Lengayang, Pesisir Selatan

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari
Lengayang
Kecamatan
Negara  Indonesia
Provinsi Sumatera Barat
Kabupaten Pesisir Selatan
Pemerintahan
 • Camat -
Luas - km²
Jumlah penduduk -
Kepadatan - jiwa/km²
Nagari/kelurahan -

Lengayang adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat, Indonesia. Ibukotanya adalah Pasa Kambang.

Batas Wilayah[sunting | sunting sumber]

Kecamatan Lengayang berbatasan dengan Kecamatan Sutera (Surantih, Taratak, Ampiang Parak) di utara dan kecamatan Ranah Pesisir di selatan. Di Timur berbatasan dengan Solok Selatan dan di Barat dengan Kabupaten Mentawai dan Samudera Hindia.

Sejarah Kambang[sunting | sunting sumber]

Konon, menurut penuturan dari orang tua-tua baik di Bandar Sepuluh terutama di nagari Kambang maupun di Muara Labuh (Solok Selatan), nama nagari Kambang berasal dari kata 'kambanglah' (kembanglah) yaitu ucapan masyarakat awal nagari Kambang yang merupakan perantau dari Sungai Pagu Muara Labuh agar segera mengembangkan (membuka kuncup) payung panji kerajaan Sungai Pagu yang sebelumnya cukup lama vakum akibat tidak ada kata sepakat dalam menentukan siapa yang berhak menjadi raja di kerajaan tersebut. Akhirnya dari keturunan raja yang sudah menyebar ke nagari Kambang-lah calon raja itu ada.

Nagari Kambang merupakan gerbang bagi penyebaran masyarakat perantau Sungai Pagu Muara Labuh ke daerah-daerah Bandar Sepuluh yang lainnya baik ke utara maupun ke selatan.

Bila dilihat dari sejarah (Tambo) nagari-nagari di Bandar Sepuluh, nenek moyang Bandar Sepuluh datang dalam dua rombongan besar dari Alam Surambi Sungai Pagu, pertama pada tahun 1490 dan kedua pada tahun 1511.

Secara geneologis, penduduk yang sekarang ini mendiami Nagari Punggasan khususnya dan daerah Kab. Pesisir Selatan bagian selatan kecuali Indopuro umumnya berasal dari Alam Surambi Sungai Pagu di Kab. Solok. Arus perpindahan penduduk tersebut dilakukan menembus bukit barisan dan menurun di hamparan dataran luas yang berbatas dengan pantai barat Sumatera Barat bagian selatan yang dulunya dikenal dengan sebutan Pasisia Banda Sapuluah (Pesisir Bandar Sepuluh).

Perjalanan Rombongan Pertama[sunting | sunting sumber]

Rombongan pertama, Niniek Kurang Aso Anam Puluah, yang terdiri suku Kampai, Panai, dan Tigo lareh, barangkat dari Alam Surambi Sungai Pagu. Mendaki Bukit Pasikayan, manuruni Bukit Pungguang Ladiang, maniti Pamatang Bangko, Turun ke Pamatang Bukik Sarai, hingga Ke Gunuang Tigo.Di gunung Tigo lah pertama kali rombongan menetap namun kemudian ditinggalkan. Rombongan menuju Rantau Hilalang, terus ke Lubuak Sambuang, Lubuak Durian, Lubuak Ransam, Lubuak Batu Rimau, Lubuak Panjang, Lubuak Parahu Pacah, Talaok, Lubuak Sarongkok, Lubuak Jantan, Lubuak Limau Kambiang, Kayu Alang, Lubuak Marunggai, Lubuak Bujang Juaro, sampai ke Pasie Laweh.

Pasie Laweh adalah tempat pemukiman tetap pertama yang masih berlanjut sampai sekarang sebelum daerah Batu Hampar, kampung Akad, Gantiang Kubang, Lubuak Sariak, dan Koto Marapak.

Pada masa Koto Marapak berkembang, datang lah rombongan yang disebut orang Rupik. Rajanya bernama Sitotok Sitarahan dengan dubalang Sianja Sipilihan. Orang Rupik berbuat sewenang-wenang merusak kerukunan dan kenyamanan masyarakat waktu itu. Sari Dano dari suku kampai dikirim ke Sungai Pagu guna mengadukan kondisi mengenaskan yang terjadi Pasie Laweh dan sekitarnya di paska kedatangan orang Rupik.

Daulat Yang Dipatuan Bagindo Sutan Basa Tuanku Rajo Disambah, Syamsudi Sadewano, menanggapi masalah ini dengan cepat. Dia langsung mengirim satu rombongan di bawah pemimpin Dubalang yang bernama Alang Palabah dan di bantu oleh Gando Bumi. Pertumpahan berdarah yang bermula di Kampuang Akad tidak bisa dielakkan. Orang Rupik terdesak di Kulam terus bertahan di Bukik Kayu Manang. Kondisi yang kian terdesak membuat Orang Rupik harus terus menghindar kehilir, sampai ke batas Indopuro dan kemudian menyeberang ke Pagai kep. Mentawai. Sejak itu kembali masyarakat merasa aman dan tentram.

Perjalanan Rombongan Kedua[sunting | sunting sumber]

Peristiwa kekalahan orang Rupik di sampaikan kepada Daulat Yang Dipatuan Bagindo Sutan Basa Tuanku Rajo Disambah, Syamsudin Sadewano, Tuanku merasa senang sekali. Namun kedatangan masyarakat dari wilayah baru ini ke Sungai Pagu juga membawa maksud lain, yaitu memohon kepada Tuanku, untuk masyarakat di Pasie Laweh dan sekitarnya mendirikan adat secara resmi. Permohonan ini di kabulkan oleh Tuanku dengan memberikan 4 tanda kebesaran adat untuk masing-masing suku yakni, Suku Kampai, Suku Panai, Suku Tigo Lareh, dan Suku Malayu dan 3 tanda kebesaran Syara’.

Perhelatan pemakaian adat di adakan di Koto Marapak. Tempat perhelatan di sebut Galanggang Tigo. Dinamakan galanggang Tigo karena memang pada saat itu baru tiga suku yang ada, Kampai, Panai, dan Tigo Lareh. Suku Malayu pada saat itu belum datang.

Khusus buat suku Malayu walaupun belum berpindah ke wilayah baru tersebut, tapi tanda kebesarannya telah di serahkan oleh Tuanku pada masa itu. Sampai kedatangan Kaum Malayu tanda kebesaran tersebut disimpan baik oleh Pemuka adat dari Suku Kampai.

Rombongan ke dua adalah suku Malayu dari Sungai Pagu melalui Koto Pulai, terus Koto Kandih, koto Marapak dan ke Lubuk Sariak. Lubuk Sariak lah tempat menetap pertama kaum suku Malayu. Pertambahan anggota keluarga, membuat suku Malayu menambah lokasi pemukiman baru. Perpindahnya ke daerah Koto Baru dan Medan Baik.

Suku Malayu disambut hangat oleh kaum suku nan batigo. Upacara penyambutan dilakukan sekaligus penyerahan pakaian kebesaran suku Malayu dan mengangkat satu Penghulu Pucuk dari Suku Malayu. Galanggang Tiga tempat Upacara di Koto Marapak di rubah menjadi Galanggang Empat.

Berdirinya Adat dan Raja Kambang[sunting | sunting sumber]

Dengan kedatangan suku Malayu lengkap lah jumlah suku yang ada di wilayah baru tersebut. Maka di bentuklah susunan adat dan suku masing-masing yaitu:

   1.      Suku Kampai, yang di sebut KAMPAI AMPEK PARUIK
       a. Kampai Nyiur Gading, dengan penghulunya, Datuk Rajo Kampai
       b. Kampai Tangah, dengan penghulunya Datuk Rajo Panghulu
       c. Kampai Sawah Laweh, dengan penghulunya, Datuk Rang Batuah
       d. Kampai Bendang, dengan penghulunya, Datuk Pado Basi
       Pucuk/Ikek/Pemimpin  dari datuak suku Kampai ampek paruik adalah Datuk Bandaro Hitam.
   2.      Suku Panai, yang disebut PANAI TIGO IBU
       a. Panai Lundang, dengan penghulunya, Datuk Rajo Alam
       b. Panai Tangah, dengan penghulunya, Datuk Rajo Kuaso
       c. Panai Tanjuang, dengan penghulunya, Datuk Rajo Hitam
       Pucuk/Ikek/Pemimpin  dari datuak suku Panai Tigo Ibu adalah Datuk Rajo Batuah
   3.      Suku Tigo Lareh, Suku nan GADANG BAGELAI (bergilir)
       a. Jambak,  dengan penghulunya Datuk Rajo Bagampo
       b. Caniago, dengan penghulunya Datuk Patiah
       c. Sikumbang dengan penghulunya Datuk Rajo Indo
       Pucuk/Ikek/Pemimpin  dari datuak Tigo Lareh bagelai di antara tiga suku ini, yaitu:
         1. Suku Jambak jadi Pucuk/ikek, Datuk Malintang Bumi, atau Datuk Mangkuto Alam
         2. Suku Caniago jadi Pucuk/ikek, Datuk Tan Majo Lelo
         3. Suku Sikumbang jadi Pucuk/ikek, Datuk Manso Di Rajo
   4.      Suku Malayu, disebut MALAYU AMPEK NINIAK
       a. Malayu Koto Kaciak, dengan penghulunya Datuk Tan Bandaro
       b. Malayu Durian, dengan penghulunya Datuk Pintu Langit
       c. Malayu Tangah, dengan penghulunyaa Datuk Tan Piaman
       d. Malayu Bariang, dengan penghulunya Datuk Rajo Dio
       Pucuk/Ikek/Pemimpin  dari datuak suku Malayu ampek niniak adalah Datuk Tan Nan Sati, dikenal juga dengan himbauan Datuk Sati

Jumlah suku yang 14 di kepalai oleh Datuak yang disebut DATUAK NAN AMPEK BALEH Jumlah Datuk masing-masing suku di pimpim oleh 4 Pucuk/ikek yang disebut IKEK NAN AMPEK

Setelah terbentuk adat, terjadi perselisihan dalam memilih RAJA, Sari Dano berangkat menuju Sungai Pagu menemui Daulat Yang Dipatuan Bagindo Sutan Basa Tuanku Rajo Disambah, Syamsudin Sadewano, memohon titah penunjukan raja di negeri baru tersebut. Tuanku Syamsudin Sadewano menitahkan kepada seorang bersuku Kampai yang bernama Sipakek Tuo, untuk menuju wilayah baru tersebut untuk menjadi Raja di situ, Sipakek Tuo berangkat bersama istrinya Ganggo Hati ( suku Panai ) beserta rombongan menuju Pasie Laweh menjadi Raja. Sipakek Tuo menerima titah tersebut dengan segala alat-alat dan pakaian kebesaran raja dan di beri gelar BAGINDO SATI.

Sampai di sebuah bukit yang bernama Bukit Sitinjau Laut, sebelum Bukit Pasikayan, Rombongan berpisah menjadi tiga bagian, Rombongan pertama menuju wilayah Pasie Laweh, Koto marapak dan sekitarnya, dipimpin oleh Bagindo Sati. Rombongan kedua kearah selatan menuju Air Haji, dipimpin oleh Sutan Rajo Hitam. Rombongan ketiga ke arah utara ke Hulu Bayang, di pimpin oleh Malin Sirah. Sebelum berpisah di adakan jamuan makan dengan memotong kerbau. Kerbau ini di sebut KABAU TANGAH DUO. Kerbau bunting yang sudah anak di dalam kandungannya, jantung kerbau dibagi tiga masing-masing untuk kepala rombongan.

Setelah berpisah, dari Puncak bukit, Bagindo Sati memandang ke arah laut, (Lauik nan sadidiah, Pasie nan gumilang), terlihat wilayah yang menguncup kearah hulu, dan mengembang luas ke arah lautan. Di sinilah Sang Raja yang didatangkan dari Sungai Pagu ini memanggil daerah ini dengan Sebutan “ KAMBANG “.

Bagindo Sati di terima di Koto Marapak oleh masyarakat Kambang di wakili oleh Ikek nan Ampek. Setelah memperlihatkan tanda-tanda kebesaran dan pakaian kebesaran Raja, Bagindo Sati di terima secara sepakat dan dinobatkan menjadi Raja dengan perhelatan selama 14 hari lamanya. Bagindo Sati kemudian membuka tempat baru dan mendirikan kediaman raja di daerah tersebut. Tempat baru tersebut di namakan Dusun Baru atau sekarang terkenal dengan sebutan “Sunbaru/Sumbaru”.

Alat-Alat Kebesaran dan Pakaian Raja di simpan dalam kamar khusus dalam rumah raja. kemudian di kenal dengan sebutan “ Biliak Dalam”. Sampai saat ini, Jorong Sumbaru di sebut juga Biliak Dalam.

Sewaktu Bagindo Sati menjadi Raja, Tuangku Malin Sirah yang di telah sampai ke Hulu Bayang, kembali menuju Kambang melalui jalur pantai dan menetap di Talang Gadang, Hulu Batang Kambang. Disitulah Malin Sirah menetap. Malin Sirah juga mendapat alat kebesaran dan pakaian raja.

Bagindo Sati menjadi Raja Kambang beberapa generasi. Setelah itu melalui kesepakatan datuk-datuk suku Kampai dan Pucuk/ikek masing-masing suku menobatkan Pancang Tuo menjadi Raja dengan gelar SUTAN KALIFAH. Suran Kalifah berdiam di Lubuak Sariak. Lubuak Sariak di kenal dengan nama Rumah Dalam. (Kampuang Bingkahan Tanah pucuak suku Kampai )

Setelah Sutan Kalifah mangkat, melalui hasil kesepakatan Kampai nan empat Paruik dan ikek suku Malayu, ikek suku Panai, dan ikek suku tigo lareh, menunjuk turunan dari Tuanku Malin Sirah, Sutan Bagindo Rajo Bukik menjadi Raja. Sutan Bagindo Rajo Bukik berdiam di Medan baik. Medan baiak kemudian di kenal dengan nama Kampuang Dalam.

Pada masa Sutan Rajo Bukik inilah di sempurnakan adat.

  •    Raja ( Payung Panji )
  •     Raja Syarak
  •     Urang Gadang
  •     Sandi (Pondasi) Raja
  •     Pucuk/ Ikek
  •     Datuk Nan Empat Belas
  •     Sandi Ikek
  •     Ninik Mamak
“Adat nan bapucuak Bulek, Syarak nan Bapayuang Panji".

1. Raja

  Payuang Panji dalam Nagari berasal dari suku kampai bagian dari
   -    Bagindo Sati di Sumbaru
   -    Sutan Kalifah di Lubuak Sariak
   -    Sutan Bagindo Rajo Bukik di Medan Baiak

2. Rajo Syarak

  Imam Abdullah, Imam di Mesjid Koto Baru. Suku Kampai

3. Urang Gadang

   -       Datuk Bandaro Kambang
       Membendarkan segala titah Rajo
   -    Datuk Tan Baliak Bukik
       Haluan, Katitiran di ujuang tunjuak, di bari makan di tapak tangan, pamenan koto nan sambilan 

4. Sandi/Pondasi Rajo ( datuk nan ampek suku Kampai)

   -       Datuk Rajo panghulu 
   -    Datuk Rang Batuah
   -    Datuk Pado Basi
   -    Datuk Rajo Kampai

5. Pucuak/ Ikek Suku

   -       Suku kampai, Datuk Bandaro Hitam 
   -    Suku malayu, Datuk Tan Nan Sati
   -    Suku Panai, Datuk Rajo Batuah
   -    Suku Tigo Lareh :
   dalam Caniago, Datuk Malintang Bumi, Datuk Mangkuto Alam
   dalam Sikumbang, Datuk Manso Dirajo
   dalam Jambak, Datuk Tan Majo lelo

6. Datuk Nan Empat Belas

   -  Kampai Nan Empat 
       1. Datuk Rajo panghulu
       2. Datuk Rang Batuah
       3. Datuk Pado Basi
       4. Datuk Rajo Kampai
  -  Malayu Nan Ampek Niniak
       5. Datuk Tan Bandaro
       6. Datuk Pintu Langit
       7. Datuk Tan Piaman
       8. Datuk Rajo Dio
  -     Panai Nan Tigo Ibu
       9. Datuk Rajo Alam
      10. Datuk Rajo Kuaso
      11. Datuk Rajo Hitam
  -  Tigo Lareh Gadang Bagelai ( Bergilir )
      12. Datuk Rajo Bagampo, suku Jambak
      13. Datuk Patiah, suku Caniago
      14. Datuk Rajo Indo, Suku Sikumbang

Masing-masing Datuk menjadi Sandi/Pondasi bagi ikek/pucuk sukunya.

IKEK AMPEK PAYUANG SAKAKI, MASJID LIMO, KOTO SAMBILAN, PENGHULU NAN AMPEK BALEH, NINIAK MAMAK NAN LIMO PULUAH, IMAM DI KOTO BARU, BANDARO DI MEDAN BAIAK, HALUAN DATUAK TAN BALIAK BUKIK

Desa-desa di Lengayang[sunting | sunting sumber]

  1. Pulakat
  2. Lakitan
  3. Subarang Tarok
  4. Pulai
  5. Koto Lamo
  6. Bungo Tanjung
  7. Koto Rawang
  8. Gantiang
  9. Tampuniak
  10. Koto Baririk
  11. Koto Pulai
  12. Koto Barapak
  13. Koto Baru
  14. Medan Baiak
  15. Koto Saiyo
  16. Tabiang Tan Saidi
  17. Talang Rj. Pelang
  18. Koto Nan IV
  19. Pasa Kambang
  20. Pasa Gompong
  21. Padang Panjang
  22. Kambang Harapan
  23. Kampuang Baru
  24. Lubuak Sariak
  25. Koto Nan VII
  26. Pasia Laweh

Pemekaran Nagari[sunting | sunting sumber]

Nagari Kambang menjadi 4 nagari yang terdiri dari :

  1. Nagari Kambang Utara, meliputi Kampung Lubuk Sarik, Kampung Akat, Kampung Baru, Kampung Pasir Laweh, Kampung Ganting Kumbang, Kampung Padang Panjang I, Kampung Padang Panjang II dan Kampung Kambang Harapan.
  2. Nagari Kambang Timur, meliputi Kampung Koto Kandis, kampung Koto Pulai, kampong Pauh, Kampung Tampunik, Kampung Kapau dan kampung Ganting.
  3. Nagari Kambang Barat, meliputi Kampung Pasar Kambang, Kampung Pasar Gompong, Kampung Rangeh, Kampung Talang dan Kampung Tebing Tinggi.
  4. Nagari Kambang Tengah, meliputi Kampuang koto baru, kampuang koto marapak, kampuang nyiur gadiang, kampuang kulam.

Nagari Lakitan menjadi 5 nagari, yaitu :

  1. Nagari Lakitan, meliputi Kampung Lakitan, Kampung Gurun Panjang, Kampung Daratan Marantih, Kampung Tarok
  2. Nagari Lakitan Utara, meliputi Kampung Pasar Baru, Kampung Padang Mandiangin, Kampung Padang Marapalam dan kampung Padang Cupak.
  3. Nagari Lakitan Selatan, meliputi Kampung Seberang Tarok, Kampung Lubuk bagalung, Kampung Koto Raya dan Kampung Karang Tangah.
  4. Nagari Lakitan Timur, meliputi Kampung Koto Rawang dan Kampung Sikabu.
  5. Nagari Lakitan Tengah, meliputi Kampung Pulai, Kampung Koto Lamo, Kampung Air Kalam dan Kampung Tanjung Durian.

Tokoh[sunting | sunting sumber]

Tokoh yang berasal dari kecamatan Lengayang adalah Haji Samik Ibrahim (lahir 8 Agustus 1908 - wafat 24 November 1978), seorang perintis Muhammadiyah di Pesisir Selatan. Ia lahir di Nyiur Gading, Koto Baru Kambang, bersuku Kampai.

Isu Pembangunan[sunting | sunting sumber]

Yang masih menjadi isu hangat di tengah masyarakat Kambang khususnya dan Pesisir Selatan umumnya hingga hari ini adalah isu pembangunan jalan tembus Kambang - Muaro Labuah yang masih terkendala oleh keberadaan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS).

Pranala Luar[sunting | sunting sumber]