Makam Sunan Giri

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Makam Sunan Giri
Nama sebagaimana tercantum dalam
Sistem Registrasi Nasional Cagar Budaya
Makam Sunan Giri Gapura Undakan Pertama.jpg
Gapura undakan pertama makam Sunan Giri
Logo Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman.png Cagar budaya Indonesia
PeringkatNasional
KategoriSitus
No. RegnasCB.102
Lokasi
keberadaan
Kabupaten Gresik, Jawa Timur
No. SK247/M/2015
Tanggal SK21 Desember 2015
Tingkat SKMenteri
Koordinat7°09′18″S 112°34′20″E / 7.1550°S 112.5722°E / -7.1550; 112.5722
Makam Sunan Giri is located in Kabupaten Gresik
Makam Sunan Giri
Lokasi Makam Sunan Giri di kabupaten Gresik

Makam Sunan Giri atau Kompleks Pemakaman Sunan Giri adalah salah satu pemakaman khusus dari salah satu Walisanga atau Wali Sembilan, penyebar agama Islam di Pulau Jawa. Kompleks yang terletak di Kecamatan Kebomas, Kabupaten Gresik ini merupakan tempat persemayaman jasad Sunan Giri atau yang bernama asli Raden Paku Muhammad Ainul Yaqin. Selain jasad Sunan Giri, kompleks ini juga bersemayam jasad-jasad keluarga seperti ibu asuh,[1] istri-istri, dan putera-puterinya.[2] Kompleks Makam Sunan Giri ini dulunya adalah lokasi kerajaan Giri Kedaton yang didirikan oleh Sunan Giri pada 9 Maret 1487[1]

Sejarah Singkat[sunting | sunting sumber]

Gapura menuju undakan pertama, 1951

Pegirian yang terletak di lereng bukit wilayah Kelurahan Sidomukti, Kecamatan Kebomas, Kabupaten Gresik ini adalah tempat dimana Sunan Giri mendirikan padepokan belajar kitab kuning. Tempat ini memiliki nama resmi sebagai kerajaan disebut dengan Giri Kedaton. Astana Giri Kedaton memiliki tiga tingkatan undakan secara geografis. Undakan pertama adalah selasar tempat dimana berlangsungnya kegiatan belajar mengajar pendidikan agama Islam. Selain itu, selasar ini juga digunakan penduduk untuk berkegiatan dan beribadah. Undakan kedua adalah lahan pemakaman keluarga di sisi barat. Di sisi timur terdapat menara, gapura, dan masjid yang pada masa lampau dimanfaatkan untuk mengumandangkan adzan (panggilan untuk beribadah).

Giri Kedaton berasal dari kata Datu yang memiliki arti Raja.[1] Kata datu tersebut mengalami berubahan vokal ketika didengar dan disebutkan oleh para penduduk. Hal tersebut menjadikan perubahan kata datu menjadi Kedatuan atau Kedaton. Sedang arti kata kedaton itu sendiri memiliki makna sebagai tempat raja.[3] Tempat ini dulunya menjadi singgasana para raja dari keturunan Sunan Giri, tempat pendidikan pondok pesantren, tempat pertemuan masyarakat (pada wilayah undakan pertama), hingga pada akhirnya menjadi kompleks pemakaman keluarga kerajaan.

Denah Pemakaman[sunting | sunting sumber]

Kompleks pemakaman yang terletak pada ketinggian 120 meter di atas permukaan laut (mdpl)[2] ini masih melestarikan konsep undaan bangunan Kerajaan Astana Giri Kedaton. Pada selatan gapura bagian utara, terdapat kompleks makam Sunan Prapen beserta keluarganya. Kompleks pemakaman Sunan Prapen dan keluarganya ini sedikit menjorok keluar dari kompleks pemakaman Sunan Giri. Raja keempat dari Giri Kedaton tersebut merupakan keturunan Sunan Giri yang paling sukses membawa kerajaan dan menyebarkan Islam di wilayah Jawa bagian Timur.

Astana Giri Kedaton dikelilingi gunung-gunung berstatus mati seperti Gunung Wurung. Gunung Wurung ini berasal dari kisah sakit keras dan meninggalnya ibu asuh Sunan Giri bernama Nyai Ageng Pinatih pada 1478.[4] Atas kisah kesedihan itu, gunung ini diberi nama Gunung Wurung. Gunung ini berlokasi di bagian selatan Astana Giri Kedaton yang dimana jasad Ageng Pinatih disemayamkan. Kemudian pada sisi timur Astana Giri Kedaton terdapat Gunung Petukangan. Disebut demikian karena di tempat itu Sunan Giri bersama Syeh Koja dan Syeh Grigis bergotong-royong bersama murid-muridnya untuk membangun mushala (tempat ibadah umat Islam berukuran kecil-sedang). Pada Gunung Petukangan ini, banyak dimakamkan jasad para murid dari Sunan Giri. Terutama yang berjasa ketika berperang melawan pasukan Kerajaan Mataram.[5] Kemudian gunung terakhir yang kini telah tiada wujud puncaknya adalah Gunung Batang. Di Gunung Batang ini Sunan Giri mendapatkan wahyu secercah cahaya yang kemudian membimbingnya mengembangkan kekuasaan dan kekuatan Giri Kedaton melalui santri-santrinya (murid-murid belajar pada pondok pesantren) yang solid.

Terdapat satu lagi tempat yang merupakan hasil temuan dan kerja keras Sunan Giri beserta murid-muridnya. Adapun tempat tersebut bernama Sumber. Tempat ini adalah tempat galian yang memunculkan sumber mata air deras yang pada masanya dimanfaatkan sebagai pengairan. Kemudian tempat ini dinamai sebagai Desa Sumberrejo. Hingga kini, Desa Sumberrejo ini memasok mayoritas pengairan dan kebutuhan air wilayah Kabupaten Gresik.[6]

Kompleks pemakaman keluarga inti yang terdiri dari anak-anak dan istri-istri Sunan Giri berada pada undakan ketiga. Pada lingkaran undakan kedua, disemayamkan jasad-jasad kerabat dekat, saudara kandung, serta saudara satu asuh Sunan Giri. Selain itu, di luar pagar terdapat makam Sunan Prapen atau nama lahirnya Mas Ratu Pratikal beserta makam keluarganya.[5]

Selingkung Mitos di Giri Kedaton[sunting | sunting sumber]

Kini Astana Giri Kedaton menjadi salah satu tempat wisata dan ziarah bagi umat Islam dan para sejarawan.[7] Bagi para turis ziarah, terdapat sebuah kisah buah mengkudu yang pohonnya dulu tumbuh subur di sekitar lahan Giri Kedaton. Buah mengkudu di lingkup Giri Kedaton ini memiliki ciri khas unik, yaitu buah tanpa biji.[8] Keberadaan buah mengkudu ini dijadikan salah satu agenda tur di Kompleks Pemakaman Sunan Giri. Buah yang hanya tumbuh di kompleks pemakaman ini unik, dikarenakan terbukti selalu gagal ditanam di tempat selain Astana Giri Kedaton. Buah ini dipercaya oleh para pengunjung dan peziarah memiliki khasiat untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit[9]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c Grissee Tempo Doeloe. Kabupaten Gresik: Pemerintah Kabupaten Gresik. 2004. hlm. 13. 
  2. ^ a b Metini, Wanda (2004). Grissee Tempo Doeloe. Kabupaten Gresik: Pemerintah Kabupaten Gresik. hlm. 51. 
  3. ^ Soeparmo, Raden; Hidajat, Sudibjo Zoelkanaen (1981). Babad Trunajaya - Surapati. DKI Jakarta: Balai Pustaka. hlm. 68. 
  4. ^ Iksan, Ashadi (26 Mei 2018). "Nyai Ageng Pinatih, Saudagar yang Aktif Berdakwah". daerah.sindonews.com. Diakses tanggal 10 Januari 2020. 
  5. ^ a b (terj.) (2007). Babad Tanah Jawi: Mulai dari Nabi Adam Sampai Tahun 1647. Kota Yogyakarta: Penerbit Narasi. hlm. 228. ISBN 9791680477. 
  6. ^ Firmansyah, Wahyu (2018). Sang Gresik Bercerita Lagi: Kisah-kisah Kearifan Gresik Tempo Dulu. Kabupaten Gresik: Yayasan Mataseger. hlm. 339. ISBN 9786027115552. 
  7. ^ Rosyida, Ulfa (24 Januari 2017). "Mencari Berkah di Makam Sunan Giri". liputan6.com. Diakses tanggal 9 Januari 2020. 
  8. ^ Kusuma, Ade Indra (7 November 2019). "Wisata Museum dan Makam Sunan Giri, Mitos Mengkudu yang Diburu Peziarah". Suara.com. Diakses tanggal 9 Januari 2020. 
  9. ^ Islam, Syaiful (26 Oktober 2018). "Mitos Buah Mengkudu yang Selalu Diburu Peziarah Makam Sunan Giri". lifestyle.okezone.com. Diakses tanggal 9 Januari 2020.