Kake'ane

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Kake'ane, Kakekane (juga ditulis Kakeane atau kek) adalah sebuah kata yang menjadi ciri khas komunitas masyarakat di Jawa Tengah bagian Pantura, terutama Jepara dan sekitarnya. Selain itu, kata ini juga digunakan oleh masyarakat Demak, Kudus dan Semarang. Meskipun memiliki konotasi buruk, kata kake'ane menjadi kebanggaan serta dijadikan simbol identitas bagi komunitas penggunanya, bahkan digunakan sebagai kata sapaan untuk memanggil di antara teman, untuk meningkatkan rasa kebersamaan.

Normalnya, kata tersebut digunakan sebagai umpatan pada saat emosi meledak, marah, atau untuk membenci dan mengumpat seseorang. Kata Kake'ane juga menjadi simbol keakraban dan persahabatan khas Cah Jeporo.[1]

Etimologi[sunting | sunting sumber]

Istilah “Kake'ane, Kakekane, Kakeane atau kek" memiliki makna “sialan, keparat, berengsek (ungkapan berupa perkataan umpatan untuk mengekspresikan kekecewaan atau bisa juga digunakan untuk mengungkapkan ekspresi keheranan atas suatu hal yang luar biasa)”.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Kata ini memiliki sejarah yang masih rancu. konon dulu zaman belanda ada seorang anak kecil yang sering di marahin kakeknya saat sedang asyik bermain hingga lupa waktu. Terlalu sering dimarahi sang kakek akhir nya sianak ketika bermain dan di ledek temen-temennya "sana pulang entar dimarahin kakek" dan si anak menjawab "ah jan kowe pancen koyo kakek ane (ah dasar kamu emang kayak kakek saya)". hingga akhirnya menjadi kata "Kake'ane". Sering kali marah dan sampai berkelahi dengan temannya ketika anak sering diledek dgn kata tersebut, hingga masyarakat menggunakan kata tersebut sebagai kata kasar serta umpatan atau kemarahan akan suatu hal. Kake'ane dalam kepastian sejarah masih simpang siur. Namun banyak pemerhati Sejarah yang menyepakati bahwa pisuhan ini mulai gaul pada jaman post kolonial belanda. Kata tersebut seringkali diucapkan dan menjadi kata gaul oleh anak-anak Indo-Belanda sekitar tahun 1940an. Pengucapan dilakukan oleh anak Jepara. Hal ini terjadi karena di Jepara terdapat perbedaan kelas yang sangat menonjol antara anak-anak Indo-Belanda dengan anak-anak pribumi.


Makna[sunting | sunting sumber]

Kata “Kaké'ane” merupakan kata yang tabu digunakan oleh masyarakat Pulau Jawa secara umum karena memiliki konotasi negatif. Namun, penduduk Jepara, menggunakan kata tersebut sebagai identitas komunitas mereka[1] sehingga kata “Kaké'ane” memiliki perubahan makna ameliorasi (perubahan makna ke arah positif).


Kata seru[sunting | sunting sumber]

Kata "Kake'ane", atau “kek” dalam bentuk singkatnya, digunakan sebagai kata seru untuk menunjukkan perasaan yang muncul, baik perasaan yang bersifat negatif maupun positif. Contoh kalimat:

  1. "Kek, gak usah kakehan ngomong!" ("Kek, tidak usah banyak bicara!")
  2. "Wih, apik'e, Kek!" ("Wih, bagusnya, Kek!")

Kata sapaan[sunting | sunting sumber]

Di antara para pengguna, kata “Kake'ane” juga digunakan sebagai kata sapaan untuk mengungkapkan kemarahan atau menunjukkan kedekatan hubungan di antara teman.[1] Karena konotasi buruk yang melekat pada istilah “Kake'ane”, seseorang akan menjadi marah jika dipanggil menggunakan kata tersebut. Hal tersebut tidak berlaku di antara teman karib, yang malah menunjukkan bahwa kedekatan hubungan mereka membuat mereka tidak akan saling marah jika dipanggil dengan kata “Kaké'ane”. Meskipun tergolong bahasa gaul anak muda, kata tersebut masih terasa tidak pantas untuk digunakan memanggil orang tua karena arti sebenarnya adalah perkataan kotor.

Contoh kalimat:

  1. "Kek, nang endi ae kowe?" ("Kek, ke mana saja kamu?")
  2. "Ojo meneng ae, Kek!" ("Jangan diam saja, Kék!")
  3. "Ning pantai yok, Kek." ("Kepantai yuk, Kék.")

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c Warkop. 4 Juni 2015. Sejarah Singkat Kake'ane.