Cungkup, Pucuk, Lamongan

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Cungkup merupakan Desa yang terletak di Kecamatan Pucuk Kabupaten Lamongan, dengan posisi kordinat bujur timur 112⁰29″75′ dan bujur barat 7⁰06″97′. Mempunyai tinggi permukaan Laut 9 m dan luas 3,45 Km (Sumber pemetaan sensus penduduk 2010)

Cungkup tidak memiliki Dusun dikarenakan merupakan desa yang tidak terlalu luas yang hanya memiliki 6 Rukun Warga (RW) dan 24 Rukun Tetangga (RT). Untuk jumlah penduduk, cungkup memiliki 2.494 jiwa dengan sex ratio 100. Yang terbagi 1.244 laki-laki dan 1.250 perempuan, dengan jumlah Kepala Keluarga 967 (kk).

Luas wilayah cungkup 345.11Ha, terdiri dari lahan sawah 213.95 Ha, lahan kering 8.94, bangunan/pekarangan 37.00 Ha dan lain-lain 85.22 Ha. Untuk hasil dari lahan sawah cungkup memiliki 3 proses tanam yakni Padi-Padi-Palawija/holtikultur (Kacang hijau, jagung,(semangka, tomat, cabai tetapi hanya beberapa)

Produksi padi pada tahun 2015 dengan luas panen 442.00 Ha dan hasil produksi 2.850.90 Ton dengan rata-rata per Hektar 6,45 Ton. Produksi Jagung pada tahun 2015 dengan luas panen 71 Ha dan hasil produksi 221.52 Ton dengan rata-rata per Hektar 3.12 Ton. ) Produksi Kacang Hijau pada tahun 2015 dengan luas panen 162 Ha dan hasil produksi 220.32 Ton dengan rata-rata per Hektar 1,36 Ton. (sumber kantor kecamatan pucuk)

Cungkup adalah desa yang berada di kecamatan Pucuk, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, Indonesia.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Desa Cungkup tidaklah muncul dengan sendirinya, melainkan ada sejarahnya. Nama Desa Cungkup berasal dari kata cungkup yang artinya rumah di kuburan. Tetapi bukan berarti Desa Cungkup merupakan tanah kuburan. Dahulu sebelum Indonesia merdeka, ada seorang yang bernama Mbah Senari, beliau adalah orang pengembara yang suka berpindah-pindah untuk menyebarkan ajaran islam. Pada awalnya Mbah Senari ini jalan- jalan dan berhenti di suatu tempat, beliau melihat ada sebuah patokan kuburan yang Ia temukan di tengah-tengah lahan yang luas tersebut. Ternyata lahan yang luas tersebut dihuni oleh beberapa kepala keluarga. Kemudian Mbah Senari menyuruh kepada kepala-kepala keluaga tersebut untuk membuatkan rumah kecil sebagai penutup kuburan yang Ia temukan. Para kepala keluarga pun bertanya mengapa patokan dari salah seorang keluarga yang tinggal di tempat itu harus dibuatkan rumah sebagai penutup kuburannya. Mbah Senari pun memberikan penjelasan, bahwa tepat di tengah-tengah lahan tersebut akan dijadikan tempat pemakaman orang yang tinggal di lahan yang luas tersebut. Setelah mendengar penjelasan Mbah Senari, para kepala keluarga pun bergegas untuk membuatkan rumah kecil sebagai penutup makam. Mbah Senari pun memutuskan untuk tinggal di tempat lahan yang luas tersebut dan mendirikan sebuah rumah sederhana sebagai tempat tinggal. Beliau juga mendirikan sebuah gubuk sebagai tempat beribadah warga setempat. Setiap hari dari shubuh hingga isya’ Mbah Senari selalu membimbing orang-orang yang tinggal di tempat tersebut dan mengajarkan ajaran islam di gubuk tersebut. Beliau mengajarkan ajaran agama dari sholat, mengaji, dan sebagainya. Tempat tersebut kian berkembang semakin pesat. Tidak hanya pada bidang agamanya yang diajarkan Mbah Senari, tetapi dalam mengolah ladang-ladang, berternak, dan sebagainya. Lambat laun banyak sekali orang-orang yang berdatangan dan mendirikan rumah di tempat lahan kosong yang luas tersebut. Mbah Senari pun memutuskan agar tempat ini di beri nama agar muda dikenali oleh orang lain. Mbah Senari pun memberi nama tempat tersebut dengan nama Desa Cungkup, karena pada awal datangnya Mbah Senari di tempat tersebut Mbah Senari menemukan patokan kuburan dan disuruh membuatkan rumah sebagai penutup kuburan sebagai tanda tempat itu adalah tempat pemakaman. Warga pun meyetujuinya. Hari berganti hari, Mbah Senari tidak perna terlihat lagi membimbing ajaran islam kepada warga tersebut. Warga pun bertanya-tanya, ke mana perginya Mbah Senari. Akhirnya salah seorang warga mendatangi rumah Mbah Senari, rumah itu tidak terkunci. Seorang warga itupun masuk untuk mencari beliau. Tetap saja beliau tidak ditemukan. Suatu ketika ada seorang warga yang menemukan potongan-potongan rambut yang ada di dekat makam yang perna Mbah Senari minta untuk dibuatkannya rumah sebagai penutup makam. Warga tersebut mempercayai bahwa Mbah Senari telah meninggal dunia di tempat tersebut. Padahal di tempat itu tidak ditemukannya mayat yang tergeletak di tempat itu, tetapi para warga meyakini bahwa beliau meninggal di tempat tersebut. Para warga pun membuatkan kuburan yang patokannya bertuliskan Mbah Senari beserta rumah sebagai penutupnya di samping makam yang perna Ia suruh untuk memnbuatkan rumah sebagai penutup. Namun, yang dikuburkannya itu masih menjadi pertanyaan apakah yang dikuburkan itu mayat manusia atau hanya rambut yang di temukan salah seorang warga tersebut, lalu dikuburkannya. Sampai saat ini makam Mbah Senari masih didatangi peziarah-peziarah yang ingin mendoakannya bahkan tempat itu kadang menjadi tempat sesembahan sebagian orang yang mempercayainya dapat membuat suatu perubahan dihidupnya dan Mbah Senari ini dipercayai sebagai tokoh yang berperan di dalam berkembangnya Desa Cungkup tersebut. Namun, tidak semua warga mempercayai hal tersebut, hanya sebagian saja yang mempercayainya. Untuk makam Mbah Senari sendiri masih menimbulkan pertanyaan hingga saat ini. Karena belum ada informasi yang benar-benar nyata adanya. Hanya ucapan-ucapan dari mulut ke mulut, itupun masih simpang siur (belum ada kejelasan) apa yang dimakamkan di tempat tersebut. Tetapi sebagian warga mempercayai bahwa benar adanya Mbah Senari sebagai tokoh yang perna berperan dalam mendirikan Desa Cungkup sampai saat ini.

Penulis: Regy Aprilian

Perbatasan[sunting | sunting sumber]

Utara Desa Ngambeg
Timur Desa Babatkumpul
Selatan Desa Plososetro
Barat Kecamatan Sekaran