Kampak, Trenggalek

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Kampak
Lokasi Kecamatan Kampak, Trenggalek.png
Peta lokasi Kecamatan Kampak
Negara Indonesia
ProvinsiJawa Timur
KabupatenTrenggalek
Pemerintahan
 • CamatDrs. HARIYADI (Sekarang)
Populasi
 • Total- jiwa
Kode Kemendagri35.03.07 Edit the value on Wikidata
Luas- km²
Desa/kelurahan7 Desa

Kampak adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Trenggalek, Provinsi Jawa Timur, Indonesia.

Sejarah Kampak

Kampak merupakan salah satu Kecamatan dari Kabupaten Trenggalek, Provinsi Jawa Timur, Indonesia. Kampak terletak 18Km sebelah selatan kota Trenggalek. Kampak dikelilingi kecamatan Munjungan,Watulimo,Gandusari,Dongko dan Karangan. Kecamatan Kampak mayoritas daerah perbukitan dan hanya sebagian kecil dataran rendah yang merupakan sebuah lembah yang dibelah 2 sungai. Mata pencaharian mayoritas penduduknya petani sawah dan hutan lainnya pedagang dan pegawai negeri. Karena sulitnya mencari lapangan kerja banyak pemuda dan pemudinya merantau baik ke kota besar,luar jawa maupun ke luar negeri untuk jadi TKI. Mungkin memang dari sejarahnya Kampak adalah tempat berdiam diri/pengasingan diri dan bukan tempat yang ramah untuk mencari nafkah.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Asal Usul Kampak

Menurut penelusuran sejarah Kampak sudah ada dan pernah disinggahi manusia sejak zaman Pra Sejarah. Banyak bukti-bukti sejarah yang membenarkan bahwa Kampak pernah jadi daerah yang pernah disinggahi manusia Pra Sejarah diantaranya batu-batuan zaman Pra Sejarah. Namun untuk sampai pada Kapan Nama Kampak mulai dipakai, sampai sekarang belum ada penelitian yang mengarah pada pencarian asal usul Nama Kampak. Yang ada selama ini hanya cerita rakyat apa maksud dari kata Kampak. Ada 2 versi menurut cerita rakyat. Yang pertama arti kata Kampak adalah Perampok yang menurut bahasa Jawa Kuno memang artinya Kampak. Yang Kedua Ampak-ampak juga dari bahasa Jawa Kuno yang berarti Kabut Gelap yang menutupi Hutan Kampak sehingga tidak ada yang berani memasukinya. Dari 2 kata ini secara logika sebenarnya sudah bisa ditebak. Orang zaman dahulu terkenal kesaktiannya,jangankan memasuki kabut gelap memasuki gua yang gelap dan hutan belantara biasa dilakukan orang zaman dahulu. Terkecuali dalam Kabut gelap itu ada sesuatu mungkin itulah yang jadi penyebab ketidakberanian orang-orang memasuki hutan Kampak. Jawaban yang mendekati kebenaran teori ini adalah Hutan Kampak merupakan Sarang Perampok. Lantas Perampok dari mana dan kenapa harus bersarang di hutan Kampak? Inilah yang dengan sepenggal pengetahuan saya akan coba saya ungkapkan. Menurut cerita rakyat juga, ketika masih zaman Hindia Belanda tak ada orang yang berani memberi tempat penginapan kepada warga Kampak apabila bepergian kemalaman ke daerah Tulungagung atau Ponorogo kabupaten yang mengapit Trenggalek. Dari sini sudah jelas,memang sejak dahulu Kampak sudah ditakuti karena Sarang Rampoknya.

Menurut Prasasti Kampak yang pernah ditemukan di Sumber Ngudalan Dukuh Kampak Desa Karangrejo, tertulis karena rasa terima kasih Mpu Sindok kepada warga telah ikut membantu perjuangannya maka warga Perdikan Kampak yang wilayahnya ke selatan sampai Laut Selatan mendapat Tanah Bebas Pajak pada masa pemerintahannya. Angka tahun yang tertera dalam prasasti itu adalah 851 Syaka/929 Masehi, artinya menurut catatan sejarah Tahun itulah pertama kali Mpu Sindok berkuasa. Dari sini sudah jelas, sejak kapan Kata Kampak dipakai. Sejak ada prasasti itulah kata Kampak dipakai dengan adanya kata-kata Perdikan Kampak. Jadi jelasnya Kampak umurnya lebih tua dari nama kabupaten Trenggalek. Kenapa Mpu Sindok menamakan daerah ini dengan Perdikan Kampak? Inilah yang coba saya ungkap dengan keterbatasan pengetahuan saya menggunakan pengetahuan batiniah sebagai penduduk asli Kampak.

Akibat dari konflik yang terus terjadi di Kerajaan Mataram,Mpu Sindok menyadari perlunya sebuah kekuatan/prajurit/tentara siluman yang siap mempertahankan Kerajaan Mataram dari kehancuran. Dari pengembaraannya sampailah Mpu Sindok di daerah lembah yang dibelah 2 buah sungai dan dalam lembah itu hidup para pertapa dan penduduk yang masih sedikit. Sampai di sini Mpu Sindok merasakan ketenangan dan kedamaian hidup. Di Lembah ini Mpu Sindok juga memperdalam pengetahuan batinnya agar lebih dekat dengan Sang Pencipta. Setelah dirasa cukup maka pulanglah kembali dia ke pusat Kerajaan Mataram karena waktu itu dia masih jadi Pembesar Kerajaan. Setiap ada kesempatan Mpu Sindok datang ke Lembah Kampak dengan membawa sedikit demi sedikit pengikutnya untuk dididik dan digembleng di Lembah Pertapaan Kampak sampai jadi kekuatan siluman yang suatu saat bisa di andalkan. Kenapa saya sebut Kampak daerah Pertapaan karena sebelum peristiwa G30 S banyak batu-batu tua yang menggambarkan daerah ini sebelumnya daerah pertapaan. Penduduk sekitar setiap ada acara atau pra/pascapanen datang ke tempat batu-batu itu berada untuk mengadakan selamatan. Kemudian datang serangan hebat dari Kerajaan Sriwijaya dan Sekutunya di Tanah Jawa sehingga Kerajaan Mataram hancur lebur. Memang sudah lama permusuhan Kerajaan Mataram dengan Kerajaan Sriwijaya semenjak kekalahan Balaputra Dewa dari Rakai Pikatan kemudian melarikan diri ke Sriwijaya dan menjadi raja Sriwijaya. Mpu Sindok dan para pembesar kerajaan yang masih hidup melarikan diri ke Lembah Kampak dan mempersiapkan Teror untuk menghancurkan Kerajaan Boneka Sriwijaya. Laskar-laskar Kampak yang terdiri dari penduduk Perdikan Kampak dan sisa-sisa tentara Kerajaan Medang/Mataram mulai menebar teror dengan Merampok setiap Upeti/Pajak yang akan dikirim ke Kerajaan Boneka Sriwijaya. Mulai saat itulah Kampak/Rampok mulai dikenal semua orang karena keganasannya. Barang-barang hasil rampokan ini disimpan untuk biaya perjuangan selanjutnya menegakkan Kerajaan Medang/Mataram kembali. Tak ada yang berani memasuki wilayah Kampak karena kabutnya dan banyaknya jebakan sehingga pada saat itu dan selanjutnnya Kampak ditakuti oleh semua penduduk Jawa yang mendengarnya. Sampai pada akhirnya terjadi pertempuran hebat antara pasukan Sriwijaya dan Laskar Kampak/Mpu Sindok di daerah Anjuk Ladang(Nganjuk) dan kemenangan diraih pihak Mpu Sindok kemudian diabadikan dalam sebuah prasasti yang sekarang jadi Hari Jadi Kabupaten Nganjuk dan sebutan asal muasal Nganjuk.

Setelah kemenangan ini Mpu Sindok,seluruh punggawa mataram dan keluarga yang masih tersisa para prajurit beserta barang-barang kerajaan mataram mencari tempat baru untuk dijadikan Istana Baru Kerajaan Medang/Mataram. Sampailah pada daerah Tamwlang kemudian didirikan Istana Sementara kemudian pindah lagi ke Watugaluh/Megaluh(Jombang) disinilah Istana Kerajaan Medang/Mataram baru dibangun dan Mpu Sindok menggunakan Wangsa Baru Isyana karena mungkin memang Mpu Sindok bukan termasuk Wangsa Sanjaya sebagaimana pendahulunya. Gelar Mpu Sindok adalah Sri Icana Wikramadharmottunggadewa, dengan Lambang Kerajaan TRISULA terbalik. Banyak peninggalan Mpu Sindok disamping prasasti diantaranya sebuah situs percandian di kaki Gunung Welirang Mojokerto.

Sejarah Kampak (Versi 2)

Daerah Kampak itu daerah kuno, mungkin sebelum Medang Mataram eksis, Kampak sudah eksis. Perampok di Kampak memang sudah eksis sejak jaman dahulu kala, bahwa sekelas Ken Angrok-pun pernah berdiam dan mencari kesaktian di gunung Manik Oro Kampak. Dan setelah Ken Angrok mendapatkan Manikoro atau mustika Manikoro(kuning), kemudian Ken Angrok bergeser ke dekat Dam Bagong Trenggalek untuk merampok orang-orang yang melintas di jalur Ponorogo Trenggalek pada jamannya. Mungkin menurut Pararaton, Ken Angrok didukung Pendeta-pendeta Syiwa adalah pendeta-pendeta yang berdiam di daerah Kampak. Karena sejak dahulu wilayah Kampak juga wilayah pertapaan. Akhirnya dengan pegangan Mustika Manikoro, Ken Angrok menjadi Raja Singasari yang pertama.

Kembali pada sejarah Kampak, menurut dongeng dan penglihatan batin gunung Manikoro adalah pucuk atau puncak dari Gunung Kelud yang sejak jaman kerajaan di jawa timur selalu di puja-puja. Demikian pula pada jaman Mpu Sindok, gunung Manikoro dianggap semacam Cungkup atau Tempat Pemujaan kepada Hyang atau Bhatara. Sehingga ada Dapungku yang memohon kepada Raja Mpu Sindok untuk menjadikan sawah disekitar tempat pemujaan sebagai sima atau tanah bebas pajak. Seperti yang tertulis pada inskripsi pada Prasasti Kampak Prasada Kebaktyan i Pangarumbigyan yang artinya Tempat Kebaktian di Manikoro/Cungkup sebagai jelmaan dari puncak gunung Kelud. Sama dengan pemujaan di Walandit pada Prasasti Gulung-gulung atau lainnya. Memang ada keanehan atau mungkin keistimewaan, bentuk gunung Manikoro kalau dilihat dari sisi timur akan tampak seperti Mahkota. Juga bukan kebetulan sehingga Mpu Sindok menyimpan Mahkotanya di gunung Manikoro, mungkin hingga kini dalam gua di puncak gunung dan konon dijaga oleh ular hijau besar. Konon juga gua tersebut mengarah ke gunung Kumbokarno di Pantai Prigi, Kecamatan Watulimo.

Asal Usul Kampak

Kembali pada sejarah dari mana kata Kampak pertama kali berasal. Ini tidak terlepas dari sebuah tempat di lereng sebelah selatan Manikoro, sekarang tempat itu dinamakan Dukuh Pesu Desa Karangrejo, Kampak. Pada tahun 1980an ke bawah penduduk Pesu banyak menemukan perhiasan emas kuno yang berserakan di ladang-ladang dan sekitar daerah Pesu. Ini bisa diartikan, Pesu adalah bekas tempat pemukiman kuno. Dongeng yang berkembang selama ini tak lepas dari tempat seseorang yang bernama Ronggo Pesu pada jaman Mataram Islam. Menurutku, Pesu sudah ada dan jadi tempat pemukiman sebelumnya semacam kerajaan kecil. Terbukti dengan adanya Makam Tunggul Manik raja dari Kerajaan Pesu yang dikuburkan di sisi timur gunung Manikoro. Dari namanya mungkin raja ini ada pada masa Majapahit. Namun ada bukti juga dari nama Pesu itu muncul jauh dari kata Kampak. Pesu adalah kependekan penyebutan dari kata PARASU yang artinya Kapak atau Kampak, untuk menyebut Parasu pada bahasa Kawi. Sedang Parasu sendiri adalah bahasa Sangsekerta. Jadi sebelum masa Mpu Sindok sudah ada Kerajaan yang bernama PARASU di lereng gunung Manikoro sebelah selatan. Kerajaan ini mungkin eksis pada awal-awal kebudayaan sangsekerta hadir atau ada di Jawa. Jadi jauh sebelum Kerajaan Medang Mataram ada, kerajaan PARASU atau PESU sudah ada dengan persenjaatan prajuritnya sebuah Kapak atau Kampak. Sehingga terkenal dengan nama kerajaan Parasu, atau mungkin sebuah tempat dari Bhagawan Parasurama yang berhasil mengalahkan Arjunasasrabahu dan kemudian di kalahkan Rama dalam kisah Ramayana.

Bukti lain Pesu lebih tua dari tempat manapun di Trenggalek adalah. menurut orang-orang tua Kampak, dulu sebelum peristiwa G30S atau mungkin setelahnya setiap acara Ulang Tahun Kabupaten Trenggalek, tumpeng dan segala macam pusaka berangkat pertama dari Dukuh Pesu kemudian ke Sumber Ngudalan dan selanjutnya ke Kamulan Durenan terus ke Kantor Bupati Trenggalek. Artinya orang-orang tua dahulu sudah mengetahui daerah mana yang dimintai berkah karena tuanya. Dan orang-orang dahulupun tidak sembarangan menentukan suatu tempat layak dihormati atau tidak, karena orang-orang dahulu hatinya masih bersih, sering tirakat (puasa) dan kedalaman ilmunya. Tidak mengherankan pada Prasasti Kampak pada masa Mpu Sindok, tempat ini juga disebut, karena mungkin dari dahulu mungkin sudah terkenal. Karena seiring waktu bahasa kesustraanpun berganti, maka kata Parasu atau Pesu di ganti dengan Kampak. Mungkin bahasa Kampak untuk Kapak dimulai pada era bahasa Jawa Kuno atau Kawi dan berlanjut hingga kini. Namun di Jawa sendiri atau khususnya daerah Kampak kata Kampak atau Kapak telah berubah menjadi Prekhul, namun nama tempatnya masih bahasa lama Pesu atau Parasu.

Pada akhirnya walau banyak versi tentang sejarah Kampak, daerah ini dari jaman kuno terkenal sebagai daerah atau markasnya Perampok tidak bisa diingkari. Karena konotasi Kampak bagi masyarakat Jawa adalah gerombolan begal/rampok. Sisa-sisa orang sakti Kampak yang berprofesi sebagai perampok masih eksis sampai terakhir masa Gestok/G30S. Karena pada saat peristiwa gestok, banyak pendekar-pendekar Kampak yang dibantai karena dituduh anggota atau simpatisan PKI. Dan sejak itu pula pamor daerah Kampak redup dalam perpolitikan dan pemerintahan di Jawa. Untuk mengangkat kembali pamor Kampak sesuai jalan sejarah, dibutuhkan pendekar-pendekar muda yang berhati bersih, thawadhuk, dan kuat puasa seperti leluhur-leluhur terdahulu. Kalau jaman milenial sekarang, SDM yang unggul yang mengabdikan sepenuhnya bagi kepentingan masyarakat banyak.


Sumber ; Padepokan Dewandaru

Daftar Desa[sunting | sunting sumber]

  1. Bendoagung
  2. Bogoran
  3. Karangrejo
  4. Ngadimulyo
  5. Senden
  6. Sugihan
  7. Timahan