Cica-daun besar

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Cica-daun besar
Chloropsis sonnerati Edit the value on Wikidata
Chloropsis sonnerati-20030531.jpg
Edit the value on Wikidata
Status konservasi
Status iucn3.1 EN.svg
Genting
IUCN22704950 Edit the value on Wikidata
Taksonomi
KerajaanAnimalia
FilumChordata
KelasAves
OrdoPasseriformes
FamiliChloropseidae
GenusChloropsis
SpesiesChloropsis sonnerati Edit the value on Wikidata
Jardine dan Selby, 1827
Chloropsis sonnerati zosterops Vigors & Horsfield, 1830, Naturalis

Cica-daun besar (nama ilmiah: Chloropsis sonnerati), juga dikenal dengan sebutan burung daun dan murai daun, adalah jenis burung pengicau dalam famili Chloropseidae yang seluruh badannya didominasi oleh warna hijau. Burung ini berkerabat dekat dengan burung cipoh (Aegithina spp.). Beberapa orang menyebut burung ini sebagai cucak hijau, meskipun cica-daun besar tidak tergolong burung cucak-cucakan (famili Pycnonotidae), seperti burung cucak rawa. Dalam bahasa Inggris, cica-daun besar dikenal sebagai greater green leafbird.

Pemerian[sunting | sunting sumber]

Cica-daun besar bertubuh sedang, dengan panjang tubuh total (diukur dari ujung paruh hingga ujung ekor) sekitar 22 cm. Seperti cica-daun pada umumnya, seluruh tubuhnya didominasi warna hijau terang (hijau daun), termasuk sayap dan ekor; sementara pipi dan tenggorokan burung jantan berwarna hitam berkilau. Perbedaan dengan cica-daun yang lain adalah adanya warna (noktah) biru pada bahu burung jantan. Burung betina dengan tenggorokan kuning dan lingkaran mata kuning. Kedua jenis kelamin memiliki sepasang setrip malar biru berkilau di sisi dagunya. Iris mata berwarna coklat gelap, paruh tebal hitam, dan kaki abu-abu kebiruan.

Kebiasaan dan penyebaran[sunting | sunting sumber]

Burung ini terutama hidup di puncak-puncak pohon yang tinggi di hutan primer, hutan sekunder dan hutan bakau, menyukai tajuk pohon yang berdaun lebat, dan ditemukan sendirian, berpasangan atau dalam kelompok campuran. Jenis burung ini kadang bersikap agresif terhadap burung jenis lain yang berukuran lebih kecil. Saat berkicau, cica-daun besar akan menundukkan kepala. Makanannya adalah aneka serangga dan buah-buahan hutan.

Cica-daun besar menyebar di Semenanjung Malaya, Sumatra, dan pulau-pulau di sekitarnya, Kalimantan termasuk pula Natuna, Jawa dan Bali. Tersebar luas tetapi tidak umum didapati, di hutan-hutan dataran rendah dan perbukitan sampai ketinggian 1.000 m dpl. Di Jawa, burung ini diketahui berbiak pada bulan April.

Jenis yang berkerabat[sunting | sunting sumber]

Cica-daun adalah jenis burung Oriental (Asia) yang penyebarannya tidak melewati Kalimantan di sebelah timur. Beberapa jenisnya yang terdapat di Indonesia, selain cica-daun besar, adalah:

  • Cica-daun kecil (C. cyanopogon) — sangat mirip cica-daun besar, hanya ukurannya lebih kecil (17 cm) dan tidak punya bercak biru di bahu.
  • Cica-daun sayap-biru (C. cochinchinensis) — sayap dan ekor tersaput warna biru. 17 cm.
  • Cica-daun dahi-emas (C. aurifrons) — dahi kekuningan pada yang jantan. 19 cm.
  • Cica-daun sumatra (C. venusta) — paling kecil, 14 cm. Dahi dan sisi kepala biru terang (jantan), tenggorokan biru terang (betina).

Konservasi[sunting | sunting sumber]

Seperti umumnya cica-daun, burung ini pun merupakan salah satu incaran penggemar burung. Di pasar, burung ini dikenal dengan nama umum murai daun. Di Indonesia, spesies ini termasuk dalam kategori satwa yang dilindungi.

Pakan dalam kurungan[sunting | sunting sumber]

Walaupun makanan utamanya adalah pisang, burung ini juga mengonsumsi serangga kecil dan kroto. Hobiis juga biasanya menambahkan "pur" (voer) sebagai tambahan makanan. Burung ini rentan terhadap panas dan perjalanan jauh.

Bahan Bacaan[sunting | sunting sumber]

  • King, B., M. Woodcock, and E.C. Dickinson. 1975. A Field Guide to The Birds of South-East Asia. Collins. London. ISBN 0-00-219206-3
  • MacKinnon, J. 1993. Panduan lapangan pengenalan Burung-burung di Jawa dan Bali. Gadjah Mada University Press. Jogyakarta. ISBN 979-420-150-2
  • MacKinnon, J., K. Phillipps, and B. van Balen. 2000. Burung-burung di Sumatra, Jawa, Bali dan Kalimantan. LIPI dan BirdLife IP. Bogor. ISBN 979-579-013-7

Pranala luar[sunting | sunting sumber]