Dimyathi al-Bantani

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Muhammad Dimyathi
Bismillahirahmanirahim
Abuya Muhammad Dimyathi bin Muhammad Amin al-Bantani
Abuya
Muhammad Dimyathi
al-Bantani
Abuya Dimyathi.jpg
Nama dan Gelar
Semua Gelar
Gelar
(Islam/Sosial)
Abuya
Nama
NamaMuhammad Dimyathi
Nisbahal-Bantani
Nama lainnya
Abuya Dimyathi, Mbah Dim
Kelahirannya
Tanggal lahir (H)27
Tanggal lahir (M)7
Bulan lahir (H)Syakban
Bulan lahir (M)Februari
Tahun lahir (H)1347
Tahun lahir (M)1930
Tempat lahirPandeglang
Negara lahir
(penguasa wilayah)
Pandeglang, Banten era Bendera Hindia Belanda
Nama ayahMuhammad Amin
Nama ibuRuqayah
Agama, Identitas, Kebangsaan
Agama Islam
Etnis (Suku bangsa)
Etnis
(Suku bangsa)
Banten
KebangsaanIndonesia Bendera Indonesia
Bantuan kotak info

Abuya Muhammad Dimyathi bin Muhammad Amin al-Bantani atau dikenal dengan Abuya Dimyathi atau Mbah Dim (lahir di Pandeglang, 7 Februari 1930 – meninggal di Pandeglang, 3 Oktober 2003 pada umur 73 tahun) adalah seorang ulama kharismatik dari Banten yang juga dikenal sebagai sufi. Dia berperan sebagai pembimbing para murid dalam menjalani dunia tasawuf.[butuh rujukan]

Biografi[sunting | sunting sumber]

Keluarga Besar Abuya Dimyathi

Abuya lahir sekitar tahun 1925 dari pasangan H. Amin dan Hj.Ruqayah. Dia dikenal sangat haus akan ilmu. Karena itu, ia belajar ilmu agama pada banyak pesantren, mulai dari Pesantren Cadasari, Kadupeseng, Pandeglang, Plamunan hingga Pesantren Sempur, Plered, Purwakarta asuhan Syekh Tubagus Ahmad Bakri as-Sampuri.[butuh rujukan]

Semasa hidupnya, Abuya Dimyathi dikenal sebagai gurunya dari para guru dan kyainya dari para kyai, sehingga tak berlebihan kalau disebut sebagai ulama Khas al-Khas atau rasikhah. Ulama yang sikapnya sehari-hari merupakan cerminan dari ilmu yang dikuasainya. Masyarakat Banten menjulukinya juga sebagai pakunya daerah Banten, di samping sebagai pakunya Negara Indonesia.[butuh rujukan]

Abuya adalah seorang qurra’ dengan lidah yang fasih. Wiridan al-Qur’an sudah istiqamah lebih dari 40 tahun. Kalau salat Tarawih di bulan puasa, tidak turun untuk sahur, kecuali setelah mengkhatamkan al-Qur’an dalam salat.[butuh rujukan]

Abuya Dimyathi dikenal sosok ulama yang cukup sempurna dalam menjalankan perintah agama. Dia bukan saja mengajarkan ilmu syariah, tetapi juga menjalankan kehidupan sufistik. Tarekat yang dianutnya adalah Tarekat Syadziliyah.[butuh rujukan]

Dalam buku Tiga Guru Sufi Tanah Jawa karya H. Murtadho Hadi, Abuya Dimyathi digolongkan bersama Syekh Muslih bin Abdurrahman al-Maraqi (Mranggen, Demak) dan Syekh Romli Tamim (Rejoso, Jombang) sebagai tiga ulama sufi berpengaruh di Jawa. Bahkan, dalam buku Manaqib Abuya Cidahu (Dalam Pesona Langkah di Dua Alam), Abuya yang juga keturunan Sultan Maulana Hasanuddin dan Syarif Hidayatullah ini dikenal sebagai wali qutub.[butuh rujukan]

Ngaji[sunting | sunting sumber]

Sebagai seorang sufi, Abuya mengajarkan jalan spiritual yang unik, yaitu “tarekat ngaji”. Dia secara tegas menyeru,”Thariqah aing mah ngaji” (Jalan saya adalah ngaji).[butuh rujukan]

Meninggal dunia[sunting | sunting sumber]

Abuya Dimyathi meninggal pada malam Jumat pahing, 3 Oktober 2003 (7 Sya’ban 1424 H) sekitar pukul 03.00 WIB di Cidahu, Cadasari, Pandeglang, Banten.[1]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Majalah Hidayah edisi 114, Februari 2011 hal.64-68