Etu

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Peta Lokasi Kabupaten Nagakeo tempat asal Etu

Etu adalah seremonial pagelaran tinju adat untuk uji kejantanan antara pemuda di Kabupaten Nagekeo, Flores, Nusa Tenggara Timur.[1][2] Etu berarti tinju adat dalam bahasa Lokal.[2] Etu atau tinju adat ini berbeda dengan tinju konvesional.[2] Para petarung menggunakan kepo sebagai sarung tinjunya dan terbuat dari anyaman ijuk, petarung hanya boleh memukul lawannya dengan tangan yang memakai kepo tersebut sedangkan tangan satunya hanya digunakan untuk menangkis.[2]

Waktu dan tempat[sunting | sunting sumber]

Seremonial adat ini biasa dilaksankan bulan Juni-Juli dan merupakan satu kesatuan dari serangkaian acara adat yang dilakukan warga sejak mulai dari menanam sampai panen hasil di kebun.[3] Menurut penuturan beberapa tokoh adat setempat, lazimnya setiap ritual adat termasuk Etu, wajib diselenggarakan di depan sa’o waja (rumah adat) sebagai pusat kebudayaan masyarakat setempat.[3] Selain itu di tengah kampung terdapat peo, yaitu kayu bercabang dua yang dipancang pada tugu bundar dari batu bersusun.[3] Peo melambangkan persekutuan dan persatuan masyarakat Boawae yang merupakan turunan dari kelima suku, yakni suku Deu, Tegu, Mudi, Kobajawa dan Kisa Ola.[3] Sehari sebelum pagelaran tinju adat itu diselenggerakan, masyarakat sudah memadati pusat perkampungan untuk merayakan malam dero yaitu malam pertunjukan seni musik dan seni tari.[3] Sejak malam, suasana sudah mulai ramai karena ada acara pertunjukkan seni musik dan seni tari dari berbagai kelompok sanggar yang ada wilayah ini maupun dari daerah lain yang diundang.[3] Salah satu jenis musik khas daerah Nagekeo adalah musik toda gu, yaitu musik yang alatnya terbuat dari bambu dan dimainkan secara bersamaan oleh beberapa orang.[3] Upacara tinju adat menjadi tontonan menarik karena masing-masing kubu yakni kubu So’a, kabupaten Ngada, dan kubu Boawae, kabupaten Nagekeo, mengutus para petinju terbaik mereka untuk berlaga di atas arena.[3] Kedua kubu selain menyaksikan aksi petinju mereka, juga memberikan semangat lewat iringan musik.[4]

Pelaksanaan[sunting | sunting sumber]

Kesamaannya dengan olahraga tinju konvensional, tinju tradisional ini juga berlangsung di arena di tengah kampung.[5] Petinjunyapun juga terdiri dari dua orang pria.[5] Keduanya saling meninju namun petinju etu tidak menggunakan sarung tangan.[5] Hanya salah satu tangan petarung dililit sabut kelapa yang disebut kepo atau wholet. Alat ini digunakan sebagai senjata untuk melumpuhkan lawan.[5] Tidak ada ketentuan pasti dalam aturan ronde.[5] Etu langsung saja dihentikan bila salah satu petarung jatuh atau mengeluarkan darah.[5] Pada umumnya tinju adat ini berlangsung antara dua sampai lima menit, tergantung kekuatan masing-masing petarung.[5] Etu dipimpin wasit atau seka, dalam istilah setempat. Ada dua sampai tiga orang seka.[5] Selain wasit, ada petugas yang disebut sike yaitu yang bertugas untuk mengendalikan para petarung agar tidak membabibuta menyerang dan melukai lawan.[5] Sike bisa dengan mudah melaksanakan tugas karena memegang ujung bagian belakang sarung yang dikenakan petarung.[5] Apabila begitu petarungan sudah dianggap di luar batas, sike hanya menarik saja ujung kain menjauhkan petarung dari lawannya.[5]

Ada juga petugas lain yang disebut pai etu atau bobo etu.[5] Petugas tersebut terdiri dari dua sampai empat orang dan bertugas untuk mencari petarung berikutnya yang ada di sekitar arena pertarungan.[5] Atau siapa yang berniat bertinju, dia langsung lapor saja ke pai etu yang akan mengatur jadwal pertandingannya.[5] Petugas ini bisa terdiri dari dua orang atau lebih.[5] Ada juga yang dinamakan mandor adat, tugasnya adalah mengawasi penonton yang berada di luar arena agar tidak masuk ke dalam arena.[5]

Kaum perempuan termasuk para ibu-ibu, juga turut ambil bagian dalam Etu.[5] Tapi tidak sebagai petarung. Mereka terlibat pada acara yang dinamakan dio yakni nyanyian untuk memberikan semangat kepada para petarung.[5]

Di daerah Tutu Badha-Rendu di Kecamatan Aesesa Selatan, Etu diawali oleh pertarungan antara dua orang saudara kandung dari salah satu keluarga di kampung itu. Kemudian, disusul oleh pertarungan-pertarunga peserta-peserta lain.[5]

Namun pada umumnya, tinju adat pada hari pertama biasanya dinamakan etu coo atau mbela loe yakni tinju yang pesertanya terdiri dari anak-anak.[5] Sedangkan pada hari kedua dinamakan etu meze atau mbela mese yaitu diikuti oleh peserta orang dewasa dari berbagai daerah.[5]

Tinju pada hari kedua ini diidentikkan dengan Etu atau mbela yang sebenarnya.[5] Petarungnya pun merupakan utusan dari daerah-daerah tertentu.[5] Walaupun memiliki makna yang sama, ada beberapa istilah dan kemasan acara yang berbeda antara satu suku dengan suku lainnya di Nagekeo dalam menyelengarakan tinju adat atau etu ini.[5] Setiap kali usai pertarungan, para petarung saling berangkulan sebagai lambang persaudaraan dan sportifitas.[5] Mereka dilarang keras saling dendam dan bertarung di luar arena.[5] Jika hal itu terjadi, mereka akan mendapat musibah.[5] Masyarakat setempat percaya bahwa luka petarung dalam ritual adat Etu itu akan cepat sembuh.[5] Petarung yang luka biasanya langsung menghadap kepala adat. Dengan sekali usapan luka petarung bisa langsung sembuh.[5]

Rujukan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "Etu". Inilahflores. Diakses tanggal 3 Mei 2014. 
  2. ^ a b c d "Etu". Garuda Indonesia. Diakses tanggal 3 Mei 2014. 
  3. ^ a b c d e f g h "Etu". Flores Bangkit. Diakses tanggal 3 Mei 2014. 
  4. ^ "Etu". Terapung. Diakses tanggal 3 Mei 2014. 
  5. ^ a b c d e f g h i j k l m n o p q r s t u v w x y z aa ab ac "Etu". Tribun News. Diakses tanggal 3 Mei 2014.