Hasanuddin HM

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Hasanuddin HM
LahirDesember 1945
Meninggal10 Februari 1966 (umur 20)
Banjarmasin
KebangsaanBendera Indonesia Indonesia

Hasanuddin Bin Haji Madjedi (lahir di Banjarmasin, Kalimantan Selatan Desember 1945 – meninggal di Banjarmasin, Kalimantan Selatan 10 Februari 1966 pada umur 20 tahun) adalah mahasiswa Universitas Lambung Mangkurat yang meninggal karena ditembak sewaktu berlangsungnya demonstrasi mahasiswa yang menuntut Tritura atas pemerintahan Orde Lama di bawah Presiden Soekarno di Banjarmasin pada tanggal 10 Februari 1966. [1] Ia diangkat sebagai Pahlawan Amanat Pembelaan Rakyat (AMPERA) dari Banjarmasin dan dimakamkan berdampingan dengan Pangeran Antasari.[2]

Peristiwa 10 Februari 1966[sunting | sunting sumber]

Dari rumahnya di Jalan Batu Piring Nomor 21 Banjarmasin, Hasanuddin yang akrab disapa Asan di keluarga besarnya itu berpamitan dengan sang ayah, Haji Madjedi. Seorang pegawai kantor gubernuran itu mengizinkan sang anak bergabung dalam aksi demonstrasi yang mengusung Tiga Tuntutan Rakyat (Tritura). Diboncengi sang kakak, Asan pergi cepat-cepat dengan sepeda ontelnya Menuju titik kumpul di kampus ULM di Jalan Lambung Mangkurat (kini jadi kantor Bank Mandiri). Ia ingin bergabung dengan para seniornya, seperti Mas Abi Karsa (Ketua Periode KAMI), Gusti Rusdi Effendi, Yusriansyah Aziz, Djok Mentaya, Anang Adenansi, AS Musaffa (Ketua Presidium KAMI), Zainuddin Rais, Djohar Hamid, dan wartawan harian Mimbar Mahasiswa, HM Husni Thamrin.

Benar saja, pagi 10 Februari 1966, sudah ada ribuan mahasiswa baru dan senior berkumpul. Mereka mengenakan baju almamater kebesarannya. Ditandai dengan peci hitam (mirip TNI Angkatan Laut) dan logo Unlam, di sisi kanan peci. Barisan mahasiswa yang tergabung dalam KAMI ini, membaur bersama dalam lautan massa yang diperkirakan mencapai 15 ribu demonstran. Mereka tengah mengikuti apel siaga di Lapangan Merdeka (sekarang menjadi halaman Sabilal Muhtadin). Ada sekitar 16 organisasi kemahasiswaan, pelajar dan kemasyarakatan bergabung, terkecuali Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) dan lainnya.

Massa demonstran ini menuntut kepada Gubernur Kalimantan Selatan, H Aberani Sulaiman, Rektor Universitas Lambung Mangkurat Milono serta disaksikan Kepala Staf Daerah Militer (Kasdam) X/Lambung Mangkurat, Kolonel Sutopo Yuwono. Begitu usai menyampaikan tuntutan, massa pun bergerak menuju ke Kantor Konsulat Republik Rakyat Tjina (RRT) yang kini menjadi kantor Ajenrem di Jalan Pierre Tendean, Banjarmasin. Konsulat Tiongkok ini jadi sasaran demonstran karena diduga menjadi beking para tengkulak atau cukung sembako yang membuat harga melambung naik.

Saat menyampaikan aspirasi, petugas Konsulat Tiongkok ini menolak, hingga memicu kericuhan. Ini ditambah, aksi petugas keamanan yang menyemprotkan air dari mesin pemadam air untuk menghalau massa. Hujan suara tembakan dipadu terjangan air, mengguyur semua demonstran. Ada yang jatuh pingsan, dan sebagian besar menjadi korban pemukulan aparat yang represtif. Ditunjuk sebagai koordinator, Mas Abi Karsa pun menyampaikan surat pernyataan dari KAMI dan segenap massa pendemo. Akhirnya, massa pun membubarkan diri. Ada kesepakatan usai menyampaikan tuntutan ke Konsulat Tiongkok, massa pendemo dari kalangan pelajar disuruh pulang. Sedangkan, arus mahasiswa terbagi lagi dalam dua bagian massa. Sebagian mahasiswa justru bergerak pulang menuju kampus ULM. Sebagian lagi melakukan longmarch melewat Jembatan Dewi menuju kawasan Pasar Baru dan Pasar Sudimampir.

Begitu tiba pertigaan pasar, teriakan mahasiswa yang menuntut penurunan harga, pembubaran PKI justru makin gencang. Mereka begitu garang menyuarakan tuntutan itu, tepat di depan pertigaan Toko Roti Minseng di Jalan Pangeran Samudera. Rupanya, kehadiran ribuan massa itu dianggap menganggu stabilitas keamanan hingga pasukan BKO dari Batalyon K Jawa Tengah yang berjaga-jaga menembakkan dari senapannya dari ketinggian bangunan. Di tengah situasi yang kian tegang, Hasanuddin HM tewas. Asan pun digotong ramai-ramai oleh rekannya menuju ke Klinik Kesehatan Muhammadiyah. Namun, lubang peluru yang bersarang di pinggang belakangnya, terus mengeluarkan darah hingga meninggal dunia[3].

Untuk memperingati perjuangan Hasanuddin HM, predikat pahlawan AMPERA pun disematkan. Selain itu, sebagai salah satu upaya untuk mengenang almarhumah telah dibangun sebuah masjid di kota Banjarmasin dengan nama Masjid Hasanuddin Madjedie yang dibangun pada tahun 1985 dan diresmikan tahun 1986 serta diresmikan lagi dari hasil renovasi tahun 2013 oleh Yayasan Aml Bakti Muslim Pancasila (YABMP). Masjid ini semula berada di kampus lama Universitas Lambung Mangkurat (Unlam) di Jalan Lambung Mangkurat.


Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Haul Pahlawan Ampera Hasanuddin - antarakalsel.com, diakses 20 Februari 2014.
  2. ^ Makam Pangeran Antasari - situs Pemerintah Kota Banjarmasin, diakses 20 Februari 2014.
  3. ^ "Menggelorakan Kembali Semangat Juang Pahlawan Ampera Hasanuddin HM | jejakrekam.com". jejakrekam.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2017-10-02. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]