Kebudayaan Korea Selatan

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Kebudayaan Korea Selatan kontemporer berkembang dari kebudayaan Korea tradisional pada awal suku-suku nomaden Korea. Dengan mempertahankan tradisi Korea kuno berusia ribuan tahun yang dipengaruhi budaya Tiongkok kuno, Korea Selatan mengembangkan jalur budayanya sendiri terpisah dari kebudayaan Korea Utara sejak pembagian Korea tahun 1948. Industrialisasi dan urbanisasi Korea Selatan, terutama Seoul, telah membawa banyak perubahan pada cara hidup bangsa Korean. Perubahan ekonomi dan gaya hidup telah menyebabkan penduduk terkonsentrasi pada kota-kota besar (dan depopulasi wilayah pedesaan) dan pola rumah tangga berubah dari sebelumnya multigenerasi (keluarga besar dengan anggota keluarga beberapa generasi hidup bersama dalam satu rumah) menjadi keluarga-keluarga inti (keluarga dalam satu rumah hanya terdiri atas satu kepala keluarga: ayah, ibu, dan anak).

Kesastraan[sunting | sunting sumber]

Lihat pula: Sastra Korea hingga 1948, lalu Sastra Korea Selatan.

Sebelum abad ke-20, sastra Korea dipengaruhi oleh sastra bahasa Tionghoa klasik. Kaligrafi Tionghoa juga meluas digunakan oleh bangsa Korea selama lebih dari seribu tahun dalam sastra Korea. Sastra modern sering dikaitkan dengan perkembangan hangeul, yang membantu memperluas melek aksara dari kelas-kelas masyarakat dominan hingga ke orang-orang biasa, termasuk kaum perempuan. Tetapi, hangeul hanya mencapai posisi dominan dalam sastra Korea pada paruh kedua abad ke-19, yang mendorong pertumbuhan besar dalam sastra Korea. Sinsoseol adalah contoh novel yang ditulis dalam aksara hangeul.

Pada puisi modern, ada upaya-upaya untuk memperkenalkan imagist dan metode-metode puisi modern, khususnya dalam penerjemaahan karya-karya awal Amerika modern, seperti karya Ezra Pound dan T. S. Eliot pada awal abad ke-20. Pada awal periode Republik, karya-karya patriotik sangat sukses.

Journalisme[sunting | sunting sumber]

Koran Korea

Korea Selatan memiliki 10 koran dan 3 saluran televisi besar. Tiga koran harian terbesar adalah Chosun Ilbo, Joongang Ilbo, dan Donga Ilbo. The Hankyoreh adalah koran berhaluan kiri. KBS, MBC, dan SBS adalah saluran-saluran televisi utama. Ada juga EBS untuk siaran pendidikan.

Korea Selatan juga memiliki beberapa publikasi koran dan majalah. Salah satu yang paling populer adalah The Chosun Ilbo, yang merupakan versi daring dari harian Chosun Ilbo. Majalah-majalan Korea populer antara lain K Scene Magazine, JoongAng Ilbo, Korea Post, Korea Times, Yonhap News Agency, dan OhmyNews International. The Korea Herald adalah koran berbahasa Inggris untuk orang asing, menyajikan berita dari seluruh penjuru dunia.

Pengaruh asing[sunting | sunting sumber]

Burger King di Seoul, Korea Selatan

Korea Selatan secara historis menerima pengaruh dari Tiongkok dan pada beberapa tahun terakhir dari dunia Barat, khususnya Amerika Serikat. Pengaruh dari budaya barat dan modernisasi yang cepat telah mengubah kebiasaan makan orang-orang Korea. Saat ini banyak orang Korea yang dapat menikmati makanan barat dan makanan Asia lain di samping makanan Korea tradisional. Pizza adalah satu jenis makanan asing favorit di kalangan masyarakat Korea Selatan, meskipun pizza di Korea Selatan disajikan berbeda dengan yang di Barat, sering berisi jagung, ubi jalar, mayones, bulgogi, dan variasi-variasi lainnya. Banyak gerai hamburger, ayam, kopi, dan es krim dari Barat juga sangat populer di Korea Selatan. Warung-warung kopi milik 12 merek besar berkembang pesat hingga lebih dari 2.000 lokasi pada tahun 2010[1] dan istilah "coffice" (커피스)[2] digunakan untuk menyebutkan berkantor di cafe.[3]

Pakaian Korea Selatan juga sangat dipengaruhi gaya asing.

Saat ini bahasa Korea menerima gelombang pengaruh besar dari kata-kata bahasa Inggris, kadang-kadang disebut Konglish. Contoh-contoh Konglish:

  • Eye shopping (ai syopping 아이 쇼핑)
  • Service (seobisseu 서비스)
  • Hand phone (hendeu pon 핸드폰)

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "In Korea, coffee shops just keep on multiplying". Korea Joongang Daily/IHT. August 30, 2010. 
  2. ^ COACHING DECO Elle Magazine Korea 2009.10.01
  3. ^ Schott, Ben (September 10, 2010). "Coffice". The New York Times. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]