Masjid Asasi Padang Panjang

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Jump to navigation Jump to search
Masjid Asasi
Mesjid Asasi Padangpanjang.jpg
Informasi umum
Letak Kota Padang Panjang, Sumatera Barat, Indonesia
Deskripsi arsitektur
Jenis arsitektur Masjid
Gaya arsitektur Minangkabau tradisional
Spesifikasi
Kapasitas 200 orang[1]
Tinggi (maks) 25 meter (82 kaki)[2]

Masjid Asasi terletak di Nagari Sigando, Kota Padangpanjang, Sumatera Barat. Masjid ini diperkirakan berdiri sejak abad ke-18 dan tercatat sebagai masjid tertua di Padangpanjang. Arsitekturnya mengikuti bentuk masjid tradisional Minangkabau.

Sejak didirikan, konstruksi masjid tidak mengalami kerusakan berarti, walaupun dilanda gempa besar pada 1926 dan 2009. Pemugaran yang dilakukan berupa penggantian atap ijuk dan dinding tidak mengubah keaslian bentuk masjid. Pemerintah Indonesia telah menetapkannya sebagai benda cagar budaya di bawah Badan Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Sumatera Barat, Riau, dan Kepulauan Riau.

Saat ini, Masjid Asasi menjadi salah satu daya tarik wisata di Padangpanjang.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Tidak diketahui pasti kapan bangunan masjid didirikan. Catatan Kerapatan Adat Nagari setempat menyebutkan, Masjid Asasi didirikan pada 1770. Namun, Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Sumatera Barat merujuk tahun 1702 sebagai awal pendirian masjid.[3][4]

Cikal bakal masjid berawal dari surau yang didirikan oleh suku yang mendiami Nagari Gunung. Surau tersebut terbuat dari kayu dan atap terbuat dari ijuk. Menurut sumber Harian Haluan, Masjid Asasi semula dikenal dengan Surau Gadang. Penamaan Asasi sendiri baru muncul setelah tahun 1930. Asasi berasal dari kata "asas" dalam bahasa Arab yang berarti dasar atau sesuatu yang jadi tumpuan.[4]

Gagasan pembangunan masjid dicetuskan oleh penduduk Nagari Gunung dan tiga nagari sekiatnya: Paninjauan, Tambangan, dan Jawo. Keempat nagari ini menjadikan Masjid Asasi sebagai pusat aktivitas keagamaan mereka. Seiring perjalanan waktu, masing-masing nagari mulai membangun sendiri masjid yang lokasinya lebih dekat.

Pada masa sebelum kemerdekaan, masjid ini pernah menjadi basis pengembangan Islam melalui kehadiran Madrasah Thawalib Gunuang yang berlokasi di sekitar masjid.

Konstruksi[sunting | sunting sumber]

Secara umum, komponen bahan bangunan masjid terbuat dari kayu, mulai dari dinding, lantai, dan tiang penyangga.[5]

Ruang utama ditopang oleh delapan tiang penyangga dan sebuah tonggak macu di tengah. Tonggak macu berukuran lebih besar dari tiang-tiang lainnya dengan diameter 1,5 m dan tinggi 15 meter, berbahan kayu dilapisi beton.

Dinding bangunan dipenuhi dengan ragam hias motif flora, ukiran khas tradisional Minangkabau. Terdapat jendela kaca berdaun dua pada dinding sisi utara dan selatan, masing-masing berjumlah empat. Jendela serupa terdapat pula di bagian mihrab, masing-masing satu di sisi utara dan selatan mihrab.[5]

Atap masjid terbuat dari seng, berundak-undak sebanyak tiga tingkat. Berbentuk limas, permukaan atap dibuat cekung, cocok untuk daerah beriklim tropis karena dapat lebih cepat mengalirkan air hujan. Adapun atap mihrab berbentuk gonjong, terpisah dari atap ruang utama.

Ruangan[sunting | sunting sumber]

Masjid Asasi berdiri di atas tanah berukuran 25 x 22 m. Ruang utama yang merupakan ruang salat memiliki denah dasar berukuran 13,1 m x 13,1 m. Letaknya ditinggikan sekitar satu meter dari permukaan tanah, membentuk kolong. Mihrab dibuat menjorok pada sisi barat, berdenah 2,2 m x 4,6 m. Terdapat serambi pada sisi timur berupa ruangan tertutup berukuran 5 m x 4,4 m tanpa jendela. Tangga masuk masjid berada pada sisi kiri dan kanan serambi berupa coran semen.[5]

Ruangan serambi difungsikan sebagai ruangan pengurus masjid dan disekat dari ruang utama. Di ruang belakang, terdapat sekumpulan benda kuno, berupa brankas peninggalan Belanda dan beberapa lembar tafsir Alquran beraksara Arab-Melayu.[4]

Pada bagian mihrab, terdapat mimbar yang terbuat dari kayu papan.

Bangunan lain[sunting | sunting sumber]

Masjid dikelilingi pagar besi di bagian selatan dan pagar tembok di bagian barat dan utara. Untuk memasuki area masjid, terdapat pintu gerbang di sebelah selatan.

Terpisah dari bangunan induk, terdapat bangunan panggung di sebelah utara seperti tempat penyimpanan padi. Bangunan ini digunakan untuk tempat bedug yang terbuat dari kayu kelapa.[2]

Tempat wudhu berada di luar pagar, di bawah bangunan rumah garin masjid. Sumber air berasal dari mata air di sekitar masjid yang oleh masyarakat disebut "bulaan". Pintu masuknya berada di sebelah barat, melalui tangga menurun.

Rujukan[sunting | sunting sumber]

Catatan kaki
Daftar pustaka

Pranala luar[sunting | sunting sumber]