Kedatuan Giri

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Giri Kadaton ꦒꦶꦫꦶ​ꦏꦝꦠꦺꦴꦤ꧀

1481–1680
Wilayah kini Kedatuan Giri, Gresik
Wilayah kini Kedatuan Giri, Gresik
Ibu kotaSidomukti Gresik
Bahasa yang umum digunakanJawa
Agama
Islam
PemerintahanMonarki Teokrasi Absolut
Susuhunan, Panembahan 
• 1481–1506
Sunan Giri Raden Paku
• 1506–1546
Sunan Dalem Maulana Zainal Abidin/Ali Sumodiro
• 1546–1548
Sunan Seda ing Margi
• 1548–1605
Sunan Prapen Mas Fatichal
• 1605–1616
Panembahan Kawis Guwa
• 1616–1636
Panembahan Ageng Giri
• 1638–1660
Panembahan Mas Witana Sideng Rana
Sejarah 
• Perdhikan Majapahit yang berkembang menjadi Pesantren dan kemudian menjadi Keraton
1481
• Penyerangan oleh Pangeran Pekik dari Kesultanan Mataram
1680
Sekarang bagian dari

Kedatuan Giri (juga disebut Giri Kadaton dalam bahasa Jawa) adalah sebuah kedatuan Islam yang terletak di Gresik, Jawa Timur dan eksis pada abad ke-15 hingga ke-17, ketika Giri ditaklukkan oleh Kesultanan Mataram pada tahun 1636. Kedatuan Giri memiliki popularitas yang cukup diantara kalangan intelektual Islam, sehingga banyak santri yang berasal dari berbagai penjuru Nusantara datang kesini untuk belajar ilmu agama. Karena memiliki legitimasi yang kuat, para calon sultan dari Pajang dan Mataram minta legitimasi dari Sunan Giri sebelum memangku jabatan sebagai sultan.[1]Kini lokasi Giri Kedaton menjadi bagian dari kompleks Makam Sunan Giri dimana Sunan Giri dan keluarga, termasuk Sunan Prapen disemayamkan.

Awal Mula[sunting | sunting sumber]

Kedatuan Giri didirikan oleh Sunan Giri, seorang anggota Walisongo, pada tahun 1481.[2] Beberapa waktu sebelumnya, Sunan Giri yang bernama awal Joko Samudro berguru kepada Sunan Ampel untuk mendalami ilmu agama. Kemudian Sunan Ampel memberi ia gelar Raden Paku. Raden Paku diminta untuk melanjutkan pendidikannya ke Pasai sebelum melanjutkan pendidikan lebih jauh ke Mekkah. Disinilah ia bertemu dengan ayahnya, Maulana Ishaq.

Selama beberapa bulan, Raden Paku tinggal disana untuk belajar ilmu politik kepada ayahnya. Salah satu ilmu yang ia peroleh adalah mencari tempat strategis yang kelak dalam jangka panjang akan menjadi istana kerajaannya. Kemudian, Raden Paku dibekali segenggam tanah oleh ayahnya untuk mencari tempat dengan tanahnya yang mirip dengan segenggam tanah tersebut.[3]

Gapura Naga sebagai pertanda memasuki wilayah Kedatuan Giri. Kini menjadi penanda memasuki kompleks makam Sunan Giri

Sepulang dari Pasai, ia menemui Sunan Ampel untuk membicarakan hal tersebut. Lalu Raden Paku mulai melakukan ritual tapak tilas, di gunung-gunung yang ada di Gresik. Ritual tersebut berlangsung cukup lama dan Raden Paku terus berpindah-pindah dari gunung ke gunung lainnya. Sampai ketika suatu malam ia melihat sorot cahaya ketika ia salat tahajud di Gunung Petukangan. Cahaya tersebut jatuh di puncak antara Gunung Petukangan dan Sumber.[4] Puncak tersebut adalah tempat yang dicari Raden Paku selama ini. Tanah segenggamnya juga sama dengan tanah di puncak tersebut.

Ia dijuluki Sunan Giri karena membangun sebuah pesantren Giri yang didirikan pada tahun 1478, di puncak gunung tersebut. Dalam bahasa Sanskerta, gunung diterjemahkan sebagai giri.

Babad ing Gresik menyebut pesantren Giri sebagai "kerajaan Giri" dan dipimpin oleh Raden Paku, dengan mengangkat dirinya sebagai "Raja Pendhita" dan bergelar Prabu Satmita. H. J. de Graaf dan Samuel Wiselius juga menyebut pesantren Giri sebagai "kerajaan ulama" (Geestelijke Heeren).[5]

Masa Keemasan[sunting | sunting sumber]

Kedatuan Giri mengalami masa keemasan di bawah kepemimpinan Sunan Prapen tahun 15481605. Kekuasaan Sunan Giri (sebagai gelar penyandang kekuasaan) pada waktu itu dapat disejajarkan dengan kekuasaan Paus di Roma bagi Eropa pada Abad Pertengahan. Hampir semua peristiwa penting yang menyangkut perubahan kepemimpinan di pusat kerajaan Islam pada waktu itu harus dilakukan di Kedatuan Giri, tidak hanya sekadar sekolah agama, tetapi juga menjadi sebuah kedatuan yang meiliki kekuatan politik.

Misalnya, Sunan Prapen yang dikisahkan menjadi pelantik Sultan Adiwijaya, sultan Pajang pertama. Ia juga menjadi mediator pertemuan antara Adiwijaya dengan para bupati Jawa Timur tahun 1568. Dalam pertemuan itu, para bupati Jawa Timur sepakat mengakui kekuasaan Pajang sebagai kelanjutan Kesultanan Demak.

Sunan Prapen juga menjadi juru damai peperangan antara Panembahan Senopati raja Mataram melawan Jayalengkara bupati Surabaya tahun 1588. Peperangan itu dilatarbelakangi oleh penolakan para bupati Jawa Timur terhadap kekuasaan Senopati yang telah meruntuhkan Kesultanan Pajang.

Tidak hanya itu, Sunan Prapen hampir selalu menjadi pelantik setiap ada raja Islam yang naik takhta di segenap penjuru Nusantara.

Penaklukkan oleh Mataram[sunting | sunting sumber]

Kesultanan Mataram di bawah pemerintahan Sultan Agung menghendaki agar Giri Kedaton tunduk sebagai daerah bawahan. Pada tahun 1630 Kedatuan Giri di bawah pimpinan Sunan Kawis Guwa menolak kekuasan Mataram. Tidak seorang pun perwira Mataram yang berani menghadapi Giri. Rupanya mereka masih takut akan kekeramatan Walisongo meskipun dewan tersebut sudah tidak ada lagi.

Sultan Agung pun menunjuk iparnya, yaitu Pangeran Pekik putra Jayalengkara dari Surabaya untuk menghadapi Giri. Semangat pasukan Mataram bangkit karena Pangeran Pekik merupakan keturunan Sunan Ampel, sementara Sunan Kawis Guwa adalah keturunan Sunan Giri, di mana Sunan Giri adalah murid Sunan Ampel.

Perang akhirnya dimenangkan oleh Mataram atas penaklukkan Giri sekitar tahun 1636. Sunan Kawis Guwa dipersilakan untuk tetap memimpin Giri dengan syarat harus tunduk kepada Mataram.

Sejak saat itu wibawa Giri pun memudar. Pengganti Sunan Kawis Guwa tidak lagi bergelar Sunan Giri, melainkan bergelar Panembahan Ageng Giri. Gelar ini memengaruhi penguasa Kerajaan Tanjungpura di Kalimantan Barat ketika memeluk Islam menggunakan gelar Panembahan Giri Kusuma.

Kemunduran[sunting | sunting sumber]

Kedatuan Giri yang sudah menjadi bawahan Mataram kemudian mendukung pemberontakan Trunojoyo dari Madura terhadap pemerintahan Amangkurat I (putra Sultan Agung). Panembahan Ageng Giri aktif mencari dukungan untuk memperkuat barisan pemberontak.

Puncak pemberontakan terjadi tahun 1677 di mana Kesultanan Mataram mengalami keruntuhan. Amangkurat I sendiri tewas dalam pelarian. Putranya yang bergelar Amangkurat II datang ke Kadilangu untuk menemui Panembahan Natapraja salah satu sosok sesepuh keturunan Sunan Kalijaga yang dianggap bijaksana dan kuat serta memiliki pasukan yang siap membantu Amangkurat II, selain itu Amangkurat juga bersekutu dengan VOC untuk melancarkan aksi pembalasan.

Amangkurat II yang menjadi raja tanpa takhta berhasil menghimpun dukungan dan kekuatan yang akhirnya dapat menghancurkan pemberontakan Trunojoyo akhir tahun 1679. Sekutu Trunojoyo yang bertahan paling akhir adalah Kedatuan Giri.

Pada bulan April 1680 serangan besar-besaran terhadap Giri dilancarkan oleh Panembahan Natapraja dari Adilangu dan juga didukung oleh VOC yang membantu Amangkurat II. Murid andalan Giri yang menjadi panglima para santri bernama Pangeran Singosari gugur dalam peperangan setelah berduel melawan Panembahan Natapraja. jumlah Pasukan Adilangu (pasukan Natapraja) hanya sedikit namun dapat memporak porandakan pasukan Giri kedaton.

Peristiwa ini tercatat dalam Babad Trunajaya-Surapati:[6]

30. Kang wadya nom-anom gusis akatha ingkang palastra wong kumpeni ake longe langkung duka sri nalendra arsa ngawaki yuda myang Pangeran Adilangu Panembahan Natapraja. Umatur dhateng narpati sampun âge mangsah yuda yen maksi ingkang mangkene sigra Pangran Natapraja sampun nyandhak talempak mara sarwi nguwu-uwu he Singasari mandhega.

32. Sira Raden Singasari anguwu-uwu tan mirsa pan wus wuru pangamuke Panembahan Natapraja mara saking ing ngarsa pan sampun dulu-dinulu Raden Singasari mojar.

33. La sira wong apa iki wus dhawuk paksa sudira lungaa aja neng kene apa nganti deksesempal Pangeran Natapraja angandika manis arum e panten sira nututa.

34. Ya ta Raden Singasari bramantya anggeget waja arsa narajang sedyane tinadhahan ing talempak la iya tadhahira apan wus amlas amlaku ing Pangeran Natapraja.

35. Mapan sampun angemasi maksi angawet lathinya curiga pan maksi lengket astanya lawan ukiran datan kena winengkang gawok sedaya kang ndulu gebeg-gebeg Ambrai mulat

36. Ya ta si Pangeran Giri ingaturaken babandan mapan sampun dipunlawe Pangeran Giri wus peja Ki Kalamunyeng ika apan ta wiyos pinundhut sri narendra nulya bubar

Terjemahannya:

30. Wadya bala yang muda-muda habis, banyak sekali yang tewas, orang kumpeni pun banyak berkurang. Maka lebih marahlah Sang Raja, dan ingin maju perang sendiri. Tetapi Pangeran Adilangu Panembahan Natapraja menahan.

31. Berkata kepada Sang Raja: "Janganlah tergesa-gesa maju perang, bila keadaan masih begini." Dan Pangeran Natapraja kini telah memegang senjatanya; mendekati medan laga sambil berseru: "Hai, Singasari, berhentilah!"

32. Tetapi Raden Singasari tak mendengar seruan itu, karena mengamuknya sudah seperti mabuk. Panembahan Natapraja mendekati dari depan. Kini mereka sudah saling berhadapan dan Raden Singasari berkata:

33. "Kamu ini orang apa! Sudah tua bangka mau berperang! Pergi saja dari sini; kalau tidak kutarik lepaslah kaki tanganmu." Pangeran Natapraja berkata dengan manis dan lembut: "Hai, anakku, tunduk sajalah!"

34. Maka Raden Singasari mendengar itu, makin marahlah sambil mendetakkan gigi, maksudnya mau menerajang, tetapi seranganya ditangkisdan sekaligus dibalas, dan balasan Pangeran Natapraja tak dapat terelakkan.

35. Maka gugurlah Raden Singasari; sudah tewas, masih tetap menggigit bibir, dan kerisnya tetap lengket di tangan, ukiran kens tetap tergenggam, tak dapat dilepaskan. Semua yang melihat, sangat heran, dan "Admiral" pun bergeleng-geleng.

36. Dan Pangeran Giri kini telah dihadapkan sebagai tawanan. Kemudian dihukum mati dengan jerat leher dan tewaslah Pangeran Giri. Adapun keris Kyai Kalamunyeng telah diambil oleh raja dan Sang Raja lalu berangkat

Pasca kejadian tersebut Panembahan Ageng Giri ditangkap dan dihukum mati menggunakan cambuk. Tidak hanya itu, anggota keluarganya juga dimusnahkan. Sejak saat itu berakhirlah riwayat Giri Kedaton.

Daftar Para Penguasa[sunting | sunting sumber]

Berikut ini adalah daftar para penguasa Kedatuan Giri. Setelah penaklukkan Mataram pada tahun 1636, secara perlahan Kedatuan Giri mengalami kemunduran dalam kewibawaannya, seperti gelar sunan yang berubah menjadi panembahan.

Nama Gelar Regnal Tahun Menguasai[7][8]
Raden Paku, Prabu Satmata Sunan Giri 14811506
Zainal Abidin Maulana Sunan Giri II 15061546
Sunan Seda ing Margi Sunan Giri III 15461548
Sunan Prapen Sunan Giri IV 15481605
(Panembahan) Kawis Guwa Sunan Giri V 16051616
Panembahan Ageng Giri 16161636
Panembahan Mas Witana Sideng Rana 16381660
Pangeran Puspa Ita 16601680

Catatan kaki[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Mukarrom, Ahwan (2014-10-21). Sejarah Islam Indonesia I: dari awal Islamisasi sampai periode kerajaan-kerajaan Islam Nusantara (dalam bahasa Inggris). Surabaya: IAIN Press. 
  2. ^ Widodo, Dukut Imam; et al. (2004). Grissee Tempo Doeloe. Gresik: Pemerintah Kabupaten Gresik. 
  3. ^ Izzatusshobikhah, Nuril (2018-01-15). "Penaklukan Mataram terhadap Giri Kedaton (Tahun 1636-1680 M)" (dalam bahasa Inggris). UIN Sunan Ampel Surabaya. 
  4. ^ Izzatusshobikhah, Nuril (2018-01-15). "Penaklukan Mataram terhadap Giri Kedaton (Tahun 1636-1680 M)" (dalam bahasa Inggris). UIN Sunan Ampel Surabaya. 
  5. ^ Suryo, Djoko (2000). "Tradisi Santri dalam Historiografi Jawa: Pengaruh Islam di Jawa" (PDF). Seminar Pengaruh Islam Terhadap Budaya Jawa: 7. 
  6. ^ Sudibyo, Z. H. (1981). Babad Trunajaya-Surapati (alih aksara). Jakarta: Perpustakaan Nasional RI. 
  7. ^ Muchtar, Hardiwonoto (2017-04-12). "Pemberontakan Panembahan Ageng Giri". Hardiwinoto (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2020-06-05. 
  8. ^ Arifin, Zaenal (2017). "Perkembangan Maritim Giri Kedaton Tahun 1487-1681 M" (PDF). Jurnal Widyaloka IKIP Widya Dharma. 4 (2): 158. 

Daftar pustaka[sunting | sunting sumber]

  • Abu Khalid. Kisah Walisongo. Surabaya: Terbit Terang
  • Babad Tanah Jawi, Mulai dari Nabi Adam Sampai Tahun 1647. (terj.). 2007. Yogyakarta: Narasi
  • H.J. de Graaf dan T.H. Pigeaud. 2001. Kerajaan Islam Pertama di Jawa. Terj. Jakarta: Grafiti
  • M.C. Ricklefs. 1991. Sejarah Indonesia Modern (terj.). Yogyakarta: Gadjah Mada University Press
  • Sartono Kartodirdjo. 1993. Pengantar Sejarah Indonesia Baru 1500 – 1900, dari Emporium sampai Imperium Jilid 1. Jakarta: Gramedia
  • J. Ras.1993. Geschiedschrijving en de legitimiteit van het koningschap op Java In: Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde 150 (1994), no: 3, Leiden, 518-538
  • sudibjo z.h, R soeparmo, babad trunajaya - surapati, balai pustaka terbitan 1981