Eka Julianta Wahjoepramono

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Prof. Dr. Dr. dr. Eka Julianta Wahjoepramono, SpBS, Ph.D. (lahir di Klaten, Jawa Tengah, 27 Juli 1958; umur 61 tahun) adalah seorang dokter dan guru besar dengan spesialisasi bidang bedah saraf (neurosurgeon). Ia merupakan dokter pertama yang mendapat rekor dari Museum Rekor Indonesia dan namanya juga tercatat sebagai dokter pertama dan satu-satunya di Indonesia yang berhasil membedah batang otak pasien[1].

Dokter yang menjabat sebagai Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Pelita Harapan ini juga berhasil mendapat gelar guru besar dari Fakultas Ilmu Hukum dan Fakultas Kedokteran Universitas Pelita Harapan[2]. Penetapan ini tertuang dalam Keputusan Menteri Pendidikan Nasional No 11791/A4.5/KP/2010 tertanggal 1 Februari 2010. Penganugerahan gelar guru besar dilakukan oleh Rektor UPH Jonathan Parapak dan disaksikan langsung Presiden of World Federation Neurosurgical Societies, Harvard Medical School, Prof Peter Black di The Grand Capel UPH, Lippo Village, Tangerang.

Prestasi Prof. Eka membedah otak, berawal pada 20 Februari 2001, ketika ia berhasil membedah batang otak seorang pasien yang tidak mampu bernama Ardiansyah. Ardiansyah adalah warga Merak, Banten yang berprofesi sebagai buruh nelayan. Ia di diagnosis, terkena tumor kavernoma yang telah pecah di pons atau batang otak. Terdorong oleh belas kasihan, dr. Eka memberanikan diri untuk membedah batang otak tersebut, dengan risiko yang sangat besar, kematian atau lumpuh. Saat itu tidak pernah ada dokter yang berani untuk melakukan pembedahan batang otak. Selain Ardiansyah, ia juga berhasil membedah pasien Jumiati di Rumah Sakit Siloam Hospital, Tangerang, Banten. Prestasinya inilah yang tercatat dalam sejarah dunia, bahwa dr. Eka Julianta Wahjoepramono, adalah dokter bedah pertama di dunia yang melakukan operasi batang otak[3].

Selain mendidik dokter muda melalui Fakultas Kedokteran UPH, ia juga melakukan beberapa penelitian. Diantaranya perkembangan penyakit alzheimer, bekerja sama dengan Prof Ralph Nigel Martins, ia berusaha menemukan cara untuk menangani penyakit yang satu ini[4].

Keluarga dan masa kecil[sunting | sunting sumber]

Ia adalah anak sulung dari lima bersaudara, masa kecilnya banyak dihabiskan di Klaten dalam keluarga yang kurang mampu. Sepulangnya dari sekolah, ia harus membantu ibunya menjaga warung dan mengawasi adik-adiknya sambil belajar. Sejak kecil ia sudah bercita-cita menjadi dokter, dan setelah tamat SMA, ia mencoba mengikuti ujian penyaringan secara bersamaan di Universitas Indonesia (UI), Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Airlangga (Unair), dan Institut Teknologi Bandung (ITB), tetapi ditolak. Ia mencoba lagi di Universitas Diponegoro (Undip) dan berhasil. Dibantu oleh pamannya ia berhasil memyelesaikan sekolah nya di Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro, Semarang.

dr. Eka menikah dengan dr. Hannah Kiaty Taty Damar, Sp.KK dan memiliki tiga orang anak yang bernama Petra Octavian Perdana Wahjoepramono, Nicolaus Novian Dwiya Wahjoepramono, dan Graciella Noviana Triana Wahjoepramono. Ketiga anak dr. Eka menempuh bidang pendidikan kedokteran.

Pendidikan[sunting | sunting sumber]

Karier[sunting | sunting sumber]

  • Kepala Neuro Science Center, RS Siloam Hospital, Lippo Village, Tangerang[5]
  • Honorary President 6th Asian Conference of Neurosurgical Surgeon (ACNS) 2006
  • Visiting Professor di Harvard University Medical School
  • Visiting Professor Fakultas Kedokteran Universitas Arkansas
  • Visiting professor di Taiwan National University

Organisasi[sunting | sunting sumber]

  • Pendiri World Academy of Neurological Surgeons (2006),
  • Pendiri Yayasan Otak Indonesia (2003)
  • Duta Besar “World Federation of Neurological Rehabilitation”

Referensi[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]