Johannes Sudiarna Hadiwikarta

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Mgr. Johannes Sudiarna Hadiwikarta
Uskup Surabaya
Mgr Johannes Hadiwikarta.jpg
GerejaGereja Katolik Roma
KeuskupanSurabaya
Ditunjuk26 Maret 1994
Akhir Masa Jabatan13 Desember 2003
PendahuluAloysius Josef G. Dibjokarjono
PenggantiVincentius Sutikno Wisaksono
Tahbisan
Ditahbiskan8 Desember 1970[1]
Konsekrasi25 Juli 1994
oleh Aloysius Josef G. Dibjokarjono
Data Diri
Nama lahirJohannes Sudiarna Hadiwikarta
Lahir28 Maret 1944
Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, Indonesia
Wafat13 Desember 2003(2003-12-13) (umur 59)
Dimakamkan diPemakaman Puhsarang,
Kediri, Jawa Timur
Kewarganegaraan Indonesia
DenominasiKatolik Roma
Posisi sebelumnya
MotoPastor bonus (Yohanes 10:11)[2]
(Gembala yang baik)

Mgr. Johannes Sudiarna Hadiwikarta (lahir di Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, Indonesia, 28 Maret 1944 – meninggal 13 Desember 2003 pada umur 59 tahun) adalah Uskup Surabaya sejak 26 Maret 1994 hingga wafat pada 13 Desember 2003.

Karya[sunting | sunting sumber]

Pilihan untuk menjadi imam projo belum ternama, namun tetap ditempuh oleh Frater Hadiwikarta saat itu. Ia membaca riwayat Pius X dan Pastor dari Ars, seorang pastor yang terkenal suci. Waktu itu jumlah imam praja di Keuskupan Agung Semarang (KAS) masih sangat sedikit, dan justru membuat ia tertarik ingin masuk praja, sekaligus ingin membuktikan bahwa baik buruknya seorang imam tergantung dari pribadi imam itu sendiri.. Saat itu ia juga jarang berhubungan dengan imam Projo, dan lebih banyak dengan imam Yesuit. Ketika itu, masih terdapat pembicaraan yang menganggap imam Projo ialah imam kelas dua dibandingkan dengan imam biarawan. Diakon Hadiwikarta akhirnya ditahbiskan menjadi imam pada tanggal 8 Desember 1970.

Semangat cinta kegembalaan dalam diri Pastor Hadiwikarta telah terekam sejak masa-masa pendidikannya. Hal itu termasuk dalam skripsi kesarjanaan yang ditulis tahun 1971, berjudul "Gambaran Imamat Menurut Konsili Vatikan II" serta pada peringatan 25 tahun imamatnya, dengan buku "Tangan Tuhan Menuntunku". Ia mengungkakan kecintaan akan imamatnya dengan bangga, termasuk membuat tujuh putra altar yang didampinginya ketika menjadi pastor di Magelang menjadi imam.[2]

Sejak April 1971Agustus 1974, Pastor Hadiwikarta bertugas di Paroki St. Ignatius, Magelang, lalu 1974 hingga 1976 ditugaskan belajar bahasa Arab dan Islamologi di Institut Kepausan, Roma. Sejak Juli 1976 hingga 3 bulan ke depan, ia membantu Paroki Staten Island, New York, Amerika Serikat. Pada Oktober 1977 selama 9 tahun, ia menjabat sebagai Pro-Sekertaris MAWI, kemudian tahun 1989–1990, bertugas di Paroki Kumetiran dan mengajar Islamologi di Seminari Tinggi St. Paulus. Tahun 1990–1994, Mgr. Hadiwikarta menjabat sebagai Vikaris Jenderal di Keuskupan Agung Semarang.[2]

Pengumuman pengangkatan Mgr. Hadiwikarta sebagai Uskup Surabaya dilakukan pada 24 April 1994. Sebelumnya ia telah mengetahui sejak diberitahukan oleh Pro-Nuncio pada 5 April 1994.[3] Moto yang dipilihnya terjadi ketika Pro-Nuncio Apostolik Mgr. Pietro Sambi menanyakan kepada Mgr. Hadiwikarta kapan pengangkatannya akan diumumkan secara resmi. Mgr. Hadiwikarta saat itu mengusulkan tanggal 23 April sore hari atau 24 April, yang bertepatan dengan Minggu Panggilan (Minggu Paskah Keempat). Dalam bacaan Injil hari tersebut, Yesus menyebut dirinya sebagai gembala yang baik.[2]

Pada tanggal 25 Juli 1994 bertempat di Stadion Wijaya Kusuma, Bumi Moro Krembangan, ia ditahbiskan menjadi Uskup Surabaya. Pendahulunya, Mgr. Aloysius Josef G. Dibjokarjono menjadi penahbis utama, sementara Uskup Agung Semarang Mgr. Julius Darmaatmadja, S.J. dan Uskup Malang, Mgr. Herman Joseph Sahadat Pandoyoputro, O.Carm. menjadi Uskup ko-konsekrator.

Sejak ditahbiskan menjadi Uskup, Mgr. Hadiwikarta dikenal memiliki komitmen untuk merawat dan membesarkan beberapa tempat peziarahan bagi umat di Jawa Timur dan juga instansi. Di Surabaya, Mgr. Hadiwikarta juga menjadi salah satu tokoh agama yang intensif ikut dalam dialog antaragama, serta menyerukan perdamaian dan anti kekerasan bagi masyarakat Jawa Timur. Sebagai seorang gembala, beberapa pernyataan menyatakan Mgr. Hadiwikarta sebagai imam yang cepat, gembira dan tegas.[2]

Sebagai Uskup Surabaya, Mgr. Hadiwikarta pada tahun 1994–1997, merangkap menjabat sebagai Ketua Komisi Komunikasi Sosial KWI, tahun 1997–2000 menjabat sebagai Sekertaris Jenderal KWI, dan tahun 2000–2003 menjabat sebagai Ketua Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan KWI.[2] Dalam kepemimpinannya, Keuskupan Surabaya melaksanakan sinode pada 20–22 November 1996.[4]

Ia menjabat sebagai Uskup Surabaya sampai wafat pada 13 Desember 2003. Setelah ia wafat, pimpinan Keuskupan Surabaya dilaksanakan oleh R.P. Julius Haryanto, C.M. hingga terpilih Uskup baru, Mgr. Vincentius Sutikno Wisaksono pada tahun 2007.

Referensi[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]

Jabatan Gereja Katolik
Didahului oleh:
Aloysius Josef G. Dibjokarjono
Uskup Surabaya
26 Maret 199413 Desember 2003
Diteruskan oleh:
Vincentius Sutikno Wisaksono