Kisah Arang

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Aranggak, kuil Arang di Miryang.

Kisah Arang (아랑전설) adalah sebuah legenda rakyat yang berasal dari Miryang, Gyeongsang Selatan, Korea Selatan, tentang seorang gadis yang dibunuh dan arwahnya bangkit untuk membalas dendam atas kematiannya.[1][2]

Kisah Arang[sunting | sunting sumber]

Pada tahun 1600-an, pada masa pemerintahan Raja Myeongjong (Dinasti Joseon), di Miryang, Gyeongsang, terdapat seorang hakim bernama Yun yang dikirim dari ibu kota. Hakim Yun memiliki seorang anak perempuan cantik berusia 19 tahun bernama Arang. Bukan hanya cantik, tapi ia juga sangat pandai dan berbakat, baik hati pula, maka itu banyak pemuda datang melamarnya, walau selalu ditolak. Seorang pelayan di rumahnya yang bernama Jugi, tertarik pada Arang dan selalu menggodanya, tapi selalu tidak digubris oleh Arang. Tapi malahan hanya dibalas dengan senyuman. Sewaktu ditanya kenapa, Arang menjawab bahwa ia harus bersikap manis dan sopan dihadapan siapapun, termasuk bawahan ayahnya. Jugi tertarik pada Arang sejak ia pertama kali melihat Arang datang mengantarkan makan siang ayahnya. Suatu hari, Jugi menarik tangan Arang, ia mau membicarakan sesuatu. Tapi ditolak dengan halusoleh Arang, lagipula ia harus membawakan makan siang ayahnya secepat mungkin. Karena kesal ajakannya ditolak oleh Arang (walau secara halus ), ia dan Baekga akhirnya berkonspirasi untuk menjatuhkan Arang dan ayahnya, apalagi Baekga juga benci pada Hakim Yun, karena itu berarti tindak korupsi para pejabat bakal ditindaklanjuti, sehingga ia berambisi merebut kekuasaan ayahnya Arang, dan bahkan membuat janji dengan para pejabat korup, ia akan membebaskan mereka dari tindakan hukum. Jugi lalu menyogok pengasuhnya Arang untuk membawa Arang jalan-jalan ke hutan bambu. Disanalah Jugi mencoba menyatakan cintanya pada Arang sekali lagi, tapi tetap ditolak dengan halus oleh Arang. Karena marah, Jugi lalu nekad menodainya dan tertawa-tawa berkata: "Wahahahaha! kamu sudah ternoda sekarang, jadi tidak ada pilihan bagimu untuk menikahi seorangpun kecuali diriku!!". Mendengar ini Arang kesal dan menendangnya sampai jatuh sebagai perlawanan, walau ia masih diikat dengan tali. Kesal melihat perlawanan dari Arang, Jugi membunuh Arang dan mengubur mayatnya di hutan bambu itu juga. Segera tersiar kabar ke seluruh kota bahwa Arang telah hilang. Hakim Yun menjadi sangat sedih dan kembali ke Hanyang tanpa Arang.

Setelah hakim Yun turun, beberapa hakim yang lain bergantian bertugas di Miryang dikarenakan pada setiap malam setelah naik jabatan, satu per satu meninggal secara misterius. Seorang pemuda yang berani dan ingin tahu bermarga Yi berusaha mencalonkan diri menjadi hakim selanjutnya. Pada malam pertama setelah diangkat menjadi hakim, pemuda tersebut didatangi oleh seorang wanita berambut panjang yang berlumuran darah yang tidak lain adalah hantu Arang. Semula Arang ragu untuk berbicara, tapi setelah dibujuk, ia lalu mengakui bahwa pengasuhnya disogok oleh Jugi untuk membawanya ke hutan bambu itu. Hakim Yi lalu meminta Arang pergi sebentar. Ia lalu menanyakan hal ini kepada pengasuh Arang, tapi ia bersikeras tidak tahu akan hal tersebut. Hakim Yi lalu mempersilahkannya keluar dari ruangannya. Baru sebentar saja, terdengar teriakan histeris. Setelah Hakim Yi mengecek ke lokasi, ia baru mendapati bahwa pengasuh Arang bunuh diri, dan ia juga mendapati surat tulisan tangan pengasuh itu yang mengakui kesalahannya dan ia sendiri tidak menyangka Jugi bakal membunuh Arang. Sewaktu Arang kembali dan menerima surat itu, ia menangis tersedu-sedu seraya mengatakan ia sama sekali tidak menyalahkan pengasuhnya, ia sudah menganggapnya seperti ibunya sendiri, tapi ia cuma kecewa karena pengasuhnya disogok Jugi. Setelah menceritakan kisahnya pada pemuda itu, hantu Arang mengatakan bahwa besok ia akan menjadi seekor kupu-kupu putih untuk menunjukkan siapa orang yang membunuhnya dan memohon agar Hakim Yi bersedia membantunya mengusut kasus ini. Hakim Yi menyetujuinya. Keesokan paginya, hakim baru itu memanggil semua pelayan. Seekor kupu-kupu putih terbang dan mendarat di topi salah satu pelayan, yakni Jugi, dan lalu pelayan yang lain, yaitu Baekga. Hakim itu lalu menginterogasi mereka. Pada awalnya mereka membantah, namun akhirnya mengaku bahwa merekalah yang berkomplot dan Jugilah yang telah membunuh Arang dan menguburkan mayatnya di rumpun bambu dekat Paviliun Yeongnam. Setelah digali, ternyata jenazah Arang masih utuh, kemungkinan karena arwahnya masih penasaran. Setelah Jugi dan Baekga dihukum, hantu Arang tak pernah muncul lagi. Sampai sekarang, di Miryang masih diadakan peringatan setiap tanggal 16 bulan ke-4 kalender lunar untuk mengenang Arang. Sebuah kuil bernama Arang-gak dibangun untuknya.Konon,bila ada orang yang tersakiti mendatangi kuil itu dan berdoa, maka Arang akan datang pada sang pelaku sampai pelakunya minta maaf dan konon Arang akan mempertahankan cinta pasangan yang mengunjungi kuilnya secara bersamaan.[2]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ (Inggris)Choi Gap-su (2003). "Visit to Miryang : Songs of Autumn in Meadows of Eulalia" (PDF). Koreana. 17 (3): 51. Diakses tanggal 25 Agustus 2010. 
  2. ^ a b (Inggris)Tourist Destinations of Bloodcurdling Legends, visitkorea. Diakses pada 25 Agustus 2010.