima:
Mark Hurd (Amerika Serikat)

Rekor[sunting | sunting sumber]

Hasil pertandingan ini adalah selisih kemenangan terbesar di babak semifinal maupun final Piala Dunia, dan juga kekalahan terburuk yang dialami tuan rumah sepanjang sejarah Piala Dunia (dua kali lipat sebelumnya). Setelah pertandingan ini berakhir, total 167 gol telah dicetak selama Piala Dunia 2014, kedua terbanyak setelah Piala Dunia 1998 (171 gol). Tembakan tepat (gabungan kedua tim) tercipta sebanyak 18 kali, terbanyak di waktu normal sepanjang Piala Dunia 2014. Pertandingan ini juga mencatat empat gol tercepat sepanjang sejarah Piala Dunia, di mana Jerman mencatatkannya dalam enam menit (23' sampai 29'); tahun 1954, Austria butuh tujuh menit (25'-32'), juga Hongaria pada tahun 1982 (69'-76') untuk mencetak empat gol. Jerman menyamai rekor Austria membobol gawang tuan rumah Piala Dunia (mengalahkan Swiss 7-5 dalam Piala Dunia 1954). Jerman juga menggeser Brasil sebagai pencetak gol terbanyak dalam sejarah Piala Dunia (223), melewati 221 gol Brasil. Sebelum pertandingan, kedua tim sama-sama pernah memainkan tujuh partai final, dan sekarang Jerman menjadi satu-satunya tim yang delapan kali mencapai final.

Bagi Brasil, kekalahan ini adalah yang terburuk, menyamai kekalahan 6-0 melawan Uruguay tahun 1920, dan menjadi yang terburuk di kandang sendiri. Sebelumnya mereka kalah 5-1 dari Argentina di Rio de Janeiro tahun 1939. Kekalahan ini memutus rekor 62 pertandingan tak teralahkan di kandang dalam kompetisi resmi, sejak kalah 1-3 dari Peru dalam Copa America 1975 (yang juga dimainkan di Estádio Mineirão di Belo Horizonte). Terakhir kali Brasil kalah di semifinal Piala Dunia adalah tahun 1938, melawan Italia di Marseille. Brasil tidak pernah kebobolan tujuh gol di kandang, meskipun dalam pertandingan persahabatan pernah kalah 4-8 dari Yugoslavia 3 Juni 1934. Terakhir kali mereka kebobolan setidaknya lima gol adalah saat menang 6-5 lawan Polandia di Piala Dunia 1938, setidaknya empat gol saat kalah 2-4 dari Hongaria di Piala Dunia 1954. Selisih kekalahan terbesar Brasil di Piala Dunia sebelumnya adalah dari Prancis (0-3) dalam Final Piala Dunia 1998. Ini juga hasil terburuk mereka melawan Jerman, melampaui kekalahan 0-2 dalam pertandingan persahabatan 1986.

Bagi Jerman, untuk keempat kalinya berturut-turut mereka masuk posisi tiga besar Piala Dunia, bahkan satu-satunya yang delapan kali mencapai final. Mereka juga mencatat rekor 12 kali bertanding di semifinal, dan menjadi yang pertama kali mencetak 7 gol di babak semifinal Piala Dunia. Sebelumnya, tim yang pernah mencetak enam gol di semifinal adalah Jerman Barat melawan Austria tahun 1930 dan 1954. Jerman memecahkan rekor pribadi memimpin dengan selisih gol terjauh di babak pertama, setelah sebelumnya memimpin 4-0 melawan Arab Saudi tahun 2002 (berakhir 8-0, kemenangan terbesar Jerman di Piala Dunia). Sebelumnya hanya ada dua tim yang tertinggal setidaknya lima gol di babak pertama: Zaire (vs Yugoslavia 1974) dan Haiti (vs Polandia 1974).

Pemain Jerman Miroslav Klose menyamai rekor Cafu asal Brasil sebagai pemain yang terbanyak memenangkan pertandingan Piala Dunia (16 kali). Klose bermain di 23 pertandingan Piala Dunia, menyamai Paolo Maldini di tempat kedua di belakang Lothar Matthäus (25). Klose memainkan lebih banyak pertandingan di babak gugur (13) daripada Matthäus atau Cafu, dan menjadi satu-satunya pemain yang bermain di empat semifinal Piala Dunia (Uwe Seeler memainkan tiga partai semifinal). Dalam pertandingan tersebut, ia memecahkan rekor pencetak gol terbanyak dalam Piala Dunia dengan 16 gol, menggulingkan Ronaldo dari Brasil, yang kebetulan hadir sebagai komentator pertandingan itu. Gol Thomas Müller adalal gol timnas Jerman ke-2000. Müller menjadi pemain ketiga yang mencetak lima gol atau lebih dalam dua Piala Dunia yang berbeda (setelah Klose dan Teófilo Cubillas dari Peru) dan pemain kedua yang mencetak lima gol atau lebih dalam dua Piala Dunia berturut-turut (setelah Klose). Dua gol Toni Kroos yang terpaut 69 detik di babak pertama adalah sepasang gol tercepat dari pemain yang sama dalam sejarah Piala Dunia.

Reaksi[sunting | sunting sumber]

Profesional[sunting | sunting sumber]

Setelah Jerman mencetak gol ketujuh, Neymar yang menonton pertandingan lewat televisi, mematikannya dan beralih bermain poker. Pelatih Brasil Luiz Felipe Scolari mengatakan bahwa hasil pertandingan tersebut adalah "kekalahan terburuk timnas Brasil" dan ia bersedia memikul seluruh tanggung jawab. Ia menyebutnya "hari terburuk dalam hidup saya," dan mengundurkan diri setelah kejuaraan. Kapten pengganti David Luiz dan kiper Júlio César meminta maaf pada rakyat Brasil. Fred, yang dicemooh pendukungnya sepanjang pertandingan, mengatakan kekalahan tersebut adalah yang terburuk dalam kariernya dan teman-temannya. Ia juga mengundurkan diri dari timnas setelah kejuaraan. Setelah pulih dari cedera, Neymar memberikan dukungan bagi rekan setimnya, dan meskipun kalah 7-1, ia tetap bangga menjadi bagian dari tim.

Saat pertandingan berlangsung, tim Jerman menyadari ada yang tidak beres dengan pertandingan tersebut. Dalam wawancara pasca pertandingan, Mats Hummels mengatakan mereka memutuskan tidak mau mempermalukan Brasil di babak kedua maupun sesudah pertandingan.

Maka Jerman juga tidak berlebihan dalam merayakan gol; mereka melambaikan tangan tapi tidak melompat-lompat atau berteriak-teriak. Pelatih Joachim Löw mengatakan timnya memiliki "rencana permainan yang jelas dan mantap," dan saat mereka menyadari Brasil mulai goyah, mereka mengambil peluang. Sementara Brasil panik, pemain Jerman tetap berkepala dingin. Toni Kroos, yang menjadi pemain terbaik, menambahkan bahwa "sepanjang kejuaraan, Brasil tidak dalam permainan terbaiknya", dan tim mereka memasuki pertandingan dengan pengetahuan taktis untuk menangkal Brasil: "kami merebut semua bola dan mencetak gol". Löw juga mengatakan timnya tidak terjebak euforia selama dan setelah pertandingan, karena kemenangan 7-1 itu tidak ada artinya dibandingkan partai final yang sudah menunggu. "Kami tidak berpesta," katanya, "kami senang, tapi masih ada pekerjaan lagi".

Setelah pertandingan, pemain Jerman berusaha menghibur Brasil. Löw, Per Mertesacker dan Philipp Lahm bahkan menyamakan tekanan yang dialami Brasil dan kekalahan yang menyakitkan itu dengan Jerman sendiri saat menyelenggarakan Piala Dunia FIFA 2006, dan juga kalah di semifinal. Lahm menambahkan, ia merasa "tidak enak" selama pertandingan dan "tidak terlalu gembira", karena Brasil membuat kesalahan yang "tidak umum dilakukan di tahap ini", dan Mertesacker mengatakan bahwa meskipun Jerman memimpin, "menontonnya dari bangku cadangan saja terasa gila". Kroos mengatakan, meskipun Brasil memiliki pemain yang hebat, "mereka tidak bisa menampilkan permainan terbaiknya" karena banyak tekanan dari luar, dan percaya "mereka akan kembali menjadi lebih baik". Löw mengamati setelah pertandingan rakyat Brasil memberi selamat pada timnya. Surat kabar Brasil O Globo mengapresiasi sikap hormat pemain Jerman, dengan menyebutnya "juara dunia simpati".

Legenda sepak bola Brasil, Pelé, mencuiat, "Saya selalu bilang, sepak bola itu penuh kejutan. Tak seorangpun di dunia bisa meramalkan hasil ini," dan "[Brasil] akan berusaha mencapai gelar keenam di Rusia. Selamat untuk Jerman." Carlos Alberto Torres, kapten Brasil yang juara tahun 1970, mengatakan negaranya kalah karena "merasa sudah menang". Ia menambahkan, "Jerman bermain seperti yang saya suka dan taktik Scolari kali ini bunuh diri". Pelatih Argentina, Alejandro Sabella, bingung menjelaskan kekalahan Brasil. "Sepak bola itu tidak logis," katanya. Sebaliknya, legenda Argentina Diego Maradona malah tampak menyanyi lagu mengejek kekalahan Brasil.

Media[sunting | sunting sumber]

Koran-koran di Brasil menanggapi hasil tersebut dengan kepala berita seperti "Aib Terbesar dalam Sejarah" (Lance!), "Penghinaan Bersejarah" (Folha de S.Paulo) dan "Brasil Dibantai" (O Globo). Koran Jerman Bild memberitakan "Kegilaan 7–1" oleh "Tim DFB Kilat". L'Équipe hanya menulis, "Le Désastre" (Musibah). Dalam kolomnya di Sky Sports, Matthew Stanger menyebut pertandingan tersebut sebagai "penghinaan terburuk", dan Miguel Delaney dari ESPN menyebutnya Mineirazo, meminja istilah pers Amerika Selatan yang berbahasa Spanyol.

Barney Ronay dalam The Guardian menyebutnya "kekalahan tuan rumah Piala Dunia yang paling memalukan sepanjang sejarah", dan Joe Callaghan dari The Independent menyebutnya "malam paling gelap dalam sejarah sepak bola Brasil". Wyre Davies, koresponden BBC di Rio de Janeiro, melaporkan reaksi rakyat Brasil di stadion dan taman sekitarnya sebagai "rasa terkejut, malu dan hina yang melanda seluruh bangsa Brasil mustahil untuk diabaikan". Jurnalis sepak bola Tim Vickery menyebutkan bahwa hasil tersebut bisa menjadi katalis untuk segera mereformasi kompetisi klub sepak bola Brasil, yang menurutnya sudah tertinggal jauh dibandingkan negara lain, dan berpuas diri pada sejarah kesuksesan tim nasionalnya. Menurutnya, ini adalah kesempatan untuk "belajar dari identitas sejarahnya dan membingkainya dalam konteks global yang modern". Banyak yang membandingkan dengan Maracanazo yang membuat Brasil kehilangan gelar di kandang tahun 1950, dan bahkan media Brasil menganggap kekalahan tahun 2014 ini membersihkan nama baik tim tahun 1950.

Analis membedah kelemahan taktis dan teknis yang berujung pada hasil buruk tersebut. Scolari masih bergantung pada tim yang menjuarai Piala Konfederasi FIFA 2013, meskipun banyak pemain yang kemudian mandul, dan bahkan banyak yang belum pernah ikut Piala Dunia. Brasil tidak bermain cukup baik di fase group dan dua pertandingan gugur sebelumnya, terlalu mengandalkan Neymar untuk menyerang, dan kekurangan mereka terpapar di semifinal ketika berhadapan dengan Jerman yang jauh lebih tangguh dari lawan-lawan sebelumnya. Neymar terlalu dijadikan fokus, sampai-sampai tim nyaris tidak pernah berlatih formasi tanpa dirinya. Ketika ia tidak hadir, Scolari menggantinya dengan Bernard untuk mempertahankan tradisi menyerang sepak bola Brasil, bukannya menuruti "saran logis untuk menambah pemain tengah" melawan Jerman. Padahal asisten pelatih saja sudah setuju untuk memasukkan Ramires dan Willian yang lebih defensif. Akibatnya, Fernandinho dan Luiz Gustavo kewalahan meladeni trio lapangan tengah Jerman yang terdiri dari Toni Kroos, Sami Khedira dan Bastian Schweinsteiger. Pertahanan yang sudah diragukan di pertandingan sebelumnya langsung berantakan setelah Dante terbukti tidak cukup baik menggantikan Silva, dan David Luiz terus membuat kesalahan fatal. Kesalahan lainnya mencakup memasang Marcelo untuk lebih bermain menyerang, sementara Gustavo ditugasi melapisi dirinya, dan peran Fred yang tidak efektif sebagai eksekutor gol, padahal sejatinya ia adalah striker taktis.

Kelanjutan[sunting | sunting sumber]

Brasil berakhir di tempat keempat setelah kalah 0–3 di perebutan juara ketiga dari Belanda pada 12 Juli. Kekalahan tersebut menyamai hasil terburuk mereka sebelumnya di Piala Dunia, 0–3 melawan Prancis di Final 1998,sehingga mereka kebobolan 14 gol sepanjang turnamen, terburuk dalam sejarah Brasil, terbanyak yang diderita tuan rumah Piala Dunia, dan terbanyak untuk tim manapun sejak Belgia kebobolan 15 pada tahun 1986. Jerman melaju untuk menjuarai Piala Dunia keempat kalinya, pertama kali sejak menjadi negara bersatu, setelah mengalahkan Argentina 1–0 di pertandingan final 13 Juli di stadion Maracanã. Jerman mendapat dukungan dari suporter Brasil meskipun sudah menyingkirkan tuan rumah, karena mereka melawan musuh bebuyutannya, Argentina.

Dua kekalahan beruntun di kandang yang pertama sejak 1940 mengakibatkan Luiz Felipe Scolari mengundurkan diri pada 15 Juli. Dua minggu kemudian Konfedarsi Sepak Bola Brasil memanggil kembali Dunga sebagai pelatih kepala timnas Brasil. Ia sudah pernah menukangi timnas dari 2006 sampai 2010, lalu dipecat karena kalah 2–1 melawan Belanda dalam perempat final Piala Dunia FIFA 2010. Tetapi ia kemudian dipecat lagi setelah Brasil tersingkir di fase group Copa América Centenario di Amerika Serikat dua tahun kemudian.

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "Tactical Line-up" (PDF). FIFA Official Website. 8 July 2014. Diakses tanggal 8 July 2014.