Lompat ke isi

Hö'elün

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Hö'elün
Patung Hö'elün yang terletak di dekat patung berkuda putranya di Tsonjin Boldog, Mongolia.
Nama lengkap
  • aksara Mongol: ᠥᠭᠡᠯᠦᠨ Ö’elün Üjin
  • Kiril Mongolia: Өэлүн
Nama anumerta
Permaisuri Xuanyi (皇后)
'elün
Hanzi tradisional:
Hanzi sederhana:

Hö'elün (Mongolia: ᠥᠭᠡᠯᠦᠨ, Ö’elün Üjin, terj. har.'Nyonya Ö’elün'; fl.1162–1210) adalah seorang bangsawati dari Kekaisaran Mongol dan ibu dari Temüjin, yang lebih dikenal sebagai Jenghis Khan. Ia memainkan peran penting dalam kebangkitan Jenghis Khan, sebagaimana dideskripsikan dalam Sejarah Rahasia Mongol.

Lahir dari klan Olkhonud suku Onggirat, Hö'elün awalnya menikahi Chiledu, seorang aristokrat Merkit. Tidak lama setelah menikah, ia ditangkap dan diculik oleh Yesügei, seorang tokoh penting dari bangsa Mongol, untuk dijadikan istri utamanya. Ia dan Yesügei dikaruniai empat orang putra dan satu orang putri, yakni Temüjin, Qasar, Hachiun, Temüge, dan Temülen. Setelah Yesügei meninggal akibat diracun dan Mongol menelantarkan keluarganya, Hö'elün membesarkan semua anaknya dalam keadaan miskin hingga anaknya tumbuh dewasa. Keteguhan dan keterampilan Hö'elün dalam mengasuh pun diakui oleh para sejarawan. Hö'elün juga tetap memainkan peran penting setelah Temüjin menikahi Börte. Bersama dengan Börte, Hö'elün mengelola perkemahan Temüjin dan memberinya berbagai nasihat.

Hö'elün lalu menikahi Münglig, seorang pengikut dari Yesügei, sebagai bentuk terima kasih atas dukungan Münglig pasca kekalahan besar Temüjin pada tahun 1187. Selama beberapa dekade berikutnya, Hö'elün mengatur pernikahan dan mempertahankan aliansi atas nama Yesügei. Setelah Temüjin menyandang gelar Jenghis Khan pada tahun 1206, Hö'elün kemungkinan merasa bahwa usahanya kurang dihargai jika dibandingkan dengan suaminya. Hö'elün juga sangat terlibat dalam perselisihan antara Jenghis, saudara-saudaranya, dan putra-putra Münglig. Kemungkinan karena stres dalam melakukan mediasi, Hö'elün akhirnya meninggal tidak lama kemudian pada tanggal yang tidak diketahui.

Nama dan sumber

[sunting | sunting sumber]

Tidak ada sistem romanisasi universal yang digunakan untuk bahasa Mongolia. Akibatnya, terdapat sejumlah ejaan modern untuk nama-nama Mongolia yang dapat menghasilkan pelafalan yang sangat berbeda dari aslinya.[1] Nama Hö'elün juga ditulis sebagai Ö’elün dalam bahasa Inggris, dan terkadang diberi akhiran Üjin, yang berarti "Nyonya".[2]

Sebagian besar informasi yang diketahui mengenai kehidupan Hö'elün berasal dari Sejarah Rahasia Mongol, sebuah epos yang ditulis pada pertengahan abad ke-13, menceritakan tentang pembentukan Kekaisaran Mongol. Epos tersebut sangat memihak pada Hö'elün, karena sering kali menyanjung nasihat dan kemantapan yang Hö'elün berikan kepada anak-anaknya, sehingga ada kemungkinan jika penulis anonim dari epos tersebut memiliki hubungan dengan Hö'elün.[3] Walaupun kronologinya kerap tidak sempurna dan sering memasukkan sejumlah unsur puitis dalam narasinya, Sejarah Rahasia tetap dianggap sebagai sebuah sumber yang berharga, karena tidak menyembunyikan detail-detail yang tidak mengenakkan. Hal ini membuatnya berbeda dengan sumber-sumber lain, seperti Jami al-tawarikh karya sejarawan Persia abad ke-14 Rashid al-Din.[4]

Kehidupan awal dan pernikahan awal

[sunting | sunting sumber]
Suku-suku Mongolik ca1207. Olkhonud tinggal di timur jauh, dekat suku Khitan; Mongol Borjigin seperti Yesügei tinggal di antara Olkhonud dan Merkit.

Menurut Sejarah Rahasia, Hö'elün lahir dari klan Olkhonud suku Onggirat. Suku Onggirat tinggal di sepanjang pegunungan Khingan Raya, yang terletak di selatan sungai Ergüne, Mongolia Dalam. Sementara itu, klan Olkhonud tinggal di dekat hulu Sungai Khalkha.[5] Hö'elün tumbuh menjadi seorang wanita yang atraktif. Orang tuanya kemudian mengatur pernikahan untuknya dengan Chiledu, saudara dari kepala suku Merkit. Pernikahan tersebut dikemas dalam sebuah upacara resmi di wilayah Olkhonud ketika Hö'elün masih berusia sekitar 15 tahun.[6] Saat pasangan tersebut sedang dalam perjalanan kembali ke kampung halaman Chiledu, mereka tiba-tiba disergap oleh sekelompok orang dari suku Mongol. Orang-orang Mongol[a] memang telah memperhatikan kecantikan dan kesehatan dari Hö'elün—kronik dari abad ke-17 Altan Tobchi mengklaim bahwa mereka memastikan kesuburan Hö'elün dari warna tanah tempat ia kencing—dan pemimpin mereka, seorang ba'atur aristokratik dari klan Borjigin bernama Yesügei, memutuskan untuk menjadikan Hö'elün sebagai istrinya.[8] Karena Chiledu kalah jumlah dan terancam dibunuh jika tetap bersamanya, Hö'elün pun mendesak Chiledu untuk kabur, dan memberikan blusnya kepada Chiledu, agar Chiledu dapat mengingat aroma dirinya.[9]

Praktek penculikan mempelai di sana memang sering terjadi, tetapi menurut sejarawan Anne Broadbridge, praktek tersebut menyebabkan "kelemahan sosial jangka panjang" di kalangan suku-suku tersebut, seperti yang dapat dilihat dari peristiwa-peristiwa berikutnya dalam kehidupan Hö'elün.[10] Walaupun Chiledu tidak pernah berupaya untuk mengambil kembali Hö'elün, mungkin karena reputasi Yesügei sebagai seorang pemimpin, suku Merkit tidak dapat melupakan penculikan tersebut, sehingga Merkit dan Mongol kemudian menjadi musuh bebuyutan.[11] Hö'elün juga terpisah dari keluarganya di klan Olkhonud, yang mungkin tidak pernah ditemui oleh Yesügei, sehingga Hö'elün tidak dapat meminta keluarga Olkhonud untuk menolongnya pada tahun-tahun berikutnya.[12] Penculikan Hö'elün tidak dimasukkan di sebagian besar kronik resmi dan hanya muncul di Sejarah Rahasia.[13] Yesügei sebelumnya telah menikahi seorang wanita lain, biasa disebut oleh para sejarawan sebagai Sochigel, yang telah melahirkan seorang putra bernama Behter.[14] Walaupun begitu, Hö'elün dijadikan istri utama oleh Yesügei, atas alasan yang belum sepenuhnya jelas. Broadbridge berpendapat bahwa latar belakang Hö'elün, yang sebelumnya dianggap layak untuk menjadi istri dari Chiledu, menjadikan Hö'elün bernilai lebih tinggi di mata Yesügei dibandingkan Sochigel.[15]

Menurut Sejarah Rahasia, Hö'elün melahirkan putra sulung Yesügei di suatu tempat yang disebut sebagai Delüün Boldog di Sungai Onon. Tempat tersebut diduga berada di Dadal, Provinsi Khentii atau di Okrug Agin-Buryat bagian selatan, yang kini berada di Rusia.[16] Tahun kelahiran putra sulung Yesügei masih diperdebatkan, karena sejumlah sejarawan memberikan pendapat berbeda, entah itu tahun 1155, 1162, atau 1167.[17] Putra sulung Yesügei diberi nama Temüjin, sebuah nama tanpa arti yang jelas.[18] Dari beberapa legenda seputar kelahiran Temüjin, terdapat satu legenda yang paling terkenal: menceritakan bahwa Temüjin lahir dengan gumpalan darah di tangannya, sebuah motif cerita rakyat Asia yang menjadi pertanda bahwa anak tersebut akan menjadi prajurit.[19] Legenda lain menceritakan bahwa Hö'elün hamil dari seberkas cahaya yang menandakan terangnya masa depan anak tersebut, mirip seperti yang terjadi pada Alan Gua.[20] Yesügei dan Hö'elün memiliki tiga orang putra lain setelah Temüjin, yakni Qasar, Hachiun, dan Temüge, serta satu orang putri, yakni Temülen. Mereka dibesarkan di perkemahan utama Yesügei di tepi Sungai Onon. Di sana, mereka juga belajar untuk menunggang kuda dan memanah. Teman-teman mereka meliputi Behter dan adiknya Belgutei, tujuh orang putra dari Münglig, dan anak-anak lain dari suku tersebut.[21]

Saat Temüjin berusia delapan tahun, Yesügei memutuskan untuk menjodohkan Temüjin dengan seorang gadis. Ia pun membawa Temüjin ke padang rumput dari suku Onggirat, dan mengatur perjodohan antara Temüjin dan Börte, putri dari kepala suku Onggirat bernama Dei Sechen [ru].[22] Saat dalam perjalanan pulang sendirian, Yesügei meminta makanan dari sekelompok Tatar yang ia ditemui, karena terdapat tradisi stepa berupa penyantunan terhadap orang asing. Namun, Tatar rupanya mengenali Yesügei, yang pernah melawan mereka di masa lampau, sehingga Tatar memasukkan racun ke dalam makanan yang mereka berikan. Yesügei pun perlahan-lahan jatuh sakit, tetapi tetap dapat sampai di rumahnya. Menjelang kematiannya, Yesügei meminta Münglig untuk membawa kembali Temüjin dari Onggirat. Yesügei akhirnya meninggal tidak lama kemudian.[23]

Matriarki dan penasihat

[sunting | sunting sumber]

Kematian Yesügei pun memecah persatuan sukunya, yang meliputi anggota dari klan Borjigin, Tayichiud, dan lainnya. Karena Temüjin baru berusia sekitar sepuluh tahun, dan Behter berusia sekitar dua tahun lebih tua, mereka dianggap belum cukup dewasa untuk berkuasa. Kelompok pendukung Tayichiud pun mengecualikan Hö'elün dari upacara-upacara pemujaan leluhur yang dilakukan pasca kematian Yesügei dan kemudian meninggalkan perkemahannya. Sejarah Rahasia menceritakan bahwa Borjigin kemudian mengikuti Tayichiud, meskipun Hö'elün telah berupaya membujuk mereka agar tetap tinggal di sana.[24] Di sisi lain, sumber lain seperti Rashid al-Din menyiratkan bahwa saudara-saudara Yesügei sebenarnya mendukung Hö'elün. Ada kemungkinan bahwa Hö'elün menolak untuk menikahi saudara Yesügei, atau bahwa penulis Sejarah Rahasia mendramatisasi situasi tersebut.[25] Semua sumber sepakat bahwa sebagian besar pengikut Yesügei meninggalkan keluarga Yesügei sebagaimana Tayichiud, sehingga keluarga Hö'elün menjalani kehidupan yang jauh lebih keras.[26] Menjalani gaya hidup berburu-meramu tradisional, keluarga Hö'elün mengumpulkan akar dan kacang, berburu hewan kecil, dan menangkap ikan.[27] Keberanian dan kemampuan Hö'elün dalam beradaptasi pun berperan penting bagi kelangsungan hidup keluarganya.[28]

Ketegangan makin meningkat saat anak-anak dari Hö'elün bertambah dewasa. Temüjin dan Behter sama-sama mengklaim sebagai ahli waris dari Yesügei, karena walaupun Temüjin merupakan anak dari istri utama Yesügei, Behter berusia dua tahun lebih tua. Bahkan terdapat kemungkinan bahwa, sebagaimana diizinkan oleh hukum, Behter dapat menikahi Hö'elün setelah mencapai usia dewasa dan menjadi ayah tiri dari Temüjin.[29] Diperburuk dengan ketegangan yang timbul akibat perselisihan berkepanjangan mengenai pembagian hasil buruan, Temüjin dan adiknya Qasar akhirnya menyergap dan membunuh Behter. Tindakan tabu tersebut tidak dimasukkan ke kronik-kronik resmi, tetapi dimasukkan dalam Sejarah Rahasia, yang menceritakan bahwa Hö'elün memberikan teguran keras kepada Temüjin atas tindakan cerobohnya, yang Hö'elün anggap sebagai tiruan bodoh dari tindakan heroik leluhur mereka.[30]

Temüjin bertemu dengan Toghrul (Jami' al-tawarikh, abad ke-15)

Saat Temüjin menikahi Börte pada usia sekitar lima belas tahun, orang tua Börte memberi Hö'elün sebuah jubah amunin hitam, yang kemudian diberikan oleh Temüjin kepada Toghrul, khan dari Kerait, untuk mengamankan aliansi.[31] Hö'elün kemudian menyerahkan sejumlah tanggung jawab dalam pembagian tenaga kerja kepada menantu barunya—bersama-sama, mereka mengelola ekonomi dan sumber daya dari perkemahan Temüjin, sehingga memberi Temüjin pondasi untuk menjalankan kampanye militernya.[32] Hö'elün juga hadir saat Börte dan Sochigel diculik oleh suku Merkit sebagai balas dendam atas penculikannya beberapa tahun silam. Börte lalu berhasil diselamatkan dalam waktu satu tahun.[33] Nasihat dari Hö'elün sangat dihargai oleh Temüjin. Temüjin pertama kali meminta nasihat kepada Hö'elün dan Börte saat ia berpisah dengan Jamuqa, teman kemudian yang menjadi pesaingnya.[34] Menurut Sejarah Rahasia, Hö'elün juga mengasuh banyak anak yatim piatu sebagai saudara tiri bagi anak-anaknya, tetapi karena masalah inkonsistensi kronologis, diketahui bahwa anak asuhnya yang paling terkenal, Shigi Qutuqu, sebenarnya dibesarkan oleh Börte.[35]

Setelah Jamuqa mengalahkan Temüjin di Dalan Balzhut pada tahun 1187, sejumlah pengikut Jamuqa tidak senang dengan perlakuan kejam Jamuqa terhadap para pengikut Temüjin. Pengikut Jamuqa yang tidak senang antara lain Münglig dan para putranya. Pengabaian yang dilakukan oleh keluarga Münglig terhadap keluarga Hö'elün di masa lampau pun dilupakan dan mereka disambut sedemikian rupa hingga Hö'elün menikahi Münglig.[36] Tempat dan aktivitas dari keluarga Temüjin hampir sepenuhnya tidak diketahui pada tahun-tahun berikutnya, tetapi kemungkinan besar Hö'elün sedang mengatur pernikahan untuk putra bungsunya Temüge dan putrinya Temülen, sebagaimana ayah mereka mungkin lakukan. Hö'elün juga berperan penting dalam memelihara aliansi saat Temüjin kabur ke dinasti Jin di Tiongkok.[37] Hö'elün mungkin menemani Temüjin saat ia kembali ke stepa pada tahun 1196.[38]

Kurultai tahun 1206 (Jami' al-tawarikh, abad ke-15)

Pelantikan dan penobatan Temüjin sebagai Jenghis Khan pada tahun 1206 menjadi titik balik dalam kehidupan pribadi Hö'elün. Pada sebuah kurultai (rapat besar), Jenghis menyerahkan penghargaan kepada orang-orang yang sebelumnya membantunya—dua puluh satu paragraf dari Sejarah Rahasia pun dikhususkan untuk mencatat rincian dari penghargaan tersebut.[39] Hö'elün dikabarkan diberi 10.000 orang pengikut, tetapi karena pengikut tersebut diberikan kepadanya dan Temüge sekaligus, Hö'elün merasa bahwa penghargaan tersebut kurang menghargai upaya dan pencapaiannya. Sebaliknya, Münglig diberi hak untuk duduk di sisi kanan Jenghis, sehingga menjadikannya tokoh paling berkuasa kedua di stepa. Akibat penghargaan tersebut, pernikahan Münglig dan Hö'elün mungkin berada di ujung tanduk.[40]

Salah satu putra dari Münglig, shaman Kokechu, juga menantang kepemimpinan Jenghis. Kokechu berhasil memisahkan Jenghis dengan para saudaranya, Qasar dan Temüge, yang sangat dibela oleh Hö'elün. Kemudian, Hö'elün dan Börte membujuk Jenghis agar Kokechu disingkirkan. Kokechu akhirnya disingkirkan oleh Temüge melalui sebuah pertandingan gulat.[41] Sejarah Rahasia mengklaim bahwa Hö'elün meninggal tidak lama kemudian karena kelelahan. Walaupun sejumlah sejarawan, seperti Igor de Rachewiltz, menyebutnya sebagai melodrama puitis, tidak ada lagi yang diketahui tentang kehidupan Hö'elün.[42] Hö'elün kemudian mendapat nama anumerta Permaisuri Xuanyi (宣懿皇后) pada masa Dinasti Yuan.[43]

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. Pada saat itu, kata "Mongol" hanya digunakan untuk menyebut sebuah suku di Mongolia bagian timur laut. Karena suku tersebut memainkan peran penting dalam pembentukan Kekaisaran Mongol, nama suku tersebut kemudian dipakai untuk menyebut seluruh suku.[7]
  1. Ratchnevsky 1991, hlm. x–xi.
  2. Atwood 2004, hlm. 415.
  3. Atwood 2004, hlm. 492–493.
  4. Ratchnevsky 1991, hlm. xiv–xvi.
  5. Ratchnevsky 1991, hlm. 15; Atwood 2004, hlm. 456; May 2018, hlm. 20.
  6. Broadbridge 2018, hlm. 44–45.
  7. Atwood 2004, hlm. 389–391.
  8. Ratchnevsky 1991, hlm. 14–15; Broadbridge 2018, hlm. 45.
  9. Broadbridge 2018, hlm. 45; May 2018, hlm. 21.
  10. Broadbridge 2018, hlm. 47; May 2018, hlm. 20.
  11. Broadbridge 2018, hlm. 46–47; May 2018, hlm. 21–22.
  12. Broadbridge 2018, hlm. 45.
  13. Ratchnevsky 1991, hlm. 15.
  14. Broadbridge 2018, hlm. 45–46; Ratchnevsky 1991, hlm. 15–16.
  15. Broadbridge 2018, hlm. 46.
  16. Atwood 2004, hlm. 97.
  17. Ratchnevsky 1991, hlm. 17–19; Pelliot 1959, hlm. 284–287; Morgan 1986, hlm. 55.
  18. Pelliot 1959, hlm. 289–291; Man 2004, hlm. 67–68; Ratchnevsky 1991, hlm. 17.
  19. Brose 2014, § "The Young Temüjin"; Pelliot 1959, hlm. 288.
  20. Ratchnevsky 1991, hlm. 17.
  21. Ratchnevsky 1991, hlm. 15–19.
  22. Ratchnevsky 1991, hlm. 20–21; Broadbridge 2018, hlm. 49.
  23. Ratchnevsky 1991; Broadbridge 2018, hlm. 50–51.
  24. Ratchnevsky 1991, hlm. 22; May 2018, hlm. 25; Secret History, trans. Atwood 2023, § 71–73.
  25. Ratchnevsky 1991, hlm. 22–23; Atwood 2004, hlm. 97–98.
  26. Brose 2014, § "The Young Temüjin"; Atwood 2004, hlm. 98.
  27. May 2018, hlm. 25.
  28. Veit 2019, hlm. 120–121, 129.
  29. May 2018, hlm. 25–26.
  30. Ratchnevsky 1991, hlm. 23–24; Secret History, trans. Atwood 2023, §76–78; Veit 2019, hlm. 129.
  31. Ratchnevsky 1991, hlm. 31; Broadbridge 2018, hlm. 57.
  32. Broadbridge 2018, hlm. 58.
  33. May 2018, hlm. 29–30; Broadbridge 2018, hlm. 58–59.
  34. Broadbridge 2018, hlm. 64.
  35. Atwood 2004, hlm. 492; Ratchnevsky 1993, hlm. 76–77.
  36. Broadbridge 2018, hlm. 65.
  37. Broadbridge 2018, hlm. 65–66; Ratchnevsky 1991, hlm. 48–50.
  38. Broadbridge 2018, hlm. 66–67.
  39. Broadbridge 2018, hlm. 69; Ratchnevsky 1991, hlm. 90.
  40. Broadbridge 2018, hlm. 69; Ratchnevsky 1991, hlm. 95, 98.
  41. Biran 2012, hlm. 44–45; Broadbridge 2018, hlm. 69–70.
  42. Atwood 2004, hlm. 416; Broadbridge 2018, hlm. 71.
  43. Ke 1920, vol. 104.