Lutici

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Federasi Lutici
Abad ke-10–1168
Ibu kota Tidak ada
Pusat politik dan keagamaan: Radgosc, kemudian pindah ke Arkona
Bahasa Polabia
Agama Paganisme Slavia
Bentuk pemerintahan Majelis elit sosial
Sejarah
 -  Pembentukan Abad ke-10
 -  Penaklukan benteng Rani terakhir di Arkona oleh Denmark 1168
Pendahulu
Pengganti
Veleti
Rani Steinrelief Pfarrkirche Altenkirchen.jpg
Kekaisaran Romawi Suci Shield and Coat of Arms of the Holy Roman Emperor (c.1200-c.1300).svg
Mark der Billunger Coat of arms of Lower Saxony.svg
Nordmark Coats of arms of None.svg
Kadipaten Sachsen Coat of arms of Lower Saxony.svg
Markgrafschaft Brandenburg Brandenburg Wappen.svg
Markgrafschaft Lausitz Armoiries Basse-Lusace.svg
Sekarang bagian dari  Jerman

Lutici adalah federasi suku-suku Polabia yang merupakan bagian dari suku bangsa Slavia Barat. Mereka menetap di wilayah Jerman timur laut dari abad ke-10 hingga ke-12. Terdapat empat suku utama dalam federasi Lutici, yaitu suku Redari, Circipani, Kessini dan Tholenzi. Lutici dapat dianggap sebagai kelanjutan suku Veleti. Tidak seperti suku bangsa lainnya yang berada di sekitar suku Lutici, Lutici tidak dipimpin oleh seorang raja atau adipati Kristen, tetapi keputusan diambil berdasarkan konsensus dalam majelis yang terdiri dari elit-elit. Bangsa Lutici juga merupakan penganut paganisme yang menyembah beberapa dewa. Pusat politik dan keagamaan mereka terletak di kota Radgosc.

Suku Lutici pertama kali tercatat dalam sumber sejarah yang berkaitan dengan pemberontakan tahun 983, ketika mereka berhasil mengusir Kekaisaran Romawi Suci dan wilayah perbatasan Billung dan Utara. Permusuhan berlanjut hingga tahun 997. Kemudian ketegangan dengan Kekaisaran Romawi Suci mulai mereda dan pada tahun 1003 Lutici bersekutu dengan Kaisar untuk melawan Adipati Boleslaw I dari Polandia. Namun, pada tahun 1033, persekutuan ini bubar dan perang Jerman-Luticia kembali berlanjut hingga tahun 1035. Lutici lalu kembali menjadi negara yang membayar upeti kepada Romawi Suci, tetapi mereka tetap dapat mempertahankan kemerdekaannya. Perang saudara lalu terjadi di antara suku-suku Lutici pada tahun 1056/57 dan mengakibatkan kemunduran. Suku Obodrite melakukan intervensi dan menundukkan faksi barat laut.

Pada tahun 1066, Lutici berhasil memicu pemberontakan melawan elit-elit Obodrite. Selama peristiwa ini, Uskup Mecklenburg Johannes Scotus ditangkap dan dikorbankan kepada dewa di Radgosc. Akibatnya, Uskup Halberstadt dan Kaisar Romawi Suci menyerbu dan menghancurkan kota Radgosc. Peran Radgosc sebagai pusat keagamaan pagan lalu digantikan oleh kuil Swantewit di Arkona. Perang saudara kembali terjadi pada tahun 1070-an dan semakin memperparah kemunduran di Luticia. Mereka akhirnya tidak mampu melawan serangan tetangga-tetangga mereka.

Pada pertengahan awal abad ke-12, wilayah permukiman Lutici dibagi-bagi oleh negara-negara Obodrite, Kadipaten Mekclenburg, wilayah perbatasan utara yang didirikan kembali (kelak menjadi Markgrafschaft Brandenburg), serta Kadipaten Pommern. Suku Lutici juga dikristenkan dan pada abad ke-13 diasimilasikan dengan para pemukim Jerman.

Daftar pustaka[sunting | sunting sumber]

  • Brather, Sebastian (2001). Archäologie der westlichen Slawen. Siedlung, Wirtschaft und Gesellschaft im früh- und hochmittelalterlichen Ostmitteleuropa. Ergänzungsbände zum Reallexikon der germanischen Altertumskunde (dalam bahasa German). 30. Walter de Gruyter. ISBN 3-11-017061-2. 
  • Fritze, Wolfgang H. (1982). "Beobachtungen zu Entstehung und Wesen des Lutizenbundes". Dalam Kuchenbuch, Ludolf; Schich, Winfried. Frühzeit zwischen Ostsee und Donau. Germania Slavica III (dalam bahasa German). 6. Friedrich-Meinecke-Institut der Freien Universität Berlin. hlm. 130–166. ISBN 3-428-05151-3. 
  • Garipzanov, Ildar H. (2008). Franks, Northmen, and Slavs. Identities and state formation in early medieval Europe. Cursor mundi. 5. Geary, Patrick J.; Urbańczyk, Przemysław. Brepols. ISBN 2-503-52615-2. 
  • Hengst, Karlheinz (2005). ""Es gibt keine bösen Völker - nur böseMenschen". Beobachtungen zum Slawenbild im Mittelalter. Die Slawen als Nachbarn der Deutschen aus Sicht eines Bischofs in Mitteldeutschland vor 1000 Jahren". Dalam Kersten, Sandra. Spiegelungen. Entwürfe zu Identität und Alterität. Festschrift für Elke Mehnert (dalam bahasa German). Frank & Timme. hlm. 453–514. ISBN 3-86596-015-4. 
  • Herrmann, Joachim (1985). Die Slawen in Deutschland: Geschichte und Kultur der slawischen Stämme westlich von Oder und Neiße vom 6. bis 12. Jahrhundert. Berlin: Akademie-Verlag. ISBN 978-0-376-08338-8. 
  • Lübke, Christian (2001). "Lutizen. Historisches". Dalam Beck, Heinrich; et al. RGA (dalam bahasa German). 19 (edisi ke-2). de Gruyter. hlm. 51–53. ISBN 3-11-017163-5. 
  • Lübke, Christian (2002). "Zwischen Polen und dem Reich. Elbslawen und Gentilreligion". Dalam Borgolte, Michael. Polen und Deutschland vor 1000 Jahren. Die Berliner Tagung über den "Akt von Gnesen". Europa im Mittelalter. Abhandlungen und Beiträge zur historischen Komparatistik (dalam bahasa German). 5. Berlin: Akademie Verlag. hlm. 91–110. ISBN 3-05-003749-0. 
  • Müller-Wille, Michael (1991). Starigard/Oldenburg. Ein slawischer Herrschersitz des frühen Mittelalters in Ostholstein (dalam bahasa German). Wachholtz. 
  • Petersohn, Jürgen (2003). "König Otto III und die Slawen an Ostsee, Oder und Elbe um das Jahr 995". Frühmittelalterliche Studien (dalam bahasa German). Münster/Berlin: Walter de Gruyter (37). ISSN 0071-9706. 
  • Schmidt, Roderich (2009). Das historische Pommern. Personen, Orte, Ereignisse. Veröffentlichungen der Historischen Kommission für Pommern (dalam bahasa German). 41 (edisi ke-2). Köln/Weimar: Böhlau. ISBN 3-412-20436-6. 
  • Schultze, Johannes (1964). Forschungen zur brandenburgischen und preußischen Geschichte. Veröffentlichungen der Historischen Kommission zu Berlin beim Friedrich-Meinecke-Institut der Freien Universität Berlin (dalam bahasa German). 13. Walter de Gruyter. ISBN 3-11-000457-7. 
  • Stülzebach, Annett (1998). "Vampir- und Wiedergängererscheinungen aus volkskundlicher und archäologischer Sicht" (PDF). Concilium medii aevi (dalam bahasa German) (1): 97–121.