Gajah sumatra

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Gajah Sumatera)
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Gajah sumatra
Borobudur-Temple-Park Elephant-cage-01.jpg
Gajah sumatra jantan di sekitar Borobudur
Bayi gajah Sumatera di Taman Nasional Tesso Nilo.jpg
Bayi gajah sumatra di Taman Nasional Tesso Nilo, Riau
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan:
Filum:
Kelas:
Ordo:
Famili:
Genus:
Spesies:
Subspesies:
E. m. sumatranus
Nama trinomial
Elephas maximus sumatranus
Temminck, 1847

Gajah sumatra (bahasa Latin: Elephas maximus sumatranus) adalah subspesies dari gajah asia yang hanya berhabitat di Pulau Sumatra. Gajah sumatra berpostur lebih kecil daripada subspesies gajah india. Populasinya semakin menurun dan menjadi spesies yang sangat terancam. Sekitar 2000 sampai 2700 ekor gajah sumatra yang tersisa di alam liar berdasarkan survei pada tahun 2000. Sebanyak 65% populasi gajah sumatra lenyap akibat dibunuh manusia, dan 30% kemungkinan dibunuh dengan cara diracuni oleh manusia. Sekitar 83% habitat gajah sumatra telah menjadi wilayah perkebunan akibat perambahan yang agresif.

Gajah sumatra merupakan mamalia terbesar di Indonesia, beratnya mencapai 6 ton dan tumbuh setinggi 3,5 meter pada bahu. Periode kehamilan untuk bayi gajah sumatra adalah 22 bulan dengan umur rata-rata sampai 70 tahun. Herbivora raksasa ini sangat cerdas dan memiliki otak yang lebih besar dibandingkan dengan mamalia darat lain. Telinga yang cukup besar membantu gajah mendengar dengan baik dan membantu mengurangi panas tubuh. Belalainya digunakan untuk mendapatkan makanan dan air dengan cara memegang atau menggenggam bagian ujungnya yang digunakan seperti jari untuk meraup.

Status kepunahan[sunting | sunting sumber]

Gajah sumatra mendapatkan predikat status terancam punah (kode: critical endagered/ cr) semenjak tahun 2002. Kala itu terjadi pembalakan liar dan pembukaan lahan hutan di wilayah Sumatra.[1] Kejadian itu didukung dengan data yang dihimpun oleh bahwa isu lingkungan mempengaruhi habitat alami kehidupan alam. Hal itu berkorelasi dengan merosotnya kepeminatan investasi apabila satwa, termasuk gajah sumatra yang dianggap sebagai hama tanaman investasi seperti kelapa sawit.[2] Kebutuhan industri kelapa sawit yang menyebabkan pembalakan pada gajah sumatra itu yang mendorong status kegawatdaruratan populasi mamalia besar tersebut.

Perburuan gajah sumatra yang dinilai para pemburu memiliki nilai ekonomi [3]tinggi pada gading dan kepalanya juga menjadi sumber pendorong menurunnya populasi hewan tersebut. Diyakini, gading gajah sumatra ini memiliki nilai jual tinggi oleh para kolektor. Sehingga terjadi perburuan yang mengabaikan kelangsungan hidup gajah ini.

Status pada rantai makanan[sunting | sunting sumber]

Gajah secara fisiologis merupakan hewan penghuni ekosistem padang rumput atau sabana.[4] Hewan bioma ini menduduki rantai mankanan kelas herbivora. Secara alami, musuh gajah di alam terbuka adalah sekumpulan harimau atau singa. Di Sumatra sendiri, puncak rantai makanan, harimau, singa, dan predator karnivora lainnya juga terancam punah. Berkorelasi analisis ahli tersebut, tinggi kemungkinan gajah sumatra mendapat predikat punah dikarenakan pembalakan liar yang sulit terungkap.[5]

Gajah hidup berkelompok. Satu kelompok bisa terdapat tiga hingga empat keluarga yang masing-masing terdiri dari empat hingga lima gajah. Dalam ekosistem,[6] gajah secara alami memakan tanaman dan dapat bertanding melawan puncak rantai makanan. Gajah apabila mati, tubuhnya menjadi santapan hewan pengurai alami dan burung hering dari wilayah hutan tropis. Sesama hewan herbivora, gajah pada umumnya dan gajah sumatra membentuk kelompok hayati dan kawanan di wilayah padang rumput.

Konservasi gajah sumatra[sunting | sunting sumber]

Pemerintah Republik Indonesia mulai mendisiplinkan pembalakan hutan dan perburuan hewan dilindungi termasuk gajah sumatra dengan berbekal Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 Tentang Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Hal itu terjadi karena pada masa pemerintahan Presiden Soeharto, pemburu gading dari luar negeri mulai meningkat secara ilegal di wilayah Sumatra bagian tengah. Undang-undang tersebut diperkuat dengan terbitnya Peraturan Pemerintah Nomor 7 Thaun 1999 Tentang Pengawasan Jenis Tumbuhan dan Satwa.

Meskipun dikukuhkan dengan peraturan, pembalakan dan perburuan liar di wilayah pulau Sumatra kerap terjadi.[7] Hingga pada tahun 2002 Pemerintah Republik Indonesia menaikkan status hayati gajah sumatra menjadi terancam punah (kode: critical endagered/ cr). Kegiatan represif digalakkan Pemerintah RI. Salah satunya dengan konservasi dan peningkatan status hutan nasional dan hutan lindung. Di dalam wilayah konservasi tersebut, termasuk flora dan fauna alami penghuni hutan dilindungi dan dilarang diburu atau dirusak.

Konservasi diselenggarakan di wilayah-wilayah hutan yang belum mengalami kerusakan. Lokasi tersebut seperti di wilayah Taman Nasional Leuser dan Taman Nasional Ulu Masen di Aceh, Taman Nasional Bukit Tiga Puluh dan Taman Nasional Tesso Nilo di Jambi, Taman Nasional Padang Sugihan di Sumatra Selatan dan Taman Nasional Way Kambas juga Taman Nasional Bukit Barisan di Lampung.[8] Namun tantangan kembali terjadi, setelah lokasi konservasi terbentuk, tantangan selanjutnya adalah kurangnya tenaga medis dan dokter hewan yang siaga guna mengantisipasi keadaan hewan-hewan konservasi tersebut.

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  • Jeheskel Shoshani dan John F. Eisenberg (1982). Mammalian Species 182: 1–8. Elephas maximus

Pranala luar[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Dickinson, Nigel. "Deforestation and Forest Degradation". World Wide Life Foundation. Diakses tanggal 05 Juni 2021. 
  2. ^ Atkins, Hathaway (2019). "OECD Green Growth Policy Review of Indonesia 2019". OECD Environmental Performance Reviews: 47. doi:https://doi.org/10.1787/19900091 Periksa nilai |doi= (bantuan). [pranala nonaktif permanen]
  3. ^ "Cerita di Balik Penjualan Gading Gajah Seharga Rp 100 Juta, Gading Diisi Semen agar Lebih Berat". Kompas. 13 November 2020. Diakses tanggal 5 Juni 2021. 
  4. ^ Atep (15 Desember 2019). "Materi Rantai Makanan: Pengertian, Fungsi, dan Contohnya". Gramedia. Diakses tanggal 5 Juni 2021. 
  5. ^ "Living with Sumatran Elephants". National Geographic. 30 Januari 2015. Diakses tanggal 5 Juni 2021. 
  6. ^ Aji, Seno (4 Mei 2018). "Komponen Pembentuk Ekosistem". Ruang Guru. Diakses tanggal 5 Juni 2021. 
  7. ^ Watts, Jonathan (24 Januari 2012). "Sumatran elephant upgraded to critically endangered status". The Guardian. Diakses tanggal 5 Juni 2021. 
  8. ^ Sucahyo, Nurhadi (28 Januari 2018). "Konservasi Gajah Sumatera dan Keterbatasan Dokter Hewan". Voice of Indonesia. Diakses tanggal 5 Juni 2021.