Jnana Yoga

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari

Jnana Yoga adalah salah satu macam yoga dalam ajaran agama Hindu. Dalam bahasa Sanskerta, Jnana berarti "pengetahuan". Filsafat Jnana Yoga ini dijelaskan pada bab keempat dalam kitab Bhagawadgita, yaitu bab Jnana Yoga. Bab Jnana Yoga terdiri dari 42 sloka. Hal-hal yang dijelaskan dalam bab Jnana Yoga tersebut adalah karma, bhakti dan ilmu pengetahuan. Turunnya ajaran Bhagawadgita untuk yang pertama kalinya, dijelaskan juga dalam bab Jnana Yoga. Bab ini disebut juga Pengetahuan Rohani dalam kitab Bhagawadgita.

Jnana Yoga dalam Bhagawadgita[sunting | sunting sumber]

Turunnya Bhagawadgita[sunting | sunting sumber]

Menurut Bhagawadgita itu sendiri, ajaran dalam kitab suci Bhagawadgita diwahyukan untuk yang pertama kalinya oleh Kresna kepada Wiwaswan, Dewa matahari. Kemudian Wiwaswan menurunkan Bhagawadgita kepada Manu, leluhur umat manusia. Manu menurunkan Bhagawadgita kepada Ikswaku, dan Ikswaku meneruskan ajaran yoga dalam Bhagawadgita kepada keturunannya.

Secara kelahiran, Wiwaswan, Manu dan Ikswaku lebih dahulu lahir daripada Kresna, dan mereka semua adalah leluhur manusia, sehingga terasa janggal bila Bhagawadgita diajarkan dahulu kala oleh Kresna kepada Wiwaswan, Manu dan Ikswaku. Dalam Bhagawadgita dijelaskan bahwa Kresna adalah penjelmaan Tuhan yang sudah berulangkali turun ke dunia. Jadi, Kresna pernah menurunkan ajaran Bhagawadgita pada kehidupannya yang dahulu. Kresna dapat mengingat semua kehidupannya yang terdahulu, namun Arjuna tidak dapat mengingatnya, meskipun mereka telah dilahirkan berulang kali.

Ajaran tentang Karma dan Bhakti[sunting | sunting sumber]

Mengenai ajaran bhakti, Kresna menyatakan bahwa Tuhan pasti akan menyambut umat-Nya selama mereka berusaha mencari Tuhan dengan jalan apapun. Menurut Bhagawadgita, tidak ada filsafat, dogma, agama dan cara sembahyang tertentu untuk mencapai Tuhan, melainkan ada berbagai jalan untuk mencapai Tuhan. Jadi menurutnya, Tuhan menerima semua jalan yang ditempuh oleh umatnya, selama jalan tersebut mengajarkan kebaikan agar menuju kepada-Nya. Ajaran ini mencerminkan sikap toleransi antar umat beragama yang tinggi.

Bhagawadgita juga menganjurkan agar seseorang yang mempercayai para dewa tidak menganggap para dewa sejajar dengan Tuhan, sebab anugerah yang diberikan oleh para dewa bersifat material dan sementara. Jadi menurut ajaran Bhagawadgita, Tuhan adalah pemberi anugerah yang sebenarnya.

Mengenai ajaran karma, Bhagawadgita menganjurkan seseorang untuk bekerja dengan tidak memikirkan pahala, sebab bila seseorang memikirkan pahala yang diperolehnya jika bekerja, maka ia akan terikat dengan hasil kerjanya. Seseorang yang telah membebaskan jiwanya dari belenggu hanya bekerja secara jasmaniah. Dalam keadaan seperti ini, seseorang telah lepas dari hawa nafsu dan keinginan-keinginan pribadi.

Pranala luar[sunting | sunting sumber]