Leo Skurnik
Tampilan
Artikel ini sebatang kara, artinya tidak ada artikel lain yang memiliki pranala balik ke halaman ini. Bantulah menambah pranala ke artikel ini dari artikel yang berhubungan. (Desember 2022) |
| Leo Skurnik | |
|---|---|
Leo Skurnik | |
| Lahir | 28 Maret 1907 Helsinki, Keharyapatihan Finlandia |
| Meninggal | 4 Desember 1976 (umur 69) Oulu, Finlandia |
| Pengabdian | Angkatan Darat Finlandia |
| Pangkat | Mayor medis |
Leo Skurnik (28 Maret 1907 – 4 Desember 1976) adalah seorang dokter Finlandia, perwira medis dalam Angkatan Darat Finlandia dan salah satu dari tiga Yahudi-Finlandia yang diusulkan untuk diberi Salib Besi oleh Jerman Nazi pada Perang Dunia II namun enggan untuk menerimanya.[1][2]
Markas besar penghubung Jerman, yang dipimpin oleh Jenderal Waldemar Erfurth, mengusulkan pemberian Salib Besi kepada Skurnik sebagai penghargaan atas upayanya yang dianggap heroik, yang kemudian dilaporkan ke Berlin.[3] Namun, Skurnik menolak menerima penghargaan tersebut. Dua orang Yahudi Finlandia lainnya yang dianugerahi Salib Besi, Kapten Salomon Klass dan perawat Dina Poljakoff, juga menolak penghargaan tersebut.[2]
Referensi
[sunting | sunting sumber]- ↑ Kendall, Paul (9 Maret 2014). "The Jews who fought for Hitler: 'We did not help the Germans. We had a common enemy'". The Daily Telegraph. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 18 Agustus 2019. Diakses tanggal 18 Agustus 2019.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - 1 2 Bartrop, Paul R.; Dickerman, Michael (2017). The Holocaust: An Encyclopedia and Document Collection. ABC-CLIO. hlm. 208. ISBN 978-1-4408-4084-5.
- ↑ Simon 2019, hlm. 2–3.
Daftar pustaka
[sunting | sunting sumber]- Simon, John B. (2019). Strangers in a Stranger Land: How One Country's Jews Fought an Unwinnable War alongside Nazi Troops... and Survived. Rowman & Littlefield. ISBN 9789514477027.
{{cite book}}:|ref=harvtidak valid
Jurnal
[sunting | sunting sumber]- Rautkallio, Hannu (1994). "'Cast into the Lion's Den' Finnish Jewish Soldiers in the Second World War". Journal of Contemporary History. 29 (1): 53–94. doi:10.1177/002200949402900103.
{{cite journal}}:|ref=harvtidak valid