Etika terapan

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Etika terapan (applied ethics) adalah cabang etika yang mengacu pada aplikasi praktis dari pertimbangan moral. Etika terapan juga sering kali dikenal sebagai etika praktis (practical ethics).[1] Etika terapan mencakup suatu profesi dan suatu permasalahan.[2] Ini adalah etika sehubungan dengan tindakan dunia nyata yang mencakup berbagai profesi, seperti etika di bidang kehidupan pribadi dan publik, kesehatan, teknologi, hukum, dan bisnis.[3] Misalnya, komunitas bioetika berkaitan dengan mengidentifikasi pendekatan yang benar terhadap masalah moral dalam ilmu kehidupan, seperti eutanasia, alokasi sumber daya kesehatan yang langka, atau penggunaan embrio manusia dalam penelitian.[4][5][6] Etika lingkungan berkaitan dengan isu-isu ekologi seperti tanggung jawab pemerintah dan perusahaan untuk membersihkan polusi.[7] Etika bisnis mencakup pertanyaan mengenai tugas atau kewajiban 'pelapor' kepada masyarakat umum atau kesetiaan mereka kepada majikan mereka.[8]

Prinsip dasar etika terapan[sunting | sunting sumber]

Prinsip dasar etika terapan pada umumnya memiliki keterkaitan dengan pengembangan etika dalam penerapan prinsip etika dalam kehidupan sehari-hari, atau lebih merujuk pada situasi atau studi kasus di masyarakat. Seperti, peneliti berupaya melakukan identifikasi berdasarkan ketentuan moral atau permasalahan (kasus-kasus) secara nyata. Penerapan dalam kesehatan masyakat, para ahli menggunakan teori umum etika dan kemampuan analisis data sebagai alasan yang dipisahkan.[9] Etika terapan dalam istilah filosofis bertugas untuk memperjelas apa yang dimaksudkan ketika seseorang sedang berbicara dan penerapan moral.[10]

Ranah etika terapan[sunting | sunting sumber]

Etika ilmiah[sunting | sunting sumber]

Etika ilmiah muncul dan merujuk pada cabang etika di bidang sains dan ranah etika terapan. Etika ilmiah adalah cabang dari etika profesional, di mana ketentuan perilaku khusus yang harus dipatuhi oleh seseorang dengan melibatkan profesi. Hal ini berbeda dari, tetapi konsisten atau tetap dengan, baik moralitas maupun teori moral.[11]

Etika media[sunting | sunting sumber]

Etika media merupakan salah satu cabang etika yang masuk kedalam ranah komunikasi massa.[12] Etika media adalah cabang etika terapan dengan bentuk analisis yang prinsip penerapannya, etika digunakan dalam praktik mengikuti norma dan ketentuan berlaku melalui media massa atau berita.[13]

Etika bisnis[sunting | sunting sumber]

Etika bisnis pertama kali muncul dan mulai digunakan di Amerika Serikat pada tahun 1970-an. Istilah ini kemudian mulai digunakan di wilayah lain di dunia.[14] Masyarakat dan bisnis saling berkaitan satu sama lain. Kegiatan bisnis selalu berkaitan dengan keberadaan masyarakat disertai dengan seluruh atribut dan simbol yang diyakini oleh masyarakat tersebut. Kondisi ini membuat kegiatan bisnis memiliki nilai moral dan etika tertentu.[15] Etika bisnis bertujuan untuk memberikan kesadaran moral kepada para pelaku bisnis. Kesadaran ini utamanya ditujukan kepada pebisnis untuk konsumen. Bentuknya dapat berupa kegiatan bisnis yang tidak menimbulkan kerugian bagi konsumen.[16]

Pendekatan[sunting | sunting sumber]

Etika terapan bekerjasama dengan disiplin ilmu-ilmu lain karena harus membentuk pertimbangan tentang bidang yang sama sekali di luar keahliannya. Sebagai contoh, seorang etikawan akan kesulitan memberi pertimbangan moral yang dapat dipertanggungjawabkan untuk suatu masalah medis yang tidak dimengertinya dengan baik. Ia membutuhkan penjelasan lengkap tentang pilihan tindakan medis & berbagai argumen di luarnya, hanya diperoleh dari pihak berkompeten di bidang itu.[17]

Multidisipliner[sunting | sunting sumber]

Pendekatan multidisipliner dan pendekatan interdisipliner sama-sama membuka pemahaman lebih luas dan mendalam atas suatu masalah yang dihadapi.[18] Pendekatan multidisipliner adalah usaha pembahasan tema yang sama oleh berbagai ilmu, maka para ilmuwan mengambil keputusan-keputusan etis.[19][20] Etikawan tidak akan berpura-pura menyiapkan solusi untuk membebaskan pelaku (ilmuwan) dari tanggung jawab atas keputusan dan tindakannya sendiri. Peran etika dalam ilmu-ilmu lain sangat terbatas, ada dua akibat yang tidak dapat dihindarkan, yaitu: 1) Etika terapan sering dipraktekkan tanpa ikut serta etikawan profesional. Artinya orang merasa dia mampu melakukan sendiri tugas mencari pemecahan yang memuaskan atas masalah etis yang dihadapi pada profesinya. Maka penggunaan jasa para ahli etika mudah dikesampingkan, dan 2) Etika semakin keluar dari keterasingannya, terpaksa harus melepaskan diri dari konteks akademis eksklusif, dan memasuki suatu kawasan lebih luas. Pergaulan ilmiah tidak terbatas pada rekan seprofesi saja. Ahli etika harus keluar dari isolasinya dan menjadi akrab dengan bidang ilmiah lain agar berperan dalam kerjasama multidisipliner.

Kasuistik[sunting | sunting sumber]

Pendekatan kasuistik merupakan usaha memecahkan kasus-kasus konkrit di bidang moral dengan menerapkan prinsip etika umum.[21] Hal itu cocok dalam etika terapan, dan mengungkapkan kekhususan argumentasi dalam etika. Pendekatan kasuistik diakui sebagai metode efisien untuk mencapai kesepakatan di bidang moral. Penalaran moral berbeda dengan penalaran matematis, selalu dilakukan cara yang sama, kapan dan di mana saja, tidak terpengaruh oleh faktor dari luar.[22] Pendekatan ini memiliki sifat penalaran moral menunjukkan dua hal yakni 1) Relativisme moral tidak bisa dipertahankan. Kasuistik timbul karena ada keyakinan umum bahwa prinsip etis bersifat universal dan tidak relatif saja terhadap suatu keadaan konkret, 2) Prinsip etis tidak bersifat absolut saja, & tidak peduli dengan situasi konkret. Etika situasi sangat memperhatikan keunikan setiap situasi. Faktor spesifik yang menandai suatu situasi tertentu bisa sangat mempengaruhi penilaian terhadap suatu kasus. Semua kasus tidak sama & hal ini penting dalam menerapkan prinsip etika yang umum.[22]

Referensi[sunting | sunting sumber]

Catatan kaki[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Setyabudi & Hasibuan 2017, hlm. 102.
  2. ^ Bertens, K (2007). Etika (edisi ke-10). Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. hlm. 270. ISBN 978-979-511-744-5. 
  3. ^ "Applied Ethics" Oxford Bibliographies. Diakses tanggal 2021-12-18.
  4. ^ "Disability and Health Care Rationing" Stanford Encyclopedia of Philosophy. Diakses tanggal 2021-12-18.
  5. ^ "Voluntary Euthanasia" Stanford Encyclopedia of Philosophy. Diakses tanggal 2021-12-18
  6. ^ "Ethics of Stem Cell Research" Stanford Encyclopedia of Philosophy. Diakses tanggal 2021-12-18
  7. ^ "Environmental Ethics" Internet Encyclopedia of Philosophy. Diakses tanggal 2021-12-18
  8. ^ "Business Ethics" Stanford Encyclopedia of Philosophy. Diakses tanggal 2021-12-18
  9. ^ Rasyid, Harun Al; Zuhriyah, Lilik; Dwicahyani, Safitri; Alamsyah, Arief; Rahmah, Shofi Nur; Purwaningtyas, Nuretha Hevy; Rakhmani, Alidha Nur; Siswanto; Holipah; Hariyanti, Tita; Ratri, Devita Rahmani; Andarini, Sri; Barasabha, Thareq; Setijowati, Nanik (2021). Diagnosis Komunitas untuk Intervensi Kesehatan. Malang: Universitas Brawijaya Press (UB Press). hlm. 209. ISBN 978-623-296-333-7. 
  10. ^ Fossa, Fabio (2017). "What is Moral Application? Towards a Philosophical Theory of Applied Ethics". Applied Ethics (PDF) (dalam bahasa Inggris). Sapporo, Jepang: Center for Applied Ethics and Philosophy. hlm. 37. ISBN 978-4-9907888-3-4. 
  11. ^ Widyananda, Rakha Fahreza (2020). "12 Macam-Macam Etika Beserta Contohnya, Jaga Sikap dan Perbuatan". merdeka.com. Diakses tanggal 2021-12-28. 
  12. ^ Choiriyati, Wahyuni; Windarsih, Ana (2019). "Etika Media dalam Kultur New Technology (Mengkaji Etika Internet versus Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik)". Jurnal Masyarakat dan Budaya. 21 (2): 1–8. doi:10.14203/jmb.v21i2.763. 
  13. ^ Febri, Nurrahmi (2021). Book Series Jurnalisme Kontemporer: Etika dan Bisnis dalam Jurnalisme (edisi ke-1). Banda Aceh, Aceh: Syiah Kuala University Press. hlm. 5. ISBN 978-623-264-260-7. 
  14. ^ Nugroho, A., dan Arijanto, A. (2015). Etika Bisnis (Business Ethic): Pemahaman Teori secara Komprehensif dan Implementasinya (PDF). Bogor: PT Penerbit IPB Press. hlm. 2. 
  15. ^ Prihatminingtyas 2019, hlm. 27.
  16. ^ Budiono, Gatut L. (2008). Laruhun, Lamansu, ed. Etika Bisnis Pendekatan Teoritis dan Praktis (PDF). Jakarta: Poliyama Widya Pustaka. hlm. 40. ISBN 978-979-15721-3-2. Diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 2021-12-10. Diakses tanggal 2021-12-28. 
  17. ^ Gea & Wulandari 2004, hlm. 24.
  18. ^ Sudikan, Setya Yuwana (2015). "Pendekatan Interdisipliner, Multidisipliner, Dan Transdisipliner Dalam Studi Sastra". Jurnal Ilmiah Bahasa Sastra. 2 (1): 1–30. doi:10.26740/parama.v2n1.p%25p. 
  19. ^ Kirnandita, Patresia (2017). "Sudah Saatnya Tak Terpaku dengan Satu Bidang Ilmu". tirto.id. Diakses tanggal 2021-12-28. 
  20. ^ "Pembahasan Masalah Sosial dengan Pendekatan Post Disciplinary". nurulfikri.ac.id. Diakses tanggal 2021-12-28. 
  21. ^ Rakhmat 2013, hlm. 12.
  22. ^ a b Gea & Wulandari 2004, hlm. 27.

Daftar pustaka[sunting | sunting sumber]