Kesiman Kertalangu, Denpasar Timur, Denpasar

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Kesiman Kertalangu
Desa
Negara Indonesia
ProvinsiBali
KotaDenpasar
KecamatanDenpasar Timur
Kodepos80237
Luas3,80 km² [1]
Jumlah penduduk17.704 jiwa(2016)[2] 26.037 jiwa(2010)[3]
Kepadatan6.852 jiwa/km²(2010)
Situs webhttps://kesimankertalangu.denpasarkota.go.id/

Desa Kesiman Kertalangu merupakan salah satu desa yang ada di kecamatan Denpasar Timur, Kotamadya Denpasar, provinsi Bali, Indonesia.

Sejarah Desa[sunting | sunting sumber]

Masa Kerajaan[sunting | sunting sumber]

Pada tahun 1343 M, Majapahit menyerang dan mengalahkan Kerajaan di Bali. Penaklukan Kerajaan Bali Dwipa (rajanya bergelar Asta Sura Ratna Bumi Banten) dipimpin oleh Patih Majapahit Gajah Mada dan Raja Majapahit Ratu Tri Bhuwana. Untuk menstabilkan Pemerintahan di Bali, Majapahit dibawah Pemerintahan Hayam Wuruk mengirim Sri Kresna Kepakisan ke Bali. Beliau mendirikan istana di Samprangan (Gianyar pada masa sekarang). Sri Aji Kresna Kepakisan adalah putra dari Soma Kepakisan dan cucu dari Danghyang Kepakisan. Danghyang Kepakisan bersaudara dengan Danghyang Sidi Mantra dari Kediri. Danghyang Sidi Mantra berputra seorang yakni Danghyang Manik Angkeran. Danghyang Manik Angkeran melaksanakan Dharma Kepanditan dan menetap di Tohlangkir (Besakih). Setelah beliau wafat, jenasahnya didharmakan di Pura Batumadeg, tempat pemujaan Wisnu dan diwujudkan dalam Meru Tumpang (Sembilan).

Beliau berputra 4 (empat) orang yakni: Ida Bang Tulus Dewa, Ida Bang Banyak Wido, Ida Bang Wayabiya, dan Sang Manik Angkeran. Ida Bang Banyak Wide akhirnya kembali ke Pulau Jawa dan berhasil menjadi pegawai tinggi di Kerajaan Singasari dibawah Pemerintahan Kertanegara. Untuk mengamankan Madura maka Ida Bang Banyak Wide diangkat menjadi Adipati di Sumenep dengan gelar Wiraraja. Pada waktu Sri Aji Kresna Kepakisan menjadi raja di Samprangan, maka salah seorang dari keturunan Arya Wiraraja yang dikenal dengan sebutan Arya Wang Bang Pinatih menjadi pegawai tinggi raja dengan wilayah dan berkeraton di Puri Kertalangu. Diperkirakan Puri Kertalangu berlokasi di seputaran Balitex yang sekarang. Menurut penuturan beberapa orang konon pada waktu pembangunan Balitex itu, banyak ditemukan bekas-bekas bangunan bataserta barang-barang lainnya yang sekarang tidak tentu rimbanya.

Kerajaan Kertalangu berdiri tahun 1350 Masehi yang mana pada abad ke 16 mengalami kemunduran dan para penguasa beserta sanak keluarganya meninggalkan karaon, lalu mengungsi ke Tulikup (Gianyar) kemudian pindah lagi atas perkenan Raja Klungkung ke Sulang dan membuat Puri di sana yang sampai sekarang menjadi pusat Arya Wang Bang Pinatih di Puri Sulang. Untuk memerintah daerah Kertalangu yang telah di tinggalkan I Gusti Ngurah Gede Pinatih, maka Betara Sakti Pemecutan mengangkat Ngurah Pemayun dan membuat keraton di kuwun, yang berlokasi di sebelah selatan Kerajaan Kertalangu.

Sesuai dengan perkembangan jaman untuk membendung pengaruh negatif, maka oleh penguasa dibentuklah organisasi masyarakat. Untuk membendung hal-hal yang bersifat subversi dari daerah lain, maka dibuatlah arena pertempuran (kalangan) yang memanjang dari Patal Tohpati sampai ke Banjar Biaung, tempat penguburan mayat berlokasi di seputaran Patal Tohpati. Untuk meyakinkan hal tersebut, di sepanjang kalangan pertempuran tersebut oleh penguasa ditaruhlah orang-orang pemberani, seperti dari banjar dari utara disebut Banjar Tohpati (Ngotoh Pati), Banjar Kertajiwa yang dulunya bernama Banjar Tohjiwa (Ngotohan Jiwa), dan Banjar Tangguntiti yang berarti tempat penghubung antara Raja dan Rakyat, dalam pembicaraan yang ada kaitannya dengan keselamatan daerah, dan akhirnya Banjar yang paling selatan yaitu Banjar Biaung, yang merupakan Bie(umpan) pertarungan. Jadi secara keseluruhan orang-orang atau Banjar-banjar yang berada di sepanjang kalangan merupakan andel-andel (prajurit) kerajaan yang pemberani. Banjar-Banjar ini mekar lagi menjadi Banjar Tangtu dan Banjar Kesambi yang mempunyai historis tersendiri. Sifat kedaerahan telah berlalu maka sesuai dengan perkembangan jaman dan urbanisasi maka pada tanggal 14 September 1969 berdirilah Banjar baru dengan nama Banjar Kertalangu dan selanjutnya mekar lagi menjadi Banjar Kertapura.

Pada abad ke-17 Masehi, penguasa di daerah kuwun memindahkan kerajaan ke Petilan (Mutilar) di Banjar Kedaton dengan nama Desanya menjadi Desa Kesiman.

Masa Kemerdekaan Indonesia[sunting | sunting sumber]

Di masa sekarang, Desa kesiman dimekarkan berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Bali Nomor 57 Tahun 1982 tertanggal 1 Juni 1982 tentang Desa Persiapan.[4] Secara umum dapat diuraikan dari pemecahan sampai Desa kesiman Kertalangu menjadi Desa Definitif.

  1. SK. Bupati Kepala Daerah Tingkat II Badung, Nomor: 167/Pem-15/166/79 Tanggal: 1 Desember 1980 Tentang: Pemekaran pemecahan Desa-desa dalam wilayah Kota Administratif Denpasar.
  2. SK. Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Bali, Nomor: 7/Pem/II.a/2-57/1980 Tanggal: 1 April 1980 Tentang: Penetapan Pemecahan Desa-Desa dalam wilayah Kota Administratif Denpasar.
  3. SK. Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Bali Nomor: 57 Tahun 1982 Tanggal: 1 Juni 1982 Tentang: Penetapan Desa-Desa persiapan menjadi Desa-Desa Definitif dalam wilayah administratif Denpasar

Demografi[sunting | sunting sumber]

Penduduk desa Kesiman Kertalangu sampai dengan tahun 2016 berjumlah 17.704 jiwa terdiri dari 7.668 laki-laki dan 10.036 perempuan dengan sex rasio 76.[5]

Referensi[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]