Ngambeg, Pucuk, Lamongan

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Ngambeg
Desa
Negara Indonesia
ProvinsiJawa Timur
KabupatenLamongan
KecamatanPucuk
Kodepos62257
Luas... km²
Jumlah penduduk4.350 jiwa
Kepadatan... jiwa/km²

Ngambeg adalah desa yang berada di kecamatan Pucuk, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, Indonesia.

Geografi[sunting | sunting sumber]

Perbatasan[sunting | sunting sumber]

Utara Desa Bugoharjo
Timur Desa Padenganploso
Selatan Desa Babatkumpul
Barat Desa Cungkup

Mata Pencaharian[sunting | sunting sumber]

Warga Desa Ngambeg rata-rata mempunyai mata pencaharian sebagai petani tambak dan sawah

ngambeg merupakan desa modern tetapi masih menjunjung tinggi adat istiadat jawa.....

Infrastruktur[sunting | sunting sumber]

Desa Ngambeg merupakan sebuah desa maju yang sa'at ini sudah terdapat toko-toko, tempat fotokopi, dan isi ulang air mineral. pembangunan jalan menuju desa ini juga lancar melalui dana PNPM berupa jalan poros Rabat Beton.

Dusun[sunting | sunting sumber]

Desa Ngambeg terbagi atas 3 dusun, yakni Bakung, Ngambeg, dan Wonorejo.

Sejarah desa ngambeg[sunting | sunting sumber]

A. sejarah desa

Dahulu kala ketika zaman kerajaan mataram islam telah ada sebuah desa di sebelah selatan bengawan solo yang bernama “Karang Panggang”. Desa ini sangat terpencil di antara dua hutan yaitu hutan “ wono Rejo “dan hutan babatan yang saat ini telah menjadi sebuah dusun bentol bagian dari desa ngambeg,dan desa Babat kumpul Di desa karang panggang ini kehidupan sangat tenag dan toleransi terhadab sesame dan budaya sangat tinggi dan mempunyai peradaban yang sangat mulia. Suatu ketika ditengah desa yang sejahtera dan penuh kedamain lahirlah seorang pemuda yang terkenal agak Bengal dan bandel tapi sangat sakti mandra guna, dengan sifat yang ugal-ugalan pada waktu itu dan oleh para tokoh desa karang panggang dianggap bertingkah yang tidak pantas maka pemuda ini diusir keluar dari desa, dengan berat hati pemuda ini ( yang sampai saat diketahui sebagai Mba Langkir ) harus meningglakan desa yang sangat dicintainya sehingga dia harus bermalam dan berteduh di pepohonan hutan jati di sebelah Timur desa karang panggang dengan kesaktian yang dimiliki pemuda ini akhirnya mengembara bertahun –tahun dan akhirnya kembali ke hutan ( tempat pembuangannya )dengan membawa seorang istri dan teman2nya . Waktu terus berjalan dan akhirnya hutan yang selama ini ditempati oleh pemuda itu gberubah menjadi suatu perkampungan yang ramai sehingga banyak pemuda dari desa Karang Panggang yang ikut bergabung ke pada Pemuda itu.Terenyata dendam pemuda yang diusir dari desa itu tidak pernah padam sehingga suatu saat di memimpin penyerangan ke desa Karang Panggang dan membakar semua rumah yang ada di desa tersebut banyak warga yang mengungsi keluar dari desa dan banyak pula warga desa karang panggang yang ikut menyatu dan bergabung pada pemuda itu. Sehinnga saat itu desa karang panggang hancur menjadi debu dan sampai saat ini tak berbekas sebuah desa Karen asaat ini bekas tempat desa tersebut di jadikan Makam ( Kuburan Kulon ) dekat dengan lapangan Sepak bola. Dan waktu terus berjalan Pemuda itu akhirnya wafat dan belum sempat memberikan nama pada desa tersebut dan sekarang makamnya ditempatkan bersebelahan dengan Istri tercintanya yang oleh warga desa saat ini disebut makam “ Mbah Langkir “ ada disebelah timur desa berbatasan dengan desa Padengan Ploso. Setelah Wafatnya Mbah langkir terjadilah perselisihan di antara tokoh –tokoh masyarakat untuk memilih pemimpin baru yang pada saat itu di Zaman penjajahan Belanda,. Belanda hanya memfalitasi saja dan tidak menunjuk pemimpin baru dan di antara tokoh – tokoh yang paling terkenal saat itu adalah Mbah Agung beliau terkenal sangat arif dan bijaksana dan sangat sidik paningal sehingga masyarakat saat itu memilih mbah agung menjadi Patinggi / petinngi dan sekaligus memberi nama desa tersebut dengan Desa “ Ngambeg “ karena orang-orangny a pada sat itu gampang sekali tersinggung, marah dan berkelahi.

B. pemerintahan desa

Dikepemimpinan Mbah agung kehidupan masyarakat ngambeg sangat harmonis dan agamais sehingga masyarakat sangat sejahtera dengan kehidupannya bercocok tanam dan membangun masjid dan pondok serta mambangun jembatan dan tanggul perbtasan dengan desa Babad kumpul. Setelah Mbah Agung meninggal dunia beberapa tokoh masyarajkat berkumpul untuk memilih pemimpin baru dengan cara pemilihan / sodo, jadi saat itu desa ngambeg telah menjalan kan demokrasi di desanya dalam hal memilih pemimpinnya dan saat itu terpilihlah seorang Pemuda yang masih anak kandung dari Mbah agung yaitu “ Tirto Sentono “ Dimasa kepemimpinan Tirto Sentono inilah desa ngambeg mengalami cukup Kejayaan karena Tirto sentono adalah seorang yang sangat sakti Mandra guna cukup di segani baik kawan ataupun lawan sehinnga pada kepemimpinannya takluklah dusun Bakung dan Dusun Bentol yang saat itu merupakan desa tersendiri tapi akhirnya memutuskan bergabung dengan Desa Ngambeg.

C. masa penjajahan

Dimasa pemerintahan Tirto Sentono penjajah Belanda memasuki desa ngambeg karena pada saat itu ada pemuda desa yang oleh pemerintah belanda dianggap ikut mengggali jebakan jalan menuju desa Bugo harjo yang saat itu dijadikan tempat singgah / markas sementara para pejuang untuk melawan Belanda, Pada hari itu hari kamis Belanda menyerbu Desa Ngambeg dan langsung menyerang Rumah Kepala desa karena selama ini Kepala desa Tirto sentono selalu melawan Compeni, pada serangan itu Patinggi Tirto Sentono Berhasil lolos, Belanda marah dan membakar rumah kepala desa tapi rumah itu tidak bias terbakar walau telah disiram minyak tanah tapi tidak bisa terbakar tapi sayang putra beliau tewas tertembak paluru pasukan Belanda

D. masa kemerdekaan

Dimasa kemerdekaan Patinggi dipegang putra dari Tirto sento yaitu Mbah Dahclan dan Dachlan mengundurkan diri karena sudah tua dan sakit dan jabatan sementara kepala desa dipegang Senden Abdul Hadi selama enam bulan sebelum terpilih pemimpin baru dan setelah itu terpilihlah Bapak Sahlan sebagai kepala desa menggantikan Bpapak Daclan dengan cara demokratis. Patinggi Sahlan memerintah selama 40 Tahun tepatnya sekira tahun 1950 – 1990 dan berakhir ketika ada aturan baru dari pemerintah bahwa kepala desa dibatasi menjabat selama 8 Tahun, dan setelah itu diadakan pilkades dengan demokratis dan terpilihlah Mustakim, SH yang merupakan masih cucu cicit dari Mbah Tirto sentono. Dan selama 8 tahun memerintah akhirnya daiadakan pilkades dan karena tidak mencalonkan lagi maka waktu itu terpilihlah bapak Suparmo menjadi Kades di desa ngambeg yang merupakan anak dari Petinggi ke empat yaitu P. Sahlan, dan P. Suparmo memimpin sampai saat ini dua periode dan kemungkinan berakhir tahun 2014