Kekerasan di sekolah

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Demonstrasi siswa di St. Paul, Minnesota, menentang kekerasan dengan senjata api di sekolah

Kekerasan di sekolah merupakan tindak kekerasan yang melibatkan murid, guru, dan staf sekolah yang dapat mengganggu proses pengajaran dan pembelajaran dan merusak iklim sekolah.[1] Dua peneliti Universitas California, Santa Barbara, Michael Furlong dan Gale Morrison, mendefinisikan kekerasan di sekolah sebagai "konstruksi multi faset yang melibatkan tindakan kriminal dan agresi di sekolah yang menghambat perkembangan dan pembelajaran, serta merusak iklim sekolah".[2] Pelaku dan korban kekerasan dapat berasal dari kalangan murid ataupun guru dan staf sekolah lainnya. Kekerasan dapat terjadi antar siswa maupun orang dewasa di sekolah terhadap siswa dan sebaliknya. Kekerasan dapat mengambil tempat di dalam maupun di luar kelas, di lingkungan sekitar sekolah, misalnya di area bermain dan fasilitas olahraga, serta di jalan menuju ke sekolah. Kekerasan di sekolah merupakan isu yang terkait dengan kesehatan masyarakat, hak asasi manusia, dan masalah sosial.[3] Menurut Peter K. Smith, guru besar di Goldsmiths College, London, kekerasan di sekolah tak hanya berdampak negatif terhadap prestasi dan kehidupan siswa, tapi juga merusak nilai-nilai demokrasi dan pendidikan kewarganegaraan.[4]

Tindak kekerasan dapat digolongkan menjadi enam tipe, yaitu penganiayaan (kekerasan fisik, seksual, dan psikologis), penindasan (fisik dan virtual), kekerasan remaja, kekerasan dalam hubungan (kekerasan dalam pacaran dan kekerasan dalam rumah tangga), kekerasan seksual, serta kekerasan psikologis. Di tingkat internasional, angka jumlah kekerasan di sekolah cukup tinggi. Diperkirakan sekitar 1 miliar anak berusia 2-17 tahun pernah menjadi korban kekerasan fisik, seksual, dan kekerasan serta penelantaran emosional di lingkungan sekolah.[3] Berdasarkan data International Center for Research on Women (ICRW) yang dirilis pada 2015, sebanyak 84% anak di Indonesia mengalami kekerasan di sekolah,[5] menjadikan Indonesia salah satu negara dengan jumlah kasus tertinggi di Asia.[6]

Kekerasan dan penindasan di sekolah dapat menimbulkan sejumlah dampak jangka pendek dan panjang pada korban, baik pada aspek akademik, kesehatan, kesehatan mental, masalah interpersonal, perilaku, maupun psikososial.[7] Menurut studi di Universitas Turku pada 2005, anak-anak korban kekerasan dapat mengalami depresi, pikiran kekerasan, bunuh diri, kecemasan, harga diri yang rendah, dan masalah psikologis lainnya. Untuk menghindari konfrontasi lebih lanjut, korban mungkin juga menghindari berkomunikasi dengan siswa-siswa lainnya, sehingga akan memengaruhi kemampuan mereka dalam mengembangkan keterampilan sosial dan interaksi antar manusia.[8]

Kekerasan juga memengaruhi sekolah dalam beberapa hal, antara lain reputasi dan kepercayaan orang tua yang menurun.[8] Orang tua siswa bisa memutuskan memindahkan anak-anak mereka ke sekolah lain dan ini berdampak pada penurunan pemasukan sekolah.[8] Di Amerika Serikat, sekolah yang pernah mengalami kasus kekerasan ekstrem juga harus menganggarkan dana untuk mengadakan alat pendeteksi logam dan mempekerjakan satuan keamanan khusus.[8] Bagi guru, waktu mereka untuk fokus mengajar menjadi berkurang. Jika kekerasan terjadi dalam jangka panjang, proses pengajaran dan pembelajaran akan terganggu dan akan memengaruhi prestasi akademik sekolah.[8]

Kekerasan di sekolah merupakan isu yang kompleks dan faktor penyebabnya bisa berlapis.[9] Menurut peneliti, kesenjangan sosial, kemiskinan ekstrem, dan peminggiran sosial (eksklusi sosial) menjadi beberapa pemicu tindak kekerasan di sekolah.[10] Hal ini dapat diperparah dengan kebijakan pemerintah, misalnya legalisasi senjata api di Amerika Serikat yang dapat mengakibatkan kasus penyalahgunaan senjata di kalangan remaja.[9] Penegakan aturan yang tidak konsisten dan pengaruh media juga dapat menjadi pendorong.[11][9] Kekerasan di sekolah menimbulkan rasa tidak aman dan ketakutan yang dapat merusak iklim sekolah dan melanggar hak siswa untuk belajar di lingkungan yang aman.[12]

Jenis kekerasan[sunting | sunting sumber]

UNESCO mengelompokkan kekerasan di sekolah menjadi lima jenis.[13] Pertama, kekerasan fisik, merupakan penyerangan dengan tujuan melukai anggota tubuh. Pelaku kekerasan fisik bisa murid, guru, dan staf sekolah. Kedua, kekerasan psikologis yang terdiri atas serangan emosional dan verbal. Kekerasan psikologis meliputi segala bentuk pengucilan, penolakan, pengabaian, hinaan, penyebarluasan rumor, mengarang kebohongan, penyebutan nama, ejekan, ancaman, serta hukuman psikis. Ketiga, kekerasan seksual, yang meliputi intimidasi yang bersifat seksual, pelecehan seksual, sentuhan yang tidak diinginkan, pemaksaan seksual dan pemerkosaan, dan dilakukan oleh guru, staf sekolah, atau teman sekolah. Keempat, penindasan, merupakan agresi yang melibatkan pola perilaku, bukan kejadian tunggal. Penindasan adalah perilaku yang disengaja dan agresif dan terjadi berulang kali terhadap korban. Penindasan dapat berupa penindasan fisik, seperti memukul, menendang dan merusak benda; penindasan psikologis, seperti menggoda, menghina dan mengancam; atau bersifat relasional, misalnya dengan menyebarkan rumor dan mengucilkan dari kelompok; dan penindasan seksual, seperti mengolok-olok korban dengan lelucon, komentar, atau gestur yang mengarah seksual. Di beberapa negara, penindasan seksual dikategorikan sebagai pelecehan seksual. Kelima, penindasan siber, adalah bentuk intimidasi psikologis atau seksual yang terjadi secara daring, misalnya mengunggah pos atau mengirim pesan, gambar atau video, yang bertujuan melecehkan, mengancam atau menarget orang lain melalui berbagai media dan platform media sosial. Penindasan dunia maya juga dapat mencakup penyebaran desas-desus, mengunggah informasi palsu, pesan menyakitkan, komentar atau foto yang memalukan, atau mengecualikan seseorang dari jaringan daring atau komunikasi lainnya.[13]

Kekerasan fisik[sunting | sunting sumber]

Murid laki-laki umumnya lebih rentan terhadap hukuman fisik di sekolah.[12] Studi di Serbia menyebutkan kekerasan fisik sebagai kekerasan sekolah yang paling sering terjadi setelah kekerasan sosial dan penindasan verbal.[14] Hukuman fisik yang dilakukan oleh pihak sekolah juga masuk ke dalam kategori kekerasan fisik. Kekerasan fisik dapat berdampak jangka panjang pada aspek fisik dan psikologis korban. Dampak fisik dapat berupa luka fisik, seperti memar, patah tulang, kematian, hingga bunuh diri. Korban hukuman fisik cenderung melakukan kekerasan fisik kepada orang-orang di sekitarnya, seperti memukul saudara kandung, orang tua, teman sekolah, hingga anak-anaknya jika mereka telah dewasa. Anak-anak yang dihukum secara fisik kesulitan untuk mengembangkan empati dan nilai-nilai moral, terlibat dalam kegiatan altruistik, dan cenderung susah menahan diri dari berlaku kasar.[15]

Kekerasan psikologis[sunting | sunting sumber]

Kekerasan psikologis mencakup kekerasan verbal dan emosional. Murid dapat mengalami hukuman psikologis seperti dipermalukan, diancam, dan direndahkan. Kekerasan psikologis, menurut ilmuwan, merupakan kekerasan yang multifaset, dapat terjadi antar siswa maupun dalam relasi guru dan murid. Kekerasan psikologis umumnya merupakan kekerasan yang terjadi pertama kali sebelum disusul oleh kekerasan-kekerasan jenis lainnya. Seorang murid, misalnya, bisa mengalami penindasan dan pengucilan sebelum kemudian mendapatkan kekerasan fisik, seperti dipukul atau dilecehkan.[16]

Kekerasan seksual[sunting | sunting sumber]

Kekerasan seksual merupakan kontak seksual baik yang telah dilakukan maupun percobaannya tanpa persetujuan, serta tindakan mengarah ke hal seksual tanpa adanya kontak fisik. Kekerasan dan pelecehan seksual paling banyak dialami oleh banyak murid-murid perempuan, baik di dalam maupun di luar lingkungan sekolah.[17]

Penindasan[sunting | sunting sumber]

Penindasan merupakan salah satu bentuk kekerasan di sekolah yang paling umum terjadi, diperkirakan sekitar 15-30% remaja pernah mengalaminya.[7] Penindasan adalah bentuk perilaku agresif proaktif atau reaktif yang dilakukan oleh satu orang atau lebih pada orang lainnya dengan tujuan melukai atau menimbulkan ketidaknyamanan. Penindasan dapat berupa serangan fisik, verbal, relasional ataupun siber, dan dilakukan secara terang-terangan maupun terselubung. Beberapa karakteristik penindasan yang membedakannya dengan kekerasan pada teman sebaya (peer-to-peer aggression) lainnya adalah adanya unsur kesengajaan, perilaku yang berulang dan ketimpangan kekuatan antara pelaku dan korban. Studi telah mengidentifikasi sejumlah faktor yang memengaruhi terjadinya penindasan, yaitu faktor individu (jenis kelamin, ras/etnis, kesehatan), faktor relasional (adanya hubungan, seperti teman sebaya dan keluarga), dan faktor kontekstual (status sosial ekonomi, faktor terkait sekolah). Menurut studi, anak dan remaja laki-laki cenderung menjadi target penindasan fisik, sedangkan anak dan remaja perempuan lebih rentan mengalami penindasan verbal dan relasional.[7]

Beberapa siswa yang terlihat 'berbeda' lebih rentan menjadi korban dibandingkan teman-temannya.[18] Perbedaan tersebut dapat menyangkut aspek fisik, latar belakang etnis, bahasa atau budaya, jenis kelamin, termasuk mereka yang tidak mengikuti stereotip gender tradisional, status sosial dan cacat fisik.[18] Berdasarkan teori dan hasil penelitian, anak-anak dan remaja imigran lebih rentan mengalami diskriminasi, penolakan, dan peminggiran yang dilakukan oleh teman sebaya warga lokal.[7] Studi di Spanyol dan negara-negara Nordik menunjukkan bahwa remaja imigran lebih berisiko menjadi target penindasan daripada remaja keturunan lokal. Studi lebih baru yang dilakukan di AS pada 2017 juga menemukan hasil yang sama. Remaja imigran korban penindasan juga dilaporkan mengalami masalah dalam hubungan interpersonal, gangguan sosio-emosional, gangguan kesehatan dan terlibat penyalahgunaan obat-obatan terlarang.[19]

Penyebab tindak kekerasan di sekolah[sunting | sunting sumber]

Sejumlah peneliti di AS mensinyalir kesenjangan ekonomi yang lebar menjadi salah satu penyebab utama kekerasan di sekolah. Berdasarkan data, kesenjangan ekonomi dan sosial di AS termasuk yang tertinggi di antara negara-negara maju lainnya.[10] Peneliti lain mendaftar beberapa faktor penyebab kekerasan terhadap anak, yaitu gender dan norma sosial, dan faktor struktural dan kontekstual yang lebih luas, seperti ketimpangan pendapatan, deprivasi, marginalisasi, dan konflik.[12] Kondisi keluarga yang tidak stabil juga menjadi penyebab perilaku agresif pada anak-anak.[9] Menurut Michael Males, guru besar di Universitas California, Santa Cruz, perilaku dan sikap anak-anak yang hidup sekarang ini banyak dipengaruhi oleh faktor keluarga yang kurang ideal.[9] Mereka mungkin terlahir dan tumbuh di keluarga yang tidak stabil baik secara ekonomi, sosial, maupun emosional, misalnya orang tua yang pecandu obat-obatan dan alkohol, pelaku kriminal dan narapidana, dan orang tua yang menghilang dan tidak bertanggung jawab.[9] Media yang mempertontonkan adegan kekerasan, menurut sejumlah pakar, juga menjadi faktor yang mendorong terjadinya kekerasan di sekolah.[9]

Dampak kekerasan[sunting | sunting sumber]

Kekerasan di sekolah dapat menimbulkan dampak serius bagi korban, baik secara fisik maupun psikologis. Korban penindasan, misalnya, mengalami ketakutan dan merasa terintimidasi, memiliki citra diri dan percaya diri yang rendah, sulit berkonsentrasi dalam belajar, sulit bergaul dan berkomunikasi, serta enggan bersekolah.[20]

Dampak fisik[sunting | sunting sumber]

Penindasan fisik merupakan jenis penindasan yang paling banyak terjadi di seluruh dunia, kecuali di Eropa dan Amerika Utara.[21] Di kedua kawasan tersebut, angka kasus penindasan psikologis dilaporkan lebih tinggi. Penindasan fisik lebih umum terjadi pada murid laki-laki.[21] Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan Plan Asia terhadap siswa dan siswi berusia 12-17 tahun di Kamboja, Indonesia, Vietnam, Pakistan, dan Nepal, korban kekerasan fisik didominasi oleh murid laki-laki.[22] Kekerasan fisik dapat menyebabkan cacat permanen dan masalah kesehatan lainnya dalam jangka panjang. Dampak fisik dapat berupa luka ringan dan berat, memar, patah tulang, dan kematian akibat pembunuhan atau bunuh diri akibat tekanan mental. Korban kekerasan juga berpotensi mengembangkan kebiasaan kesehatan yang buruk, seperti merokok dan mengkonsumsi minuman beralkohol secara berlebihan. Kekerasan juga mengakibatkan korban menjadi malas beraktivitas fisik dan menderita beberapa penyakit, seperti obesitas, diabetes melitus, kanker, penyakit jantung, dan penyakit pernapasan.[23]

Dampak emosional[sunting | sunting sumber]

Kekerasan bisa berdampak pada prestasi belajar korban dan mengganggu kehidupan sosialnya.[24] Korban cenderung memiliki harga diri yang rendah dan berisiko menderita kecemasan dan depresi yang lebih tinggi daripada teman-teman mereka yang bukan korban. Para peneliti juga mengindikasikan adanya efek ganda dalam kekerasan di sekolah, korban diincar sebagai sasaran oleh pelaku yang biasanya teman sebaya, tapi dalam waktu yang sama mereka menjadi korban pengucilan.[25] Korban kekerasan juga berpotensi menjadi pelaku kekerasan di masa depan jika tidak dilakukan intervensi perilaku.[26] Gangguan psikologis lain yang dapat mengancam korban adalah gangguan kelekatan reaktif (reactive attachment disorder) dan gangguan jiwa yang bersifat permanen.[23] Kekerasan psikologis menduduki peringkat kedua setelah penindasan fisik dengan jumlah korban terbanyak adalah murid perempuan.[21]

Kebijakan pencegahan dan penanganan[sunting | sunting sumber]

Menurut Komisi Perlindungan Anak Indonesia, salah satu solusi untuk mencegah terjadinya kekerasan di sekolah adalah dengan menyelenggarakan sekolah ramah anak.[6] Sejumlah kriteria yang harus dipenuhi oleh sekolah ramah anak adalah aman, memenuhi hak anak, melindungi semua pihak dari kekerasan, memiliki iklim sekolah yang sehat, peduli, dan berbudaya serta mendukung partisipasi anak.[6] Selanjutnya, penegakan regulasi juga menjadi faktor penguat sekolah ramah anak.[6] Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Maghfirah dan Rachmawati terhadap 73 murid SMP Negeri 2 Bantul, Yogyakarta. Kedua peneliti tersebut menemukan bahwa iklim sekolah yang positif berdampak pada tingkat penindasan yang rendah.[20] Selain itu, UNESCO juga merekomendasikan beberapa pendekatan yang terbukti efektif untuk menangani kekerasan di sekolah di beberapa negara, yaitu tersedianya sistem pengawasan dan pelaporan yang memadai, program dan intervensi berbasis bukti, fasilitas pelatihan untuk guru, penyediaan dukungan untuk korban, dan fasilitas untuk memberdayakan dan mendorong partisipasi murid. Upaya-upaya tersebut perlu didukung dengan kepemimpinan politik yang berkomitmen tinggi dan kerangka hukum dan kebijakan yang tegas dalam menangani kasus kekerasan.[21]

Terkait penegakan disiplin di sekolah, beberapa peneliti menemukan bahwa pendekatan positif dan non kekerasan membawa pengaruh yang lebih baik dan semua jenis hukuman dengan kekerasan dikaitkan dengan dampak negatif.[27]

Di negara yang penduduknya heterogen dan memiliki jumlah imigran yang besar, seperti Kanada, disarankan untuk mengembangkan kebijakan sekolah dengan keterwakilan sejumlah siswa dari latar belakang yang sama, misalnya berdasarkan latar belakang sebagai imigran.[28] Berdasarkan hasil studi di Eropa, sekolah dengan jumlah imigran yang memadai bisa menjadi pencegah terjadinya kasus kekerasan antar siswa.[29]

Kekerasan di sekolah di sejumlah negara[sunting | sunting sumber]

Kekerasan di sekolah merupakan masalah global. Berdasarkan laporan UNICEF pada 2018, separuh anak-anak berusia 13-15 tahun di seluruh dunia atau sekitar 150 juta anak menjadi korban kekerasan oleh teman sebaya di sekolah.[30]

Amerika Serikat[sunting | sunting sumber]

Berdasarkan laporan bersama Departemen Pendidikan, Pusat Statistik Pendidikan Nasional, dan Departemen Kehakiman AS, kasus kekerasan dan kejahatan di sekolah di AS cenderung mengalami penurunan selama kurun 1992 sampai 2017,[31] tetapi angka kasus pembunuhan dengan jumlah korban besar terus meningkat.[32] Beberapa kasus yang paling menonjol adalah penembakan di sekolah yang terjadi di SMA Marjory Stoneman Douglas, SD Sandy Hook, dan SMA Santa Fe.[32]

Britania Raya dan Irlandia Utara[sunting | sunting sumber]

Hasil survei yang dilakukan terhadap 5000 guru di NASUWT (National Association of Schoolmasters Union of Women Teachers) menunjukkan bahwa 24% guru di serikat tersebut mengalami kekerasan dari murid di setiap minggunya.[33] Dari hasil wawancara dengan mereka, para guru melihat adanya tren kenaikan kasus penindasan verbal dan fisik oleh siswa terhadap guru dari tahun ke tahun.[33] Data dari Departemen Pendidikan menunjukkan bahwa selama tahun ajaran 2016/17, sebanyak 655 murid di Inggris dikeluarkan dari sekolah karena melakukan pelecehan secara lisan kepada orang dewasa, dan 59.675 siswa diberhentikan dari sekolah untuk jangka waktu tertentu. Sedangkan untuk kasus kekerasan fisik terhadap staf sekolah, ada 745 murid yang dikeluarkan dari sekolah dan 26.695 diberhentikan sementara. Jumlah tersebut lebih tinggi dari tahun ajaran sebelumnya.[33]

Indonesia[sunting | sunting sumber]

Kasus kekerasan dan penindasan di Indonesia tidak hanya berlangsung di sekolah, tetapi juga di perguruan tinggi. Budaya perpeloncoan antar siswa yang bersifat turun menurun menjadi salah satu bentuk kekerasan di sekolah/kampus. Sejumlah kasus kekerasan yang terjadi antara lain adalah kasus perpeloncoan di kegiatan orientasi studi dan pengenalan kampus (OSPEK) murid/mahasiswa baru di beberapa institusi, misalnya kasus di IPDN[20] dan di SMA Taruna Indonesia di Palembang.[34] Beberapa di antaranya berujung pada kematian korban.[35]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Centers for Disease Control and Prevention 2020.
  2. ^ Wat 2007.
  3. ^ a b Ferrara et al. 2019, hlm. 1.
  4. ^ Smith 2004.
  5. ^ Hartik, Andi (2016-11-29). "84 Persen Siswa Indonesia Alami Kekerasan di Sekolah". KOMPAS.com. Diakses tanggal 2021-06-05. 
  6. ^ a b c d Setyawan, Davit (2017-02-21). "Indonesia Peringkat Tertinggi Kasus Kekerasan di Sekolah". Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). Diakses tanggal 2021-06-05. 
  7. ^ a b c d Maynard et al. 2016, hlm. 2.
  8. ^ a b c d e Priddy, Brenda. "Consequences of School Violence". The Classroom (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2021-06-27. 
  9. ^ a b c d e f g Constitutional Rights Foundation (2021). "Causes of school violence". www.crf-usa.org. Diakses tanggal 2021-06-05. 
  10. ^ a b Kramer, Ronald C. (2000). "Poverty, inequality, and youth violence". University of Michigan. Diakses tanggal 2021-06-25. 
  11. ^ Astuti, Ponny Retno (2008). Meredam bullying: 3 cara efektif menanggulangi kekerasan pada anak. Jakarta: Grasindo. ISBN 978-979-025-464-0. 
  12. ^ a b c Ferrara et al. 2019, hlm. 2.
  13. ^ a b UNESCO 2020.
  14. ^ "Physical Violence in Schools". Novak Djokovic Foundation (dalam bahasa Inggris). 2014-04-21. Diakses tanggal 2021-07-04. 
  15. ^ Ferrara et al. 2019, hlm. 2-3.
  16. ^ Javanaud, Katie (2016-07-18). "Tackling Violence in Schools: the impact of psychological violence (Child Hub Summary) | ChildHub - Child Protection Hub". Child Protection Hub (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2021-08-17. 
  17. ^ Crawfurd, Lee; Hares, Susannah (2020-03-06). "There's a Global School Sexual Violence Crisis and We Don't Know Enough About It". Center For Global Development (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2021-08-17. 
  18. ^ a b Versea, Federica (2021-02-09). "Physical and Virtual Violence ('Bullying') in Schools: A Worldwide Problem to Address". Humanium (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2021-06-06. 
  19. ^ Maynard et al. 2016, hlm. 8.
  20. ^ a b c Magfirah, Ulfah; Rachmawati, Mira Aliza (2010). "Hubungan antara iklim sekolah dengan kecenderungan perilaku bullying". CORE – Aggregating the world's open access research papers. Diakses tanggal 2021-06-06. 
  21. ^ a b c d UNESCO (2019-01-22). "School violence and bullying a major global issue, new UNESCO publication finds". UNESCO (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2021-06-08. 
  22. ^ Iyengar, Rishi (2015-03-03). "7 of 10 Asian Children Experience School Violence". Time (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2021-06-06. 
  23. ^ a b Ferrara et al. 2019, hlm. 3.
  24. ^ Beale & Scott 2001.
  25. ^ Bulach, Fulbright & Williams 2003.
  26. ^ Osofsky & Osofsky 2001.
  27. ^ Ferrara et al. 2019, hlm. 3-4.
  28. ^ Vitoroulis, Irene; Georgiades, Katholiki (2017-12-01). "Bullying among immigrant and non-immigrant early adolescents: School- and student-level effects". Journal of Adolescence (dalam bahasa Inggris). 61: 141–151. doi:10.1016/j.adolescence.2017.10.008. ISSN 0140-1971. 
  29. ^ Agirdag, Orhan; Demanet, Jannick; Van Houtte, Mieke; Van Avermaet, Piet (2011-07-01). "Ethnic school composition and peer victimization: A focus on the interethnic school climate". International Journal of Intercultural Relations (dalam bahasa Inggris). 35 (4): 465–473. doi:10.1016/j.ijintrel.2010.09.009. ISSN 0147-1767. 
  30. ^ Howard, Jacqueline (2018-09-05). "Half of world's teens face peer violence at school, UNICEF says". CNN. Diakses tanggal 2021-06-06. 
  31. ^ Musu, Lauren; et al. (2019). "Indicators of School Crime and Safety: 2018, Washington, DC: U.S. Department of Education, National Center for Education Statistics and U.S. Department of Justice, Bureau of Justice Statistics" (PDF). Bureau of Justice Statistics. Diakses tanggal 2021-06-06. 
  32. ^ a b Frederique, Nadine (2020-11-13). "What Do the Data Reveal About Violence in Schools?". National Institute of Justice (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2021-06-05. 
  33. ^ a b c Sellgren, Katherine (2019-04-20). "Teachers face weekly violence from pupils, says survey". BBC News (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2021-06-08. 
  34. ^ Sidiq, Farih Maulana. "Siswa SMA Taruna Meninggal Saat MOS, Mendikbud Larang Perpeloncoan". detiknews. Diakses tanggal 2021-06-06. 
  35. ^ Bramasta, Dandy Bayu (2020-09-16). "Selain di Unesa, Berikut Sederet Kejadian Memilukan Saat Ospek Mahasiswa Baru Halaman all". KOMPAS.com. Diakses tanggal 2021-06-06. 

Daftar pustaka[sunting | sunting sumber]

Jurnal[sunting | sunting sumber]

Sumber daring[sunting | sunting sumber]

Daftar rujukan[sunting | sunting sumber]