Mengkendek, Tana Toraja
Mengkendek | |||||
|---|---|---|---|---|---|
| Negara | |||||
| Provinsi | Sulawesi Selatan | ||||
| Kabupaten | Tana Toraja | ||||
| Pemerintahan | |||||
| • Camat | - | ||||
| Populasi | |||||
| • Total | - jiwa | ||||
| Kode Kemendagri | 73.18.12 | ||||
| Kode BPS | 7318020 | ||||
| Luas | 196,74 km² | ||||
| Kepadatan | - jiwa/km² | ||||
| Desa/kelurahan | 13 lembang 4 kelurahan | ||||
| |||||
Mengkendek (ᨆᨙᨃᨙᨉᨙ) adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan, Indonesia.
Sejarah pembentukan
[sunting | sunting sumber]Mitologi orang Toraja mengungkapkan bahwa manusia Toraja pertama diciptakan Puang Matua di langit melalui puputan kembar, dan materi dasarnya dari emas murni. Hal ini diungkapkan oleh "tominaa" dalam acara "merok" dan itu diungkapkan dalam ritual "masomba tedong" di mana nama manusia pertama adalah "Datu Laukku' (perempuan). Datu Laukku' delapan bersaudara, tetapi hanya Datu Laukku' yang menjadi manusia. Saudara lainnya berupa mahluk lain (neneknya ipuh, kapas, hujan, ayam, kerbau, besi dan padi) berupa binatang dan tanaman seperti yang ada sekarang.[1]
Keturunan Datu Laukku' adalah yang pertama turun ke bumi yang bernama Puang Buralangi'. Sesudah mendiami bumi, maka dari keluarga Puang Buralangi' lahirlah Pong Mula tau. Selanjutnya dari keluarga Pong Mulatau (manusia pertama) lahirlah Londong di Langi dan Londong Dirura. Sebagai tempat manusia pertama bermukim di bumi adalah di Bamba Puang. Selanjutnya dalam perkembangannya, manusia yang berkembang di Rura menjadi semakin banyak.
Pada suatu saat, Londong Dirura dan istrinya Sa'pak diGaleto yang mempunyai beberapa anak laki laki dan perempuan merencanakan untuk mengawinkan anak-anaknya yang berjumlah delapan orang. Rencana ini direlaisasikan. Akan tetapi perkawinan ini tidak dikehendaki Puang Matua, sehingga tanah di Rura tempat mereka bermukim di kutuk oleh Puang Matua. Dalam pernikahan tersebut orang orang yang hadir mati terbakar oleh apa dari langit dan tanah tempat mereka bermikin yang namanya di Rura tenggelam (tallan di Rura).
Berdasarkan hal itu, maka tanah tersebut dianggap sebagai tanah terkutuk, maka kelompok manusia yang ada pada waktu itu pindah ke bagian Utara, yang dalam pemerintahan sekarang ini di kecamatan Mengkendek, tempat yang dikenal dengan nama Banua Puan. Kelompok yang berpindah ke Mengkendek dikepalai oleh Tangdilino'. Dibawah kepemimpinan Tangdilino' lah maka Tongkonan Banu Puan di bangun.[1]
Pada tahun 1961, administrasi pemerintahan di Kabupaten Daerah Tingkat II Tana Toraja mengalami perubahan. Perubahan ini terjadi karena diterbitkannya Surat Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Sulawesi Selatan Nomor 2067 A. Dalam surat ini, Tana Toraja yang awalnya terdiri dari 15 distrik dengan jumlah kampung sebanyak 410 kampung berubah menjadi terdiri dari 9 kecamatan dengan 135 kampung. Salah satu kecamatan yang dibentuk ialah Kecamatan Mengkendek. Kemudian diadakan pembentukan desa gaya baru melalui Surat Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Sulawesi Selatan Nomor 450/XII/1965. Surat keputusan ini diterbitkan tanggal 20 Desember 1965.[2]
Berdasarkan surat keputusan tersebut, ditetapkan lagi Surat Keputusan Bupati Kepala Daerah Tingkat II Tana Toraja Nomor 152/SP/1967. Penerbitan surat ini pada tanggal 7 September 1967 dan isinya tentang pembentukan Desa Gaya Baru. Sebanyak 65 Desa Gaya Baru ditetapkan dalam Kabupaten Daerah Tingkat II Tana Toraja. Desa-desa ini kemudian terbagi menjadi 186 Kampung. Pada ketetapan ini, Kecamatan Mengkendek terbagi menjadi 10 desa dan 20 kampung.[2]
Kecamatan ini berada di bagian selatan dari Kabupaten Tana Toraja dengan ibu kota Ge'tengan. Pada tahun 2007, kecamatan ini dimekarkan sehingga muncul kecamatan baru yaitu Kecamatan Gandang Batu Sillanan.
Daftar lembang dan kelurahan
[sunting | sunting sumber]Kec. Mengkendek terbagi atas 13 lembang:
- Buntu Datu
- Buntu Tangti
- Gasing
- Ke'pe Tinoring
- Marinding
- Pakala
- Palipu
- Patengko
- Randanan
- Rante Dada
- Simbuang
- Uluway
- Uluway Barat
dan 4 kelurahan:
Transportasi Udara
[sunting | sunting sumber]Referensi
[sunting | sunting sumber]- 1 2 Kompasiana.com (2025-12-06). "Toraya 15 : Dari manakah manusia Toraja itu ? Dalam versi mitologi orang Toraja". KOMPASIANA. Diakses tanggal 2025-12-23.
- 1 2 Patarai, M. I., Ibrahim, S., dan Tasbih, I. (Juni 2021). Toraja: Implikasi Budaya dalam Pemekaran Daerah (PDF). Makassar: Penerbit De La Macca. hlm. 23. ISBN 978-602-263-190-3. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
